Hani dan Dara panik, Daud meminta seseorang menelpon ambulance.
"Panggil Dokter Hasan!" seru Ghani.
Hana buru-buru menelpon dokter yang biasanya memeriksa keluarga mereka, dokter Hasan, dokter kepercayaan Oma Mira.
Ghani buru-buru menepis tangan Andy dan meraih tubuh Amelia dan membawanya masuk. Wajahnya yang cemas berbaur dengan tetesan air mata yang jatuh perlahan dari matanya. Amelia masih terkulai di tangannya.
Dengan lembut, Ghani membaringkan tubuh putrinya di ranjangnya. Dia menatap Hani yang mengikutinya dan mengangkat kedua alisnya. Hani mengerti suaminya menanyakan dokter yang dia hubungi.
"Lagi jalan!" ucap Hani.
Rumah Dokter Hasan tak jauh darinya. Masih satu lingkungan. Jadi Hana jalan kaki menuju rumah Ghani.
Ghani memegang tangan Amelia yang dingin dan menatap wajahnya yang pucat. Pikirannya buyar, dia menduga Amelia minum racun atau sebagainya sebagai bentuk putus asanya.
Andy menatapnya dari luar, dia sedikit terkejut dengan reaksi Ghani yang menepis tangannya. Dia menunduk dan merasa canggung dengan situasi ini.
Dara menyentuh bahu Andy, dia menoleh.
"Kenapa ya?" gumam Dara.
"Sebaiknya kita nunggu di luar, biar Amelia juga nggak sesak" ucap Daud.
Mereka semua keluar, kecuali Ghani yang masih memegang tangannya dengan erat. Hani pun tak bisa menenangkan suaminya, dia sangat tahu apa yang ada di pikirannya. Ketakutan yang sama dari rasa curiga yang pernah mereka bicarakan dalam obrolan mereka sebelum tidur. Hani meninggalkannya untuk membuatnya tetap di sisi Amelia.
Dokter Hasan datang, dia langsung diantar Hana menuju kamar Ghani.
"Kenapa? Apa yang terjadi? Aku baru mau siap-siap dateng kesini" ucap Dokter Hasan.
"Aku nggak tahu, dia tiba-tiba pingsan saat puncak acara" jawab Hani.
Ghani hanya mundur dengan perlahan dan menatap Dokter Hasan dengan wajahnya yang cemas. Dokter Hasan menyentuh lengannya.
"Tenang, dia pasti baik-baik saja" ucap Dokter Hasan menenangkan.
Dokter Hasan mulai memeriksa, Hani dan Ghani menatapnya. Mereka saling menguatkan satu sama lain.
Saat memeriksa, Dokter Hasan menatap Ghani dan Hani dengan wajahnya yang terlihat bingung. Ghani dan Hani semakin cemas.
Tak lama kemudian, dia selesai dan bicara dengan mereka berdua dengan berbisik. Hana dan keluarga Andy menatapnya. Tak mendengar ucapan Dokter sama sekali. Rasa penasaran membuat Hana mendekat.
Andy pun juga penasaran, meski ibunya sudah menahannya dengan menarik jasnya lagi, dia tetap mendekat.
Ghani terduduk dengan lemas, Hani menangis tak mampu mengatakan apapun. Hana menutup mulutnya yang menganga mendengar ucapan Dokter Hasan.
Sementara Andy membulatkan matanya dan sangat bingung dengan situasi ini.
~Hamil?~ ucap hati Andy.
Hana masih tak percaya, dia mengatur nafasnya dan berusaha berpikir namun tak bisa. Hani menangis dan memukul dirinya sendiri.
"Ini salahku! Aku memang sangat bodoh!" ucap Hani kesal.
Ghani berpikir keras. Amelia sedang mengandung dan usia kandungannya sudah 4 minggu saat ini. Awalnya Ghani hendak memarahi Andy, namun mendengar usia kandungannya, dia jadi berpikir keras.
~Jika usia kandungannya adalah 4 minggu, itu berarti hal itu terjadi sebelum dia dipertemukan dengan Andy~ Ghani menyimpulkan.
"Aku akan resepkan obat, kalian beli saja di depan ya!" ucap Dokter Hasan.
Dia menaruh resep di meja dekat ranjang. Dengan penuh rasa kasihan memegang tangan Ghani yang terduduk lemah di lantai.
"Aku pulang dulu!" pamit Dokter Hasan.
Dia berjalan keluar tanpa kata, tatapannya tertuju pada Andy yang memakai jas dan terlihat paling tampan. Andy membalas tatapannya juga tanpa kata. Dia menelan ludahnya sendiri, dia sangat paham, mereka pasti mengira Amelia hamil olehnya.
Namun Andy sangat diam, dia menjadi teringat dengan sikap Amelia yang memang dingin padanya. Baru sekarang dia sadar kalau Amelia punya pria lain yang dia sembunyikan dari semua orang. Kini dia menunggu keputusan yang akan diambil Ghani dan Hani yang masih meratapi apa yang terjadi.
Rasa kecewa, tak percaya dan marah berkecamuk di hati mereka. Sudah jatuh tertimpa tangga, peribahasa yang cukup menggambarkan perasaan Ghani dan Hani.
Tak lama terkuak bahwa Hana tak bahagia dan tersiksa dengan pernikahannya akibat dijodohkan. Kini, putrinya mengandung cucu yang entah siapa ayahnya.
Kabar yang seharusnya suatu hari menjadi kabar gembira, kini menjadi malapetaka bagi keluarga mereka. Hani sangat kebingungan, apa yang harus mereka katakan pada keluarga Andy dan para tamu.
Hani menghela nafas dalam dan keluar dari kamar, dia memberanikan diri bicara pada Dara dan Daud juga Andy. Seseorang harus memberitahu mereka apa yang terjadi.
"Dara, aku minta maaf. Tapi, putriku hamil dan aku..."
Hani menguatkan dirinya dibantu Hana yang memegang tangannya.
"PLAAAAKKKK!"
Tamparan tangan Dara melayang saat Hani belum menyelesaikan ucapannya. Tamparan itu menggema di seluruh rumah.
"KAMU MAU MENJODOHKAN ANAK KAMU YANG HAMIL SAMA ANAK SAYA? GILA KAMU HANI. KAMU PIKIR ANAK SAYA ITU APA? HAH?" Dara naik pitam.
Andy menahan tangan ibunya yang hendak memukul lagi ke arah Hani.
"Bu! Tenang Bu!" ucap Andy.
Daud mengusap wajahnya, dia tak percaya mereka melakukan ini padanya.
Semua orang yang ada diluar jelas mendengar teriakan Dara dan mereka semua pun sangat terkejut. Mereka yang mengerti dengan situasi ini langsung pulang dan beberapa tetap tinggal untuk sekedar mengetahui kelanjutan drama di rumah Ghani.
Ghani mendengar teriakan Dara, namun dia tetap duduk dan merasa tak punya wajah untuk dihadapkan pada mereka.
"Bu, mereka juga nggak tahu tentang hal ini!" ucap Andy menenangkan ibunya.
"Nggak tahu? Ouh ya, Amelia sempat bekerja di luar kota sebelum kita memutuskan perjodohan ini. Ya itu, pengaruh kota lain memang sangat tajam" ucap Daud memperkeruh keadaan.
"Ibu nggak peduli, kita pulang. Bersyukur semua bisa ketahuan sebelum kamu nikahin dia!" ketus Dara.
Hani dan Hana hanya menangis menatap mereka pergi dan Ghani hanya bisa diam.
Andy berusaha untuk mencegah keluarganya untuk pulang. Dia kembali dan bertanya pada Hani.
"Bu! Apa keputusan ibu dan ayah? Kalian masih mau kan menjodohkan aku dan Amelia?" tanyanya.
Dara memukul lengan Andy dan memarahinya. Semua ucapan Dara membuat Hani menutup telinganya dan terduduk. Hana ikut menangis.
Mereka pergi dengan menarik Andy memaksanya pulang. Sisa tamu yang masih penasaran pun ikut pergi sambil menatap rumah Ghani yang 'hancur lebur hari' itu.
Ghani keluar tanpa menatap Amelia yang masih belum sadarkan diri. Dia memeluk istrinya dan mengajaknya duduk. Dia mengusap tangis istrinya dan meletakkan kepalanya di dadanya. Mengusap dengan perlahan ke punggungnya.
Hana memeluk Mikayla, dia bersedih atas kemalangan yang menimpa ayah dan ibunya. Dia yang juga merasa menjadi bagian dari kemalangan itu, duduk dekat pintu kamar untuk melihat Amelia dengan tatapan penuh rasa kasihan.
Ghani dan Hani baru menyadari perubahan kebiasaan Amelia yang senang makan dan tidur. Mereka tak menyangka hal itu karena dia hamil. Kini mereka menunggu kesadarannya untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
\=\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments