Hari pertunangan tiba.
Semua orang sibuk kecuali Amelia. Dia yang sekedar ingin membantu merapikan meja pun tak diizinkan oleh ayah dan ibunya. Akhirnya dia hanya menggendong dan mengasuh Mikayla di kamarnya.
Matanya menatap jendela yang keluar dan menunjukkan dekorasi garden party yang akan dilaksanakan. Tiba-tiba wajah Davin terbayang di pikirannya.
Wajah Davin yang tertawa dan selalu menatapnya. Tersipu saat mendengarnya tertawa. Ingat saat pertama kali dia menciumnya. Turun ke leher dan mulai memegang tubuhnya.
~Aishhh......Amelia Quinnara! Berhenti membayangkan wajahnya. Kau akan bertunangan, seharusnya kau memikirkan Andy. Dia sudah sangat baik, tetap melanjutkan pertunangan dan menghargai orang tua dan kakak mu meski mengetahui masalah kakak mu juga membuktikan kalau dia tidak seperti kak Bagas. Common Amelia, stop, berhenti memikirkan dia~
Amelia mengendalikan dirinya lagi, setiap hari, setiap dia terbayang wajah Davin. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Siena menghubunginya.
"Hallo Siena!" sapa Amelia riang.
"Amelia! Aku dengar kau akan tunangan, apa itu benar?" tanya Siena yang lupa menjawab sapaannya.
"Iya, ibu dan ayah mempertemukan ku dengan pria pilihannya" ucap Amelia.
"Apa kau gila? Bukankah kau menentang perjodohan?" Siena ragu.
"Ya, mau bagaimana lagi? Aku harus jadi anak yang baik bukan?" jawab Amelia.
"Hei, kenapa nggak bilang? Kau tahu Alex? Teman Davin, pria tampan yang bertabrakan dengan mu. Dia menanyakan mu" ucap Siena.
Mata Amelia membulat mendengar ucapan Siena, tapi dia tak menjawab.
"Alex menanyakan mu mewakili Davin, katanya dia murung setelah bicara dengan mu di kamar" lanjut Siena.
Amelia masih diam.
"Apa yang terjadi? Apa dia menyatakan perasaannya? Kau menolaknya?" tanya Siena tanpa jeda.
Amelia menghela, dia berpikir apakah keputusannya menerima perjodohan ini salah. Bayangan wajah Davin selalu terbayang dan semakin jelas hingga hari pertunangan ini. Lalu Siena tiba-tiba menelpon dan memberitahu bahwa Davin mencarinya.
"Amelia!" seru Siena yang tak mendapatkan jawaban.
Lamunan Amelia terpecah mendengar Siena memanggilnya. Kemudian dia melihat ibunya Hani terlihat sedang sibuk di bawah. Amelia kembali menegaskan pada dirinya. Dia akan melakukan apa yang bisa membuat ibunya bahagia.
Ibunya sudah sangat sedih dengan kenyataan tentang Hana. Kini yang bisa mengobatinya adalah dirinya. Hanya dia, dengan cara meneruskan keputusannya ini.
"Aku sudah memutuskan semuanya Siena. Hari ini pertunangan ku, semua sudah siap. Ibuku pasti sedih jika aku membatalkannya" ucap Amelia.
Siena memejamkan matanya sebentar mendengar keputusan sahabatnya itu.
"Katakan padaku, sedikit saja, adakah rasa suka mu pada Davin?" tanya Siena penasaran.
Amelia yang sangat idealis dan tak mudah jatuh cinta, kedua sahabatnya sangat tahu sifatnya itu.
Amelia memejamkan matanya yang kemudian mengeluarkan air mata. Wajah Davin semakin terlihat jelas saat mencumbunya.
"Aku harus melupakan perasaan ku Siena. Ayah dan ibuku lebih penting" Amelia menyangkal perasaannya.
"Kau menyukai dan tak bisa melupakannya" Siena menyimpulkan.
"Siena....." keluh Amelia.
"Batalkan! Katakan pada orang tuamu kalau kau menemukan seseorang yang membuat mu tersenyum, membuat mu sangat senang bersamanya, juga tertawa lepas. Please Amelia!" Siena memohon.
Amelia semakin ragu dan merasa bimbang. Kemudian dia melihat ayahnya melambaikan tangan padanya. Hati Amelia semakin merasa sakit, dia takkan sanggup melihat ayahnya kecewa.
"Tidak Siena, aku takkan sanggup melihat mereka bersedih. Terlebih ayahku, aku mohon jangan membuatku berpikir lagi" Amelia menangis.
Siena merasa bersalah, dia menjadi kasihan pada Amelia.
"Ok maafkan aku Amelia, aku hanya berharap kamu bisa bahagia. Semoga kau mengambil keputusan yang benar. Selamat tinggal!" pamit Siena.
Amelia menutup telponnya dengan hati yang sedih. Tak lama kemudian, Hana datang dan menyuruhnya bersiap. Keluarga Andy sudah hampir sampai.
"Kamu nangis?" tanya Hana.
Amelia memalingkan wajahnya, dia memperbaiki riasannya.
"Kenapa?" tanya Hana.
"Siena menelpon dia ngomong hal yang bikin aku nangis, jadi nangis deh! " jawab Amelia.
"Dia bilang kamu gila menerima perjodohan ini?" Hana menduga.
Amelia menatapnya dari pantulan cermin.
"Kakak harus jadi penerawang, dugaan kakak benar" jawab Amelia.
"Ya jelas, Andy memang tampan dan baik, tapi kamu bukan tipe orang bisa jatuh cinta karena hal itu. Mereka sudah sangat paham hal itu, dulu waktu kalian main ke rumah, mereka bicara seperti itu. Pas banget kalo dibilang sahabat. Tahu banget" jelas Hana.
Amelia diam menatap wajahnya sendiri. Ya, meskipun Andy begitu baik dan hangat, dia sama sekali tak menemukan celah sedikit pun untuk mencintainya. Dia menghela, kali ini dia merasa sudah mengambil keputusan yang salah.
"Aku berharap, kamu bisa bahagia bersamanya. Semoga Andy bisa membahagiakan mu" harap Hana.
~Yang jadi pertanyaannya, apa aku bisa membangun perasaanku kedepannya?~ ucap hati Amelia.
"Sudah cepetan, kamu harus siap di bawah. Jadi pas mereka datang nggak turun tangga segala, nanti jatoh lagi!" ajak Hana sambil menggendong Mikayla.
Amelia mengangguk, dia harus melupakan semuanya hari ini. Inilah awal baru baginya. Dia turun dan duduk di ruang depan menunggu panggilan dari MC acara.
Keluarga Andy datang dan menyapa keluarga Amelia. Mereka terlihat sangat bahagia, bahkan senyum tak pernah lepas dari wajah Andy. Sama bahagianya dengan ayah dan ibu mereka.
Hana terlihat berbisik pada Andy, kemudian dia tersipu dan menatap ke arah pintu rumah seolah ingin cepat-cepat melihat calon tunangannya.
Tak lama kemudian, acara dimulai. MC meminta keluarga menjemput Amelia di rumah untuk bergabung dengan mereka.
Hana pun masuk dan melihat Amelia sedang duduk meremas kedua tangannya di pangkuannya sendiri. Amelia gugup, dadanya berdebar dan tangannya terasa dingin.
"Nervous?" tanya Hana dengan nada meledek.
Amelia mengangguk.
Hana meraih tangannya dan menggosoknya.
"Kamu dapetin pria yang paling sempurna, pasti bahagia" ucap Hana.
Amelia berusaha tersenyum tapi debaran jantungnya masih cepat. Dia mengendalikan diri dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya melalui mulut. Kemudian dia berdiri dan berjalan mengikuti langkah Hana.
Mereka keluar, semua mata terpana menatap Amelia yang cantik dengan gaun berwarna peach dan riasan tipis yang manis. Andy sangat terkesima menatap manisnya Amelia.
"Cantik kan!" bisik Hani.
"Iya, cantik sekali. Sangat cantik" puji Andy sambil tersenyum tanpa mengedipkan matanya.
Hani tersenyum melihat ekspresi Andy. Dara juga menertawakannya.
Amelia masih mengatur nafasnya, dia berjalan perlahan dengan bertahan untuk tetap tersenyum.
Ghani menatapnya, dia sangat bahagia menatap Amelia yang benar-benar bersedia bertunangan. Namun, saat dia melihat tangan Amelia yang gemetar, dia khawatir.
"Kok tangannya gemetar gitu?" gumam Ghani.
Andy menoleh karena mendengar ucapan Ghani. Dia mengalihkan pandangannya melihat dengan baik tangan Amelia. Andy mendekat hendak menyambut tangannya dan membuatnya tenang. Namun Dara menarik jasnya untuk tetap tinggal dengan membulatkan matanya.
Andy khawatir, tapi dia tak bisa meraih tangan Amelia karena proses acara belum selesai. Dia harus menahan diri.
Sampai di kursi tempatnya duduk, Amelia duduk dan masih bertahan tersenyum.
~Ya Tuhan, apa ini? Kenapa aku merasa sangat lemas dan pusing?~ ucap hati Amelia.
MC mengudara, melakukan semua tugasnya dan memandu setiap orang untuk melakukan semua prosesi. Tiba waktunya bagi mereka untuk berdiri dan saling bertukar cincin.
Andy bersemangat, Amelia juga ikut berdiri. Mereka berdua melangkah dan saling mendekat. Hana dan Dara menyiapkan cincin masing-masing.
Mata Amelia menatap dekorasi di atas kepalanya, semuanya terlihat berputar dan semakin membuatnya kehilangan keseimbangan. Amelia terjatuh dan tak sadarkan diri. Semua orang terkejut.
Andy yang waspada, berhasil meraih pinggangnya sehingga dia tak jatuh. Dengan perlahan dia menaruh kepala Amelia di dadanya.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments