Davin menatap jauh ke arah rumah Ghani, kedatangannya di sambut oleh istrinya, juga seorang wanita yang sedang menggendong balita. Harun menatap Davin yang mengerutkan dahinya dari kaca spion.
"Tuan Muda nggak masuk aja?" tanya Harun.
Davin tak menjawab, dia menelan ludahnya sendiri.
"Apa itu putrinya Pak Ghani?" tanya Davin pada harun.
"Iya tuan muda, kalo nggak salah namanya Hana. Udah punya anak kayaknya" jawab Harun.
"Apa pak Ghani punya putri lain?" tanya Davin lagi.
Harun berpikir, dia mengingat Ghani pernah bicara saat curhat padanya.
"Seingat saya yang bungsu pergi dua tahun lalu" ucap Harun.
Dia mengingat saat Ghani merasa kehilangan Amelia yang pergi bekerja ke luar kota.
Davin mengerti dan mengusap wajahnya. Dia meminta Harun membawanya kembali ke rumah. Saat mobil Davin keluar dari lingkungan kompleks rumah Ghani, Amelia datang dengan membawa sepeda ontel dari arah lain.
Amelia membawakan makanan dari pasar sore. Dia membeli cukup banyak untuk dinikmati semua orang. Masing-masing mendapatkan makanan kesukaannya.
"Waah, kamu paham banget kesukaan kita" seru Hana senang.
Dia melihat Amelia memisahkan semua makanan kesukaannya di meja. Dia membeli lebih dari satu macam makanan untuk dirinya sendiri dan tersenyum saat menatanya. Seperti anak kecil yang mendapatkan permen.
"Banyak banget punya mu dek! Emang kemakan semuanya?" Hana protes.
"Dimakan dong!" jawab Amelia.
Amelia menggendong Mikayla yang duduk di atas meja.
"Mikayla mau? Ini aunty belikan yang lembut, ada bubur manis buat Mikayla sayang!" ucap Amelia bicara dengannya.
Hana melihat perut Amelia yang sedikit melebar.
"Jaga makannya, kan mau tunangan. Ntar bajunya nggak cukup" ucap Hana.
Amelia menatap perutnya, kemudian dia melipatnya. Hendak mengecek dan meyakinkan pada kakaknya bahwa dia baik-baik saja. Tapi dia merasakan rasa sakit yang menekan di dalam perutnya. Amelia termenung sebentar merasakannya.
"Kenapa?" tanya Hana.
"Nggak, kayaknya aku belum setor deh" ucap Amelia.
"Idih jorok, itu karena kamu makan kebanyakan trus ngga diatur. Jadi BAB nya susah. Jangan-jangan kamu tegang menghadapi acara tunangan ini?" Hana khawatir.
Amelia masih berpikir kenapa perutnya terasa sakit ditekan seperti itu, meskipun dia sudah menjawabnya sendiri tadi. Dia menyerahkan Mikayla pada Hana dan pergi ke kamar mandi di atas.
Beberapa menit jongkok, tak ada yang terjadi. Dia juga ingat tadi pagi sudah BAB cukup banyak dan lancar. Amelia kembali berdiri dan memakai celananya.
Saat turun, wangi minuman jahe membuat wajahnya segar.
"Enak banget Bu wanginya!" puji Amel.
"Iya, ibu buat minuman jahe biar perut kamu hangat" ucap Hani.
Mereka berkumpul untuk makan, Amelia mulai makan dengan perlahan sambil mengobrol. Masa lalu masih jadi trending topik di rumah beberapa hari ini. Suasana menjelang acara pertunangan membuat mereka merasa seolah akan berpisah jauh dari Amelia.
Amelia melupakan rasa herannya setelah melahap semua makanan yang dia suka. Dia hendak menyantap makanan milik Hani yang disisakannya di piringnya. Hani memukul tangan Amelia dan memarahinya.
"Yang benar saja, itu semua udah banyak banget. Kamu stop deh, ntar pas nikah melar loh"
Ghani dan Hana saling menatap heran karena perubahan kebiasaan Amelia yang sangat menjaga berat badannya.
Amelia murung, mereka hanya menatapnya heran. Dia mengalihkan pandangan dan minum jahe yang dibuat ibunya.
"Ahhh, sedap! Enak Bu" wajah Amelia senang.
Amelia pergi ke kamar setelah membantu mencuci piring. Hana menatapnya dan menyusulnya.
"Kamu gugup?" tanya Hana.
Amelia mengangkat dahinya tak mengerti.
"Kamu gugup, jadi nafsu makan mu meningkat" jelas Hana.
"Entahlah, rasanya cuma laper terus. Gerak dikit cape. Mager ngapa-ngapain juga" ucap Amelia.
Hana heran dengan ciri-ciri yang Amelia sampaikan.
"Stress kali ya, banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Ya udah, istirahat besok persiapan" ucap Hana.
Hana meninggalkannya sendiri, dia kembali mengasuh anaknya yang sedang digendong Ghani.
"Sini Yah, biar Mikayla aku yang gendong. Ayah istirahat aja" ucap Hana.
"Nggak apa-apa, ayah seneng kalo ngasuh Mikayla. Serasa ngasuh kalian dulu. Kamu duduk dekat ayah sini!" ujar Ghani.
Hana mendekatinya.
"Yah!"
"Hmmm?" jawab Ghani.
"Menurut ayah, Bagas kangen nggak ya sama Mikayla?" tanya Hana sambil menyentuh tangan anaknya yang kecil.
Ghani menatap wajah Hana yang sedih.
"Ayah nggak tahu sayang, Bagas sulit ditebak. Dua tahun dia menjadi menantu baik di hadapan ayah dan ternyata dia nyakitin kamu di sana. Dan yang lebih miris, orang tuanya tahu tapi diam saja" ucap Ghani.
Hana hanya menunduk.
"Aku bisa tahan kalau dia lebih banyak tidur sama perempuan itu. It's ok, mungkin itu memang takdir aku, tapi, perempuan itu mulai cemburu sama Mikayla yang dapat perhatian penuh dari Bagas. Aku nggak suka cara dia ngambil Mikayla dari aku" ucap Hana.
"Dalam pandangan orang tua, rasa sakit yang kamu bilang 'it's ok' itu adalah gempa terbesar yang mengguncang pikiran mereka. Dari bayi hingga dewasa kamu dirawat dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Tapi tangan suami kamu mampu menghancurkan semuanya hanya dalam satu kali tamparan" jelas Ghani.
Hani mendekat dari belakang dan mendengarkan mereka bicara.
"Aku bingung Yah, di sisi lain aku lega, senang dan sangat bahagia tinggal kembali sama kalian di rumah tanpa teriakan Bagas. Tapi di sisi lain hati aku, aku ngerasa ada hal yang hilang. Sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang membuat aku bisa bertahan selama dua tahun bersama Bagas" ucap Hana sambil memainkan tangannya.
Ghani terdiam, dia mendapatkan pengakuan cinta Hana pada Bagas. Orang yang dia larang untuk datang kembali ke sana. Cinta yang hadir setelah perjodohan. Cinta yang membuatnya memahami suaminya.
Hani melihat suaminya berpikir, dia mengambil Mikayla dari tangan Ghani.
"Kalau dia memohon untuk kamu kembali, pikirkan lagi untuk kembali. Tapi kalo mereka nggak ada niat untuk ngebujuk kamu, ya nggak usah dipikirin. Ayo bawa Mikayla tidur, udah malem!" ucap Hani.
Ghani menatap istrinya dengan heran. Dia yang sangat memuji keluarga Bagas dari perkenalan hingga sebelum kejadian kemarin, sekarang begitu lugas menyarankan untuk Hana melupakan mereka.
Hana pergi mengikuti Hani yang membawa Mikayla untuk tidur. Dia ikut ke atas untuk melihat Amelia yang dari tadi tak turun lagi.
"Iiihhh, anak ini. Kok bisa sih pakaiannya nggak ganti!" keluh Hani sambil memberikan Mikayla pada Hana.
Dia hendak membangunkan Amelia, namun Hana melarangnya.
"Udahlah Bu, dia mungkin lagi tegang, lusa pertunangannya. Bentar lagi pernikahan, dia akan membaik seiring waktu" ucap Hana.
Hani menghela nafas dalam.
"Jujur, ibu jadi khawatir karena kepercayaan ibu terhadap perjodohan mulai sirna. Ibu takut Amelia ngalamin hal yang sama kayak kamu" ucap Hani.
Hana mengelus punggung ibunya.
"Kebayangkan, sekomplek denger dia teriak ngelawan suaminya. Trus bentar-bentar kabur, atau berdebat" ucap Hani lagi.
"Iihh, ibu, kok gitu sama anaknya" keluh Hana sambil sedikit ingin tertawa karena ucapan ibunya benar.
"Bercanda, biar kamu nggak stress" Hani mencoba menghibur.
Hana menatap ibunya.
"Denger, seumur hidup ibu nikah sama ayah kamu, semarah-marahnya ayah kamu sama ibu, nggak pernah tangan ayah kamu melayang, menampar atau mukul bagian tubuh ibu. Dia selalu pergi dan menghindari hal itu. Tahu kenapa?"
Hana menggelengkan kepalanya.
"Karena ayah kamu itu punya rasa takut. Bukan takut dimarahi mertua, atau takut dipenjara karena KDRT. Tapi dia takut kehilangan ibu. Cinta, sayang, saling menitipkan. Rumah tangga itu ya cuma itu. Kalo Bagas nggak punya hal itu, tenang, masih banyak laki-laki yang seperti ayah kamu di luaran sana. Waktu yang akan manggil dia buat kamu. Jadi, nggak usah dipikirin ya sayang"
Hani mengelus kepala Hana dengan lembut, Hana memeluknya dengan tangis disusul sedu sedannya.
Ghani mendengarkan di balik pintu dan tersenyum, dia berjalan perlahan menuruni tangga agar tak terdengar.
\=\=\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments