Oma Mira meminta semua orang berkumpul di ruang keluarga. Gala dan Vania istrinya juga datang, tak lupa Zidan anaknya. Alex dilarang datang karena khawatir akan membuat kekacauan.
Harris dan Maria duduk bersebelahan, Davin duduk di depan mereka. Gala dan Vania juga Zidan duduk berurutan. Mereka menatap Oma Mira yang duduk di kursi utama. Kursi yang akan jadi warisan untuk Harris dan Gala. Kursi Tuan Narendra Coltin yang bijaksana dan berwibawa.
Tiba-tiba, Ghani datang dan menyapa semua orang. Mereka tersenyum dengan kedatangan orang yang paling loyal pada Narendra Coltin diantara para pegawai. Hingga sekarang, dia sangat setia pada Oma Mira.
"Kamu sudah datang, sekarang semua sudah lengkap" ucap Oma Mira.
Gala mendelik pada Ghani, dia tak suka pada orang yang menjadi pusat perhatian. Terlebih pada orang yang mengalahkannya meski hanya tentang satu hal.
"Pertama, aku mau mengumumkan tentang pernikahan Davin dan Bella putri Wahyu. Pernikahan akan dilaksanakan satu bulan lagi. Rencananya sudah sangat matang, kalian akan mendapatkan bagian pekerjaan masing-masing. Ghani yang akan mengaturnya" ucap Oma Mira sambil tersenyum pada Ghani.
Ghani memberikan sebuah berkas dengan masing-masing nama tertulis di halaman paling depannya, kecuali Davin. Semua orang bereaksi dengan berkas yang ada di tangan mereka.
"Aku tidak diberikan berkas?" tanya Davin mengejek Omanya.
Oma Mira menekan tongkat ke kaki Davin, dia pun meringis karena sakit.
"Semua orang sudah dapat, aku mau kalian melakukan semua tugas dengan baik. Ini semua untuk kelancaran acara resepsi nanti" ucap Oma Mira.
"Ini terlalu mewah Bu, Davin bukan satu-satunya pewaris keluarga Coltin" gumam Harris.
"Ya aku tahu, aku sangat tahu putra Harris Coltin bukan hanya Davin. Tapi dia sudah membangkang dan memutuskan untuk pergi dari rumah ini untuk selamanya. Apa yang harus aku perbuat? Membujuknya untuk pulang? Rasanya tidak pantas orang tua memohon pada anak-anaknya" ucap Oma Mira dengan lugas dan tegas.
Davin dan semua orang menunduk mendengar ucapan Oma Mira. Tak ada satupun yang menentangnya, Saga pergi dan membuat Narendra Coltin sekarat. Menunggunya kembali hingga dia menemui ajalnya, membuat Oma Mira merasa sakit dan tak pernah akan memaafkannya.
Harris yang sangat menyayangi putra dari istri pertamanya Sarah, pun tak bisa mengobati sakit hati ibunya.
Ghani mundur perlahan tak nyaman dengan pembicaraan mereka. Dia hendak pamit, namun Oma Mira menegurnya.
"GHANI!" seru Oma Mira.
Semua orang menatap Ghani.
"Aku ingin bicara dengan mu dulu sebelum pergi, jadi masuk ke ruang kerja ku dulu" perintah Oma.
"Iya Nyonya!" jawab Ghani.
Mereka semua bubar setelah Oma Mira berdiri dan berjalan ke ruangan, Davin membantu dan mengantarnya.
Ghani masuk setelah Davin keluar, dia tersenyum pada Ghani dan pergi keluar menelpon sekertarisnya.
"Pernikahan putri bungsu mu Amelia, kapan itu dilaksanakan?" tanya Oma Mira.
"Pernikahannya masih dua atau tiga bulan lagi Nyonya, lusa kami akan melaksanakan pertunangannya dulu. Jika berkenan, saya mengundang anda untuk hadir" ucap Ghani.
"Jika aku datang, keluargaku akan semakin sinis padamu" ucap Oma Mira sambil membubuhkan tanda tangannya di sebuah cek kosong.
"Nyonya terlalu berlebihan menganggap tatapan mereka dengan kata sinis" ucap Ghani.
"Rendah hati, aku ingat saat pertama kali bicara dengan Amelia. Dia punya sifat rendah hati yang sama dengan mu. Kamu menurunkan sifat baik padanya, itu bagus. Dia pasti mendapatkan pria baik pilihan mu. Apa yang membuatnya sekarang dia menerima perjodohan? Bukankah dia juga sangat idealis?" tanya Oma dengan menunggu jawaban Ghani.
"Dia kembali dari pemberontakannya dan mengatakan kalau kami benar dan menyayanginya. Kemudian dia mengatakan bahwa dia akan menjadi anak yang baik dan menuruti semua permintaan kami. Saya merasa terkejut mendengarnya, tapi Hani senang. Mau apalagi Nyonya?" ucap Ghani.
Oma Mira tersenyum mendengarnya.
"Lalu, tentang Hana?" Oma Mira mendengar desas desus di kantor.
Ghani menghela nafas dalam.
"Sekarang dia tinggal bersama saya, menjadi putri saya lagi nyonya. Saya mengambil tanggung jawab saya lagi untuk merawat dia dan putrinya" jawab Ghani.
"Iya benar, seorang ayah harus berani mengambil tanggung jawabnya" ucap Oma Mira.
Dia berdiri dan memberikan secarik cek kosong yang dia tandatangani tadi.
"Ini, tulis berapa kebutuhan untuk pernikahan Amelia, kamu bisa mencairkannya kapan saja" ucap Oma Mira.
Ghani terdiam, dia tak berani mengambil cek itu.
"Tapi Nyonya!" ucap Ghani ragu.
"Aku sudah menganggap Amelia seperti cucuku sendiri. Awalnya aku mau memintanya dari mu dan merawatnya sebagai cucu ku, karena dia sangat manis. Tapi, Hani menangis dan aku jadi tak tega. Jadi, ambillah! Bukankah seorang nenek harus memberi hadiah pada cucunya yang akan menikah?" ucap Oma Mira sambil tersenyum.
"Nyonyaaa..." Ghani melemah.
Oma Mira menaruh cek itu di saku jas Ghani.
"Sampaikan salam ku pada Hani, jika aku bisa, aku pasti datang nanti" ucap Oma Mira.
Ghani membungkuk dan pamit pada Nyonya besarnya.
Davin sedang berdiri menatap jendela tinggi kecil yang memperlihatkan taman indah yang sering dirawat Oma Mira dan ibunya dulu. Masa-masa menyenangkan itu berakhir saat Saga pergi meninggalkan mereka karena hasutan ibunya untuk memberikan semuanya pada Davin.
Davin menjadi saingan Saga dalam berbagai hal, mereka menjadi musuh karena alasan sebuah warisan. Hal yang sudah lumrah terjadi ketika nenek buyut mu adalah orang yang sangat kaya dan berpengaruh.
Masa kecil yang diisi oleh rasa kasih sayang persaudaraan menjadi berubah menjadi didikan persaingan ketat. Davin dipaksa melupakan betapa dia sangat menyayangi Saga kakaknya meskipun berbeda ibu.
~Dimana kamu sekarang Kak? Kapan pulang?~ gumam Davin.
Ghani mendengar ucapan Davin, dia datang untuk menyapanya dan pamit.
"Saya pulang dulu tuan muda!" ucap Ghani.
Davin menoleh, dia tersenyum pada Ghani dan mangangguk.
"Iya Pak Ghani, sampai jumpa besok di kantor" ucap Davin.
Ghani berjalan menyusuri tangga, Davin tersenyum sendiri saat mengingat dia begitu baik dan sayang pada semua anggota keluarga Coltin.
Kemudian pikirannya seolah berbisik. Dia mengingat pesan Alex, Amelia adalah putri Ghani Wardhana. Mata Davin membulat, dia menduga bahwa Ghani yang dimaksud adalah Pak Ghani yang baru saja pamit padanya.
Davin mengejar Ghani, namun Ghani sudah pergi memakai mobilnya. Davin melihat ke kanan dan ke kiri mencari supir. Harun terlihat sedang berjalan baru keluar dari pintu samping.
"Pak Harun!" seru Davin.
Pak Harun menoleh, dia berjalan terburu-buru menghampiri Davin.
"Iya tuan muda?" ucap Harun terengah.
"Tahu rumah Pak Ghani?" tanya Davin.
Pak Harun mengerutkan dahinya.
"Tahu!" jawabnya sambil mengangguk.
"Antar aku ke sana, cepat!" pinta Davin sambil melempar kunci mobilnya.
Davin bergegas masuk ke mobil, berharap apa yang dia duga adalah benar. Itu akan memudahkannya untuk menemukan Amelia.
\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments