Davin bekerja, namun dia tak mau membantu atau dibantu ayahnya. Semenjak dia mengetahui ayahnya selingkuh, dia sudah tak punya rasa hormat sedikitpun padanya.
Dengan diam, dia menolak permintaan Oma Mira. Dia menyelesaikan semua permasalahan yang dia perbuat bulan lalu.
Dia juga terlihat lebih murung dibandingkan bekerja bersama Alex. Seolah kehilangan nyawa dan seperti mayat hidup.
"Kadang aku bingung, kau ini tidak bisa berdiri di hadapan wanita karena kau menyukai Alex?" ucap Oma Mira.
Dia datang ke kamar Davin tanpa mengetuk pintu. Langsung duduk dan bicara hal aneh. Davin mengusap wajahnya.
"Omaaaa!" keluh Davin.
"Lalu?" Oma Mira mengangkat kacamatanya.
Davin bangun dari ranjang, dia duduk di sebelah Omanya dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Oma Mira.
"Kenapa? Apa alasannya benar-benar Alex? Kau tidak bisa jika tidak ada sahabatmu?" tanya Oma sambil membelai rambut Davin.
~Bukan Oma, aku memikirkan Amelia. Gadis itu, gadis yang sedang aku cintai sekarang, bayangan wajah dan bibirnya tak bisa hilang dari pikiran ku~ ucap hati Davin.
"Tidak Oma, aku hanya sedang ingin diam saja" jawab Davin.
Dia masih menyembunyikan hal itu dari Omanya.
"Oma bingung deh sama kamu, hubungan asmara nggak pernah ada yang langgeng. Alasannya selalu saja karena hal kecil atau hal aneh. Sekarang kau mulai bandel saat bekerja. Sebenarnya kamu ini kenapa sih?" keluh Oma.
"Nggak apa-apa Oma, aku cuma lagi gabut aja. Bosen dengan situasi" jawab Davin sambil bangun dari pangkuannya.
"Gabut kok bisa ngerugiin perusahaan sampe ratusan juta gitu!" Oma mengeluh terus.
Davin menggaruk kepalanya meski tak gatal. Dia bingung kepada siapa dia harus mengatakan kegalauannya. Siapa yang bisa membantunya.
Oma Mira berdiri dan mengambil tongkatnya.
"Dengar! Aku akan memperkenalkan mu pada seorang gadis. Kali ini, harus jadi. Dia anak yang manis. Putri dari teman ibu mu" ucap Oma.
"Apa?" tanya Davin terkejut.
"Kau harus menurutiku. Jika tidak, kau dan ibu mu boleh pergi seperti Saga, pergi dari rumah" ucap Oma seraya berjalan keluar.
"Oma! Apa aku tidak bisa menolaknya?" Davin berusaha membujuk.
Tapi sayangnya Oma tak mempedulikannya. Davin duduk di ranjangnya. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Wajah Amelia masih terbayang, sulit baginya melupakan malam itu.
"Bagaimana cara membuat gadis itu mundur, sekarang tak ada Alex yang bisa membantu ku" gumam Davin.
Tak berapa lama ponselnya berbunyi, notifikasi emailnya muncul. Pesan dari Alex sampai, Davin memeriksanya. Matanya membelalak saat melihat isi pesannya.
[ Amelia Quinnara, putri Ghandi Wardhana. Dia tinggal di sana, tapi mereka tidak tahu persis dimana dia tinggal. Siena bilang, Amel murung setelah pulang dari acara kantor, dia mengundurkan diri dan pulang ke rumah orang tuanya. Cari dia, kudengar Oma akan menjodohkan mu dengan Bella]
Davin semakin panik, ternyata gadis yang akan dikenalkan Oma adalah teman semasa kecilnya.
"Ini gawat, aku dijodohkan bukan hanya dikenalkan. Dimana kamu Amelia?" gumam Davin.
Keesokan harinya, Davin kembali keluar kantor di jam kerja. Dia berkeliling kota, berharap dia bisa menemukan seseorang yang tahu tentang Amelia atau ayahnya Ghani.
Berjalan dan bertanya pada beberapa orang membuatnya sedikit malu, dia sudah menyerah dan risih karena beberapa gadis menatapnya juga membicarakannya. Seolah mereka sudah tahu siapa dia.
Kemudian tak berapa lama, ponselnya berdering.
"Iya Oma!" jawab Davin dengan malas.
"Kau sedang dimana? Kenapa aku tidak menemukan mu di kantor?" tanya Oma.
Davin kesal, merasa menjadi tahanan Oma Mira.
"Iya aku akan kembali sebentar lagi" hanya itu yang dia katakan.
Oma hendak memarahinya, namun dia sudah menutup telponnya. Oma menghela nafas mengaturnya. Kemudian Davin kembali ke mobilnya, dia pergi dengan kesal.
Selang beberapa detik, Amelia datang bersama Hana dan Mikayla untuk mengajak keponakannya itu main dan membuat Hana sedikit terhibur. Mereka main bersama di taman kota.
Sampai di kantor, Davin melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Oma datang bersama orang tua Bella. Oma melihatnya dan tersenyum lega. Bella berbalik dan tersenyum riang melihat Davin.
"Itu dia sudah datang" seru Oma.
Davin menjabat tangan ayah dan ibu Bella. Setelah itu Bella juga menjabat tangannya. Davin tersenyum sedikit dan merubah ekspresinya menjadi datar lagi.
Bella sudah biasa melihat ekspresi seperti itu dan yang dia tahu, Davin memang dingin pada semua wanita. Lebih ke acuh dan tak peduli.
Oma mengajak mereka untuk masuk ke ruangan Davin. Oma memberi kode pada Davin, namun dia tak mengerti. Dia merengut dan bertanya apa yang Omanya maksud.
Bella melihat mereka beradu ekspresi, dia tersipu malu, kemudian menyudahi kesalahpahaman mereka.
"Oma memberi kode untuk mengajakku berkeliling" ucap Bella setelah itu tersenyum lagi.
Ayah dan Ibu Bella menertawakan mereka.
"Astaga Nyonya, katakan saja langsung, Davin itu anaknya datar banget" ucap Pak Wahyu.
"Iya mana dia ngerti kode-kode kita" tambah Bu Veni.
Oma melirik dengan bulatan mata bagai kilat pada Davin yang mendelik padanya.
"Iya baiklah, ayo!" ucap Davin mengajak Bella.
Mereka berkeliling di kantor.
"Sebenarnya aku sudah pernah berkeliling sama Om Harris" ucap Bella.
"Trus kenapa tadi mau disuruh berkeliling?" tanya Davin datar.
"Kamu sendiri kenapa mau disuruh Oma buat dijodohin sama aku?" tanya Bella sambil menghadang langkahnya.
Davin menatap mata Bella tanpa perasaan. Matanya beralih pada ruang meeting yang luas tempat mereka berhenti.
"Tidak ada alasan, jika pun ada itu bukan karena cinta" ucap Davin.
Bella menatap dan tersenyum. Dia berjalan mengikutinya dan melihat jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota.
"Kamu nggak tanya alasan aku nerima perjodohan ini?" tanya Bella sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ouh ya, kenapa kamu nerima?" tanya Davin meskipun dia tak mau tahu.
Bella tersenyum dan berbalik.
"Karena aku suka sama kamu" ucap Bella.
"Oh!" jawab Davin datar.
"Ah senangnya sudah bisa mengatakan semua ini. Lebih senang lagi aku akan jadi istri kamu nanti" ucap Bella riang.
Davin tak bergeming. Selain mencari cara agar Bella mundur, dia juga berpikir kemana harus mencari Amelia. Sejatinya Davin sedang tak fokus, tapi Bella sedang berbunga-bunga.
"Aku harus bertindak cepat, jika tidak, semua berakhir" gumam Davin.
"Hmm?" Bella bertanya dengan membulatkan matanya apa yang dikatakan Davin.
"Nggak, aku ada meeting sebentar lagi" ucap Davin.
Tak berapa lama Susi, sekretarisnya datang membawa fotokopi berkas untuk meeting. Davin menatapnya dengan senyuman. Susi membalasnya dengan senyuman bibir merahnya.
"Hi Sus, aku mau kopi dong sebelum meeting. Ntar anter ke meja ku ya" ucap Davin.
Susi membulatkan matanya, heran dengan sikap bosnya yang biasanya bersikap seperti batu. Tapi dia menjawabnya dengan tersenyum.
"Baik Pak!" jawab Susi.
Bella menatap mereka bergantian dengan mengerutkan dahinya. Rasanya tak mungkin jika Davin harus punya affair dengan sekretarisnya yang berpenampilan menor dan sudah berkeluarga itu.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments