Bagas datang setelah Ghani memintanya datang ke rumah. Ghani sudah sangat marah dan tak bisa menerima lagi perlakuan Bagas pada putrinya.
Hana tak mengatakan satu patah katapun padanya. Dia hanya diam dan mengambil putrinya untuk dia susui.
Hani mengoceh dan meminta Ghani untuk tak memarahi Bagas.
"Dengar, Hana bahkan nggak ngomong apa-apa. Dia juga nggak bilang luka itu karena Bagas. Ayolah Yah! Jangan membuat rumah tangga anakmu berantakan!" ucap Hani.
Ghani mengatur nafas, mengendalikan diri untuk tetap menahan emosinya pada Hani. Dia tak memperdulikan Hani dan tetap menunggu Bagas di ruang tamu.
Amelia tak bisa berbuat apa-apa, dia setuju dengan ayahnya. Kecurigaannya pada Bagas membuatnya juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tak berapa lama, Bagas datang dengan mobilnya. Dia mengetuk pintu dan memberi salam.
Ghani menatap Amelia dan memberi isyarat untuk membukakan pintunya. Amelia menurut, dia berjalan menuju pintu. Tapi Hani buru-buru datang membukakan pintu untuk Bagas.
"KAMU! DUDUK!" teriak Ghani menunjuk Hani.
Hani terkejut, dia sangat ketakutan dan mundur menuruti suaminya untuk duduk.
"Diam di situ, jangan bicara sampai aku bilang bicara" ucap Ghani.
Hani sangat tahu sifat suaminya, dia memang baik dan tak pernah marah-marah. Tapi jika sudah marah, semua orang akan diam karena takut padanya.
Amelia meminta Bagas masuk.
"Masuk Kak Bagas" ucap Amelia.
Bagas yang melihat suasana tegang di rumah itu, menjadi ketakutan. Namun dia menjadi sombong dan merasa benar. Tanpa mendengar satu kalimatpun dari mereka, Bagas sudah mulai mengeluh akan Hana.
"Ayah mertua, aku hanya kesal padanya. Dia mulai tak menghargaiku sebagai suaminya" ucap Bagas.
Ghani hanya diam menatapnya. Bagas semakin salah tingkah. Hani terkejut dengan pengakuan Bagas. Dia hendak bicara namun Ghani memelototinya. Dia jadi diam lagi.
"Dia nggak ngehargai privasi aku lagi" lanjut Bagas.
Dia terus bicara meski tak ada yang bicara.
"Aku tak menerima ucapannya dan langsung menamparnya" ucap Bagas lagi.
Amelia terkejut, meski sudah curiga dengan memar di pipi kakaknya. Hani lemas mendengar putrinya di pukul. Ghani mengepalkan tangannya di sisi sofa.
"Panggil Hana, gendong keponakan mu dan ajak keluar!" pinta Ghani pada Amelia.
"Iya Yah!" Amelia menurut.
Hana turun setelah Amelia menggendong Mikayla dan membawanya keluar.
"Sini duduk di samping ayah" ucap Ghani lembut.
Hana mendekat dengan gemetar. Dia duduk perlahan dan tak terasa meneteskan air matanya.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Ghani.
"Nggak Yah, aku cuma.."
"Sekarang katakan apa yang terjadi" ucap Ghani menyela.
Awalnya Hana hendak menutupi semua dari keluarganya, namun saat menatap wajah Bagas yang seolah tak pernah menyesal, membuatnya kesal dan memutuskan untuk menceritakannya.
"Aku mengatakan padanya untuk berhenti menyakiti hati ku dengan membawa pelacur itu ke rumah dan tidur di ranjang kami" ucap Hana dengan meremas kedua tangannya di pangkuannya.
Hani semakin lemas mendengar ucapan Hana. Dia tak menyangka Hana mengalami hal yang tak pernah diduganya.
Ghani memejamkan matanya mengendalikan diri.
"Dari ucapan anakku, yang mana yang membuat mu tak menerimanya?" tanya Ghani yang masih memejamkan matanya.
Kedua orang tua Bagas sudah ada di depan pintu, mereka datang atas undangan Ghani yang memintanya untuk datang secepatnya. Mereka mendengar ucapan Bagas dan Hana.
Bagas menatap kedua orang tuanya yang tak tahu perlakuannya pada Hana. Mereka mendekat dan duduk bersamaan.
"Katakan, dari ucapan anakku, yang mana yang membuat mu tak menerimanya?" ulang Ghani.
Dengan kesal dan sombongnya Bagas malah lebih keras menjawab dengan marah.
"Wanita itu bukan pelacur, dia istri pertama ku yang aku nikahi siri sebelum menikah dengan Hana. Dia juga tahu itu!" teriak Bagas.
Kedua orang tua Bagas memejamkan matanya. Bagas sudah mengatakan semua rahasia mereka selama dua tahun ini. Mereka diam tak bergeming.
Ghani meneteskan air matanya. Hani menangis tersedu mendengar semua ucapan Bagas. Amelia yang ada di luar pun menangis mendengar teriakan Bagas.
"Apa aku salah? Kalian yang salah, kalian menjodohkan aku meskipun tahu aku mencintai orang lain. Aku tidak bisa meninggalkannya karena aku sangat mencintainya. Tapi hanya karena dia tak bisa memiliki anak, kalian menghinanya dan membuatku menikahi wanita yang tidak aku cintai" ucap Bagas sambil menatap Hana.
Hana menahan sedu sedannya, dadanya kembang kempis dan meremas kedua tangannya semakin keras. Ghani menghentikan tangannya yang terlihat semakin keras meremas.
"Aku ambil putriku kembali, aku juga akan menjaga cucuku. Bukankah tadi kau menitipkannya pada Neneknya. Aku akan menanggung hidup mereka. Jangan takut, aku masih mampu. Sekarang kalian boleh pergi. Jangan pernah kalian kembali datang ke rumah ini" ucap Ghani.
"Nggak bisa begitu besan. Kami mohon maaf karena menyembunyikan ini dari kalian. Kami berjanji hal ini takkan terjadi pada Hana lagi" ucap Ibu Bagas.
Ghani kesal, dia mengangkat kerah Bagas dan menyeretnya keluar. Ibu dan Ayahnya jadi ikut membantu anaknya lepas dari cengkraman Ghani. Dia melempar Bagas hingga terjatuh ke tanah tanpa bicara sepatah katapun.
"Amel! Masuk!" ucap Ghani.
Ghani menutup pintu dengan keras. Dia mengabaikan mereka meski masih terdengar umpatan dan sumpah serapah mereka pada Ghani.
Dia duduk dan memeluk Hana dan membelai wajahnya.
"Aku punya dua putri yang cantik dan baik. Mereka punya sifat baik dan pribadi yang menawan. Aku merawat dan mendidik mereka dengan susah payah. Kau kira aku akan diam saja melihat pipinya memar?" ucap Ghani pada Hani.
Hani menunduk, dia menyesali sikap acuhnya pada keluhan Hana yang selalu dia dengar sebelumnya.
Hana meminta Mikayla dari pangkuan Amelia. Dia memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih sayang sambil menangis.
Amelia menatap mereka dengan penuh rasa kasihan. Teringat dengan perjodohan mereka dulu, Hana terlihat bahagia meski dia tak mengenal Bagas. Dia menitipkan harapan besar pada pria yang tidak dikenalnya itu untuk masa depan dan hidupnya. Tapi senyuman Bagas saat itu palsu, dia hanya berpura-pura.
Suasana rumah itu jadi hening. Malam itu semakin sepi karena semua orang diam.
Ghani berbaring menutup matanya tanpa bicara pada istrinya yang terus menangis. Hana menepuk punggung Mikayla dengan lembut mengantarnya tidur.
Amelia menatap mereka dalam gelap dan heningnya malam. Membayangkan semua penderitaan yang dialami Hana selama dua tahun ini.
Dia akhirnya mengerti amarah Hana yang tak setuju dia dijodohkan. Amarah yang tak bisa diungkapkan alasannya hanya untuk menjaga perasaan kedua orang tuanya.
Hana tak bahagia dengan perjodohan itu, tapi berusaha bertahan demi ayah dan ibu.
Sama seperti Amelia saat ini, dia menuruti permintaan Ibunya hanya untuk menyenangkan perasaan mereka. Tapi, Amelia menghela nafas dalam mengingat alasannya.
Dia telah tak sengaja melanggar dan mencoreng didikan ayahnya untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dia bahkan tak tahu siapa Davin, dimana dia sekarang atau sekedar tahu nomor telponnya.
Amelia tak bisa, satu-satunya cara adalah menuruti permintaan perjodohan ini.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments