10

Bagas datang setelah Ghani memintanya datang ke rumah. Ghani sudah sangat marah dan tak bisa menerima lagi perlakuan Bagas pada putrinya.

Hana tak mengatakan satu patah katapun padanya. Dia hanya diam dan mengambil putrinya untuk dia susui.

Hani mengoceh dan meminta Ghani untuk tak memarahi Bagas.

"Dengar, Hana bahkan nggak ngomong apa-apa. Dia juga nggak bilang luka itu karena Bagas. Ayolah Yah! Jangan membuat rumah tangga anakmu berantakan!" ucap Hani.

Ghani mengatur nafas, mengendalikan diri untuk tetap menahan emosinya pada Hani. Dia tak memperdulikan Hani dan tetap menunggu Bagas di ruang tamu.

Amelia tak bisa berbuat apa-apa, dia setuju dengan ayahnya. Kecurigaannya pada Bagas membuatnya juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tak berapa lama, Bagas datang dengan mobilnya. Dia mengetuk pintu dan memberi salam.

Ghani menatap Amelia dan memberi isyarat untuk membukakan pintunya. Amelia menurut, dia berjalan menuju pintu. Tapi Hani buru-buru datang membukakan pintu untuk Bagas.

"KAMU! DUDUK!" teriak Ghani menunjuk Hani.

Hani terkejut, dia sangat ketakutan dan mundur menuruti suaminya untuk duduk.

"Diam di situ, jangan bicara sampai aku bilang bicara" ucap Ghani.

Hani sangat tahu sifat suaminya, dia memang baik dan tak pernah marah-marah. Tapi jika sudah marah, semua orang akan diam karena takut padanya.

Amelia meminta Bagas masuk.

"Masuk Kak Bagas" ucap Amelia.

Bagas yang melihat suasana tegang di rumah itu, menjadi ketakutan. Namun dia menjadi sombong dan merasa benar. Tanpa mendengar satu kalimatpun dari mereka, Bagas sudah mulai mengeluh akan Hana.

"Ayah mertua, aku hanya kesal padanya. Dia mulai tak menghargaiku sebagai suaminya" ucap Bagas.

Ghani hanya diam menatapnya. Bagas semakin salah tingkah. Hani terkejut dengan pengakuan Bagas. Dia hendak bicara namun Ghani memelototinya. Dia jadi diam lagi.

"Dia nggak ngehargai privasi aku lagi" lanjut Bagas.

Dia terus bicara meski tak ada yang bicara.

"Aku tak menerima ucapannya dan langsung menamparnya" ucap Bagas lagi.

Amelia terkejut, meski sudah curiga dengan memar di pipi kakaknya. Hani lemas mendengar putrinya di pukul. Ghani mengepalkan tangannya di sisi sofa.

"Panggil Hana, gendong keponakan mu dan ajak keluar!" pinta Ghani pada Amelia.

"Iya Yah!" Amelia menurut.

Hana turun setelah Amelia menggendong Mikayla dan membawanya keluar.

"Sini duduk di samping ayah" ucap Ghani lembut.

Hana mendekat dengan gemetar. Dia duduk perlahan dan tak terasa meneteskan air matanya.

"Kenapa kamu nangis?" tanya Ghani.

"Nggak Yah, aku cuma.."

"Sekarang katakan apa yang terjadi" ucap Ghani menyela.

Awalnya Hana hendak menutupi semua dari keluarganya, namun saat menatap wajah Bagas yang seolah tak pernah menyesal, membuatnya kesal dan memutuskan untuk menceritakannya.

"Aku mengatakan padanya untuk berhenti menyakiti hati ku dengan membawa pelacur itu ke rumah dan tidur di ranjang kami" ucap Hana dengan meremas kedua tangannya di pangkuannya.

Hani semakin lemas mendengar ucapan Hana. Dia tak menyangka Hana mengalami hal yang tak pernah diduganya.

Ghani memejamkan matanya mengendalikan diri.

"Dari ucapan anakku, yang mana yang membuat mu tak menerimanya?" tanya Ghani yang masih memejamkan matanya.

Kedua orang tua Bagas sudah ada di depan pintu, mereka datang atas undangan Ghani yang memintanya untuk datang secepatnya. Mereka mendengar ucapan Bagas dan Hana.

Bagas menatap kedua orang tuanya yang tak tahu perlakuannya pada Hana. Mereka mendekat dan duduk bersamaan.

"Katakan, dari ucapan anakku, yang mana yang membuat mu tak menerimanya?" ulang Ghani.

Dengan kesal dan sombongnya Bagas malah lebih keras menjawab dengan marah.

"Wanita itu bukan pelacur, dia istri pertama ku yang aku nikahi siri sebelum menikah dengan Hana. Dia juga tahu itu!" teriak Bagas.

Kedua orang tua Bagas memejamkan matanya. Bagas sudah mengatakan semua rahasia mereka selama dua tahun ini. Mereka diam tak bergeming.

Ghani meneteskan air matanya. Hani menangis tersedu mendengar semua ucapan Bagas. Amelia yang ada di luar pun menangis mendengar teriakan Bagas.

"Apa aku salah? Kalian yang salah, kalian menjodohkan aku meskipun tahu aku mencintai orang lain. Aku tidak bisa meninggalkannya karena aku sangat mencintainya. Tapi hanya karena dia tak bisa memiliki anak, kalian menghinanya dan membuatku menikahi wanita yang tidak aku cintai" ucap Bagas sambil menatap Hana.

Hana menahan sedu sedannya, dadanya kembang kempis dan meremas kedua tangannya semakin keras. Ghani menghentikan tangannya yang terlihat semakin keras meremas.

"Aku ambil putriku kembali, aku juga akan menjaga cucuku. Bukankah tadi kau menitipkannya pada Neneknya. Aku akan menanggung hidup mereka. Jangan takut, aku masih mampu. Sekarang kalian boleh pergi. Jangan pernah kalian kembali datang ke rumah ini" ucap Ghani.

"Nggak bisa begitu besan. Kami mohon maaf karena menyembunyikan ini dari kalian. Kami berjanji hal ini takkan terjadi pada Hana lagi" ucap Ibu Bagas.

Ghani kesal, dia mengangkat kerah Bagas dan menyeretnya keluar. Ibu dan Ayahnya jadi ikut membantu anaknya lepas dari cengkraman Ghani. Dia melempar Bagas hingga terjatuh ke tanah tanpa bicara sepatah katapun.

"Amel! Masuk!" ucap Ghani.

Ghani menutup pintu dengan keras. Dia mengabaikan mereka meski masih terdengar umpatan dan sumpah serapah mereka pada Ghani.

Dia duduk dan memeluk Hana dan membelai wajahnya.

"Aku punya dua putri yang cantik dan baik. Mereka punya sifat baik dan pribadi yang menawan. Aku merawat dan mendidik mereka dengan susah payah. Kau kira aku akan diam saja melihat pipinya memar?" ucap Ghani pada Hani.

Hani menunduk, dia menyesali sikap acuhnya pada keluhan Hana yang selalu dia dengar sebelumnya.

Hana meminta Mikayla dari pangkuan Amelia. Dia memeluk dan menciumnya dengan penuh kasih sayang sambil menangis.

Amelia menatap mereka dengan penuh rasa kasihan. Teringat dengan perjodohan mereka dulu, Hana terlihat bahagia meski dia tak mengenal Bagas. Dia menitipkan harapan besar pada pria yang tidak dikenalnya itu untuk masa depan dan hidupnya. Tapi senyuman Bagas saat itu palsu, dia hanya berpura-pura.

Suasana rumah itu jadi hening. Malam itu semakin sepi karena semua orang diam.

Ghani berbaring menutup matanya tanpa bicara pada istrinya yang terus menangis. Hana menepuk punggung Mikayla dengan lembut mengantarnya tidur.

Amelia menatap mereka dalam gelap dan heningnya malam. Membayangkan semua penderitaan yang dialami Hana selama dua tahun ini.

Dia akhirnya mengerti amarah Hana yang tak setuju dia dijodohkan. Amarah yang tak bisa diungkapkan alasannya hanya untuk menjaga perasaan kedua orang tuanya.

Hana tak bahagia dengan perjodohan itu, tapi berusaha bertahan demi ayah dan ibu.

Sama seperti Amelia saat ini, dia menuruti permintaan Ibunya hanya untuk menyenangkan perasaan mereka. Tapi, Amelia menghela nafas dalam mengingat alasannya.

Dia telah tak sengaja melanggar dan mencoreng didikan ayahnya untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dia bahkan tak tahu siapa Davin, dimana dia sekarang atau sekedar tahu nomor telponnya.

Amelia tak bisa, satu-satunya cara adalah menuruti permintaan perjodohan ini.

\=\=\=\=\=\=>

Episodes
1 01
2 02
3 03
4 04
5 05
6 06
7 07
8 08
9 09
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
128 128
129 129
130 130
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 147
148 148
149 149
150 150
151 151
152 152
153 153
154 154
155 155
156 156
157 157
158 158
159 159
160 160
161 161
162 162
163 163
164 164
165 165
166 166
167 167
168 168
169 169
170 170
171 171
172 172
173 173
174 174
175 175
176 176
177 177
178 178
179 179
180 180
181 181
182 182
183 183
184 184
185 185
186 186
Episodes

Updated 186 Episodes

1
01
2
02
3
03
4
04
5
05
6
06
7
07
8
08
9
09
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127
128
128
129
129
130
130
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
156
157
157
158
158
159
159
160
160
161
161
162
162
163
163
164
164
165
165
166
166
167
167
168
168
169
169
170
170
171
171
172
172
173
173
174
174
175
175
176
176
177
177
178
178
179
179
180
180
181
181
182
182
183
183
184
184
185
185
186
186

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!