09

Amelia sudah menerima semua bingkisan yang dikirim Dara melalui paket. Mereka akan mengadakan pertunangan di rumah dengan konsep Garden Party.

Hani menghubungi Hana lagi dan kali ini terhubung.

"Hallo Bu!" jawab Hana.

"Hallo Hana, kamu dari mana aja sih, ko nggak angkat telpon ibu, udah dua hari loh" keluh Hani.

"Hana pergi Bu ke rumah Kakeknya Bagas, hape nya nggak di bawa ketinggalan" jawab Hana datar.

"Ouh, ini ibu mau kabarin. Nanti tanggal 5 Mei, Amelia tunangan sama Andy anak temen ibu" ucap Hani.

"Apa? kok mendadak? bukannya dia lagi kerja di luar kota?" tanya Hana yang langsung merespon dengan marah.

"Loh kok marah?" tanya Hani.

"Ibu jodohin anak ibu lagi? Apa nggak cukup aku udah nurutin semua keinginan ibu. Aku ngalah loh Bu, karena aku pikir Ibu bakalan ngelepasin masa depan Amelia buat dirinya sendiri" ucap Hana.

"Lah kan kamu juga enak sekarang hidupnya, bentar-bentar jalan, bentar-bentar ke luar negeri. Apalagi Amel, Andy itu anak baik , lulusan universitas ternama, pekerjaannya pun menjanjikan. Apa coba yang kurang?"

Mereka mulai bertengkar, Hana menutup telponnya dengan kesal. Dia memejamkan matanya sejenak, muak dengan semua ucapan ibunya.

Karena sangat khawatir, Hana cepat menghubungi Amelia untuk memastikan.

"Iya Kak, ibu mencoba menghubungi mu. Kau darimana saja?" jawab Amelia dengan segudang pertanyaan.

"Kau kenapa? Kenapa menerima perjodohan ini? Ku mau bunuh diri?" tanya Hana tanpa jeda.

"Tidak Kak, aku hanya ingin menjadi anak yang baik saja seperti Kakak" ucap Amelia.

Kemudian tak lama suara teriakan memanggil nama Hana terdengar keras dan kasar. Amelia terkejut mendengarnya.

"Siapa itu Kak?" ucap Amelia khawatir.

"Suami tetangga ku, nama kami sama. Ya sudah aku tutup ya, aku lupa Mikayla belum ku beri buah" pamit Hana dengan alasan.

Amelia menatap ponselnya, dia berpikir sejenak. Suara yang dia dengar seolah tak asing.

"Itu suara Kak Bagas, tapi Kak Bagas yang aku kenal nggak kasar gitu deh manggilnya!" gumam Amelia.

Kemudian tak berapa lama, Ghani mengetuk pintu dan mengajak Amelia pergi belanja.

"Yuk, ada yang perlu dibeli dan kau harus ikut" ucap Ghani.

"Bukannya ibu sedang pergi?" tanya Amelia.

"Ya, ini hanya antara kita berdua" ucap Ghani.

Amelia tersenyum, dia ikut dengan ayahnya ke toko baju. Ayahnya hendak membelikan gaun yang cantik untuknya.

Di perjalanan Amelia tak melewatkan kesempatan bertanya soal kakaknya.

"Ayah!" seru Amelia.

"Hmmm!" jawab Ghani sambil melihatnya yang mengemudi.

"Apa kakak terlihat bahagia dengan kak Bagas?" tanya Amelia.

"Tentu saja bahagia, mereka memiliki anak perempuan yang cantik, cucuku bernama Mikayla. Ouh...dia manis sekali" ucap Ghani tersenyum lebar.

"Apa kak Bagas memperlakukannya dengan baik?" tanya Amelia lagi.

"Hei, kau ini kenapa? Ragu?" Ghani balik bertanya.

"Tidak, tadi saat sebelum ayah masuk, dia menelponku. Dia khawatir karena aku menyetujui perjodohan ini. Kemudian terdengar seorang pria berteriak memanggil namanya, tapi dia bilang itu tetangganya, namanya juga sama Hana. Aku tak pernah dengar Kak Bagas teriak, tapi, aku sedikit khawatir" jelas Amelia.

Ghani memegang tangan Amelia yang memegang stir.

"Berhenti di depan!" pinta Ghani.

Amelia memberhentikan mobilnya, merekapun keluar.

"Dengar sayang, aku tidak pernah melihat Bagas berbuat buruk pada Hana. Tapi karena kau mendengarnya, aku akan menanyakan hal itu juga padanya. Kau jangan khawatir, ayah lihat Andy orang yang jauh dari temperamental tinggi" ucap Ghani sambil memeluk pinggangnya.

Amelia tersenyum, tapi dia masih ragu. Ghani mengajaknya memilih baju yang disukainya. Mereka pun berbelanja.

Tak terasa waktu berlalu cepat, hari pertunangan akan diadakan seminggu lagi. Hani meminta beberapa orang untuk membantu memasak saat hari H. Ghani bekerja seperti biasanya, pulang sore hari. Kemudian Amelia masih sibuk menonton berita.

Suara ketukan pintu terdengar, Amelia melihat ke arah pintu.

"Yaaaa, aku datang!" teriak Amelia.

Dia berjalan membuka pintu dan terkejut. Hana datang bersama Mikayla putrinya yang berumur 1 tahun. Dia langsung memberikan Mikayla pada Amelia. Sementara dirinya langsung berjalan dengan terburu-buru ke lantai atas kamar mereka.

"Kak Hana!" seru Amelia sambil menatap keponakannya.

Hani mendengar Amelia memanggil nama Hana. Dia keluar dari dapur dan memasang wajah yang seolah bertanya dimana Hana. Dia senang melihat Amelia menggendong Mikayla. Dia langsung mematikan kompor dan melempar celemeknya.

"Aih, ada cucu nenek yang cantik!" sambut Hani menggendong cucunya.

Hani menciumi cucunya dan memeluknya dengan penuh kerinduan.

"Mana Bagas? Hana mana?" tanya Hani.

"Kak Hana ke atas, aku nggak lihat Kak Bagas" jawab Amelia.

Amelia berlari ke kamarnya dan menemukan Hana sedang mengompres pipinya.

"Kenapa Kak?" tanya Amelia khawatir.

"Ada perempuan jelmaan iblis menamparku di bus" jawab Hana dengan kesal.

"Wah tamparannya keras sekali sampai merah begitu!" ucap Amelia sambil memeriksa.

Amelia mengambil salep dan mengoleskannya dengan perlahan.

~Ini memang masih baru, tapi bukan barusan. Memar tamparan biasanya terjadi setelah sehari~ ucap hati Amelia.

Mata Hana berkaca-kaca.

"Nangis aja, aku nggak akan cerita ke ibu atau ayah" ucap Amelia.

"Cuma ditampar orang yang nggak dikenal, ngenes doang" jawab Hana.

Hana terlihat mengatur nafas untuk tetap tidak menangis. Namun Amelia keluar dan membiarkannya sendiri. Kemudian terdengar suara tangis cukup keras. Amelia menatap lantai dan menghentakkan kakinya beberapa kali, seolah tak tahu apa yang harus dilakukan.

Amelia kembali ke bawah dan mengasuh Mikayla. Hani mengeluh dan terus menanyakan Hana yang tak turun.

"Kak Hana pasti lelah bawa Mikayla sepanjang perjalanan Bu, biarin aja, suruh istirahat dulu" teriak Amelia.

Amelia menatap Mikayla dengan sedih kemudian merubah ekspresi wajahnya menghibur Mikayla.

Tak berapa lama telpon rumah berbunyi, Hani yang sedang lewat, langsung menerima telponnya.

"Ya Hallo!" sapa Hani.

"Ibu mertua?" ucap Bagas.

"Nak Bagas! Loh kok nggak ikut? Hana masih tidur, Mikayla lagi main sama Amelia" ucap Hani tanpa ditanya.

"Ouh iya Bu, aku masih ada pekerjaan. Titip Mikayla ya Bu" jawab Bagas.

"Ouh iya iya, salam buat mamih di rumah ya. Jangan lupa datang ke pertunangan Amelia" Hani senang mengatakannya.

Amelia menatap ibunya menutup telpon, dia ingin sekali bertanya apa memar itu karena Bagas. Tapi dia mengurungkan niatnya dan tetap berpikiran positif seperti apa yang dikatakan Hana.

Sore hari Ghani pulang dengan membawa bingkisan dari bosnya. Mendengar anaknya akan bertunangan membuatnya mendapat perhatian. Ghani terkejut karena melihat Mikayla yang menyambut kedatangannya.

"Oh..cucu kakek sudah datang!" seru Ghani senang.

Dia menggendongnya dan berekspresi menanyakan ibu dan ayahnya. Amelia menunjuk ke atas, kemudian Hana turun dengan rambut acak-acakan habis bangun tidur.

Matanya sembab, dia mengambil minum dan meneguknya seolah sudah lama tak minum. Ghani menghampirinya, dia menatap wajah Hana yang memar. Tanpa bicara, dia langsung memeluk Hana dengan erat. Hana yang terkejut justru menolak dan memaksa melepas pelukannya. Namun Ghani tetap memeluknya.

Amelia menangis melihatnya, ayahnya sangat peka. Dia sangat tahu saat anak-anaknya sedang mengalami hal buruk.

\=\=\=\=\=>

Episodes
1 01
2 02
3 03
4 04
5 05
6 06
7 07
8 08
9 09
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
128 128
129 129
130 130
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 147
148 148
149 149
150 150
151 151
152 152
153 153
154 154
155 155
156 156
157 157
158 158
159 159
160 160
161 161
162 162
163 163
164 164
165 165
166 166
167 167
168 168
169 169
170 170
171 171
172 172
173 173
174 174
175 175
176 176
177 177
178 178
179 179
180 180
181 181
182 182
183 183
184 184
185 185
186 186
Episodes

Updated 186 Episodes

1
01
2
02
3
03
4
04
5
05
6
06
7
07
8
08
9
09
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127
128
128
129
129
130
130
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
156
157
157
158
158
159
159
160
160
161
161
162
162
163
163
164
164
165
165
166
166
167
167
168
168
169
169
170
170
171
171
172
172
173
173
174
174
175
175
176
176
177
177
178
178
179
179
180
180
181
181
182
182
183
183
184
184
185
185
186
186

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!