Amelia sudah menerima semua bingkisan yang dikirim Dara melalui paket. Mereka akan mengadakan pertunangan di rumah dengan konsep Garden Party.
Hani menghubungi Hana lagi dan kali ini terhubung.
"Hallo Bu!" jawab Hana.
"Hallo Hana, kamu dari mana aja sih, ko nggak angkat telpon ibu, udah dua hari loh" keluh Hani.
"Hana pergi Bu ke rumah Kakeknya Bagas, hape nya nggak di bawa ketinggalan" jawab Hana datar.
"Ouh, ini ibu mau kabarin. Nanti tanggal 5 Mei, Amelia tunangan sama Andy anak temen ibu" ucap Hani.
"Apa? kok mendadak? bukannya dia lagi kerja di luar kota?" tanya Hana yang langsung merespon dengan marah.
"Loh kok marah?" tanya Hani.
"Ibu jodohin anak ibu lagi? Apa nggak cukup aku udah nurutin semua keinginan ibu. Aku ngalah loh Bu, karena aku pikir Ibu bakalan ngelepasin masa depan Amelia buat dirinya sendiri" ucap Hana.
"Lah kan kamu juga enak sekarang hidupnya, bentar-bentar jalan, bentar-bentar ke luar negeri. Apalagi Amel, Andy itu anak baik , lulusan universitas ternama, pekerjaannya pun menjanjikan. Apa coba yang kurang?"
Mereka mulai bertengkar, Hana menutup telponnya dengan kesal. Dia memejamkan matanya sejenak, muak dengan semua ucapan ibunya.
Karena sangat khawatir, Hana cepat menghubungi Amelia untuk memastikan.
"Iya Kak, ibu mencoba menghubungi mu. Kau darimana saja?" jawab Amelia dengan segudang pertanyaan.
"Kau kenapa? Kenapa menerima perjodohan ini? Ku mau bunuh diri?" tanya Hana tanpa jeda.
"Tidak Kak, aku hanya ingin menjadi anak yang baik saja seperti Kakak" ucap Amelia.
Kemudian tak lama suara teriakan memanggil nama Hana terdengar keras dan kasar. Amelia terkejut mendengarnya.
"Siapa itu Kak?" ucap Amelia khawatir.
"Suami tetangga ku, nama kami sama. Ya sudah aku tutup ya, aku lupa Mikayla belum ku beri buah" pamit Hana dengan alasan.
Amelia menatap ponselnya, dia berpikir sejenak. Suara yang dia dengar seolah tak asing.
"Itu suara Kak Bagas, tapi Kak Bagas yang aku kenal nggak kasar gitu deh manggilnya!" gumam Amelia.
Kemudian tak berapa lama, Ghani mengetuk pintu dan mengajak Amelia pergi belanja.
"Yuk, ada yang perlu dibeli dan kau harus ikut" ucap Ghani.
"Bukannya ibu sedang pergi?" tanya Amelia.
"Ya, ini hanya antara kita berdua" ucap Ghani.
Amelia tersenyum, dia ikut dengan ayahnya ke toko baju. Ayahnya hendak membelikan gaun yang cantik untuknya.
Di perjalanan Amelia tak melewatkan kesempatan bertanya soal kakaknya.
"Ayah!" seru Amelia.
"Hmmm!" jawab Ghani sambil melihatnya yang mengemudi.
"Apa kakak terlihat bahagia dengan kak Bagas?" tanya Amelia.
"Tentu saja bahagia, mereka memiliki anak perempuan yang cantik, cucuku bernama Mikayla. Ouh...dia manis sekali" ucap Ghani tersenyum lebar.
"Apa kak Bagas memperlakukannya dengan baik?" tanya Amelia lagi.
"Hei, kau ini kenapa? Ragu?" Ghani balik bertanya.
"Tidak, tadi saat sebelum ayah masuk, dia menelponku. Dia khawatir karena aku menyetujui perjodohan ini. Kemudian terdengar seorang pria berteriak memanggil namanya, tapi dia bilang itu tetangganya, namanya juga sama Hana. Aku tak pernah dengar Kak Bagas teriak, tapi, aku sedikit khawatir" jelas Amelia.
Ghani memegang tangan Amelia yang memegang stir.
"Berhenti di depan!" pinta Ghani.
Amelia memberhentikan mobilnya, merekapun keluar.
"Dengar sayang, aku tidak pernah melihat Bagas berbuat buruk pada Hana. Tapi karena kau mendengarnya, aku akan menanyakan hal itu juga padanya. Kau jangan khawatir, ayah lihat Andy orang yang jauh dari temperamental tinggi" ucap Ghani sambil memeluk pinggangnya.
Amelia tersenyum, tapi dia masih ragu. Ghani mengajaknya memilih baju yang disukainya. Mereka pun berbelanja.
Tak terasa waktu berlalu cepat, hari pertunangan akan diadakan seminggu lagi. Hani meminta beberapa orang untuk membantu memasak saat hari H. Ghani bekerja seperti biasanya, pulang sore hari. Kemudian Amelia masih sibuk menonton berita.
Suara ketukan pintu terdengar, Amelia melihat ke arah pintu.
"Yaaaa, aku datang!" teriak Amelia.
Dia berjalan membuka pintu dan terkejut. Hana datang bersama Mikayla putrinya yang berumur 1 tahun. Dia langsung memberikan Mikayla pada Amelia. Sementara dirinya langsung berjalan dengan terburu-buru ke lantai atas kamar mereka.
"Kak Hana!" seru Amelia sambil menatap keponakannya.
Hani mendengar Amelia memanggil nama Hana. Dia keluar dari dapur dan memasang wajah yang seolah bertanya dimana Hana. Dia senang melihat Amelia menggendong Mikayla. Dia langsung mematikan kompor dan melempar celemeknya.
"Aih, ada cucu nenek yang cantik!" sambut Hani menggendong cucunya.
Hani menciumi cucunya dan memeluknya dengan penuh kerinduan.
"Mana Bagas? Hana mana?" tanya Hani.
"Kak Hana ke atas, aku nggak lihat Kak Bagas" jawab Amelia.
Amelia berlari ke kamarnya dan menemukan Hana sedang mengompres pipinya.
"Kenapa Kak?" tanya Amelia khawatir.
"Ada perempuan jelmaan iblis menamparku di bus" jawab Hana dengan kesal.
"Wah tamparannya keras sekali sampai merah begitu!" ucap Amelia sambil memeriksa.
Amelia mengambil salep dan mengoleskannya dengan perlahan.
~Ini memang masih baru, tapi bukan barusan. Memar tamparan biasanya terjadi setelah sehari~ ucap hati Amelia.
Mata Hana berkaca-kaca.
"Nangis aja, aku nggak akan cerita ke ibu atau ayah" ucap Amelia.
"Cuma ditampar orang yang nggak dikenal, ngenes doang" jawab Hana.
Hana terlihat mengatur nafas untuk tetap tidak menangis. Namun Amelia keluar dan membiarkannya sendiri. Kemudian terdengar suara tangis cukup keras. Amelia menatap lantai dan menghentakkan kakinya beberapa kali, seolah tak tahu apa yang harus dilakukan.
Amelia kembali ke bawah dan mengasuh Mikayla. Hani mengeluh dan terus menanyakan Hana yang tak turun.
"Kak Hana pasti lelah bawa Mikayla sepanjang perjalanan Bu, biarin aja, suruh istirahat dulu" teriak Amelia.
Amelia menatap Mikayla dengan sedih kemudian merubah ekspresi wajahnya menghibur Mikayla.
Tak berapa lama telpon rumah berbunyi, Hani yang sedang lewat, langsung menerima telponnya.
"Ya Hallo!" sapa Hani.
"Ibu mertua?" ucap Bagas.
"Nak Bagas! Loh kok nggak ikut? Hana masih tidur, Mikayla lagi main sama Amelia" ucap Hani tanpa ditanya.
"Ouh iya Bu, aku masih ada pekerjaan. Titip Mikayla ya Bu" jawab Bagas.
"Ouh iya iya, salam buat mamih di rumah ya. Jangan lupa datang ke pertunangan Amelia" Hani senang mengatakannya.
Amelia menatap ibunya menutup telpon, dia ingin sekali bertanya apa memar itu karena Bagas. Tapi dia mengurungkan niatnya dan tetap berpikiran positif seperti apa yang dikatakan Hana.
Sore hari Ghani pulang dengan membawa bingkisan dari bosnya. Mendengar anaknya akan bertunangan membuatnya mendapat perhatian. Ghani terkejut karena melihat Mikayla yang menyambut kedatangannya.
"Oh..cucu kakek sudah datang!" seru Ghani senang.
Dia menggendongnya dan berekspresi menanyakan ibu dan ayahnya. Amelia menunjuk ke atas, kemudian Hana turun dengan rambut acak-acakan habis bangun tidur.
Matanya sembab, dia mengambil minum dan meneguknya seolah sudah lama tak minum. Ghani menghampirinya, dia menatap wajah Hana yang memar. Tanpa bicara, dia langsung memeluk Hana dengan erat. Hana yang terkejut justru menolak dan memaksa melepas pelukannya. Namun Ghani tetap memeluknya.
Amelia menangis melihatnya, ayahnya sangat peka. Dia sangat tahu saat anak-anaknya sedang mengalami hal buruk.
\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments