Ghani duduk di kursi setelah sampai dari perjalanan pulangnya. Sementara Hani cepat-cepat mandi dan memasukkan semua pakaian kotor ke mesin cuci. Amelia sendiri merapikan oleh-oleh di meja makan. Ghani memperhatikannya.
"Amel! Sini sebentar!" ucap Ghani melambaikan tangannya.
Amelia berjalan mendekat dan duduk di hadapan ayahnya.
"Sini deket sama ayah" pinta Ghani.
Amelia menatap tempat duduk di samping ayahnya.
"Kenapa?" tanya Ghani memperhatikan matanya.
Amelia menghela nafas, dia tahu ayahnya akan membahas soal perjodohan dan itu sangat membuatnya malas. Namun Amelia memaksakan diri dan duduk di dekat ayahnya dengan merubah ekspresinya.
"Nggak kenapa-kenapa ayah, ayah mau bicara apa?" tanya Amelia dengan riang.
Ghani memeluknya, dia diam sejenak dan membelai rambut Amelia.
"Huhhff....anak ayah sudah besar, sudah dewasa" ucap Ghani.
Amelia heran dengan ucapannya, namun tetap berpikir dan mengira semuanya hanya tentang perjodohan.
"Sudah pandai menyembunyikan sesuatu dari ayahnya" lanjut Ghani.
Amelia melepaskan pelukan ayahnya dan menatap dengan wajahnya yang terkejut.
"Maksud ayah apa?" tanya Amelia panik.
Dia pikir ayahnya tahu tentang kejadian itu.
~Siapa yang ngasih tau? Apa ada telpon? Apa orang itu nyari aku?~ Amelia benar-benar panik.
Ghani memegang tangan Amelia dan menciumnya.
"Kenapa kamu nggak protes soal perjodohan ini? Kenapa kamu hanya menurut saja atas permintaan kami, yang notabene sangat bertentangan dengan keinginan kamu?" tanya Ghani memperjelas pertanyaannya.
Amelia lega, dia bisa menghilangkan kepanikannya.
~Ouh, aku kira....~
Amelia memindahkan tangannya dan mengusap tangan ayahnya.
"Aku udah pernah bilang, aku akan nurut sama ayah sama ibu. Nggak ada alasan lain Yah!" Amelia mencoba meyakinkan.
"Ayah nggak percaya, ayah ngga bisa percaya begitu saja. Bilang sama ayah, mumpung ibu masih mandi" ucap Ghani.
Amelia menatap ke arah kamar mandi.
~Bu, cepetan keluar! Kalau lama-lama ditatap ayah, aku nggak bisa nyimpen rahasia ini lagi~ ucap hati Amelia.
Ghani menunggu Amelia mengatakan sesuatu, namun tak kunjung bicara. Amelia masih diam menatap tangan ayahnya yang memegang tangannya.
"Mel!" seru Hani.
"Iya Bu!" jawab Amelia.
Dia melepas tangan ayahnya dan berdiri kemudian bergegas pergi menghampiri ibunya. Ghani menghela, merasa tak diberi kesempatan oleh Hani untuk sekedar bicara dengan anaknya.
Ghani pergi ke kamarnya dan membaringkan badan. Dia akan bicara lagi dengan Amelia nanti, besok setelah Hani pergi berbelanja.
Amelia membantu ibunya membilas semua pakaian yang sudah digilas mesin cuci. Dia juga merasa lega karena sudah berhasil menghindari pertanyaan dari ayahnya.
~Ayah paling tahu bagaimana aku, pasti dia merasakan perubahan sikap ku. Mulai sekarang aku akan bersikap seperti sebelumnya, agar dia tak curiga~ ucap hati Amelia.
Tiba-tiba Hani memeluk Amelia dari belakang. Amelia terkejut, wajahnya berubah tegang, dia bahkan menelan ludahnya sendiri.
"I...bu...!" ucap Amelia.
"Makasih ya udah mau kenalan dan deket sama Andy. Ibu harap kamu mau tunangan sama dia dalam waktu dekat ini. Ibu nggak mau nunda-nunda lagi" ucap Hani.
Amelia terdiam sejenak, ini sangat bertentangan dengan isi hatinya. Bahkan dengan semua yang terjadi. Dia tak punya pilihan lain.
"Iya Bu, Amel akan nurutin semua keinginan Ibu" jawab Amelia.
Hani melepas pelukannya.
"Pinter, itu baru anak ibu!" ucap Hani dengan senang.
Dia pergi dengan melenggang masuk ke kamarnya. Namun berubah menjadi perlahan setelah melihat Ghani suaminya tertidur.
Amelia selesai dengan menjemur pakaian di lantai atas. Dia masuk ke kamarnya dan menatap ranjang kakaknya yang bernama Hana, yang lama tak pernah datang ke rumah setelah menikah dengan suami pilihan ibunya.
~Kamu nggak pernah pulang, dah bahagia ya nikah dijodohin~ ucap hati Amelia.
Dia berdiri dari ranjang membuka jendela kamarnya. Angin berhembus pelan mengibas rambutnya yang hitam dan lembut. Dia naik dan menjuntaikan kedua kakinya keluar jendela.
Tempat yang paling nyaman untuk sendiri, sejak kecil hingga kini. Tempat yang mengingatkan banyak hal manis tentang kehidupan keluarganya dulu. Masa-masa sebelum Hana benar-benar pergi tinggal bersama suami dan mertuanya.
###
Malam tiba, Hani sibuk menelpon Hana yang sedari tadi tak menjawab telponnya.
"Idih, sibuk banget apa ya punya anak satu aja sampe nggak bisa angkat telpon?" keluh Hani.
"Huuhhhff kebiasan deh kalo udah maksa, orang nggak ngangkat telpon aja diomelin" ucap Ghani.
"Dari tadi loh Yah, dari sore!" ucap Hani.
"Ya, mungkin dia lagi pergi dari siang sampe malem" ucap Ghani.
"Iya, iya, besok aja aku nelponnya. Mending nelpon Dara" ucap Hani punya alternatif lain untuk mengobrol.
Amelia sibuk menonton berita, dia selalu fokus jika acara berita sudah dimulai. Ghani hanya menatapnya, meski dalam hatinya dia masih belum bisa mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya.
"Hallo, momy Hani yang cantik!" sapa Andy yang mengangkat telpon ibunya.
"Hallo Andy! Ih, kok Andy yang jawab? Momi Dara kemana?" tanya Hani sambil menyalakan pengeras suara.
Mata Amelia melirik ke sisi arah ibunya duduk.
"Ada tante, cuma lagi pengen aja jawab telpon dari tante, soalnya Amel nggak jawab chat aku dari tadi siang" keluh Andy.
Hani menendang Amelia yang duduk di bawahnya.
"Kamu nggak bales chatnya Andy?" bisik Hani.
"Hp ku di cas lobet" jawab Amelia datar.
Ghani tersenyum melihat respon Amelia. Dia mengacungkan jempolnya karena bersikap jual mahal pada Andy. Hani memukul tangan suaminya. Ghani meringis kesakitan.
"Ada apa Han? Masih kangen ya sama aku?" tanya Dara yang mengambil ponsel dari Andy.
"Aku mau ngomongin soal rencana pertunangan Andy sama Amelia. Kayaknya mesti diadain cepet-cepet deh. Bulan depan gimana?" ucap Hani.
Ghani berdiri dan menaruh kedua tangannya di pinggang. Amelia ikut berdiri, jika ayahnya sudah bereaksi seperti itu, biasanya akan terjadi perang dunia antara mereka.
Hani memandang lengan suaminya yang membentuk lubang segitiga, dia sedikit takut karena dia juga sudah paham suaminya sedang marah.
"Loh, ide bagus tuh. Si Andy juga dah kepengen cepet-cepet kayaknya" jawab Dara.
Hani lega mendengar jawaban Dara. Terdengar suara Andy senang dan berteriak kegirangan. Amelia memasang wajah aneh mendengar Andy yang kegirangan.
Ghani memberi kode untuk pamit dan menutup telponnya. Namun Hani pun memberi kode pada suaminya itu untuk tenang dengan menarik pakaiannya untuk duduk.
"Ok, aku akan bikin undangan online buat teman-teman kita. Karena baru pertunangan kita adain acaranya di rumah ku aja ya, halamannya cukup luas buat garden party" ucap Hani.
"Ok Say, aku juga mau ngabarin keluarga. Bisa diaturlah nanti soal jenis partynya" jawab Dara.
"Ok aku pamit ya, Ghani ngajak bubu, bye!" pamit Hani dengan candanya.
"Kok kamu nggak ngomongin ini sama aku dulu bu?" tanya Ghani dengan kesal.
Hani berdiri karena Ghani tak mau duduk.
"Tadi mau ngomong, tapi kan ayahnya tidur" Hani mencari alasan.
"Dari tadi kita nonton Tv, kamu nggak ngomong apa-apa" ucap Ghani dengan nada suara lebih tinggi.
Hani membelalakan matanya mendengar Ghani menyebutnya dengan kata 'kamu' lagi.
"Kita seharusnya tanya dulu sama Amelia apa dia mau atau nggak!" nada suara Ghani meninggi.
Amelia menghadang Ghani, dia berdiri diantara ayah dan ibunya dengan menatap juga memegang tangan ayahnya agar turun.
"Amel mau, ayah tenang ya, tadi ayah denger kan kalo Andy juga girang. Nggak ada masalah ok, jadi nggak usah ribut" ucap Amelia menengahi.
Ghani menatap putrinya dengan mengatur nafas dalam kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments