Andy semangat sekali karena Amelia akan menginap dan tinggal di paviliun rumah mereka. Dia menyiapkan semuanya dengan rapi. Dara pun terheran dengan sikapnya.
"Wah, ibu kira dia bakalan nolak dengan pertemuan ini. Ternyata dia juga suka dengan Amelia" ucap Dara pada Daud.
"Iya, ayah juga kira dia bakalan marah dan minggat" ucap Daud bercanda.
"Kalo itu sih nggak akan mungkin" ucap Dara.
Tiba-tiba Hani dan Ghani mendekat.
"Makasih loh Ra, sampe disiapin paviliunnya, padahal kita bisa loh nginep di hotel" ucap Hani.
"Eits, mana mungkin aku izinin kamu nginep di hotel. Udah, lagian udah disiapin sama Andy tuh paviliunnya" ucap Dara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya loh, Andy baik banget. Sampe mau beresin dan ganti seprai segala" ucap Ghani.
"Menantu idaman kan?" puji Daud.
Amelia yang baru datang mendengar ucapan omnya itu. Langkahnya terhenti, dia tak jadi masuk dan berhenti di tembok dekat pintu.
Andy melihatnya dari jauh, dia melempar sesuatu dan memberi kode seolah bertanya. Amelia menatapnya dalam, mengingat bahwa ternyata kedatangannya kesana adalah jawaban dari perjodohannya dengan Andy.
Andy penasaran dan mendekat.
"Ada apa, kenapa diam di sini?" tanya Andy.
Dara dan Hani mendengar ucapan Andy dan mengerti bahwa Amelia sedari tadi mendengarkan pembicaraan juga candaan mereka. Hani dan Ghani buru-buru mendekat untuk melihat respon Amelia.
"Aku laper" ucap Amelia polos.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Amelia. Dara mengaitkan tangannya ke bahu Amelia dan membawanya ke ruang makan.
"Ayo sayang, kelamaan ngobrolnya sampe lupa kalian belum makan" ucap Dara.
Semua orang ikut dan berjalan menuju ruang makan. Namun Ghani masih diam memandangi putrinya dari belakang.
~Aneh, jelas dia mendengar tentang perjodohan ini. Kenapa dia nggak marah?~ ucap hati Ghani ragu.
Malam itu dilewati dengan mudah, Amelia menahan diri untuk menolak perjodohan. Dia merasa telah sangat bersalah pada ibu dan ayahnya.
~Aku takkan membuat mereka kecewa lagi, aku akan menuruti dan memenuhi semua keinginan mereka~ ucap hati Amelia dalam tidurnya.
Keesokan harinya, Andy mengajak Amelia ikut dengannya menemui teman-temannya untuk sekedar nongkrong.
Mereka janji akan berkumpul di sebuah kafe yang cukup terkenal di sana. Banyak teman yang datang, bukan reuni, tapi memang Andy punya banyak teman.
Andy melepaskan helm dari kepala Amelia, setelah dia kesulitan membukanya. Amelia menatap wajah Andy yang menurutnya cukup manis. Andy fokus dengan klip helm yang sangat susah dibuka.
"Kenapa susah dibuka ya?" gumam Andy.
"Helmnya jelek" ucap Amelia.
"Bukaaan!" ucap Andy sambil tersenyum.
"Trus?" tanya Amelia.
"Helmnya kayak aku, udah nggak mau lepas dari kamu" canda Andy.
Amelia hanya menatapnya datar.
"Oh!" jawab Amelia singkat.
"Datar banget, kamu nggak suka sama aku ya?" tanya Andy.
Dia berhasil melepasnya, dengan perlahan menaruh helm di motornya. Amelia mengalihkan pembicaraan.
"Itu temen-temen kamu? Banyak juga" ucap Amelia.
Andy menarik lengan Amelia.
"Nggak boleh pergi sebelum jawab pertanyaan aku" ucap Andy.
Amelia bertahan tak berbalik, dia menutup matanya sejenak kemudian berbalik.
"Suka sebagai anaknya teman ibuku, aku masih menganggap seperti itu" jawab Amelia.
Andy tersenyum.
"Berarti levelnya masih bisa naik donk?" ucap Andy.
"Bisa cepetan nggak, aku laper banget" ucap Amelia.
"Ih, gampang banget laper. Perasaan tadi sarapan juga dah banyak" ucap Andy.
Amelia tak peduli dengan ucapan Andy yang juga hanya bercanda. Mereka bertemu dengan teman Andy. Mereka lansung berbaur karena memang Amelia public speakingnya sangat jago. Andy sampai terkesima dengan cara dia mengambil perhatian temannya.
Sepulang dari main, Dara dan Hani menunggu mereka di kursi dan menatap mereka dari dalam. Sembari senyum-senyum Dara melihat Andy hendak membantu Amelia membuka helmnya. Namun Amelia tak menguncinya, dia langsung menaruh helm di motor dan bergegas masuk. Andy menatapnya kemudian tersenyum.
"Amel! Dah pulang?" sapa Hani.
Amelia terkejut dengan keberadaan mereka.
"Astaga Bu! Ibu ngagetin" keluh Amelia.
"Gimana, main kemana kalian?" tanya Dara.
"Tempat nongkrong biasa Bu" jawab Andy dari pintu.
"Ouh kafenya si Marvin" tebak Dara.
"Iya" jawab Andy sambil duduk di samping ibunya.
"Bu, aku laper" ucap Amelia.
Andy terkejut, dia menatap ibu dan Hani dengan wajah heran.
"Kamu nggak ngajak Amel makan?" ucap Dara sambil menepuk paha Andy.
Dara berdiri dan mengajak Amelia makan. Sementara Andy masih terdiam.
"Kenapa?" tanya Hani.
"Ngga tante, aneh aja. Tadi dia ngobrol sama temen aku, ngemilnya banyak banget. Kok bisa ya laper lagi? Apa dia emang suka makan ya? Kok aku jadi khawatir, soalnya badannya nggak nunjukkin dia orang yang suka makan" ucap Andy sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.
"Nggak juga sih, tapi mungkin di sinikan tempatnya asri, seger, nafsu makannya jadi banyak" jawab Hani.
"Ouh iya kali ya" ucap Andy.
Ghani yang hendak masuk, mendengar ucapan Andy. Dia jelas sangat heran dengan perilaku Amelia ini.
~ Amel bukan anak yang suka makan banyak. Kalo dia udah ngerasa penuh ya udah stop makannya. Kenapa sama Amel? Apa dia sakit?~ ucap hati Ghani.
Senja tiba, semua orang sedang berbincang menikmati cerahnya sore itu. Mereka akhirnya membicarakan soal perjodohan, Andy terlihat bersemangat. Amelia masih bersikap biasa dan seolah ikut senang dengan pembicaraan mereka.
Andy juga berdiri di dekatnya dan mulai bercanda dengan menyentuh tangannya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Amelia menatapnya, Andy hanya tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya.
Ghani melihatnya, dia senang Amelia mau menerima perjodohan ini. Mereka juga mudah untuk dekat satu sama lain. Namun saat tatapannya beralih pada putrinya, dia melihat wajah yang asing.
~Tidak, ini bukan Amelia. Bukan Amelia yang punya sejuta pemikiran logis. Yang senang berdebat dan menentang hal-hal kuno. Perjodohan ini hal kuno baginya, bahkan dia pergi dan bekerja di luar kota karena menghindari perjodohan ini. Kenapa dia bisa menyerah?~ ucap hati Ghani.
Di sela canda tawa mereka, tiba-tiba Ghani bicara.
"Kami pulang besok pagi" ucap Ghani.
Hani terkejut, mereka berencana menginap hingga satu minggu.
"Kenapa?" bisik Hani sambil mencubit tangannya.
"Bu Mira menelpon semalam, katanya tuan muda harus menyiapkan banyak hal jadi aku harus..."
Ghani belum selesai bicara, tapi Daud sudah paham.
"Ouh kalau Bu Mira yang nelpon itu berarti penting banget" ucap Daud.
"Bener, ya udah besok aku siapin oleh-olehnya. Aku mau nelpon Pak Sandi yang punya toko oleh-oleh dulu" ucap Dara.
Hani menyusul Dara.
"Nggak usah Ra!" seru Hani.
Mereka pergi meninggalkan Ghani dan Daud mengobrol.
" Ouh iya, kemarin Alex dikirim ke pabrik di sini. Dia ditugaskan membantu Pak Gala" ucap Daud.
"Alex? Apa dia bisa akur sama Pak Gala?" tanya Ghani.
"Nah itu dia, kami sempet takut dengan akibatnya. Tapi Bu Mira sendiri yang menelpon, aku harap dia benar-benar tahu apa yang dia lakukan" jelas Daud.
Ghani terdiam, dia berpikir sambil meneruskan mengobrol dengan Daud.
Sementara Andy merengut dan merayu Amelia.
"Ya...., besok kamu pergi, aku gimana?" ucap Andy.
Amelia sebenarnya senang karena akan kembali pulang, setidaknya dia tak harus berpura-pura senang lagi. Dia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Andy.
"Hei!" Andy menarik bajunya sedikit karena Amelia tak menjawab.
"Mana ponsel mu?" tanya Amelia.
Andy terheran, dengan polos menurut pada Amelia, dia mengambil ponsel di sakunya. Amelia mengambilnya, hendak membuka namun memakai sandi, dia menyerahkannya kembali. Andy mengerti dia memerlukan sandi ponsel itu.
"Buat apa sih?" tanya Andy.
Amelia mengambil kembali ponselnya, namun dia menatap Andy dan bertanya.
"Mau nomor ayahku atau nomor ku?" tanyanya.
"Ouh....tentu saja nomor mu. Haha" jawab Andy dengan tertawa.
Amelia mengetik nomornya dan menamainya Amelia. Andy menerima ponselnya dan menatap nomor Amelia, dia mengubah namanya menjadi "Calon Istri".
"Kamu to the point ya orangnya, aku makin suka" ucap Andy.
Amelia tidak peduli, dia meminum sisa tehnya dan meninggalkan Andy di teras.
\=\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments