Amelia pulang ke kosannya di kota perantauannya. Siena dan Ghina masih bingung dengan diamnya. Amelia bahkan tak pamit saat dia memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya. Dia mengundurkan diri saat dia hendak diberikan kenaikan jabatan.
Kembalinya Amelia ke rumah, membuat Ghani ayahnya sangat senang, sedangkan ibunya, Hani, semakin merasa menang, mereka pernah bertengkar saat sebelum Amelia pergi untuk menjalani hidup mandiri. Hani merasa menang karena salah satu putri mereka itu pulang sebelum waktu yang diperkirakan.
Amelia memeluk ayahnya saat sampai. Dengan lembut, Ghani membelai rambut putrinya itu. Dia sangat merindukannya. Tak berapa lama Hani datang dan menatap mereka.
"Akhirnya, kau kalah. Aku sudah bilang kan!" ucap Hani.
Amelia terkejut dengan kedatangan ibunya, tak mendengarkan ucapan pahit ibunya, Amelia langsung memeluknya.
Hani terkejut, dia kira Amelia akan menyalak seperti biasanya. Dia menatap suaminya dengan heran. Ghani hanya tersenyum, kemudian dia menghampiri dan memeluk mereka dengan lembut.
Hani membantu Amelia memasukkan semua pakaian ke dalam lemari sambil menatap wajah anaknya yang terlihat berbeda dengan saat dia pergi dulu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Hani.
Amelia terkejut, tubuhnya sedikit terhentak, kemudian diam dan mengingat kejadian hari itu. Dia menelan ludah, berbalik menghadap ibunya yang masih merapikan pakaiannya.
"Nggak, nggak ada bu" jawab Amelia pelan.
"Kamu berubah total, biasanya kalo ngomong sama ibu bawaannya ngotot dan keras" ucap Hani.
"Amel baru sadar kalo ternyata hidup jauh dari ayah sama ibu itu berat tanggung jawabnya" ucap Amelia lemah.
Hani berhenti dan menatap anaknya lagi. Dia merasa kali ini Amelia benar-benar berubah.
"Syukurlah kalo kamu sudah sadar. Ibu harap kamu nggak main-main lagi sama hidup kamu" ucap Hani.
Hani melanjutkan merapikan lipatan pakaian terakhir. Tiba-tiba Amelia memeluknya dari belakang. Hani terkejut.
"Ibu, maafin Amel ya! Amel nggak akan ngebangkang lagi. Amel janji" ucap Amelia.
Hani merasa terenyuh mendengar ucapan anaknya yang selama ini selalu bertengkar dengannya. Dia berbalik dan memeluk anaknya dengan lembut.
"Oke, ibu maafin. Lain kali nurut ya apa kata ibu" pinta Hani.
Amelia mengangguk dan lebih erat memeluk ibunya. Ghani yang melihatnya dari luar tersenyum namun merasakan hal aneh setelah melihat raut wajah Amelia yang terlihat murung.
~Apa yang terjadi di sana? Kenapa Amel jadi berubah?~ tanya hati Ghani.
Keesokan harinya, Amelia diajak menemui saudara mereka di kota lain. Amelia ikut dan tak berkomentar atau menanyakan apa urusan yang akan mereka lakukan disana.
Hani senang saja melihat perubahan Amelia yang menurutnya kian menjadi penurut. Namun Ghani justru merasa aneh dan terus bertanya-tanya dalam hatinya. Belum ada kesempatan baginya untuk berdua bersama Amelia dan menanyakan apa yang ada dalam benaknya.
Sampai di tempat tujuan, Amelia disuruh membawa sebuah bingkisan di tangannya. Sementara Ghani dan Hani mengetuk pintu.
Seorang wanita sebaya dengan Hani membuka pintu, wajahnya cerah dengan make up tipis namun elegan. Bibirnya dibubuhi pelembab bibir. Dengan wajah yang terkejut, dia memeluk Hani karena senang akan kedatangannya.
"Wah, kejutan banget datang kemari. Apa kabar say?" ucap Dara.
"Surprise donk, lama nggak maen kemari" ucap Hani.
"Masuk ya, pegel berdiri di luar" ucap Ghani.
Daud suami Dara menyambut kedatangan Ghani dengan pelukan. Mereka bicara dan meninggalkan Amelia sendiri masuk sambil celingak celinguk.
Seorang pria sebaya dengannya datang menawarkan bantuan.
"Sini aku yang bawa!" ucapnya.
Amelia diam membeku, Dara melihatnya. Dia mengabaikan Hani yang bicara panjang lebar dan mendekati Amelia.
"Hai sayang! Maaf tante terlalu senang ketemu ibu kamu, sampe lupa buat meluk kamu. Apa kabar sayang?" ucap Dara sambil memeluknya.
"Baik tante" jawab Amelia membalas pelukannya.
"Sini, kamu masih ingat Andy kan?" tanya Dara.
Amelia menatap pria yang tadi mengambil bingkisan dari tangannya kemudian hanya tersenyum.
"Andy!" ucapnya.
"Amelia!" ucap Amelia seraya menyambut tangan Andy.
Mereka pun berbincang, terdengar canda tawa Hani dan Dara. Mereka menceritakan bagaimana persahabatan mereka yang begitu lekat di bangku sekolah.
Andy terus menatap Amelia dan membuatnya terus menghindari kontak mata. Dara melihatnya, dia tersenyum dan memberi kode pada Hani. Dia mengerti dan langsung membuat rencana.
"Ndy! Beliin bahan masakan ini dong, tante mau masakin kalian masakan spesial. Pergi sama Amelia, dia pinter pilih bahan sama nawar" ucap Hani sambil memberikan catatan juga uangnya.
Andy tersenyum dan mengambil kunci motor dan jaketnya. Amelia menatap ibunya, kemudian ayahnya. Ghani tersenyum dan memberi kode untuk menuruti permintaan ibunya.
Amelia memakai jaket yang dipinjamkan Andy untuknya. Dia dan Andy pun pergi.
"Pegangan ya!" seru Andy.
Amelia menatapnya dari belakang dan memegangi jaketnya. Andy tersenyum karena Amelia tak berani memeluknya. Dia memutar pedal gasnya, membuat Amelia terkejut dan tersungkur mendekat padanya. Sayangnya tangan Amelia malah menahan punggung Andy agar tubuhnya tak menabrak punggungnya.
Andy merasa gagal, Amelia diam saja. Dia sudah tahu maksud candaan Andy. Namun perasaan Amelia seolah datar. Dia tak peduli dan acuh.
Dara dan Hani yang mengintip dari jendela tersenyum dan membicarakan kelucuan mereka, namun Ghani merasa ada yang hilang dari senyuman Amelia. Senyumannya tak bernyawa, tak ada perasaan.
###
Di pasar, Amelia ikut saja pada Andy yang sengaja berputar-putar mengulur waktu. Tangannya berkali-kali memegang tangan Amelia untuk sekedar menunjukkan arah atau menariknya supaya berjalan lebih cepat.
Namun Amelia menyadari sesuatu saat dia melihat toko sayuran yang sudah dua kali dia lewati. Amelia mengambil catatan dari tangan Andy dengan tiba-tiba. Andy terkejut merasa seperti dijambret. Dia menarik lengan Amelia yang dikiranya pencuri. Hal itu membuat Amelia mendekat dan menabrak dadanya.
Amelia menatap matanya, Andy sangat terpesona. Dia terdiam sejenak menikmati wajah Amelia yang manis.
"Aku kira aku dijambret, ternyata iya" ucap Andy.
"Hah!" Amelia heran.
Andy melepaskan pegangannya. Kemudian dia tersenyum.
"Wajah mu menjabret hatiku" ucap Andy.
Alis kanan Amelia terangkat merasa heran dengan apa yang dikatakan Andy.
"Ayo, kita belanja lagi" ajak Andy sambil mengaitkan tangannya di lengan Amelia.
Andy merekam Amelia yang sibuk menawar harga juga memilih sayuran dengan ponselnya secara diam-diam.
Setelah selesai, mereka pulang. Kali ini Amelia tersenyum melihat situasi. Mereka belanja cukup banyak, keresek yang ditenteng Andy dipandanginya. Dia bingung harus menaruhnya dimana karena salah membawa motor.
Amelia tersenyum dan merasa senang karena akan ada barang yang menjadi jarak duduk mereka. Dia terbebas dari memeluknya.
Andy memasang wajah kesalnya, namun saat melihat wajah Amelia yang terhembus angin, dia tersenyum dan merasa malu sendiri.
Sampai di rumah, Andy mengeluh dengan wajah menyebalkannya.
"Ah, aku nggak mau lagi belanja ke pasar. Dia nggak tahu tempat jadi kita muter-muter deh!" keluhnya.
Amelia mendelik sambil menyerahkan belanjaan pada ibunya.
"Dia sendiri yang sengaja berkeliling Bu!" keluh Amelia.
Hani dan Dara malah tersenyum melihat tingkah mereka.
"Andy memang suka gitu, maklum ya, anak satu-satunya jadi dimanja banget. Nakal deh!" ucap Dara sambil menepuk bahu Andy.
\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments