Davin pulang dengan wajah yang menyiratkan kesedihan seorang pria yang kalah perang dan tak mampu memperjuangkan cintanya. Alex sama sekali tak bisa menghiburnya. Dia sangat tahu, ini kali pertama bagi Davin menyukai seseorang.
Davin menatap rumah Keluarga Narendra yang sudah terlihat dari jalan besar sebelum masuk lingkungan rumah. Dia mengusap wajahnya dan menghela nafas dalam-dalam.
Alex melihat dia merubah ekspresi wajahnya demi Oma Mira yang sangat dia sayangi. Mereka turun dan masuk ke dalam. Sampai di ruang utama, Alex mendapatkan tamparan keras dari Oma Mira.
"Plaaaakkkkk!" suara tamparan terdengar menggema di ruangan luas itu.
"Omma!" seru Davin merasa terkejut.
Oma membulatkan matanya pada Davin untuk diam.
"Kamu! Berani-beraninya kamu menyembunyikannya" ucap Oma kesal dengan menunjuk Alex.
Alex terkejut dan merasa heran dengan ucapan majikannya itu.
"Tentang apa Oma?" tanya Alex.
"Kamu menyembunyikan kenakalan Davin yang mengatakan akan meeting padahal hanya liburan. Itupun seminggu" Oma Mira marah.
Nafasnya tersengal, akibat marah terlalu berlebihan. Faktor usia mendukung lemahnya Oma jika naik pitam.
Alex meraih lengannya karena Oma hampir jatuh.
"Makanya Oma jangan marah-marah terus, jadi lemes kan!" Alex membantunya untuk duduk.
Davin juga ikut membantu dan duduk di sampingnya.
"Kamu.... mulai sekarang, kamu akan kerja di cabang lama. Di pabrik, bareng Gala di sana" ucap Oma Mira.
Alex menganga mendengar ucapan dan perintah Oma Mira.
"Oma, Om Gala itu kan..."
Belum selesai Alex bicara Oma Mira sudah menahannya dengan melebarkan telapak tangannya di depan wajah Alex dan membuatnya terdiam.
"Baik Oma!" jawab Alex.
Dia paham Oma sangat marah dengan apa yang sudah terjadi. Davin hanya menatap Alex dengan kebingungan. Alex mengangguk pada Davin seolah pamit untuk yang terakhir kalinya.
"Oma, please! Aku butuh Alex" ucap Davin.
"Untuk apa, hah? Untuk bisa bandel dan melenceng dari aturan keluarga Narendra?" ucap Oma.
Davin menundukkan kepalanya mengakui kesalahannya.
"Kamu ini pewaris keluarga Narendra, keluarga dengan perusahaan terbanyak dan kekayaan terbesar di negara ini" ucap Oma Mira tegas.
Davin diam menurut padanya.
"Kembali ke ruangan mu dan perbaiki semua masalah akibat perbuatan mu. Mulailah minta bantuan ayahmu, bicara dengannya" pinta Oma Mira.
Davin masuk ke ruang kerjanya dengan hati yang kesal, namun tetap tak bisa membuat Omanya kecewa lagi.
Sementara Oma Mira masuk ke kamarnya untuk istirahat, dia memanggil Alex ke kamarnya. Alex datang setelah berkemas, dia juga memakai jaket bersiap untuk pergi.
"Oma!" ucap Alex sambil mengetuk pintu kamar Oma yang tak tertutup rapat.
"Masuk!" pinta Oma.
Alex masuk dan berdiri agak jauh darinya.
"Ini, setiap bulannya juga akan dikirim ke rekening mu nanti. Ini hanya sedikit perhatianku untuk mu karena kamu adalah sahabat Davin dari kecil" ucap Oma.
Alex mengambil amplopnya dan hendak pergi, namun dia berhenti dan mengingat sesuatu.
"Ya, kamu belum meluk Oma dan bilang selamat tinggal" ucap Oma seolah paham mengapa Alex berhenti.
Alex berbalik, dia tersenyum dan mendekat kemudian memeluk Oma.
"Selamat tinggal Oma, jika sesuatu terjadi pada Davin, aku mohon, izinkan aku pulang untuk melihatnya" ucap Alex.
"Dia akan baik-baik saja dibawah ketiak ku" ucap Oma yakin.
Alex tersenyum dan perlahan mundur kemudian hilang dari pandangan Oma. Alex pergi ke ruangan Davin hendak pamit padanya.
Davin langsung memeluk Alex saat melihatnya sudah siap untuk pergi.
"Maaf Brother, aku kira Oma nggak akan setegas ini" ucap Davin.
"Nggak lah, toh aku juga yang salah. Tapi aku nggak nyesel, akhirnya kamu menemukan wanita yang bisa membuat junior mu hidup" canda Alex.
Davin memasang wajah sedih lagi.
"Aku akan cari tahu dia siapa, aku masih pegang nomor Siena kok!" ucap Alex.
"Percuma, dia sudah bilang kalau dia nggak mau nerima aku" ucap Davin pesimis.
"Hei...aktivin e-mailnya ya, kita bicara lewat e-mail. Kalo lewat telpon, nanti Oma bisa tahu dan marah lagi" ucap Alex terburu-buru.
"Kamu pergi sekarang?" tanya Davin sedikit berteriak.
"Ya, mobilnya udah nunggu. Bye!" ucap Alex melambaikan tangannya.
Davin menganga dan sedih. Dia kehilangan cintanya dan sekarang, sahabatnya juga pergi karena ulahnya. Dengan menghela, dia mengusap wajahnya kemudian membuka berkas yang ada di mejanya.
###
Malam tiba, Ayahnya datang dan langsung masuk ke ruangan Davin tanpa mengetuk dan membuat Davin terkejut. Davin berdiri dan menunduk.
"Apa-apaan kamu ini! Sengaja bilang kalau klien ngga bisa datang padahal memang udah batalkan semua kerjasama. Kamu tahu berapa kerugian perusahaan karena persiapan kerjasama ini. Haah!" teriak Harris.
Davin masih menunduk diam tak menjawab.
"Aku yang bodoh, aku yang salah karena sudah mengizinkan ibu merawat kamu dengan didikannya yang terlalu memanjakan kamu itu" ucap Harris menyalahkan diri sendiri.
"Maaf Ayah!" ucap Davin perlahan.
Harris menatap putra dari istri keduanya itu, dia menghela dan pergi dengan marahnya, dengan membanting pintu. Davin terhentak terkejut dengan suara pintu. Dia kembali membaca semua laporan kiriman sekertarisnya dari kantor.
Sementara itu, Harris masuk ke kamar dan mendapati Maria, ibunya Davin sedang duduk di depan ruang rias dan terlihat siap untuk tidur. Mata Harris mendelik melihatnya, dia kesal dan masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuknya.
Maria hanya melirik sambil mengusapkan krim malam di wajahnya. Sikap yang biasa dia dapatkan saat Harris kembali dari kantor. Dia acuh dan tak menghiraukan. Dengan pelan dia keluar dari kamar dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Harris.
Beberapa pelayan membantunya, dia duduk menunggu Harris keluar dari kamar untuk makan malam. Namun sayang, Harris malah melewatinya dan pergi lagi menggunakan mobilnya tanpa supir. Maria menyuruh pelayan untuk memasukkan kembali makanan ke lemari es.
"Atau, kalian makan saja. Besok suruh Minah belanja dan masak makanan baru" ucap Maria datar.
"Baik Bu, terimakasih" jawab para pelayan.
Maria kembali ke kamar dan mencuci tangannya di wastafel di kamar mandinya sambil melihat pakaian Harris yang menggantung. Dia mengambilnya dan memeriksanya, dia mendapati dua tiket nonton drama musikal di saku jasnya. Maria membuangnya dan memeriksa lagi, seolah memastikan tak ada barang yang mungkin terbawa ke mesin cuci.
Maria bersiap untuk tidur, dia berdoa dan perlahan memejamkan matanya. Bayangan dua tiket nonton itu membuatnya membuka matanya lagi. Meski acuh dan diacuhkan selama bertahun-tahun, dia tetap tak bisa mengabaikan perasaannya sebagai istri sah Harris.
Dia kembali bangun dan keluar menuju kamar Davin putranya. Dia melihat Davin belum tidur dan hanya menatap jendela kamarnya.
"Belum tidur?" tanya Maria.
"Momi! Belum mom!"
Davin mendekat pada ibunya dan duduk di sampingnya.
"Kenapa? Oma marah lagi?" tanya Maria.
"Aku yang salah Mom, Oma pantas marah" jawab Davin.
Maria tersenyum mengusap kepala anaknya.
"Momi bersyukur, kamu sudah paham apa itu artinya pewaris Keluarga Narendra" ucap Maria.
\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Yuni Herwani
bagus ceritanya
2024-01-14
1