Davin diam seperti patung, duduk di sisi ranjang tanpa menggunakan kemejanya. Pikirannya tak membiarkannya lepas dari pikiran tentang Amelia yang tak mau menerimanya. Dia berpikir mungkin saja Amelia bukan gadis yang bisa melakukan hal itu sembarangan atau dia belum tahu kalau Davin adalah pewaris keluarga Narendra. Atau bisa saja dia tahu dan tak mau berurusan dengan keluarga itu.
Davin memejamkan matanya sebentar berusaha menghilangkan semua pemikirannya. Tiba-tiba Alex membuka pintu, dia terkejut melihat Davin yang masih terlihat baru bangun dengan tanpa atasannya. Dia kembali keluar takut seseorang masih ada di sana, masih tidur.
"KENAPA KELUAR LAGI?" teriak Davin.
Alex masuk dengan menundukkan kepalanya, sedikit demi sedikit dia mengangkat kepalanya sambil membuka matanya untuk melihat situasi, namun dia tak melihat siapapun. Dia hanya melihat kedua bantal di ranjang Davin terlihat telah terpakai, seseorang tidur bersamanya semalam.
"Kau.... melakukannya?" ucap Alex sangat senang sambil menggoda Davin.
Davin mengelak dari sentuhannya, dia sedang tak ingin diejek.
"Kenapa? Dimana wanita itu?" tanya Alex.
"Dia pergi, dia tak mau punya hubungan dengan ku" ucap Davin datar.
"Apa? Bagaimana bisa? Tunggu tunggu, siapa wanitanya? Amelia?" tanya Alex.
Davin memasang wajah kecewa dan mengangguk.
Alex menghela, dia mundur dan diam terpaku bersandar ke dinding.
"Jelas dia takkan mau bersamamu" ucap Alex.
"Kenapa?" tanya Davin.
"Dia bukan wanita seperti itu, bagaimana kalian bisa melakukannya?" tanya Alex.
"Dia mabuk semalam, aku tidak bisa mengendalikan diri karena ini pertama kalinya dan aku tak bisa melewatkannya, jadi...."
Davin bicara seperti sudah kehilangan sesuatu karena kesalahannya.
"Dengar Bos, apa tadi sore kau tidak mendengarkan aku bicara?"
"Bicara apa?"
"Astaga! Kau benar-benar tidak mendengarkan sedikitpun?"
"Apa?" Davin kesal.
"Aku mengatakan semua tentang Amelia padamu, dia adalah wanita yang berbeda. Siena dan Ghina mengatakan bahwa dia akan kecewa pada pria yang melakukan hal yang tidak senonoh padanya. Dan sekarang kau sudah melakukan hal itu padanya. Jelas dia tidak bisa terima!"
Davin mengerutkan dahinya, tak paham.
"Dia bukan wanita gila harta, jikalau pun dia tahu kau adalah pewaris dari keluarga Narendra, dia takkan perduli" ucap Alex.
Davin menghela merasa sudah tak ada harapan. Alex mengusap wajahnya karena merasa Bosnya melakukan kesalahan fatal.
Mereka diam saling menatap.
###
Siena keluar dari kamar mandi, Amelia datang membuka pintu kemudian langsung masuk ke kamar mandi. Siena dan Ghina tak lepas menatapnya. Kemudian mereka saling menatap heran.
"Darimana dia? Lalu kenapa langsung masuk ke kamar mandi?" tanya Ghina.
Siena mengangkat bahunya.
"Aku yang seharusnya masuk tadi....argghh...jadi lama lagi kan!" keluh Ghina.
Siena tersenyum, dia menggosok rambutnya dengan handuk. Sambil menyisir, dia mengingat kejadian semalam, dia dan Ghina mabuk dan permainan diteruskan Amelia.
~Tapi...apa yang terjadi? Dia tidur dimana?~ ucap hati Siena sambil menatap pintu kamar mandi.
Sementara itu, Amelia menatap dirinya di cermin. Dia bertanya-tanya apa yang telah terjadi, dia sama sekali tak bisa mengingatnya.
Potret wajah Davin beberapakali muncul saat dia melakukannya. Amelia menepuk dan menggosok jidatnya merasa sudah sangat bodoh.
"Mel... Mel! Cepetan dong, aku kebelet nih!" ucap Ghina.
Amelia melirik ke arah pintu, wajahnya semakin merenggut. Dia membasuh wajahnya kemudian keluar.
Siena dan Ghina menatapnya heran, Amelia merasa sangat canggung dan seolah semua orang sedang mencurigainya telah berbuat sesuatu.
Ghina mendekat dengan perlahan dan Siena pun begitu, Amelia semakin merasa tegang. Dia memalingkan wajahnya, dia berpikir untuk bersikeras takkan mengatakannya pada siapapun.
Namun Ghina buru-buru masuk ke kamar mandi, sedangkan Siena mengambil pakaian di koper dekat ranjangnya. Amelia menghela, dia juga memilih pakaian yang akan dipakainya.
"Kamu tidur dimana?" tanya Siena sambil memilih.
Amelia menatapnya.
"Di.... laundry hotel" jawab Amelia berbohong.
Siena menatapnya dengan terkejut, dia mendekat dan memeriksa tubuh Amelia.
"Benarkah? Astaga! Apa kamu baik-baik saja? Laundry hotel itu di ujung lorong hotel, aku pernah lihat dan itu menyeramkan" ucap Siena.
Amelia terpaksa tersenyum atas respon Siena.
"Tidak apa-apa" jawab Amelia sambil melepaskan tangan Siena dari bahunya.
Siena kembali ke ranjangnya, dia memilih lagi.
"Kita terlambat meeting, kurasa kita akan langsung berangkat pulang siang ini" ucap Siena.
Amelia terdiam.
~Itu lebih baik, aku takkan pernah bertemunya dengan pria itu lagi. Semuanya akan hanya jadi rahasiaku sendiri~ ucap hati Amelia.
Saat memilih, Amelia teringat saat duduk di lift dan dibantu Davin bangun kemudian meracau.
~Astaga! Apa aku bersikap seperti itu?~ ucap hatinya lagi.
Siena melihat ekspresinya, dia pun penasaran dengan apa yang dipikirkan Amelia.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Siena yang tiba-tiba berdiri di samping Amelia.
Amelia terkejut dan melempar pakaian yang ada di tangannya ke wajahnya. Siena tersenyum dengan kesalnya.
"Amelia!" ucap Siena.
"Ya....!" jawab Amelia perlahan mengerti Siena marah.
"Aku hanya tanya, jangan melempar begitu" ucap Siena lagi.
"Kamu bikin kaget" ucap Amelia sambil tersenyum dengan rasa takut.
"Hufhhh..... sebenernya aku ngga mau pulang!" ucap Siena tiba-tiba.
Amelia menghela nafas, seperti biasanya dia lebih sering bicara pada dirinya sendiri dalam hati.
~Tidak, aku ingin cepat pulang. Aku ingin cepat minta maaf pada ibu dan ayah!~
Ghina keluar dari kamar mandi, Amelia langsung berjalan masuk bergantian mandi. Amelia mandi dengan semua memori tentang kejadian semalam. Dia mulai ingat dan ternyata memang dia juga merasakannya. Setiap sentuhan pria itu, bahkan saat pria itu berbisik bahwa dia jatuh cinta padanya saat pandangan pertama.
Amelia ingat saat pertama kali bertemu dengannya, bukan saat bertabrakan. Saat di bandara, entah dia datang darimana, mereka juga saling bertabrakan kecil. Amelia menatapnya, dia juga terpesona karena dia tampan dan rapi. Dia juga tak berhenti menatap Amelia.
###
Davin mengingat saat-saat pertama bertemu dengan Amelia, saat berjalan di pantai, dia juga berharap bisa bertemu dengannya sekali lagi. Dan takdir membuat mereka bertabrakan lagi. Kali ini Davin meyakininya, gadis itu membuatnya jatuh cinta, bahkan bisa membuat juniornya berdiri.
"Apa?" seru Alex sambil menelpon.
Davin yang sedang bercermin melirik padanya.
"Berapa nomor kamar mu?" tanya Alex.
Davin semakin penasaran, dia berbalik dan mendekat.
"Ok, dia sedang bersiap? Apa boleh aku minta kalian pergi duluan? Aku beri kalian masing-masing dua ratus dollar!" Alex memberi tawaran.
Dia tersenyum dan menutup ponselnya. Dia menatap Davin dan menepuk kedua lengannya.
"Masih ada kesempatan untuk bicara dengannya. Temannya bilang siang ini mereka akan pulang, dia sedang mandi dan mereka mau meninggalkannya sementara. Kau bisa masuk dan bicara" jelas Alex.
Davin mengerutkan dahinya.
"Bicara bagaimana?" tanya Davin bingung.
"Astaga Bos! Ayolah, bicara biasa saja. Tanya dia, apa dia bisa untuk mau menjalin hubungan dengan mu. Ok!" ucap Alex.
Alex menarik tangan Davin keluar menuju kamar Amelia. Alex membuka pintu perlahan dan menyuruh Davin duduk di ranjangnya. Kemudian dia pergi.
Amelia selesai mandi dan berganti pakaian, dia keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gerakannya melambat saat dia melihat Davin ada sedang duduk di ranjangnya.
Davin berdiri dan menelan ludah, lagi-lagi dia terpesona dengan wajah cantik Amelia setelah mandi.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Amelia sambil melihat ke arah lain memastikan tidak ada Siena dan Ghina.
"Mereka menunggu mu di lobi!" ucap Davin.
Amelia menatapnya dan hendak membawa tasnya, namun tas itu berada dekat dengan Davin.
"Aku ingin bicara!" pinta Davin.
"Aku sudah bilang tadi, aku anggap kita nggak pernah ketemu, jadi kita nggak pernah melakukan apapun, di manapun" ucap Amelia tegas.
Davin menghela.
"Tapi aku tidak bisa melupakan hal-hal semalam" ucap Davin.
Amelia memejamkan matanya sejenak karena kesal mendengar ucapan Davin.
"Seprainya bernoda darah, ini kali pertama untuk mu, ini juga kali pertama untukku. Maafkan aku!" Davin mencoba bicara.
Amelia malah membulatkan matanya saat mendengarkannya.
"Cukup!" ucap Amelia.
Davin diam.
"Apa yang sekarang kamu mau?" tanya Amelia.
"Aku mau kita menjalin hubungan, pacaran atau mungkin pernikahan!" jawab Davin yang tak melewatkan kesempatan.
"Aku tidak bisa!" ucap Amelia.
Davin membulatkan matanya dengan heran.
"Kenapa?" tanya Davin gugup.
"Aku bukan tipe perempuan yang menjalin hubungan karena kebetulan bertemu apalagi dengan pria asing dalam semalam"
Amelia mengambil nafas dalam.
"Semalam adalah kesalahan, jika aku bertanya pada siapapun, semua orang akan mengatakan semua itu kesalahan. Dan kesalahan harus diperbaiki, aku akan memperbaikinya dengan cara melupakannya" jelas Amelia.
"Apa kau tidak menyukai ku?" tanya Davin.
Amelia terdiam, dia menatap wajah Davin yang semalam memeluknya begitu mesra. Meminta izin setiap akan melakukan sesuatu entah itu mencium bibir atau melakukannya. Seharusnya dia bisa jatuh cinta pada pria seperti itu. Namun dia berpikir akan menghapus semua dari memorinya.
"Aku tidak bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku tidak bisa!" Amelia mengulang kata-katanya.
Davin terdiam, dia berjalan perlahan keluar dengan lemah. Amelia mengangkat dahinya menatap Davin dengan heran.
~Dia pergi? Semudah itu? Apa yang ada di pikirannya? Apa memang aku terlalu kasar bicara?~ ucap hati Amelia merasa bersalah melihatnya keluar dengan murung.
Davin keluar, Alex melihatnya dan langsung mendekat. Namun dari ekspresi wajahnya jelas bahwa dia begitu sedih.
"Hei...kau mau bercanda padaku? Terlihat murung padahal kau sudah diterimanya, iya kan? " ucap Alex menggodanya.
"Dia bilang dia tidak bisa, kita pulang saja" ucap Davin dengan lemah.
Alex menghela, dia merasa kecewa dengan sikap Davin yang lemah tentang wanita.
Akhirnya mereka pulang ke tempat rumah masing-masing dengan perasaan yang tak karuan.
\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments