Amelia, Siena dan Ghina ditantang sebuah permainan oleh beberapa rekan kerja. Sebuah permainan yang membuat mereka harus memilih antara kejujuran atau tantangan (truth or dare).
Dalam setiap permainan, Ghina dan Siena selalu kalah dan mereka selalu memilih dare yaitu minum satu gelas bir. Karena mereka mabuk, akhirnya mereka menunjuk Amelia untuk melanjutkan permainan mereka.
Amelia selalu menang, dia bisa menjawab pertanyaan dan terhindar dari pilihan. Namun sepandai-pandainya kelinci melompat, ia akan jatuh juga, Amelia kalah.
Saat pertama kali Amelia salah dia mulai tertantang dan kembali bermain dengan mereka. Sayangnya, Amelia akhirnya selalu kalah dan harus meminum semua bir yang jadi taruhan.
Amelia mabuk, dia ditinggalkan oleh semua temannya. Dia tertunduk di meja seperti sedang tidur. Beberapa saat kemudian, dia bergerak bangun dan berjalan menuju lift dengan sempoyongan.
Amelia mendekatkan matanya ke tombol lift untuk melihat nomor lantai yang ingin ia pencet, kemudian dia duduk bersila karena merasa pusing untuk berdiri kembali.
Pintu lift terbuka, Amelia masih duduk dan melihat ke arah pintu. Seorang pria berdiri menatapnya dengan terheran. Davin yang hendak turun untuk mencari udara segar malah melihat Amelia terduduk di dalam lift dalam keadaan mabuk.
"Kamu ngapain?" tanya Davin.
Dia mendekat dan membantu Amelia berdiri. Davin mencium bau bir yang kuat dari tubuh Amelia. Dia menyadari bahwa Amelia mabuk berat. Dengan membantunya berdiri, Davin mengeluarkannya dari lift.
"Dimana kamarmu?" tanya Davin.
Amelia tak menjawab, dia masih lunglai lemas. Deretan kamar hotel itu sangat hening, Davin berusaha mencari kunci kamar di saku Amelia. Namun sayang, Amelia tak memakai pakaian dengan saku. Dia juga tak membawa tas nya.
Davin melepaskan tangannya dari tangan Amelia dan menelpon Alex. Namun Alex yang sudah tidur, tak menjawabnya. Davin memegang pinggangnya sendiri dan menatap Amelia yang terduduk lagi.
"Maaf Bu!" ucap Amelia dengan suara perlahan.
Davin mengerutkan dahinya, jelas mendengar suara Amelia namun tak jelas dengan apa yang dikatakannya. Dia duduk dan mendekatkan telinganya ke mulut Amelia.
"Apa kamu bilang?" tanya Davin.
"Maaf Bu! Amel bener-bener minta maaf. Amel bilang mau kerja tapi Amel malah liburan ke sini" ucap Amelia meracau.
Davin tersenyum mendengar bisikan Amelia yang menyesal membohongi ibunya.
"Aku kira apa!" ucap Davin.
"Maaf Bu! Amel salah....Amel nggak akan lagi melanggar perintah dan larangan Ibu!" suara Amelia meninggi.
Davin panik dan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Diam! Aku bisa disalahkan jika kamu berteriak seperti itu!" ucap Davin sambil membulatkan matanya pada Amelia.
Amelia memberontak, dia memukul dada Davin menyadari itu bukan ibunya.
"Kamu bukan Ibu....mana Ibu...mana Ibu aku!" teriak lagi Amelia.
Davin semakin panik, dia akan ditegur karena membuat keributan di tengah malam itu. Dia menarik Amelia ke kamarnya dan menyuruhnya diam.
"Sstthhh....diam! Nanti mereka marah karena kamu ribut!" ucap Davin berbisik.
Amelia berusaha berdiri dan menarik kaus Davin sehingga tubuh dan wajahnya mendekat.
"Kamu siapa?" tanya Amelia tak sadar.
"Dda...vin" jawab Davin gugup menatap wajah Amelia yang sangat dekat dengannya.
Amelia semakin tak bisa menjaga keseimbangannya. Dia terjatuh dan menarik Davin ke pelukannya. Davin menatap bibirnya dengan mengingat kejadian kemarin malam. Dia sangat ingin mencium bibir Amelia. Namun Davin mengurungkan niatnya, dia merasa bahwa hormonnya mulai naik dan membuat juniornya berdiri.
Davin menolak pikirannya untuk melakukan hal itu pada Amelia. Dia mengangkat tubuh Amelia agar bisa berbaring di ranjangnya. Dia merapikan bantal dan selimut untuk Amelia bisa tidur dengan nyenyak. Namun tangan Amelia menariknya lagi dan membuat Davin yang kehilangan keseimbangan pun terjatuh dengan posisi wajah yang kembali dekat dengan wajah Amelia.
Kali ini Davin tak bisa menahan, hormonnya semakin naik saat melihat bibir Amelia. Dia pun mencumbunya. Amelia yang masih mabuk terbawa suasana dan membuka semua pakaiannya. Davin yang baru pertama kali merasakan ketegangannya tak bisa membiarkan dirinya tersiksa lagi seperti malam kemarin.
Kali ini, wanita yang membuatnya bisa berhasrat sudah ada di hadapannya dia takkan melewatkan momen ini sedetikpun. Davin meluapkan seluruh hasratnya malam itu. Amelia yang mabuk menikmatinya, dia membuka pakaiannya sendiri, membuat Davin percaya diri bahwa Amelia juga menyukainya.
###
Suara ponsel berdering di kamar hotel Siena, Ghina dan Amelia. Siena meraba dan menatap ponselnya sudah pukul 09.00 pagi. Dia melewatkan jam meeting yang sudah setelnya jam 07.00 tadi.
Siena terhentak bangun dan membuat Ghina juga terkejut.
"Kita terlambat! Amelia kenapa ngga bangunin?" teriak Siena.
Namun hanya Ghina yang dia lihat, ranjang Amelia masih rapi tak ada yang tidur di sana. Siena meremas kepalanya untuk bisa menghilangkan pusing karena mabuk semalam dan berusaha untuk sadar.
"Amelia!" teriak Siena lagi.
Ghina bangun dan membuka matanya sedikit menatap ranjang Amelia.
"Ngga ada" jawab Ghina.
Siena memukulnya dengan bantal.
"Jelas ngga ada, dimana dia? apa di kamar mandi?" ucap Siena.
Siena bangun dan memeriksa kamar mandi. Tak ada siapapun di sana. Siena menggaruk kepalanya, kemudian masuk ke kamar mandi.
###
Sementara itu, Amelia membuka matanya dengan perlahan. Dia menggeliat seperti biasanya saat dia bangun, namun dia merasakan dingin di seluruh tubuhnya saat selimut terbuka. Amelia menatap bagian perutnya terbuka, kakinya polos tanpa celana tidurnya. Kemudian dadanya tak memakai bra juga kaos tidurnya.
Amelia terkejut, terperanjat dari ranjang dengan menutupi tubuhnya dengan selimut yang dia tarik. Kemudian dia berteriak dengan histeris saat melihat Davin yang juga telanjang karena selimutnya dia tarik.
"AAAAAAHRRGGGGGHHHHHH!"
Davin terkejut mendengar teriakan Amelia. Dia melihat dirinya tak ditutupi selimut. Dia menarik seprai dan menutupi tubuhnya dan diam menunduk.
Amelia terdiam sejenak, dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Namun semuanya tak muncul di ingatannya. Amelia membawa semua pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Davin masih diam kebingungan harus mengatakan apa padanya. Dia tak menyangka Amelia akan berteriak seperti itu. Dia merasa malam kemarin Amelia menerima semua sentuhannya dalam keadaan sadar.
Saat berganti pakaian, Amelia sadar bahwa kamar itu bukan kamarnya dan teman-temannya pun tak ada di sana. Amelia merasa sedih karena sudah mendapati dirinya berada di kamar orang lain, terlebih tidur di satu ranjang bersama seorang pria. Berkali-kali memejamkan mata untuk mengingat, akhirnya dia ingat saat terduduk di lift.
Dia jelas melihat Davin terlihat heran menatapnya. Namun mengapa dia mengajak Amelia ke kamarnya? Amelia masih belum bisa mengingatnya. Dia bergegas merapikan rambut dan pakaiannya menghadap cermin.
"Amelia ....apa yang kamu lakukan semalam? Kenapa bisa seperti ini?" Amelia bicara pada bayangannya di cermin.
Amelia hampir menangis meratapi kesalahannya. Suara ketukan pintu membuatnya mengendalikan perasaannya. Dia harus bisa menghadapi pria yang ada di luar untuk bisa pergi ke kamarnya.
Amelia keluar dan melihat Davin yang hanya memakai celananya. Dia memalingkan pandangannya dan berusaha bicara.
"Aku....harus pergi, a..ku...aku..."
Amelia semakin gugup.
"Kita akan melanjutkan hubungan ini, kan?" ucap Davin sambil memegang lengannya.
Tubuh Amelia terasa bergetar seperti tersetrum listrik saat Davin menyentuhnya. Amelia merasa berat mendengar kata-kata yang diucapkan Davin.
Terbayang wajah kedua orangtuanya yang akan sangat kecewa saat mendapati dirinya dilamar pria asing yang tidak dikenal apalagi direstuinya. Amelia memejamkan matanya dan mengambil nafas panjang. Dia berbalik dan berusaha bicara.
"Kita....ngga pernah ketemu, jadi....kita ngga pernah ngelakuin apa-apa...jelas!" ucap Amelia.
Davin terkejut dengan ucapan Amelia. Dia tak menyangka bahwa Amelia akan mengatakan hal itu. Dia berpikir bahwa dia akan memulai sebuah hubungan dengan Amelia dimulai hari itu. Namun ucapan Amelia seolah seperti petir di siang bolong. Davin terdiam menganga dan tak tahu harus mengatakan apa.
Amelia melepaskan tangan Davin dari tangannya dan pergi keluar. Davin tersadar saat pintu yang ditutup Amelia terdengar keras. Davin mengejarnya dan memanggilnya.
"Amel!"
Namun Amelia sudah menghilang, dia berlari dan tak sama sekali kembali lagi. Davin masuk kembali ke kamarnya dengan perasaan yang sedih.
Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan wanita yang membuatnya tersenyum saat melihat senyumannya. Berdebar saat menyentuhnya, berhasrat saat bersamanya. Namun wanita itu malah memilih untuk melupakan semua dan pergi meninggalkannya.
\=\=\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments