Davin menjawab telpon dari Oma Mira dan menjelaskan perjalanan bisnisnya kali ini. Dia berbohong.
"Iya Oma, aku belum melihatnya datang. Dia juga belum memberikan kabar lagi. Apa aku harus kembali sekarang?" tanya Davin.
Wajah Alex menertawakannya yang sedang melakukan kebohongan pertama kalinya, di hadapannya. Davin meraup wajah Alex dan berdiri menghindarinya.
"Tidak...tunggu saja di sana, dia akan datang besok. Kau jalan-jalan saja dulu, kau juga butuh liburan" ucap Oma Mira.
"Terimakasih Oma!" ucap Davin.
"Untuk apa?" tanya Oma Mira.
"Karena Oma berusaha mengerti aku" jawab Davin.
Alex kembali meledeknya dengan bertingkah sebagai perayu disisinya. Davin kesal kemudian memukul kepala Alex dengan keras. Dia pun pergi dengan meringis kesakitan.
Davin menyeringai senang Alex kesakitan.
"Ok nikmati liburan mu, sampai ketemu lusa" pamit Oma Mira.
"Sampai jumpa Oma!" jawab Davin.
Davin menutup ponselnya kemudian menatap Alex dengan menertawakannya.
"Kita pergi cari wanita!" Alex memberikan ide sambil menggosok kepalanya.
"Tidak, aku tidak mau!" jawab Davin.
"Kenapa? Kau takut tidak berhasil lagi?" ucap Alex meledeknya.
Davin mengangkat wajahnya menatap Alex dan hendak memukulnya lagi. Alex melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Tapi Davin terdiam mengingat kejadian semalam. Dia menelan ludah dan mencoba tidak mengingatnya lagi. Namun hatinya bertanya, apakah gadis itu masih di hotel yang sama dengannya atau tidak?
"Atau kita cari gadis-gadis matre kemarin dan meminta kembali uang dollar yang mereka ambil kemarin" ucap Alex memberikan ide lagi.
Davin membulatkan matanya merasa Alex bisa membaca pikirannya.
"Mereka pasti masih di hotel yang sama" ucap Alex lagi.
Davin mengalihkan pandangannya, merasa Alex benar-benar bisa membaca pikirannya.
"Diam! Aku mau turun, kita akan pergi keliling kota ini seharian" ucap Davin mengambil keputusan sendiri.
Alex mengangkat kedua alisnya dan menuruti perkataan Davin dan mengikutinya keluar dari kamar.
Davin masuk ke lift, Alex berjalan melewatinya dan berdiri di belakangnya. Dia memencet tombol menutup pintu lift, namun ditahan oleh tangan seorang gadis. Mata Davin menyusuri tangan hingga wajah gadis itu. Matanya membulat saat melihat bibir gadis itu, bibirnya masih bengkak dan sedikit luka.
~Gadis ini!~ ucap hati Davin.
"Kalian!" ucap Amelia.
Alex mengingatnya, dia menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah wajah Amelia.
"Kebetulan sekali!" ucap Amelia.
Dia mengambil sesuatu dari tasnya dan menghitung. Kemudian memberikan beberapa lembar uang ratusan dollar ke hadapan Davin.
"Ini! Aku beli salep dengan uangku sendiri, uang mu terlalu banyak. Maaf teman-teman ku memang begitu, mereka terlalu berlebihan menanggapi tabrakan kemarin" jelas Amelia.
Alex hendak mengomelinya namun jadi diam saat melihatnya menyodorkan uang semalam. Sementara Davin menatap bibirnya yang bicara tanpa berkedip.
"Hei! Ini!"
Amelia menarik tangannya dan menyerahkan uangnya. Dia merasakan tangan Davin yang dingin, kemudian menatap matanya.
"Tanganmu dingin, kau harus banyak minum jahe hangat agar tidak sedingin ini" ucap Amelia.
"Haaah?"
Davin malah tak mengerti seolah baru sadar.
Amelia tersenyum dengan menutup bibirnya karena masih terasa sakit.
"Sudah sampai di lobi, bye!" ucap Amelia sambil melambai.
Davin masih diam menatap kepergiannya, Alex melihatnya. Dia menatap ke arah celana Davin dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Davin tersenyum dan melihat uang yang diberikan Amelia. Namun senyumnya buyar saat melihat Alex sedang memperhatikan celananya. Dia memukul kepala Alex lagi.
"Aish....sakit Bos!" keluh Alex.
"Kau sedang apa?" tanya Davin kesal.
"Kau jatuh cinta ya Bos?" taya Alex.
Davin menghela nafas dan memejamkan matanya sebentar. Dia mengakui bahwa Alex menebak dengan benar, pikirannya tentang juniornya merespon saat menatap Amelia.
"Ok, aku akan mendekatinya, kali ini....tolong...... jangan mengatakan apapun, tentang apapun" pinta Davin sambil berisyarat menutup mulutnya seperti resleting.
Alex mengangkat keningnya dan tersenyum kemudian mengikuti Davin menutup mulutnya seperti resleting.
Davin berjalan cepat hendak menyusulnya namun dia kehilangan jejak. Alex menatapnya dengan tersenyum.
"Kemana dia?" tanya Davin.
Alex mengambil ponselnya dan menelpon seseorang dengan wajah tersenyum sambil menatap Davin.
"Hai! Kalian ada acara dimana?" tanya Alex di ponselnya.
Davin menatapnya mendengarkan.
"Ouh....ya....boleh aku dan temanku bergabung?" tanya Alex lagi.
Davin semakin penasaran dengan apa yang dia lakukan.
"Ok...aku akan segera ke sana, see you!"
Alex tersenyum lebar menutup ponselnya.
"Aku tahu dia kemana!" ucap Alex.
Davin mengakui kepintaran Alex dalam mencari tahu tentang gadis-gadis itu. Dia mendapatkan nomor Siena langsung malam kemarin. Dia hendak meminta kembali uangnya namun Siena mengatakan bahwa Amelia marah dan menyimpannya.
Alex merasa bahwa Amelia gadis yang berbeda dengan kedua temannya. Dia juga sudah tahu bahwa Davin menyukainya, maka dari itu dia meminta nomor ponsel Siena dengan imbalan seratus dollar. Siena pun memberikan nomor ponselnya sendiri karena takut Amelia semakin marah jika dia memberikan nomornya tanpa seizinnya.
Davin dan Alex menyusul mereka ke sebuah event bazar untuk pengumpulan donasi di Pasar Seni. Alex mengatakan bahwa ide bazar donasi itu adalah ide Amelia sebagai manager pemasaran sebuah Bank tempat mereka bekerja. Davin tersenyum mendengar pujian Alex untuk Amelia.
Sambil berjalan, Alex juga mengatakan sudah mencari tahu tentang Amelia dari kedua temannya. Amelia seorang gadis pekerja keras, berpendirian dan sangat baik. Davin semakin menyukainya.
Sampai di Pasar Seni, Davin langsung bisa menemukan Amelia di stand Bank sponsor bazar itu. Dia sedang bicara dan mengenalkan produk baru mereka. Dia terlihat sangat profesional meski terlihat sesekali dia memijat daerah bibirnya karena sakit.
Berjalan perlahan sambil tak berhenti menatapnya, Davin terus terpesona dengan wajah Amelia. Dia merasa senang sudah pernah bertabrakan dan tak sengaja mengecup bibirnya. Amelia tak sengaja melihatnya dan mengangkat kedua alisnya sebagai tanda menyapanya. Davin tersenyum dan mengangguk.
Alex memperhatikannya dari kejauhan, dia merasa senang bosnya sudah menemukan cintanya. Dia lega bahwa bosnya masih normal sebagai seorang pria.
Selesai dengan promosinya, Amelia duduk bersama temannya di kursi dekat standnya. Davin masih memperhatikannya dari meja yang tak jauh. Kemudian Alex melambaikan tangannya mengajak mereka untuk bergabung. Siena menarik tangan Amelia untuk menerima ajakan Alex.
Beberapa obrolan dimulai oleh Alex yang menanyakan produk yang sedang dipromosikan Amelia. Dia sangat bersemangat menyampaikan jenis produknya meskipun menjelaskan dengan bibir yang sakit.
Davin benar-benar tak bisa melepas pandangannya dari wajah Amelia yang manis. Senyum hingga cara bicaranya membuat Davin terpesona.
Mereka asik bicara hingga sore, canda dan tawa membuat Davin semakin menyukai karakter Amelia.
Malam tiba, seorang senior meminta Amelia, Siena dan Ghina untuk ikut mereka makan malam bersama staf yang mengikuti promosi di sana. Mereka pun ikut dan meninggalkan Davin juga Alex.
\=\=\=\=\=>
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments