Josephine menyadari tindakan Vanya, "sial! dia ingin membunuh Ryuga," gumam Josephine yang siap melesat dengan shadow step tapi di tahan oleh Kira.
"Percayalah padanya! Adakalanya seorang sahabat percaya pada kemampuan sahabatnya yang lain," cegah Kira.
"Tapi guru ...," balas Josephine Terpotong.
"Sudah percayalah!"
Tendangan Vanya terlalu cepat, tapi Ryuga tak menyerah. "Jika Vanya melakukan tendangan maka aku akan melayangkan pukulan, thousand earth fist!" gumam Ryuga bersiap melancarkan pukulan. Kedua kepalan tangannya diselimuti tanah yang keras.
"Bang ...!" Tendangan dan pukulan beradu, Ryuga tidak berhenti saja sekali menghantamkan pukulan. Tapi melancarkan ribuan pukulan bertubi-tubi ke telapak kaki Vanya untuk mengurangi gaya dorong tendangan Vanya.
"Sial! tendanganku yang kuat dan mematikan ini bisa ditahan olehnya, kekuatan macam apa yang dimiliki sampah ini," batin Vanya lalu mengerang dan menambah energi pada kaki untuk mendorong Ryuga agar terjatuh. "Aaaaaaargh ...!"
Dorongan tendangan Vanya semakin kuat, pukulan Ryuga juga semakin cepat, reflek gerakan pukulannya meningkat tajam setelah berlatih dengan beban 8 kali gravitasi bumi. Tubuh Vanya melayang di udara tertahan, oleh ribuan pukulan beruntun Ryuga.
Semakin lama memukul semakin bertambah staminanya, Ryuga mengencangkan lengan kanannya dan menumpu kuat pada pergelangan bahu. Ryuga siap melontarkan pukulan secepat peluru ke kaki Vanya yang sudah tak kuat menahan lagi pukulan Ryuga yang bertubi-tubi.
Bang!
Vanya terpental 30 meter dan melayang di udara, Ryuga mengejar untuk mengembalikan keadaan. Dengan tatapan penuh kemarahan Ryuga melepaskan pukulan secepat peluru.
Bang!
Boom!
"Guhak!" Tubuh Vanya menabrak batu besar dan membuat batu itu hancur berkeping-keping. Vanya memuntahkan banyak darah, ia langsung terkapar, tulang rusuknya retak, dan organ dalamnya luka berat. Ryuga langsung lemas dan terduduk, nafasnya terengah-engah, topeng dewanya di nonaktifkan dan terbuka, semua bagian tubuhnya mengeluarkan asap.
Kira, Rany, dan Josephine menjatuhkan rahang dengan mata membulat, level 1 bisa mengalahkan level 3. Dari gerakan refleknya saja Ryuga setara dengan Josephine yang berada di level 5 puncak.
Kira melesat cepat ke arah Vanya untuk menolongnya, Vabnya sudah terkapar tak berdaya, "Blackball mode Yokto healing regeneration!"
Bola hitam seukuran bola baseball keluar dari telapak tangan Kira melayang dan membesar menjadi ukuran bola berdiameter 3 meter. Lalu membungkus tubuh Vanya, dalam satu menit semua semua luka luar dan dalamnya sembuh seperti semula. Skill penyembuhan Kira tidak bisa menumbuhkan bagiam tubuh yang sudah berlubang atau putus.
Vanya membuka matanya perlahan lalu membelalakan mata, ia tak menyangka bisa dikalahkan Ryuga yang hanya level satu. Kira membantu Vanya berdiri, "jangan remehkan orang lain. Bisa jadi menurutmu lemah tapi dia punya kekuatan tersembunyi," bisik Kira memberi nasihat.
"Ya guru, aku bersalah dan aku akan menepati janjiku," balas Vanya dengan menundukan wajah.
Vanya dan Kira lalu mendekati Ryuga yang sudah dipapah Josephine. "Maafkan aku, jika pukulanku terlalu keras padamu. Aku tak sengaja mengerahkan semua tenagaku!" pinta Ryuga yang menundukan wajah. Ryuga merasa bersalah terhadap Vanya, meskipun ia sudah dihina habis-habisan.
"Tidak Ryuga, aku yang bersalah karena meremehkanmu. Sekarang kau adalah sahabatku, terimalah hormatku!" ucap Vanya lalu membungkuk hormat.
"Terima kasih Vanya. Aku juga senang bersahabat denganmu," balas Ryuga dengan membungkuk hormat juga.
Vanya menempelkan tangannya pada dada Ryuga, "extreme heal!" luka-luka di tubuh Ryuga kembali menutup, staminanya juga kembali pulih dan sehat seperti sediakala.
"Terima kasih teman," ucap Ryuga dengan bibir membentuk senyuman.
"Sama-sama, Ryu!" balas Vanya.
"Nah, ini kan enak di dengarnya," ucap Ryuga.
"Baik, karena sudah lewat waktu istirahat makan siang, kita lanjutkan lagi latihannya," canda Kira.
"Apa?!" teriak mereka berempat serentak dan membulatkan mata. Padahal mereka sudah lelah dan letih karena latihan, mereka juga butuh asupan gizi.
"Bercanda, ayo kita makan ke kantin di dalam akademi militer!" ajak Kira.
"Siap guru!" ucap mereka berempat dengan raut muka berseri-seri.
Sebagai tim mereka kini akrab satu sama lain, terlebih hubungan Vanya dan Ryuga. Perkelahian mereka bukan membuat mereka menyimpan dendam tapi malah membuat hubungan mereka semakin akrab sebagai sahabat.
Di kantin mereka duduk berhadapan, Rany berhadapan dengan Ryuga, Josephine dengan Vanya, sedangkan Kira duduk di depan mereka berempat yang saling berhadapan.
Makanan sudah dihidangkan tapi menu makanan setiap level berbeda, Ryuga yang level satu tentu saja hanya nasi. Berbanding terbalik dengan Josephine hidangan makananya terkesan sangat mewah. Dalam pemerintahan dunia sangakama menjunjung prinsip yang kuat yang berkuasa dan dihormati.
Membuat para Divya yang levelnya rendah terpinggirkan, bahkan lebih parah nasib manusia yang tidak bisa menjadi Divya, mereka akan dibuang ke sektor pekerjaan kasar seperti tambang, minyak, petani dan pekerjaan buruh rendahan lainnya.
Ryuga makan dengan lahap meskipun hanya memakan nasi, teman-temannya yang lain sampai tidak tega bahkan membuat Kira mentornya juga ikut bersedih. "Ryuga, aku bisa merekomendasikan dirimu naik level tanpa harus menunggu ujian pertarungan tim. Apakah kamu siap?"
"Uhuk ... uhuk ...." Ryuga terbatuk. "Maksud guru naik level bagaimana? Naik level Divya? Bukankah aku baru dites kemarin, pasti hasilnya sama saja guru, error," tolak Ryuga.
"Nanti aku akan tunjukan padamu! Makanlah ini!" seru Kira sambil memberikan ayam miliknya, Josephine juga memberikan lobster miliknya pada Ryuga, Vanya ikutan memberi telur balado, dan Rany juga memberikan daging rendang.
"Terima kasih guru, terima kasih teman-teman. Sekarang aku merasa punya keluarga lagi ... hiks ... hiks ... hiks ...." ucap Ryuga menangis karena terharu.
"Sudah habiskan makanannya, nanti asin semua," ejek Rany.
"Hahaha ...." tawa Kira, Josephine, dan Vanya serentak. Setelah orang tuanya meninggal Ryuga sudah tidak lagi merasakan kehangatan keluarga, membuatnya terharu dengan sikap guru dan teman-temannya yang menganggap Ryuga adalah bagian dari keluarga.
Kira mencukupkan latihan hari ini, Rany dan Vanya pulang ke arah dormitorinya bersamaan, Josephine juga pulang ke dormitorinya. Sedangkan Ryuga mengikuti Kira ke suatu tempat yang cukup rahasia, untuk bertemu seseorang yaitu jendral Atmojoyo.
"Lapor jendral, aku kemari dengan Ryuga," ucap Kira dengan sikap hormat tentara.
"Silahkan duduk!" seru Atmojoyo. Kira dan Ryuga duduk di depan Atmojoyo yang sedang menyeruput kopi dan bergantian menyesap sebatang cerutu kuba. "Ada perihal apa kau menemuiku komandan?" tanya Atmojoyo.
"Aku merekomendasikan ujian kenaikan pangkat untuk Ryuga. Mohon Jendral berbaik hati dan ...," pinta Kira terpotong ucapannya.
"Ya aku paham. Aku menyetujuinya asal Ryuga membuktikan kesiapannya sebagai prajurit. Aku bisa memberimu tingkatan yang lebih tinggi dari Kira yang mempunyai jabatan komandan Super Soldier Elite, yaitu tingkatan ASSAT," ujar Atmojoyo dengan sorot mata tajam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 11 Episodes
Comments