Chapter 17 - Obrolan Malam

“Ah~ nikmatnya berendam air hangat setelah seharian sibuk..”

“Ya, enak sekali setelah menyelesaikan masalah lalu timbul masalah lainnya. Sekarang bisa kau jelaskan bagaimana kau berangkat hanya untuk mencari blacksmith namun pulang membawa mayat monster dan mayat ketua bandit?”

Apa ini?

Kenapa berendam air hangat rasanya seperti di interogasi seolah melakukan kejahatan?

“Ya, bagaimana lagi? Itu bukan keadaan yang di rencanakan” balas ku.

“Memang sih.. tapi bagaimana cara ku menjelaskan adanya monster naga yang berkeliaran dekat pemukiman warga? Mereka akan panik, Hans!”

“Tentang itu, Mercedes dan Chiyuki sedang mengurusnya. Hanya tuhan yang tahu apa yang sedang mereka lakukan setelah mengambil panzerfaust yang tersisa.”

“Well, dengan senjata seperti itu aku jadi khawatir dengan monster-monster itu dibandingkan mereka.”

“Yah.. namanya juga senjata peledak. Berharap saja mereka tidak merusak alam sekitar.”

“Haaaah~”

“Haaaaaah~”

Ayah ku dan aku menghembuskan nafas berat bersamaan. Kami berdua paham mengenai tingkah laku Chiyuki. Setelah kami kembali ke rumah, perhatian orang tua kami tertuju pada benda yang selalu di bawa Chiyuki. Benda itu tidak berbahaya asalkan pin pengamannya masih terpasang.

Reaksi kedua orang tua kami setelah mengetahui benda berbahaya itu adalah terdiam seribu bahasa. Semua tuduhan mengarah pada ku karena membuat Chiyuki terobsesi pada senjata mengerikan.

Mereka terlihat seperti mengingat luka lama yang muncul kembali.

“Oh, ngomong-ngomong.. apa aku boleh mengganti kereta kuda kita? Melihat kejadian yang telah terjadi.. aku lebih suka menabrak mereka daripada berhenti lalu menembaki mereka. Rasanya seperti ada yang kurang.. tapi yah.. aku ingin kereta kuda yang kokoh!”

“...” ayah ku terdiam setelah mendengar keluhan ku.

“Aku merasa, kau dan Chiyuki memiliki kesamaan.”

“Hah? Apaan?” aku termenung setelah mendengar ucapan Ayah ku.

“Tidak apa-apa, memangnya kereta kuda macam apa yang kau mau?”

“Pertama, aku butuh kereta yang lumayan besar untuk mengangkut kita semua.”

“Hoou, semacam kereta keluarga gitu?”

“Uhuh! Lalu terdapat armor yang melekat di seluruh sisinya.”

“Aku sedikit kasihan dengan kuda-kuda yang akan menariknya. Biasanya kereta seperti itu hanya digunakan oleh Jendral saat berperang untuk memastikan keamanannya.”

“Tenang saja Ayah, kita tidak butuh kuda untuk mengerakkannya.”

“Eh???” kali ini, Ayah ku menatap ku dengan tatapan mata yang tidak biasa.

“Bagaimana pun juga, kereta itu digerakkan oleh generator sihir yang sedang ku kembangkan.”

“Tunggu! Kau mengembangkan generator sihir? Bukan kah itu penemuan gagal tahun lalu?”

“Yah, mereka gagal karena beberapa bagian yang dibutuhkan kurang di dalamnya. Sebenarnya mereka butuh katalis sihir yang tepat untuk melancarkan aliran sihir yang disimpan. Namun, generator sihir yang ku rancang ini bukanlah generator sihir yang murni digerakan oleh sihir. Dia membutuhkan sumber daya listrik yang disimpan dalam campuran khusus alchemist untuk menghasilkan energi yang mampu mengerakkan kereta kuda itu.”

“Uwah.. rumit sekali, Karl.. bisa dipersingkat?”

“Yah, kita butuh sumber sihir untuk mengisi generator sihir kita demi menghasilkan tenaga listrik yang mampu mengerakkan kereta kuda itu.”

“Yep, rumit sekali.. sampai-sampai tidak ada perubahan dari penjelasan sebelumnya. Lalu apa lagi?”

“Kedua.. aku ingin memasang beberapa senjata berat diatasnya seperti senapan mesin, pelontar granat, pelontar tabir asap, pengelihatan thermal, rudal pengunci sasaran, dan perlengkapan anti-sihir.”

“Jika sebanyak itu, sepertinya kita butuh kontrak ekslusif dengan mereka.”

“Untuk itu.. kuserahkan bagian itu pada mu, Ayah! Lagipula.. ini juga akan menjadi kendaraan militer kita.”

“Kau memikirkannya sampai kesana?”

“Yah, lagipula kita butuh sedikit orang yang bisa dipercaya bukan? Memberikan mainan kecil seperti ini untuk pengabdian mereka bukanlah masalah yang besar.”

“Yah, kurasa mereka mampu mewujudkan impian mu itu.”

“Semoga saja, aku tidak sabar untuk mengedarainya. Kapan kita akan menemui mereka?”

“Bagaimana setelah kita selesai berendam? Lebih cepat, lebih baik bukan? Aku juga penasaran dengan kendaraan yang kau rancang itu. Tapi sekarang.. kita nikmati air hangat ini untuk melepas lelah.”

“Ah.. benar juga..”

Setelah kenikmatan dunia yang kami berdua rasakan, tersimpan sebuah rencana kasar untuk memaksa seseorang membuat kereta kuda dalam waktu semalam.

[...]

Episodes
1 Chapter 1 - Adik Kecil yang Imut, tapi... (Prolog)
2 Chapter 2 - Adik Ku Menakutkan, tapi...
3 Chapter 3 - Kebersamaan di Taman, tapi..
4 Chapter 4 - Bunga yang Indah, tapi...
5 Chapter 5 - Keluarga Harmonis, tapi...
6 Chapter 6 - Hari yang Damai tanpa tapi...
7 Chapter 7 - Pelukan Hangat, tapi...
8 Chapter 8 - Re:Counter Plan ...
9 Chapter 9 - Kebenaran yang Manis...
10 Chapter 10 - Tirani Kecil yang Manis...
11 Chapter 11 - Pertandingan Catur, tapi...
12 Chapter 12 - Kekalahan Pertama
13 Chapter 13 - Master x Servant
14 Chapter 14 - Gelisah sang Raja
15 Chapter 15 - Mencari Blacksmith, tapi...
16 Chapter 16 - Bandit Badluck
17 Chapter 17 - Obrolan Malam
18 Chapter 18 - Hasil Kerja Keras Bagai Kuda
19 Chapter 19 - Serangan Naga
20 Chapter 20 - Menuju Sarang Naga
21 Chapter 21 - Gua Misterius
22 Chapter 22 - Tutorial Genosida Naga
23 Chapter 23 - Rencana Update
24 Chapter 24 - Rencana Terus Berjalan..
25 Chapter 25 - Teknik Merampok Merchant
26 Chapter 26 - Pembangunan Ulang
27 Chapter 27 - Rumor Kudeta
28 Chapter 28 - Menjadi Sensei
29 Chapter 29 - Chiyuki Sensei
30 Chapter 30 - Seni Berburu
31 Chapter 31 - Kaldu Manis
32 Chapter 32 - Gadis Serigala, Hime-chan!
33 Chapter 33 - Curhatan Malam
34 Chapter 34 - Chiyuki Demam
35 Chapter 35 - Rencana Chiyuki
36 Chapter 36 - Normal Common Sense? Apa Itu?
37 Chapter 37 - Seni Berperang
38 Chapter 38 - Perang Dingin
39 Chapter 39 - Undangan Persidangan
40 Chapter 40 - Burung Langit
41 Chapter 41 - Ide Buruk, tapi menarik..
42 Chapter 42 - Dewi Kematian
43 Chapter 43 - Kejutan Tetangga Sebelah
44 Chapter 44 - Kunjungan Kerajaan Tetangga
45 Chapter 45 - Pembersihan itu Menjijikan
46 Chapter 46 - M-Mama?
47 Chapter 47 - Sifat Kekanakan Mama
48 Chapter 48 - Angel of Death
49 Chapter 49 - Tamu Istimewa
50 Chapter 50 - Akhir Peperangan
51 Chapter 51 - Masa Depan adalah Misteri
52 Chapter 52 - Undangan Pihak Kuil
53 Chapter 53 - Akademi Kecil
54 Chapter 54 - Ego Bangsawan
55 Chapter 55 - Tea Time Putri Kerajaan
56 Chapter 56 - Trigger Discipline
57 Chapter 57 - Living Target
58 Chapter 58 - Taring Kecil yang Bangkit
59 Chapter 59 - Ancaman yang Berkembang
60 Chapter 60 - Donasi Kemanusiaan
61 Chapter 61 - Spymaster Handal, tapi..
62 Chapter 62 - Persiapan Kecil
63 Chapter 63 - Jawaban dari Pertanyaan Kecil
64 Chapter 64 - Kerajaan Flora Kembali Berulah..
65 Chapter 65 - Donasi Kuil
66 Chapter 66 - Permintaan Gadis Kuil
67 Chapter 67 - Pertarungan Suci
68 Chapter 68 - Kuil Suci yang Ternodai
69 Chapter 69 - Langit Sore
70 Chapter 70 - Daging Kaleng
71 Chapter 71 - Kabar Baik dan Kabar Buruk
72 Chapter 72 - Lintas Generasi
73 Chapter 73 - Halusinasi
74 Chapter 74 - Rahasia Chiyuki
75 Chapter 75 - Kewajiban Kecil
76 Chapter 76 - Akademi Malam
77 Chapter 77 - Candaan Kecil untuk Mata-Mata
78 Chapter 78 - Simulasi
79 Chapter 79 - Simulasi di Mulai!
80 Chapter 80 - Spy in Action??
81 Chapter 81 - SPY WAR (Bagian 1)
82 Chapter 82 - SPY WAR (Bagian 2)
83 Chapter 83 - Kondisi Kerajaan Abzien
84 Chapter 84 - Pernikahan Mendadak?
85 Chapter 85 - SPY WAR (Bagian 3)
86 Chapter 86 - SPY WAR (Bagian 4)
87 Chapter 87 - SPY WAR (Bagian 5)
88 Chapter 88 - SPY WAR (Bagian 6)
89 Chapter 89 - Ivan & Selena
90 Chapter 90 - Kunjungan Malam Kerajaan Abzien
91 Chapter 91 - Serangan Mayat Hidup, tapi..
92 Chapter 92 - Altar Kuil
93 Chapter 93 - Fakta Kecil
94 Chapter 94 - Menunggu Penjemputan
95 Chapter 95 - Persiapan Perang
96 Chapter 96 - Perkenalan dari Bencana
97 Chapter 97 - Dampak Perang Nuklir
98 Chapter 98 - Hancurnya Batas Antar Kerajaan
99 Chapter 99 - Selamat Tinggal
100 Chapter 100 - Kehidupan Kedua yang Penuh Cobaan (Epilog - Volume 1 END)
101 Author Note
102 *DEMOKRASI TERTUTUP*
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Chapter 1 - Adik Kecil yang Imut, tapi... (Prolog)
2
Chapter 2 - Adik Ku Menakutkan, tapi...
3
Chapter 3 - Kebersamaan di Taman, tapi..
4
Chapter 4 - Bunga yang Indah, tapi...
5
Chapter 5 - Keluarga Harmonis, tapi...
6
Chapter 6 - Hari yang Damai tanpa tapi...
7
Chapter 7 - Pelukan Hangat, tapi...
8
Chapter 8 - Re:Counter Plan ...
9
Chapter 9 - Kebenaran yang Manis...
10
Chapter 10 - Tirani Kecil yang Manis...
11
Chapter 11 - Pertandingan Catur, tapi...
12
Chapter 12 - Kekalahan Pertama
13
Chapter 13 - Master x Servant
14
Chapter 14 - Gelisah sang Raja
15
Chapter 15 - Mencari Blacksmith, tapi...
16
Chapter 16 - Bandit Badluck
17
Chapter 17 - Obrolan Malam
18
Chapter 18 - Hasil Kerja Keras Bagai Kuda
19
Chapter 19 - Serangan Naga
20
Chapter 20 - Menuju Sarang Naga
21
Chapter 21 - Gua Misterius
22
Chapter 22 - Tutorial Genosida Naga
23
Chapter 23 - Rencana Update
24
Chapter 24 - Rencana Terus Berjalan..
25
Chapter 25 - Teknik Merampok Merchant
26
Chapter 26 - Pembangunan Ulang
27
Chapter 27 - Rumor Kudeta
28
Chapter 28 - Menjadi Sensei
29
Chapter 29 - Chiyuki Sensei
30
Chapter 30 - Seni Berburu
31
Chapter 31 - Kaldu Manis
32
Chapter 32 - Gadis Serigala, Hime-chan!
33
Chapter 33 - Curhatan Malam
34
Chapter 34 - Chiyuki Demam
35
Chapter 35 - Rencana Chiyuki
36
Chapter 36 - Normal Common Sense? Apa Itu?
37
Chapter 37 - Seni Berperang
38
Chapter 38 - Perang Dingin
39
Chapter 39 - Undangan Persidangan
40
Chapter 40 - Burung Langit
41
Chapter 41 - Ide Buruk, tapi menarik..
42
Chapter 42 - Dewi Kematian
43
Chapter 43 - Kejutan Tetangga Sebelah
44
Chapter 44 - Kunjungan Kerajaan Tetangga
45
Chapter 45 - Pembersihan itu Menjijikan
46
Chapter 46 - M-Mama?
47
Chapter 47 - Sifat Kekanakan Mama
48
Chapter 48 - Angel of Death
49
Chapter 49 - Tamu Istimewa
50
Chapter 50 - Akhir Peperangan
51
Chapter 51 - Masa Depan adalah Misteri
52
Chapter 52 - Undangan Pihak Kuil
53
Chapter 53 - Akademi Kecil
54
Chapter 54 - Ego Bangsawan
55
Chapter 55 - Tea Time Putri Kerajaan
56
Chapter 56 - Trigger Discipline
57
Chapter 57 - Living Target
58
Chapter 58 - Taring Kecil yang Bangkit
59
Chapter 59 - Ancaman yang Berkembang
60
Chapter 60 - Donasi Kemanusiaan
61
Chapter 61 - Spymaster Handal, tapi..
62
Chapter 62 - Persiapan Kecil
63
Chapter 63 - Jawaban dari Pertanyaan Kecil
64
Chapter 64 - Kerajaan Flora Kembali Berulah..
65
Chapter 65 - Donasi Kuil
66
Chapter 66 - Permintaan Gadis Kuil
67
Chapter 67 - Pertarungan Suci
68
Chapter 68 - Kuil Suci yang Ternodai
69
Chapter 69 - Langit Sore
70
Chapter 70 - Daging Kaleng
71
Chapter 71 - Kabar Baik dan Kabar Buruk
72
Chapter 72 - Lintas Generasi
73
Chapter 73 - Halusinasi
74
Chapter 74 - Rahasia Chiyuki
75
Chapter 75 - Kewajiban Kecil
76
Chapter 76 - Akademi Malam
77
Chapter 77 - Candaan Kecil untuk Mata-Mata
78
Chapter 78 - Simulasi
79
Chapter 79 - Simulasi di Mulai!
80
Chapter 80 - Spy in Action??
81
Chapter 81 - SPY WAR (Bagian 1)
82
Chapter 82 - SPY WAR (Bagian 2)
83
Chapter 83 - Kondisi Kerajaan Abzien
84
Chapter 84 - Pernikahan Mendadak?
85
Chapter 85 - SPY WAR (Bagian 3)
86
Chapter 86 - SPY WAR (Bagian 4)
87
Chapter 87 - SPY WAR (Bagian 5)
88
Chapter 88 - SPY WAR (Bagian 6)
89
Chapter 89 - Ivan & Selena
90
Chapter 90 - Kunjungan Malam Kerajaan Abzien
91
Chapter 91 - Serangan Mayat Hidup, tapi..
92
Chapter 92 - Altar Kuil
93
Chapter 93 - Fakta Kecil
94
Chapter 94 - Menunggu Penjemputan
95
Chapter 95 - Persiapan Perang
96
Chapter 96 - Perkenalan dari Bencana
97
Chapter 97 - Dampak Perang Nuklir
98
Chapter 98 - Hancurnya Batas Antar Kerajaan
99
Chapter 99 - Selamat Tinggal
100
Chapter 100 - Kehidupan Kedua yang Penuh Cobaan (Epilog - Volume 1 END)
101
Author Note
102
*DEMOKRASI TERTUTUP*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!