Ada suaranya tetapi tak berwujud, bagai iblis yang menjelma menjadi pujangga dengan harum manisnya kata-kata. Rasanya pingin muntah tiba-tiba mendengar setiap kata demi kata yang terlontar dari mulut si anak kurang ajar itu.
Shalin menyorot tajam pria yang hampir menyelakai dirinya. Bahkan, sudah mengambil ancang-ancang dengan jurus tendangan super bila mencoba mendekat dalam radius setengah meter. Wajahnya tak menyimpan keramahan di sana, bahkan garis ayunya tertutup kilatan garang yang siap menyerang.
"Jangan lihatin aku kaya gitu, sayang. Kamu nggak cocok jadi jahat, karena tetap terlihat manis dan imut. Bagaimana kalau nanti sore aku jemput, kita nonton, jalan bareng?" tawarnya tanpa dosa.
Shalin bergeming, siap memakai helm tanpa memperdulikan si mulut culas tak bermoral. Ada rasa takut yang mendera di dadanya sebenarnya menghadapi manusia itu, namun dirinya harus bersikap tenang menghadapi semua ini. Perempuan itu bersiap menstater motor scoopy yang menemani hari ini.
"Sans ... dong, honey. Aku hanya mengajak nonton atau jalan, tidak main di hotel, janji deh sekarang. Kalau tidak suka yang pemaksaan, bagaimana kalau kita menikah saja."
"Minggir, atau aku tabrak mati!" sarkasnya menambah pedal gas, namun tetap menahan rem. Wujud protes dari si kuda besi yang enggan menyapa.
"Woho ... buru-buru amad, Neng. Jangan seperti itu, aku ini sangat mencintaimu, bagaimana kalau aku mati, kamu akan kehilangan orang yang begitu mencintaimu," paparnya tanpa tahu rasa malu. Sepertinya bukan hanya cinta, namun makhluk di depannya sudah terobsesi raga gadis cantik di depan matanya itu.
Tanpa menghiraukan perkataan Morgan, Shalin yang jengkel langsung mematikan mesin motornya. Mengantongi kunci motornya dan meninggalkan parkiran. Dia berjalan cepat menghindari Morgan yang terus memanggilnya.
Bruk!!
Kedua tubuh itu saling berbenturan hingga membuat gadis itu oleng, refleks si pria menahan tangannya agar tidak terjatuh. Dalam seperkian detik, semua terasa manis dan terselamatkan. Namun, begitu merasa tangan mereka bertaut, pemuda berperawakan tegas itu melepas dengan menggumamkan istighfar, lantas tangan itu terlepas begitu saja dan menyebabkan bok*ng gadis itu bersilaturahmi dengan lantai.
"Aww ...." desis Shalin mengaduh. Sakit, sekaligus malu yang dia rasakan. Bukannya ditolong bakal adegan romantis malah dilepas hingga ia terjerembab, kalau begini kenapa tadi pakai acara menahannya segala, sok menolong kalau pada akhirnya terjungkal. Mengsedih dan menyebalkan.
"Dasar dostadz sableng!" batin Shalin jengkel. Berdiri membenahi pakaiannya sendiri, menatap tajam calon suaminya lalu beranjak dari area yang sudah dipadati sebagian mahasiswa yang kepo dengan kejadian tadi.
Dalam hati Aka, ia merasa bersalah, namun bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom, jelas masalah baginya. Baik sengaja maupun tidak sengaja. Dikenal sebagai dosen dingin, tidak pernah basa-basi dalam bentuk apapun, serius, dan pastinya tegas dalam setiap urusan.
Shalin berjalan cepat melewati gerbang utama, jarak kampus dan asramanya tidak terlalu jauh, mungkin dengan jarak lima menit berjalan kaki. Mau balik ke parkiran jelas males takut si cecunguk itu masih ada di sana. Terpaksa jalan kaki, menuju rumah susun mahasiswa dengan langkah cepat.
Dari bawah, menatap lurus ke atas, kamar dirinya di lantai tiga yang lumayan menguras tenaga. Tak apalah, hari ini terlihat menyedihkan, mungkin esok ada hari indah yang siap menyapa.
Baru napas terkumpul menjadi rileks, seruan dari pemilik alam menyapa. Merdu yang ia rasakan, walau ada rasa enggan untuk beranjak, tapi harus disegerakan, apalagi peraturan di sana mewajibkan berjamaah tanpa bantahan.
Berjalan gontai menuju mushola, lekas menuju shaf yang sudah nampak penuh. Semua rapih, mengikuti barisan putri-putri yang hendak meminta ampunan dari-Nya. Usai menunaikan empat rakaat, Shalin berniat kembali menuju kamarnya.
"Shal, kemarin ke mana? Kamu absen, tanpa izin?" tanya Izza setengah berbisik. Mereka tengah sibuk melipat mukena.
"Ada halangan, Za. Iya, mau ngasih izin ponsel aku hilang, begitulah tidak bisa mengabari siapapun."
"Oh ... kasihan sekali, yang Sabar ya."
"Makasih Za, aku ke kamar dulu." Mereka berjalan gontai menuju kamar masing-masing.
Maksud hati ingin mengistirahatkan tubuhnya dan pikirannya barang sejenak, namun kepingan kejadian tak mengenakan itu kembali memutar memorinya. Gadis itu bangkit lagi dari kasur, menuju rooftop gedung rusunawa yang nampak lengah. Di sudut dari jarak pandang entah berapa meter terlihat santri menyendiri dengan alquran di tangannya. Ya sudah pasti sedang melancarkan hafalan.
"Shal, kok di sini?" sapa Nurma tetangga kamar rusunnya.
"Astaghfirullah ... ngagetin aja sih, hampir jantungku copot," jawabnya terjingkat, memegang dadanya dramatis.
"Sorry, kamu dipanggil pengurus kayaknya, ada yang cari di ruang tunggu?" ujarnya sembari duduk di garis pembatas.
"Siapa? Siang-siang gini?"
"La mana aku tahu, cowok, ganteng sih. Hehe." Nurma nyengir.
"Oke, makasih," jawabnya lalu turun. Lebih dulu ke kamar sekalian membawa tas dan isinya. Menyiapkan untuk kuliah nanti jam dua, barangkali mau keluar malas untuk pulang."
"Shalin!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
gia nasgia
Mungkin padustazd mau minta maaf
2024-07-23
1
Nendah Wenda
di tunggu calon suami
2024-01-09
2
Supartini
dicari calon imammu sha
2023-05-30
0