"Shal, kamu nggak pa-pa?" Mommy Disya memberi rangsangan kayu putih pada area hidung putrinya.
"Mom, kepalaku pening," ujarnya seraya memegang kening yang terasa anget.
"Ini minum dulu." Oma Yuki membawakan secangkir teh hangat madu.
"Terima kasih Oma." Shalin mengambil sikap duduk dan segera meneguk teh yang sudah di tangannya sedikit demi sedikit.
"Kalau udah baikan, Mommy tinggal sebentar ya, mau nyiapin hidangan untuk jamuan tamu-tamu yang datang."
"Mom, ini beneran Pak Aka Pak Aka itu mau datang ke sini? Emang orang tua dia setuju punya mantu kaya aku, katanya cucu kyai besar. Pastinya 'kan punya kriteria tersendiri dengan calon mantu-mantunya," kisah Shalin berharap menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Kata ayahmu keluarga Pak Aka sudah setuju dan dia menerima kamu dengan tangan terbuka, unggah-ungguh orang itu bisa dirubah apalagi dilingkungan yang baik dan dipertemukan orang yang tepat."
"Masa iya aku nikah sama pria dewasa begitu, Mom, please deh ... aku masih kuliah. Masih ingin menikmati masa-masa kebebasan."
"Mommy juga dulu nikahnya masih kuliah, ya seumuran kamu gini lah, tuaan Mommy dikit. Tetapi Mommy bahagia, pernikahan kita juga jauh dari gosip miring, tergantung yang menjalankan sayang."
"Ustadz Aka kalau Mommy lihat lumayan juga, ganteng, sholeh, cerdas, lulusan S2 Kairo, dosen di kampusnya, calon pemimpin pesantren, kakeknya pendiri Universitas Islam, dan sekolah-sekolah di daerahnya, termasuk fasilitas kesehatan rumah sakit di Jakarta Barat. Jelas banget dari keturunan orang yang sangat berpengaruh. Kamu harus pinter-pinter membawa diri setelah menjadi istrinya. Mommy sih yakin banget banyak yang ngantri lemparin CV ke dia. Jadi menurut mommy takdirmu membawa keberkahan," papar Mommy Disya mengenai nilai plus Aka.
"Eh ada yang paling utama dari sekian yang paling penting, dia pemuda yang baik agamanya dan bertanggung jawab, coba kamu bayangkan jika kamu terjebak di dalam kamar hotel bersama pria brengsek, na'uzubillahiminzalik ... semoga dijauhkan untuk semua anak dan keturunan kita ya Allah. Aamiin."
"Tetapi Mom, bukannya kalau ustadz itu rawan poligami ya? Kalau Aka gitu gimana?"
"Astaghfirullah ... kamu mikirnya jauh sekali. Tidak semua ustadz begitu sayang. Tergantung orangnya juga, semoga Aka bukan termasuk ke dalam golongannya."
"Kok Mommy tahu banyak tentang Pak Aka? Curiga nih aku," tuduhnya penuh selidik.
"Kamu pikir Mommy dan Daddy diem gitu aja pas ada orang yang berniat melamarmu, ya Mommy cari tahu juga kali backgroundnya. Ya kali anak Mommy yang cantik dan sholehah ini mau kita nikahkan dengan sembarangan orang."
"Gimana masih mau mikir?"
"Ya masih lah Mom!" jawabnya sedikit meninggikan suaranya.
"Kok masih, apanya yang kurang. Kamu mau cari suami yang seperti apa?"
"Oke semua kebaikan ada padanya, tetapi masalahnya aku punya pilihan sendiri Mom, dia juga pria yang baik dan sejauh pengamatan aku sangat menjaga pandangan, kami berdua sedang menunggu lulus untuk kemudian dia akan datang melamar. Begitulah janjinya." Shalin menerawang dengan senyuman.
"Kamu punya pacar?" tanya Mommy Disya tak percaya.
"Bukan pacar, lebih tepatnya cinta dalam doa, kita emang saling mengagumi tetapi memilih menyimpan rasa ini untuk menunggu hari itu tiba, di mana aku halal baginya. Perasaan ini indah, Mommy dan aku tidak bisa mengabaikannya. Hatiku berat singgah ke pria lain."
"Sweet sekali, sayangnya tidak jodoh. Itu salah satu tindakan yang tidak direstui sang pemilik alam, karena walaupun tidak pacaran, tetapi kamu terbukti saling mengagumi dengan perasaan lain, itu bisa bahaya sayang, menyebabkan dosa juga."
"Mom," Shalin masih menahan ibunya yang hendak beranjak.
"Apalagi? Ganti pakaian kamu dengan yang lebih pantas, itu oma udah bawain baju-baju bagus dari butiknya."
"Shalin, cepetan itu tamunya udah datang!"
"Hah! Iya Mom," jawab gadis itu pasrah.
Biar bagaimanapun Shalin akan memberi tahu Azmi dan kejadian sebelumnya sehingga dirinya terpaksa melanggar janji untuk menunggu. Gadis itu keluar dari kamar setelah berpakaian seperti yang ibunya mau. Ia bergabung di ruang tengah terpisah dari para keluarga besar yang nampak serius bermusyawarah dengan tamu mereka.
"Bang! Bang Reagan! Astaga Bang sat!" Shalin yang kesal terpaksa menyeret kaus kembarannya yang lahir lima menit lebih dulu darinya.
"ikh ... mulutnya jahat, entar aku aduin sama mommy."
"Ngadu sana, ngadu terus, dasar anak mami!" kesalnya bertambah sewot.
"Pinjem ponselnya, punyaku ilang, 'kan belum beli. Aku harus ngabari seseorang, penting."
"Ceileh ... sepenting apa sih, lebih penting mana dari acara ini," ujarnya menyela.
"Ya penting urusan aku lah, ini tuh masalah hidup dan mati aku, kamu nggak bakalan ngerti yang begini, please ... kasihanilah aku sebentar saja." Shalin mengatupkan kedua tangannya pada seseorang yang selalu terlihat santai di setiap kesempatan.
"Upahnya apa?"
"Astaghfirullah ... matre amad jadi cowo, cewe mana ada yang mau model kaya begitu."
"Eh, sembarangan sekali Anda Tante, banyak yang ngantri sama aku, cuma ya gitu seleraku tinggi, jadi tidak semudah itu menaklukkan hatiku."
"Halah ribet bener, bilangin pinjem ya pinjem sini!" Keduanya berebut ponsel yang sejatinya Reagan hanya ingin mengerjai saja.
Blugh
"Astaghfirullah ...."
"Pak Aka!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
gia nasgia
shalin nggak sengaja tabrakan dgn pak ustadz
2024-07-22
0
Sintya Ashari
duhhhh....lanjut Thor.... mampir y thor
2024-02-12
1
Nendah Wenda
gimana ya lanjutnya jadi penasaran
2024-01-09
0