Bang Hasdin sungguh menahan perih di hatinya. Kini dirinya telah resmi menjadi suami Citra juga. Ingin rasanya berteriak meluapkan segala rasa, tapi semua tak mungkin ia lakukan. Ini adalah bagian dari konsekuensi yang ia pilih.
Bang Hasdin menitikan air mata saat Citra menunduk mencium punggung tangannya. Disana dengan lembut Bang Hasdin membaca do'a lalu meniup ubun-ubun Citra.
Ada rasa haru dalam hati Citra saat Bang Hasdin memperlakukan dirinya dengan baik. Timbul sebersit rasa yang harus ia tahan. Ia hanya seorang pelengkap. Wanita penyakitan yang tidak bisa memenuhi kebutuhan suami.
"Abang menerima mu dengan ikhlas, Abang harap kamu juga bisa ikhlas menerima Abang. Kita sudah ada ikatan. Mudah-mudahan kita bisa melakukan kewajiban kita sebagai suami istri dengan baik" ucap Bang Hasdin meskipun ia sama sekali tidak ingin mengucapkan hal itu. Hatinya tidak bisa berpura-pura tapi pernikahan di hadapan Allah bukanlah suatu hal yang pura-pura.
...
Siang itu Bang Hasdin menyuapi Citra. Wajah Citra terus menunduk tidak berani menatap wajah Bang Hasdin.
"Habiskan makannya, biar cepat sehat..!!" kata Bang Hasdin.
"Apa sekarang semua itu perlu Bang? Bukankah Citra harus cepat tiada agar Citra bisa segera bermanfaat bagi orang lain dan Abang cepat terbebas dari situasi ini" jawab Citra.
"Ucapmu mungkin ada benarnya.. tapi hendaknya manusia harus tetap berusaha untuk sembuh karena Allah memberi kita rasa sakit untuk menguji iman kita manusia" Bang Hasdin menaikan dagu Citra agar bisa menatap matanya.
"Abang tidak akan membatasi diri, kamu bisa mengeluh pada Abang tentang apa yang kamu rasakan. Apapun keadaan kita sekarang.. pernikahan kita adalah suatu kenyataan."
Citra kembali menunduk dan mengangguk pelan.
"Setelah ini Abang harus kembali ke barak. Nggak apa-apa khan?" tanya Bang Hasdin.
//
"Kemana saja Pratu Hasdin?? kenapa sana sekali nggak ada ijin???" tegur Bang Ares pada anggota nya yang lain. Saat itu Bang Ares kebetulan sedang menjadi pimpinan apel.
"Siap.. tidak tau" jawab para anggota.
Perasaan Bang Ares menjadi tidak enak. Tidak biasanya sahabatnya itu pergi tanpa pamit bahkan irit bicara.
"Baiklah.. nanti biar saya tangani sendiri kalau Hasdin sudah datang" kata Bang Ares.
:
Sesampainya di rumah Bang Ares, Bang Hasdin langsung menemui Hana. Ia memeluk pinggang Hana dari belakang. Ia menempelkan dagunya di pundak kiri Hana. Rasa bersalah itu begitu menekan batinnya.
"Abang kenapa?" tanya Hana cemas.
"Maafin Abang. Abang bukan suami yang baik untukmu" jawab Bang Hasdin.
"Hana juga bukan wanita yang memiliki kesempurnaan itu Bang. Sudahlah.. jangan bicara begitu lagi..!! Bagi Hana.. Abang adalah suami yang terbaik untuk Hana dan ayah yang baik untuk Cherry" kata Hana mencoba menenangkan.
Bang Hasdin menciumi pipi Hana. Rasa rindu itu kembali hadir. Tubuhnya mulai merespon dengan gelisah.
"Ke kamar sebentar yuk..!!" ajak Bang Hasdin.
Hana tersenyum dan mengangguk. Ia tau pasti apa yang sedang di inginkan suaminya saat ini.
~
Bang Hasdin terus mencumbui Hana, suara d***hnya tak dapat ia kendalikan. Detik-detik saat hampir pelepasan, bayang wajah Citra tiba-tiba berputar dalam ingatannya.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Hasdin tersentak kaget dan menarik diri padahal saat itu Hana juga hampir sampai pada titik akhir.
"Kenapa Bang?" tanya Hana bingung.
Bang Hasdin kembali tersadar saat Hana menegurnya.
"Ya Allah.. maaf dek. Maaf" Bang Hasdin menciumi wajah Hana karena merasa sangat bersalah sudah mengabaikan kebutuhan batin Hana istrinya.
"Abang sakit kepala lagi ya?" wajah Hana memang menunjukan ekspresi begitu kecewa dan Bang Hasdin sangat memahami hal itu.
"Iya dek. Ayo sekali lagi..!!" ajak Bang Hasdin sedikit mendorong dan merebahkan Hana kembali.
Hana mengangguk. Ia pun menuruti Bang Hasdin lagi.
~
Bang Hasdin merutuki dirinya sendiri karena setelah hampir setengah jam.. dirinya belum juga siap sedangkan Hana sudah kembali naik karena ulahnya.
Paras ayu Citra seakan bergelung dalam pikiran dan hatinya. Kedua istrinya itu sama-sama memiliki wajah cantik nan rupawan membuat batinnya sebagai seorang pria terusik juga, tapi daripada memikirkan rupa.. dirinya lebih takut menyakiti hati kedua istrinya terutama Hana.. istri pertamanya.
Terdengar suara rengek Cherry yang berarti mereka harus menyudahi aktivitas ranjang.
"Cherry sudah bangun Bang" kata Hana.
"Abang minta maaf hari ini mengecewakan kamu. Lain kali.. Abang tidak akan begitu" janji Bang Hasdin.
Hana tersenyum kecut.
"Iya Bang" jawabnya singkat kemudian beranjak dari ranjang.
Bang Hasdin hanya bisa menatap punggung Hana yang menjauh darinya.
Ya Allah.. inikah yang di sebut keadilan? Bagaimana sakitnya hati istri-istriku kalau tau aku menduakan mereka berdua. Jika ada tangis dari kedua wanita ku.. jelas semua ini karena aku. Aku yang memilih menduakan dan membuat mereka menangis bersamaan. Apapun yang terjadi, aku harus siap. Harus kuat demi putriku satu-satunya.
Bang Hasdin mengacak rambutnya, bingung bagaimana harus menata hati yang mungkin akan hancur lebur.
...
"Kamu masuk kamar dulu dek..!! Abang mau bicara sama Hasdin..!!" pinta Bang Ares pada Dinar saat mereka berdua baru saja pulang dari kegiatan kantor.
"Darimana saja kamu???" bentak Bang Ares yang melihat Bang Hasdin keluar dari kamar Hana hanya menggunakan celana pendek.
"Anggota lain sibuk dengan kegiatan.. kamu malah enak-enakan di rumah, dimana letak jalan pikirmu itu????"
"Aku nggak enak badan Res." jawab Bang Hasdin.
"Yang sakit itu bukan badanmu. Isi kepalamu yang tidak sehat. Sebenarnya kamu kenapa sih??" gerutu Bang Ares.
"Nggak ada apa-apa Res"
"Kalau sampai kau berbuat ulah di belakangku. Kupastikan tubuhmu itu bakal remuk kuhajar" jawab Bang Ares tak main-main.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Alif Septino
semangat kak
2022-09-13
1
Tiffany_Afnan
mengecewakan sekali bang ! 😓
2022-04-27
3
ℋℐᎯτυs
kalo bang Ares tau bagaimana ya
2022-04-22
2