Dinar mengangguk mengerti meskipun wajahnya masih menyimpan sejuta kesedihan.
"Dinar sakit?" tanya Vani.
"Nggak. Hanya masih suka lemas saja. Bawaan hamil muda." jawab Bang Ares masih memegangi gelas air minum.
"Ha_miil Bang??"Jawaban Bang Ares itu semakin membuat perasaan Vani terluka. Seketika saja terlintas rasa cemburu yang amat sangat menyakiti batinnya. Hal yang seharusnya menjadi kebahagiaan baginya juga Bang Ares kini hanya tinggal menjadi angan semu. Dulu Bang Ares pernah mengatakan sangat menginginkan seorang anak perempuan darinya, tapi kali ini harapan itu pupus.
Vani menunduk. Air matanya kembali mengalir.
"Apa aku sama sekali tidak berarti bagi hidupmu Bang? Secepat itu kah Abang berpaling dan melupakan kisah kita berdua?" tanya Vani masih tidak percaya Bang Ares sudah menjadi pria beristri dan kini malah Dinar istrinya sedang mengandung buah cinta mereka.
Bang Ares menatap tegas mata Vani.
"Seorang wanita muda dan sudah menikah wajar berbadan dua. Saya tidak melupakan kisah kita karena semua itu bagian dari hidup saya, tapi.. saya juga menginginkan masa depan terbaik bagi hidup saya." jawab Bang Ares.
Ada penyesalan dalam hati Vani karena sudah membuat hubungan mereka berantakan.
"Saya tau ibu saya sakit dan saya menyadari kesulitan mu dalam hal ini.. tapi kamu juga tidak berhak menghinanya apalagi merendahkan Hana. Bukan keinginan dia hamil di luar nikah, juga anaknya yang tidak bisa melihat.. bukan sebuah karma dari kesalahan" ucap Bang Ares menusuk hati Vani.
"Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan lagi.. kita sudahi saja pertemuan ini. Saya sedang ada kegiatan bersama istri. Silakan, pintunya di sebelah sana.. Mbak Vani"
"Kamu usir aku Bang?" Vani tidak percaya Bang Ares begitu berubah, tidak seperti dulu lagi.
"Alangkah baiknya kita tidak pernah bertemu lagi. Kita sudah memiliki jalan masing-masing. Tidak ada lagi hubungan antara kamu dan saya bahkan dalam dunia maya sekalipun" ucap tegas Bang Ares.
Dengan malas dan terluka, Vani meninggalkan ruangan setelah sempat sekilas melirik Dinar.
"Selamat untuk kehamilan mu Dinar."
~
Bang Hasdin melihat Vani keluar dari ruang kerja Bang Ares sambil menghapus air matanya. Tak hanya Vani yang merasakan situasi seperti ini. Kemarin ia sudah merasakan hal itu tapi sekarang hatinya sudah tidak sesakit itu karena Allah sudah memberi penggantinya di balik pedih hatinya kemarin.
Seketika itu juga teringat putri kecilnya di rumah Bang Ares. Rasa rindu bergelayut saat berkelebat wajah Cherry. Ia tersenyum kemudian melangkahkan kaki ke koperasi kantor.
~
"Beli camilan banyak sekali Has?" tanya Bang Adit litting Bang Hasdin.
"Buat anak gue" jawab Bang Hasdin jujur namun terdengar santai.
"Kapan nikahnya coba. Masa tiba-tiba punya anak aja. Anaknya janda?" tanya Bang Adit penasaran.
"Huuusshhh.. anak ku lah. Wes kapan-kapan aku kenalin. Aku mau ke ruangan Pak Ares dulu. Minta arahan pengajuan surat nikah" jawab Bang Hasdin.
Bang Adit sampai melotot tak bisa menerka apakah ucapan Bang Hasdin benar atau tidak.
"Serius Has??"
"Ya iya lah serius. Masa hal seperti ini aku main-main?" jawab Bang Hasdin serius.
:
Bang Ares baru kembali ke ruangan setelah mengantar Dinar ke ruang para ibu pengurus ranting. Ia sangat cemas sampai tidak tenang jika harus membiarkan istrinya berjalan sendirian walaupun letak ruang ibu pengurus ranting tidak jauh dari ruangan nya.
"Selamat siang.. ijin menghadap komandan" ucap Bang Hasdin secara resmi.
"Ayo keruangan saya..!!" ajak Bang Ares.
~
"Nanti ku siapkan blangkonya dan harus segera kamu isi. Jangan terlalu lama karena komandan mau ada kegiatan di luar kota Minggu ini"
"Oke.. apa nanti prosesnya juga akan panjang seperti pengajuan nikah pada umumnya?" tanya Bang Hasdin.
"Pasti.. tapi karena ada salah teknis.. kamu mungkin juga harus menerima konsekuensi lari keliling lapangan, rambut botak dan bawa ransel" jawab Bang Ares.
"Nggak masalah, yang penting status Hana dan Cherry resmi dan tidak ada kendala apapun lagi." Jawab Bang Hasdin serius.
"Ya sudah aku mau lihat Cherry dulu, sekalian mau kasih camilan untuk anakku"
:
Sepanjang jalan, pikiran Bang Hasdin berputar dan terus berpikir bagaimana caranya agar Cherry bisa melihat lagi. Tak ada hati seorang ayah yang ikhlas melihat darah dagingnya mengalami hal buruk seperti itu. Tapi saat ini belum ada jalan untuk mengobati putrinya, terlebih keterangan Bang Ares yang mengatakan bahwa selama ini sahabatnya itu juga tengah mencari informasi tentang pengobatan mata terbaik.
"Assalamu'alaikum.." sapa Bang Hasdin saat baru sampai rumah Bang Ares.
"Wa'alaikumsalam Bang" Hana menyambut suaminya dengan penuh sukacita.
"Mana Cherry?" tanya Bang Hasdin karena belum melihat sosok Cherry di rumah.
"Lagi main sama bonekanya dan mondar-mandir cari jalan biar nggak nabrak di rumah ini" jawab Hana.
Bang Hasdin melihat Cherry berjalan pelan sambil meraba-raba dan menggendong boneka panda pemberian papanya. Sesekali di kecil Cherry terjatuh, tapi gadis kecil itu sama sekali tidak menangis dan kali ini malah papanya yang sampai menangis melihat pemandangan yang begitu menyentuh perasaan nya.
"Papa.." sapa Cherry yang seolah mendengar suara Papanya.
"Iya nak, ini Papa" jawab Bang Hasdin.
Cherry melangkah mendekat seakan tau posisi papanya berada. Bang Hasdin pun berjongkok agar Cherry bisa mendekat padanya. Saat sudah di depan mata.. Cherry tersenyum lalu mencium pipi Bang Hasdin.
"Cherry sayang papa"
Bang Hasdin memeluk erat sang putri.
"Begitu juga dengan Papa. Papa juga sayang Cherry." ucapnya sekuat mungkin menahan tangis.
"Maafin papa nak, kalau kamu inginkan mata Papa.. pasti papa berikan" kata Bang Hasdin akhirnya berlinang air mata tak sanggup menahan sakit hati yang teramat sangat.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Al Fatih
ka Nara. ,, nanti ga ad scene dmn bang hasdin donorx matanya utk Cherryl kan? ga ap2 sih,, tp kan itu berarti....😭😭😭
2023-11-30
0
Siti Maimunah
cinta pertama seoranga ank perempuan yaaa ayahnya
2022-10-10
1
Alif Septino
semangat kak Nara 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2022-09-13
1