Bang Ares membuang nafas lega dan si cantik Dinar sudah tidur dengan nyamannya. Bang Ares mengecup sekilas bibir Dinar dan kemudian tersenyum. Bisa-bisanya istrinya itu tertidur manis saat kebersamaan mereka berdua.
"Dasar.. kalau sudah enak saja Abang di tinggal tidur. Tadi siapa yang belaga tidak mau?" gerutu geli Bang Ares.
"My sweet honey.. Abang gemes dek" ucapnya kemudian beralih perlahan dari tubuh Dinar.
Hari menjelang pagi, pikiran Bang Ares sudah tidak setegang tadi. Mungkin memang benar kata orang, 'pelepasan' sempurna bisa untuk melepaskan stress dan beban pikiran.
"Terima kasih banyak sayang, kamu tidak protes dengan keadaan kita. Sebenarnya Abang tetap akan menerima jika mungkin kamu marah karena memang keadaan nya orang tua Abang memang istimewa. Itu adalah konsekuensi Abang karena sudah membawamu masuk ke dalam masalah ini." tangan itu mengusap perut Dinar yang belum begitu terlihat tapi sudah mulai terasa jika di raba.
"Sehat terus ya sayang. Papa sayang kalian berdua. Jalan ini masih panjang. Mudah-mudahan kita kuat menghadapinya"
//
"Biarkan kita saling mengenal dengan cara seperti ini" ucap Bang Hasdin sembari membelai sayang pipi Hana.
"Kamu ikhlas khan Abang melakukannya?" tanya Bang Hasdin.
"Iya Bang, Hana ikhlas" jawab Hana sedikit bergetar dan ragu dan itu membuat Bang Hasdin sangat sedih.
"Betul? Kamu tidak bohong?" tanya Bang Hasdin lagi.
"Hana hanya masih takut karena sekarang kita melakukan dengan sadar, Abang juga tidak kasar sama Hana seperti dulu" jawab Hana yang ternyata masih mengingat perlakuan Bang Hasdin padanya dulu.
Bang Hasdin menjadi semakin sedih saja. Tak tau apa yang di lakukannya dulu hingga Hana bisa setrauma ini.
"Abang janji tidak akan kasar lagi. Maaf ya dek" ucap Bang Hasdin penuh sesal.
Hana mengangguk, entah mengapa saat itu juga hatinya langsung luluh pada sosok pria yang sudah membuatnya hancur hampir tiga tahun lamanya.
-_-_-_-_-
Bang Hasdin mengusap rambutnya dengan handuk usai mandi. Tak sengaja Bang Ares pun juga bersiap mandi untuk sholat subuh dan disana tatapan mata Bang Ares begitu menusuk.
"Segar sekali. Habis buat onar apa lu?" sindir Bang Ares.
"Sama seperti kamu to, bedanya celana pendek ku nggak terbalik" jawab Bang Hasdin dengan tenang.
"Astaga.." Bang Ares menepuk dahinya melihat celana kolornya yang memang terbalik.
"Kamu cepat kembali ke barak mu. Ini waktunya apel lari pagi. Jangan sampai para anggota menanyakan keberadaan mu disini kecuali suratmu sudah lengkap" kata Bang Ares.
"Siaapp" Bang Hasdin dengan santainya melewati Bang Ares yang masih geram melihatnya tapi tentu saja.
-_-_-_-_-
Bang Ares baru saja mengarahkan anggotanya untuk melaksanakan kurve di sekitar kantor setelah itu Bang Ares meninggalkan tempat. Hari ini badannya terasa luar biasa lelah.
Ya Allah.. kenapa rasanya ingin sekali makan asem-asem daging.
Tepat saat itu Bang Hasdin lewat di hadapan Bang Ares.
"Has.. tolong donk" kata Bang Ares menghentikan langkah Bang Hasdin.
"Kenapa?" tanya Bang Hasdin.
"Tolong belikan aku asem-asem daging. Rasanya lidahku pahit pengen sekali makan makanan itu" jawab Bang Ares.
"Mau cari dimana masih pagi begini Res?" tanya Bang Hasdin bingung.
"Kemana saja lah. Cepat Has, lidahku pahit.. rasanya aku mual" pinta Bang Ares sambil mendorong punggung Bang Hasdin agar segera mencarikan pesanannya.
"Duuhh.. siapa sih ini bumilnya. Kenapa repotnya melebihi bumil?" gerutu Bang Hasdin.
...
Badan Bang Ares terasa pegal seakan sendi-sendi nya mau patah. Tak lama Bang Hasdin datang membawa kantong plastik berisi makanan.
"Ini pesananmu" kata Bang Hasdin.
Dengan sumringah Bang Ares langsung menyambar kantong plastik itu dan membawanya ke ruangan. Ia ingin segera menikmati makanan yang sejak tadi ada dalam angannya.
"Terima kasih. Mau makan sekalian nggak?" tanya Bang Ares berbaik hati menawari Bang Hasdin.
"Nggak, kamu saja. Aku mau lanjut kurve" jawab Bang Hasdin dengan senyum seramah mungkin.
:
Secepatnya Bang Ares mengambil mangkok di lemari kerjanya. Bang Ares memang memiliki beberapa perabot pribadi di lemari kerjanya.
"Akhirnya bisa makan juga" gumam Bang Ares dengan wajah bahagia. Tangannya sibuk menuang makanan pesanannya.
Begitu isi dari plastik itu di tuangnya..
"Lhoo.. kok sayur asem?????? Piye to Hasdin???" seketika wajah Bang Ares berubah gemas. Ia pun segera menghubungi Bang Hasdin.
~
"Kamu niat cari nggak?? kenapa beli sayur asem?? Aku benar-benar nggak bisa makan makanan lain selain yang aku mau Has" ucap keras Bang Ares.
Mendengar sahabatnya begitu emosi, Bang Hasdin bahagia luar biasa. Ia tersenyum geli bagai mendapat hiburan tersendiri. Tak pernah Ares semarah itu hanya karena hal sepele.
"Aku lagi malas cari. Itu khan sama-sama berasa asam" jawab Bang Hasdin setenang mungkin bagai makhluk tanpa dosa.
"Apa kau bilang???? malas???? Sejak kapan ajudan berani melanggar perintah atasan???" bentak Bang Ares.
"Ya sejak aku menjadi ajudanmu" jawab Bang Hasdin lagi.
"Diam di tempatmu dan tunggu aku disana. Kamu benar-benar harus di beri hukuman" Bang Ares mematikan sambungan teleponnya lalu bergegas mencari Bang Hasdin.
:
Bang Hasdin melihat Bang Ares berjalan ke arahnya dengan langkah gontai. Awalnya ia tersenyum tapi ternyata Bang Ares sungguh terlihat lemas.
"Lho Res, kamu beneran sakit to? Aku kira kamu hanya pura-pura" Bang Hasdin mulai panik melihat Bang Ares yang kemudian tiba-tiba merosot di depan matanya.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Al Fatih
apakah nanti bang hasdin seperti papa Garin....,, juaranya bikin ngakak tanpa liat sikon 😅
2023-11-30
0
Alif Septino
semangat kak Nara
2022-09-13
1
timbuljaya
keren crtanya kak Nara.
2022-08-03
1