Bang Ares membantu menyadarkan sahabatnya itu dan hal yang membuat suasana bertambah haru adalah.. tangan kecil Cherry yang terus mengusap tangan Papanya.
"Papa kenapa?" tanya Cherry kecil.
"Papa capek sayang.. baru pulang kerja" jawab Bang Ares.
Masa sulit bagi dirinya telah terlewati. Dulu bahkan hampir setiap hari Bang Ares menangisi nasibnya. Ibu sakit, adik ya sakit, keadaan kakak iparnya yang tidak bisa di ajak bicara dan bertambah lagi Cherry dengan segala keistimewaan nya.
Tak lama mata Bang Hasdin terbuka.
"Nikahkan aku sekarang juga..!!" pinta Bang Hasdin.
"Pernikahan bukan permainan Has..!!" tegur Bang Ares.
"Aku tidak main-main Res. Aku akan menjalankan kewajiban ku sebagai suami Hana" jawab Bang Hasdin.
Dinar mengusap dada Bang Ares, membesarkan hati suaminya itu. Masih ada keraguan dalam hatinya yang tidak bisa ia ungkapkan begitu saja.
"Sejak detik ini.. dalam hatiku hanya ada Hana dan Cherry. Dua bidadari ku yang berharga. Kau lebih paham siapa aku.. dan kamu bisa mengambil nyawaku kalau aku mengingkarinya" ucap Bang Hasdin.
Bang Ares menatap mata Dinar, kali ini ia ingin Dinar ikut memutuskan juga.
"Abang lebih tau mana yang terbaik untuk keluarga" kata Dinar membesarkan hati Bang Ares.
Bang Ares pun terdiam sejenak.
"Baiklah.. aku percaya" ucapnya.
"Tapi kalau sampai kau menyakiti Hana. Aku akan menghilangkan nafasmu saat itu juga" ancam Bang Ares.
"Aku bersedia."
...
Setelah banyak perundingan.. akhirnya Bang Ares bisa menikahkan Hana dan Bang Hasdin. Disaksikan perangkat desa setempat dan beberapa kerabat. Pernikahan Bang Hasdin dan Hana sudah sah sudah.
Dengan syukuran apa adanya.. Bang Ares mengenalkan Bang Hasdin kepada para tetangga dan tamu yang jumlahnya sangat terbatas.
...
Malam itu juga Bang Hasdin akan membawa Hana dan Cherry ke kota agar besok Bang Hasdin bisa mengurus pengajuan nikah.
Tak lama ibu datang membawa barang belanjaan dengan menggunakan taksi.
"Ada apa ini ramai sekali?" tanya ibu kemudian menatap wajah baru disana. Wajah Bang Hasdin.
"Siapa kamu?" tanya ibu menatap wajah Bang Hasdin.
Bang Hasdin menunduk dan mencium tangan sang ibu mertua.
"Saya suami Hana" jawab Bang Hasdin.
"Gila kamu. Kalau kamu mau menikahi anakku, kasih aku uang dua puluh juta rupiah" ucap ibu Bang Hasdin.
"Ibuu..!!"
"Buuuuu.. jangan begitu." Bang Ares merasa malu dengan kelakuan sang ibu yang benar-benar gila harta.
"Baiklah bu. Saya ambilkan dulu untuk ibu ya" kata Bang Hasdin lebih sabar.
"Jangan Has.. kalau kamu kabulkan permintaan ibu.. itu sama saja kamu membeli Hana" cegah Bang Ares.
"Uuuhh.. menantuku yang baik. Tampan sekali kamu nak..!!" kata ibu mengusap pipi Bang Hasdin.
"Nanti kita bicarakan. Jangan disini..!!" bisik Bang Hasdin kemudian mengambil kunci mobil di tangan Bang Ares dan berlalu pergi.
...
"Pergilah.. bawa Hana..!!" ibu terlihat bahagia menghitung banyaknya lembaran uang dari Bang Hasdin.
"Bulan depan belikan ibu gelang ya le. Lima gram aja juga nggak apa-apa." kata ibu tak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya.
"Insya Allah.. sehat-sehat ya Bu disini"
"Ibu pasti sehat. Ya sudah.. pergi sana..!! Nggak ada suara Cherry yang jatuh nubruk bangku rasanya senang sekali" jawab Ibu.
Bang Hasdin mengusap kedua matanya yang basah.
"Mulai sekarang.. saya akan menjadi mata Cherry. Terima kasih banyak ibu sudah menjaganya"
"Iyaaaa.. sudah sana pergi..!!" kata ibu seolah tak peduli.
***
"Cherry sudah tidur. Sini aku gantikan nyetir mobilnya." kata Bang Hasdin setelah menidurkan Cherry dalam pelukan mamanya.
"Kamu jaga saja mereka. Tangan Dinar saja nggak mau lepas dari paha ku. Kalau Dinar bangun malah rewelnya melebihi Cherry. Belakangan ini dia terlalu sensitif. Kalau ada yang nggak di hati.. ngambeknya bisa tujuh hari tujuh malam" Jawab Bang Ares.
Bang Hasdin tersenyum geli.
"Manja juga ya, padahal Dinar terlihat tidak manja. Tapi ternyata manja sekali sama kamu"
"Rasakan sendiri lah sensasi punya istri" ucap Bang Ares tapi sesaat kemudian mobilnya sedikit oleng hampir saja Bang Ares menyenggol pick up.
"Abaaang..!!" Dinar sangat kaget sampai terpental ke arah dashboard.
"Astagfirullah.. Weeehh Ar.. ngantuk kamu ya???" tegur keras Bang Hasdin.
"Minggir nggak, atau kuhajar juga kamu..!! Bawa anak balita sama bumil nih" bentak Bang Hasdin lebih kencang.
"Aduuuhh yank.. apa yang sakit??" Bang Ares panik dan segera melihat kondisi Dinar.
"Ya Allah dek.. Maaf.. Abang nggak sengaja" Bang Ares segera mengambil tissue dan mengusap hidung Dinar yang mengeluarkan darah.
"G****k lu Ar. Kenapa seat belt nya nggak di pasang???????" bentak Bang Hasdin lagi.
"Tadi Dinar lepas Bang, rasanya sesak" jawab jujur Dinar.
Disana Hana dan Cherry sama sekali tidak terganggu meskipun ada insiden dalam perjalanan mereka.
"Kamu ini dek.. lain kali jangan di lepas begitu. Bahaya.." Bang Ares pun berucap sedikit lebih keras tapi tangannya tetap sibuk membantu Dinar.
"Bang..!!" sapa Dinar.
"Hmm.."
Jemari Dinar meminta Bang Ares untuk mendekat. Bang Ares segera mendekatkan telinganya.
"Ya ampun.. tahan sebentar dek. Sebentar lagi ada pom bensin" kata Bang Ares saat Dinar ingin buang air kecil.
"Nggak tahan lagi karena kaget tadi" jawab Dinar.
"Duuhh piye iki. Di tengah jalan lagi" Bang Ares menoleh ke kanan dan ke kiri melihat situasi.
Bang Hasdin hanya tertawa saja melihat kerepotan sahabatnya itu.
"Hmm.. Has, tolong ambilkan sarung mobil di bagasi belakang..!!"
"Laah.. mau disini????" tanya Bang Hasdin sampai melotot.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Alif Septino
semangat kak Nara
2022-09-13
1
Anonymous
lanjut
2022-04-14
1
Ranitaadellya
ka nara.y ayo dong ka di lanjutkan novel nya aku menanti lanjutannya 😍☺️🤗
2022-04-14
1