"Baiklah.. Abang akan membawamu kesana. Tapi janji.. apapun yang terjadi, kamu tidak akan pergi meninggalkan Abang karena Abang sudah pernah jujur tentang keadaan keluarga Abang" kata Bang Ares berusaha tenang padahal dalam hatinya sudah hancur bukan main.
"Iya.. Dinar janji tidak akan meninggalkan Abang" janji Dinar.
...
Malam itu juga Bang Ares meminta surat ijin jalan untuk membawa Dinar ke kampung halamannya di desa.
Setelah mendapat surat ijin jalan dari kesatuan.. ia mengemas beberapa potong pakaian nya juga Dinar. Dalam hatinya masih terasa mengganjal tapi ia tidak bisa menolak ataupun menghindari permintaan sang istri karena cepat atau lambat nantinya hal ini akan terbongkar juga.
...
Menggunakan mobil pribadi.. Bang Ares membawa Dinar menuju kampung halamannya di daerah S Jawa Timur. Sejak tadi tak ada suara dari mulutnya dan juga Dinar.
"Tidur saja kalau capek, kamu butuh banyak istirahat" kata Bang Ares mengusap perut Dinar. Dinar sedikit menepis tangan Bang Ares, tak ada rasa kesal dalam hati Bang Ares atas penolakan istrinya, ia kembali mengusap pipi sang istri tapi lagi-lagi Dinar menolak. Senyumnya tersungging meskipun Dinar terus menolaknya. Ia tak putus asa, ada hati yang harus ia tenangkan.
"Mau makan? Lapar nggak?" tanya Bang Ares merendahkan nada suaranya.
Dinar memalingkan wajahnya tapi ternyata ada yang tidak mau bekerja sama, entah memang perutnya yang terasa lapar atau kah calon bayinya yang sudah kelaparan yang jelas saat ini perutnya tidak bisa berbohong.
"Oohh nggak lapar? Ya sudah lah.. Abang makan sendiri saja di warung pecel lele itu. Sepertinya enak nih" Bang Ares menepikan mobilnya lalu sengaja membuka pintu dan meninggalkan Dinar sendiri.
"Cckk.. nggak peka banget sih, di tawarin lagi ke' " gumam kesal Dinar sambil meremas ujung pakaiannya.
tok..tok..tok..
Ada suara ketukan di luar pintu mobil. Dinar pun tersentak kaget saat ada yang membuka pintu mobilnya.
"Kalau kamu nggak mau makan nggak apa-apa. Tapi anak Abang lapar, setidaknya kamu ajak dia makan..!!" Bang Ares mengulurkan tangannya. Dinar masih berpaling tapi Bang Ares tetap membantunya.
"Biarkan Abang melakukan tugas Abang sebagai suamimu" kata Bang Ares. Akhirnya Dinar mengijinkan Bang Ares membantunya untuk turun dari mobil.
:
Dinar makan dengan lahap apalagi Bang Ares terus menyuapinya. Meskipun hatinya menolak tapi tetap saja ada rasa yang membuatnya tidak ingin jauh dari ayah calon bayi yang sedang di kandungnya.
"Tambah lagi ya?" Bang Ares sangat senang karena Dinar lahap dan mau makan banyak apalagi langsung dari tangannya.
Dinar mengangguk, memang perutnya masih sedikit terasa lapar. Mungkin bayinya sangat senang karena papanya memberinya perhatian.
Bang Ares tersenyum.
"Satu porsi lagi ya pak, sambalnya jangan terlalu pedas seperti tadi.. lelenya juga di goreng garing" pinta Bang Ares kini lebih paham selera Dinar.
:
"Aduuh Bang.. perut Dinar terlalu kenyang" Dinar mengeluh tak bisa bergerak di dalam mobil.
"Tarik nafas dalam.. terus buang pelan-pelan. Jangan banyak bicara.. nanti kamu mual" kata Bang Ares mengarahkan tapi ternyata dirinya sendiri yang merasa mual. Untung saja Bang Ares masih bisa menahannya.
Dinar mengikuti kata-kata Bang Ares sampai akhirnya ia benar-benar tenang. Tak lama Dinar tertidur di dalam mobil. Bang Ares pun menurunkan sandaran kursi agar Dinar lebih nyaman dalam tidurnya.
***
Tengah malam mereka sudah tiba di tujuan. Bang Ares mengarahkan mobilnya ke homestay tak jauh dari lokasi tempat ibu dan adiknya berada.
"Kita kesini Bang? Nggak ke tempat ibu?" tanya Dinar karena Bang Ares tak membawa dirinya langsung menemui ibu mertuanya.
"Nanti saja. Sekarang kamu istirahat dulu yang nyaman..!!" jawab Bang Ares kemudian meminta Dinar agar segera tidur.
:
Bang Ares terus mengusap perut Dinar.
"Yang kuat ya nak, jangan kaget.. baik-baik kamu di perut Mama. Papa sayang adek.. sayang Mama juga. Apapun yang terjadi.. Papa pasti akan terus bersama kalian" bisiknya pada perut Dinar.
Mata Bang Ares membendung air mata. Menerawang apa yang akan terjadi nanti. Siap tidak siap.. cepat atau lambat ia pasti akan mengenalkan sang ibu juga pada Dinar.
-_-_-_-_-
"Assalamualaikum..!!" sapa Bang Ares saat masuk ke dalam rumah ibunya. Rumah dimana ia tumbuh seorang diri sejak umur lima tahun dan masih hidup bersama kakak dan adik perempuannya yang baru lahir. Bang Ares tumbuh tanpa kasih sayang dan bisa bertahan hidup dengan apa adanya serta belas kasih tetangga.
"Wa'alaikumsalam.. Ares??" ibu terharu melihat Bang Ares datang menemuinya.
"Ibu khan sudah bilang, kerja disini saja. Tinggal sama ibu" kata ibu tak melepaskan pelukan dari putra keduanya itu.
"Ibu sehat?" tanya Bang Ares.
"Sehat.. kemarin kakakmu Abi pulang kesini. Kasih ibu banyak uang. Uang dari kamu juga masih ada" kata Ibu.
"Disimpan Bu uangnya. Cari uang sulit sekali, jadi jangan di buat untuk hal yang nggak berguna" pesan Bang Ares.
Tak lama ibu melirik, menyadari bahwa putranya membawa seorang wanita ke rumah.
"Kemarin Abi, sekarang kamu bawa perempuan. Kenapa semua anakku mau meninggalkan ku, menggantikan ibu dengan perempuan lain?" ucap ibu terdengar sedikit keberatan jika putranya dekat dengan seorang wanita.
"Ibu ngomong apa sih? Jika pria dan wanita sudah mampu untuk berumah tangga.. maka lebih baik berumah tangga untuk menghindarkan diri dari hal yang tidak diinginkan." dengan sabar Bang Ares menasihati ibunya yang melenggang malas.
Tatapan mata ibu begitu menusuk mengarah pada Dinar dan Bang Ares tau reaksi itu.. ia segera memalang langkah ibunya mendekati Dinar. Tangan Bang Ares mengarahkan Dinar agar beralih ke belakang punggungnya.
"Kamu tau.. anak laki-laki hanya milik ibunya" ucap ibu semakin tak suka karena Bang Ares terkesan membela Dinar.
"Ibu.. tolong perlakukan Dinar dengan baik. Dinar ini istrinya Ares..!!" dengan tegas Bang Ares mengatakan pada ibunya.
"Lalu kenapa? Kamu mau bilang lebih memilih dia daripada ibu? Ingat.. ibu tidak merestui kalian" tanya sang ibu.
"Surgaku ada di telapak kaki ibu, tapi neraka bukan untuk istriku.. dia juga surga bagiku dan anakku kelak.. Aku kesini bukan untuk meminta restu.. tapi untuk mengenalkan bahwa putra ibu ini sudah mengucap janji suci untuk menjadi imamnya. Jadi.. ibu menerima dia atau tidak.. statusnya adalah tetap istri anakmu Bu"
"Sejak bertemu wanita.. kalian berubah."
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Alif Septino
semangat kak Nara
2022-09-13
1
sri wulandari
lanjut kak..
2022-04-12
1
Pradhitya
lanjut kak nara cerita nyaa 💪🥰😍😘
semangat kak buat cerita nyaa 💪🥰😍😘 dan sukses selalu buat cerita nyaa 💪🥰😍😘
2022-04-12
2