Malam tiba.
Dinar pulang dari acara hotel. Suasana malam cukup sepi tapi sepi itu berubah menjadi ricuh saat segerombolan orang berlarian membawa b****i, c*****t dan b**u.
Tak lama ada beberapa truk polisi dan tentara yang berhenti di lokasi tersebut dan mengamankan suasana.
Seorang pria berlari sampai akhirnya menabrak Dinar hingga ia terjungkal masuk parit. Untung masih di raih, ada tangan menggenggam nya.
"Terima kasih" ucap Dinar pada pria yang menolongnya.
"Dinar??"
"Iya Bang. Abang kenapa disini?" tanya Dinar.
"Harusnya Abang yang tanya.. kenapa malam begini kamu ada di tempat seperti ini?" Bang Ares balik bertanya.
"Magang Bang" jawab Dinar.
"Hasdin.. tolong antar Dinar, aku nggak bisa tinggalin lokasi" perintah Bang Ares.
"Siap..!!"
"Ayo dek, Abang antar" kata Bang Hasdin.
Dinar dan Bang Ares saling sejenak saling menatap hingga genggaman tangannya terlepas.
"Jagain ya Has..!!" pinta Bang Ares sekali lagi.
"Siap..!!"
"Hati-hati ya kamu dek" kata Bang Ares.
"Iya Bang"
:
"Tak ada percakapan berarti di antara Bang Hasdin dan Dinar sampai akhirnya Bang Hasdin membuka percakapan di antara mereka.
"Kuliah di perhotelan dek?" tanya Bang Hasdin.
"Iya Bang, Abang baru kah disini Sepertinya Dinar baru lihat Abang?"
"Abang baru satu bulan disini"
"Sama Bang Ares?" tanya Dinar lagi.
"Iya.. kok kamu tau?" Bang Hasdin mengerutkan keningnya.
"Semalam Dinar sudah ngobrol sama Bang Ares." jawab Dinar.
Bang Hasdin mengangguk, raut wajahnya terlihat datar.
Ares masih sama Vani. Apa kira-kira Ares mau mendua? Tapi dengan Vani.. Ares selalu ribut.
"Ada masalah Bang?"
"Nggak ada" jawab Bang Hasdin.
...
Bang Ares meletakan senjatanya. Wajahnya terlihat lelah sekali.
"Sudah kamu antar?" tanya Bang Ares
"Sudah.. ternyata dia putri Pak Yasin" Bang Hasdin duduk bersandar dengan senyumnya.
"Haaahh.. yang benar lu? Makanya kemarin pagi Dinar nunggu angkot nggak jauh dari rumah Pak Yasin" jawab Bang Ares cukup kaget karena Dinar putri seorang perwira rohani di Batalyon.
"Menurutmu.. kalau aku naksir Dinar, gimana bro?" tanya Bang Hasdin tertawa lebar.
"Tak jungkir wolak-walik.. berani sama atasanmu?" ledek Bang Ares.
"Tapi aku sahabatmu" sambar Bang Hasdin.
"Dalam persahabatan.. tidak kenal kata uang dan perempuan.. keduanya bisa buat pecah, geger geden"
"Sepertinya aku naksir Dinar Bro" kata Bang Hasdin sambil menghisap rokoknya.
Bang Ares menepuk pundak sahabatnya sembari menyunggingkan senyum.
...
Dinar tersenyum mengingat dua pria yang sibuk dengannya tadi.
"Kalau Bang Ares itu anggota.. kenapa aku tidak pernah melihatnya? Dia warga sipil biasa, anggota seperti Bang Hasdin atau jangan-jangan... Intel?" gumam Dinar bingung. Ia hanya berguling memikirkan hal yang tidak penting.
***
"Hasdin itu pangkatnya Pratu, sedangkan Ares Letda. Mereka memang seperti kembar karena mereka sahabat"
"Ooohh.. jadi pangkat mereka beda pa? Dinar kira tamtama semua" kata Dinar kemudian melanjutkan makannya.
"Kenapa? Naksir Hasdin?? Atau Ares??" tanya Pak Yasin.
"Nggak kok Pa" jawab Dinar malu-malu.
"Naksir juga nggak apa-apa ndhuk, lupakan Mahmudi.. Papa nggak sreg kamu sama dia" kata Pak Yasin.
"Mas Mahmudi baik kok Pa"
"Kalau baik.. dia tidak akan seperti itu sama kamu Ndhuk." Papa Yasin mengusap rambut Dinar.
Dinar terdiam. Rasanya ia ingin menangis saja bila mengingat tentang Mas Mahmudi.. prianya yang saat ini masih menjadi kekasihnya. Pria itu sebenarnya baik, hanya terkadang cemburunya membuat pria itu sangat temperamen.
...
"Dimana dek? Abang jemput ya?" tanya Bang Hasdin.
"Di hotel yang kemarin Bang. Memangnya Abang nggak ada kerjaan bisa jemput?"
"Abang free, turun piket" jawab Bang Hasdin.
...
Bang Hasdin mengajak Dinar makan bakso di daerah sekitar puncak, ada senyum di balik wajah tampannya. Dinar bukanlah tipe wanita pemilih seperti yang ia takutkan. Gadis itu amat sederhana dan apa adanya.
"Enak nggak baksonya?" tanya Bang Hasdin.
"Enak kok Bang. Malah enak banget.. Terima kasih sudah kenalkan Dinar di tempat seperti ini" jawab Dinar.
"Maaf.. Abang hanya kuat jajanin kamu disini" kata Bang Hasdin sambil melanjutkan makannya.
"Memang.. harusnya jajan dimana Bang? Begini saja sudah lebih dari cukup" Dinar tersenyum menikmati semangkok bakso yang cukup pedas.
"Biasanya perempuan itu.. kalau di ajak laki-laki makan, paling anti dan ogah makan di pinggir jalan. Nggak bersih lah.. nggak enak lah" entah mengapa Bang Hasdin sampai bisa mengatakan hal itu di hadapan Dinar.
"Mungkin ada yang begitu.. tapi Dinar tidak begitu Bang. Dinar ini perempuan yang masih suka nyemil gorengan dan makanan pinggir jalan.. hobby makan.. makan.. dan makan. Abang ilfeel nggak?" tanya Dinar.
"Sama sekali nggak. Makanlah sepuasmu kalau sama Abang. Abang malah malu kalau Abang bawa perempuan sampai kelaparan" jawab Bang Hasdin.
Mereka berdua saling menatap dan melempar senyum, kemudian melanjutkan acara makan mereka lagi.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Alif Septino
semangat kak Nara
2022-09-13
1
alvika cahyawati
awas loh jatuh cinta....
2022-06-05
2
Rhiedha Nasrowi
kayaknya seru deh ceritanya
2022-05-31
1