Episode 4 - Melawan Preman Teri
Matahari mulai terbenam, rembulan mulai bergantian menyinari bumi. Dafa membuka pintu reyot itu untuk masuk ke dalam rumah yang penuh dengan kenangan. Saat melangkah masuk ke dalam, ia dikejutkan dengan Angelina yang berdiri di depan pintu dengan memakai baju tidur.
Dafa sontak terkejut dan hampir mengumpat ke Angelina. "Astaga … hampir aja aku mau ngumpat," kata Dafa sembari memegangi dadanya.
Angelina hanya terkekeh. "Kakak belum makan, kan? Udah dimasakin, tapi nggak dimakan," ucapnya dengan wajah cemberut.
"Eh … lupa, tadi belum lapar soalnya. Hehehe," sahut Dafa yang memasang wajah polos.
Angelina lalu melangkah mendekati Dafa. "Maaf ya, kak. Tadi pas disana aku bilangnya nggak khawatir sama kamu. Itu cuma buat dia nggak berani ngancem doang," kata Angelina dengan wajah sedih.
"Nggak apa-apa, kok. Yaudah, kakak mau siap-siap pergi ke tempat kerja." Dafa melanjutkan langkahnya ke dalam rumah dan menuju ke kamar.
"Ahh … kira-kira, tendangan Dwi chagi itu gimana, ya?" gumam Dafa, ia melihat beberapa list tendangan dalam bela diri Taekwondo.
Tiba-tiba, layar tampilan muncul di hadapan Dafa. Lagi-lagi layar tampilan itu berisi teks yang menjawab gumaman Dafa.
[ Dwi chagi atau Back Kick adalah tendangan langsung yang menendang ke arah belakang. Tendangan ini bertujuan untuk menendang lawan yang ada di belakang. Dwi chagi merupakan tendangan dengan memutar tubuh 180 derajat. ]
"Caranya begini, ya?" Dafa melakukan tendangan Dwi chagi yang sempurna, bahkan sistem memberi peningkatan level pada Dafa.
[ Level Up! ]
[ Anda telah berhasil melakukan Dwi chagi dengan sempurna! ]
...[ STATUS ]...
...Name : Dafa Setyawan...
...Level : 2...
...Age : 15...
...Gender : Male...
...Strength : 6...
...Intelligence : 9...
...Speed : 6...
...Endurance : 19...
...Potential : 100...
...Point Stats : 10...
...[ Max : 200 ]...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Dafa tersenyum senang, ia bergegas mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
...~...
Selang beberapa menit setelah Dafa selesai mengenakan pakaian dan hendak berangkat. Dafa berpamitan ke Angelina untuk berangkat kerja terlebih dahulu.
"Angel … Lina … kakak berangkat dulu …," teriak Dafa yang berjalan ke pintu keluar.
"Iya … hati-hati …," balas Angelina dengan teriakan.
Dafa bekerja di minimarket menjadi seorang kasir. Ia mendapatkan shift malam di tempat kerjanya. Karena ketika ia melamar kerja di minimarket itu, shift pagi sudah diisi dengan orang lain. Dan tersisa shift malam yang tak ada seorangpun yang mengisi. Mau tak mau, Dafa harus mengisi shift itu daripada tak kerja sama sekali.
Jam kerjanya dimulai pukul enam sore hingga enam pagi. Itulah mengapa ketika di sekolah, Dafa tak pernah belajar dengan semangat. Saat jam pelajaran, ia lebih sering tidur di pojokan ruangan. Wali kelas juga sudah menegur Dafa berkali-kali, namun ketika tahu kehidupan Dafa. Beberapa guru akhirnya memaklumi sikap Dafa yang seperti itu.
Di perjalanan hendak menuju ke tempat kerjanya. Dafa berhenti sejenak karena melihat kucing yang imut di jalanan. Dafa mengelus kucing itu lalu melanjutkan perjalanannya lagi.
Akhirnya Dafa sampai di tempat kerjanya, ia segera menggantikan shift pagi yang masih menunggu di kasir.
"Kak Sinta, maaf telat." Yoga menyapa wanita yang masih menjaga kasir tersebut.
"Aku kira kamu nggak kerja hari ini," ucap seorang wanita yang memakai seragam minimarket, dengan rambut yang diikat, dia bernama Sinta. Dia lebih tua lima tahun dari Dafa, umurnya dua puluh tahun.
"Yaudah, aku pulang dulu, ya" ucap Sinta lalu memakai jaketnya dan melangkah menuju pintu.
"Iya, kak. Hati-hati di jalan," sahut Dafa dengan senyuman manis. Ia lalu menyusun beberapa barang di rak yang sudah kosong.
...~...
Dikala malam yang sunyi, tak ada seorangpun yang datang ke minimarket untuk berbelanja. Saat menjaga minimarket, Dafa hanya melayani sekitar tujuh pelanggan saja. Pembeli terakhir juga seorang pria turis yang memakai bahasa Inggris. Dafa yang belum paham sama sekali dengan bahasa Inggris, ia hanya mengatakan "Yes, No." Untuk menjawab ucapan dari si turis.
Karena sepi dan tak ada seorangpun yang datang mengunjungi minimarket. Dafa mencoba mengerjakan misi olahraga, mumpung belum ada pembeli yang datang.
"Mending olahraga, daripada melamun." Dafa beranjak dari meja kasir menuju ke tempat yang lumayan luas untuk olahraga.
Selang beberapa menit, tiba-tiba lonceng pintu berbunyi. Yang menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam minimarket.
Kling!!!
"Kok nggak ada kasirnya, sih. Niat jualan atau tidak," ujar seorang wanita dengan pakaian yang terbuka dan rambut yang acak-acakan.
"Aduh … datang jauh-jauh kesini, malah nggak ada orangnya. Balik lagi yuk," ucap seorang pria dengan cukuran mullet dan tato yang menutupi lengannya.
Dafa bergegas kembali ke meja kasir untuk melayani mereka.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dafa dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Ada C.O nggak?" tanya pria dengan wajah agak malu-malu.
"Ada, bisa tunjukin KTP," pinta Dafa yang meminta menunjukkan kartu identitas sebelum membeli C.O atau K.D.
*Yang dimaksud C.O atau K.D disini adalah k****m untuk pria.
"Ah, sial … aku lupa membawanya. Bisa berikan dulu, nggak? Besok aku datang kesini lagi, deh." Pria itu memelas di hadapan Dafa.
"Maaf, kak. Saya tidak boleh menjual sembarangan." Dafa tetap tidak bisa memberikan barang itu, karena sesuai dengan peraturan yang ada.
"Yaudah, makasih ya … mas," ucap pria itu lalu mengajak wanita di sampingnya untuk keluar.
"Kan udah kubilang, kalo beli yang kayak gitu harus pake KTP," ucap pria ke wanita yang berjalan menuju pintu.
"Tapi, nanti bisa-bisa kita dimarahin abang. Soalnya nggak bawa barang yang diminta," balas wanita dengan nada yang agak ketakutan.
"Emang sih, abang yang tak punya perasaan pada adik-adiknya."
Pyar!!!
Sebuah batu bata melayang ke pintu minimarket yang terbuat dari kaca. Dafa yang melihatnya tercengang ketika melihat pintu minimarket dihancurkan begitu saja.
"Kau tadi bilang apa?" Seorang pria berbadan besar gemuk, memakai kaus singlet dan telihat tato di dadanya, masuk ke dalam minimarket lalu mencengkram kerah baju milik pria tadi.
"Nggak bilang apa-apa kok, bang Rozak," ucap pria tadi dengan wajah pucat dan keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Miya, dia tadi bilang apa?" tanya pria berbadan gemuk yang dipanggil Rozak bertanya kepada wanita yang bersama seorang pria tadi.
"Anu … Danu nggak ngomong apa-apa kok," jawab wanita yang bernama Miya. Ia membela Danu, pria yang sedang dicekik Rozak.
"Sialan, kalian nggak mau jujur ya." Rozak menoleh ke Dafa dan menatap dengan sorotan mata yang tajam.
"Hei bocah, kau tadi dengar pembicaraan mereka, kan?" tanya Rozak dengan alis kanan mengangkat ke atas.
Dafa hanya menggaruk kepala yang sebenarnya tak ada rasa gatal di bagian kepalanya.
"Hei … kau dengar atau tidak?" tanya Rozak yang emosinya semakin memuncak.
"Hah!?" Dafa malah pura-pura tak mendengar ucapan Rozak dan malah membuat dirinya jatuh ke sebuah masalah.
"Jika aku dengar, kira-kira mau gantiin pintu yang pecah, nggak?" tanya balik Dafa ke Rozak.
"Bocah kecil ini sok kuat banget, belum pernah om pukul, ya." Rozak melangkah mendekati Dafa sembari mencekik Danu.
"Apa masalah saya, kok tiba-tiba mau mukul aja." Dafa membela diri dengan cara mengatakan suatu hal untuk mengintimidasi lawan.
"Benar juga, kok tiba-tiba marah dengan bocah yang sama sekali nggak dikenal. Kalau begitu, maaf ya dik," ucap Rozak dan menjauhi Dafa yang tetap mencekik Danu hingga Danu tak dapat berbuat apa-apa lagi.
Ketika berjalan keluar, Dafa berjalan perlahan-lahan mendekati Rozak lalu memanggilnya dengan menepuk pundak berkali-kali.
Rozak menoleh ke Dafa, tanpa ia sadari, Dafa memukul wajah Rozak dengan sangat keras.
"Kau kira aku bakal membiarkan orang yang telah memecahkan pintu, pergi begitu saja!" Emosi Dafa yang terpendam seketika meledak dan tak tahan menahan amarah yang ditahannya.
"Tcih, padahal aku tak ingin berurusan dengan anak kecil. Tapi kau malah membuat kesalahan besar pada hidupmu." Sorot mata Rozak sangat menakutkan di pandangan Dafa. Dafa bagaikan seekor kelinci yang akan diseruduk oleh babi hutan yang sangat besar.
DING!!!
...[ Misi ]...
...[ Kalahkan pria bernama Rozak ]...
...[ Hadiah ]...
...[ 10 poin stats, satu item langka dan 1.000 gold. ]...
Dafa masih tercengang menatap Rozak dengan tubuh yang sangat amat besar dibandingkan dengan dirinya yang sangat amat kecil dan kurus. Kemungkinan besar, Dafa pasti kalah saat melawan Rozak dengan tubuh yang kecil ini, namun mau tak mau, Dafa harus melawan Rozak daripada harus menerima hukuman dari sistem.
"Point stats … kegunaannya apa, ya?" Dafa bergumam sembari melangkah mundur menjauhi dirinya dari Rozak.
[ Point stats adalah point untuk meningkatkan stat pada menu status. Host dapat menambahkan satu atau lebih pada pilihan yang host pilih. Perlu diwaspadai, jika telah memasukkan point stat kepada satu pilihan, maka point tersebut bersifat permanen dan tak dapat dikembalikan lagi. ]
Sistem selalu menjawab gumaman Dafa, kali ini Dafa dapat mengerti kegunaan point stat yang ia dapatkan kemarin. Ada 10 point stat yang belum ia pakai, Dafa memasukkan semua point stat kepada pilihan Strength sehingga total kekuatan yang ia punya adalah 16. Entah cukup atau tidak untuk melawan raksasa yang ada di hadapan Dafa, yang terpenting adalah mencoba terlebih dahulu.
...[ STATUS ]...
...Name : Dafa Setyawan...
...Level : 2...
...Age : 15...
...Gender : Male...
...Strength : 16...
...Intelligence : 9...
...Speed : 6...
...Endurance : 19...
...Potential : 100...
...Poin Stats : 0...
...[ Max : 200 ]...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Ap chagi," ucap Dafa yang penuh percaya diri sambil melayangkan tendangan ke arah depan. Entah musuh merasakan kesakitan atau tidak, Dafa hanya berpikiran agar ada seseorang yang datang menolongnya.
...### Solo Fighter ###...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Resty Alya Aulia
trs lv 2 sama lv 1 apa bedanya dong kalo naik lv ga nambah stat
2022-11-03
1
Resty Alya Aulia
kalo ga nambah kuat buat apa naik level
2022-11-03
0
Resty Alya Aulia
kok ga nambah
2022-11-03
0