Selamat membaca ...
...****************...
Setelah cukup lama termenung di balkon kamarnya, akhirnya Deva keluar untuk ke ruang pribadinya. Namun, pada saat dirinya melewati kamar yang di tempati Davina, hatinya punya rasa ingin tahu yang lumayan besar.
Ia penasaran dengan keadaan Davina. Tanpa berpikir lama lagi, akhirnya Deva memasuki kamar tersebut sebelum datang dokter Emma.
“Tuan,” Aliya terkejut dan langsung bangkit berdiri memberi hormat ada sang tuan, apalagi ia tahu jika tuannya tidak menyukai jika Davina diperlakukan dengan baik oleh siapapun, termasuk dirinya.
“Apa dia masih belum sadar juga sejak tadi?” tanya Deva penasaran dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Belum tuan, tapi sebelum pingsan, Nona Davina sempat menangis dan hendak bunuh diri,” jawab Aliya sambil menunduk tak berani menatap sang tuan.
“Bunuh diri? Cih! apa dia punya nyali untuk itu. Kau urus dia, aku tidak ingin melihat orang sakit di Mansion ku,” ucap Deva bernada perintah, dan segera bergegas meninggalkan kamar Davina menuju ruang pribadinya.
Setelah beberapa saat Deva pergi, datanglah seorang wanita muda dan cantik ke Mansion tersebut.
“Selamat datang dokter Emma. Mari ikut saya ke atas,” sapa seorang pelayan yang diperintahkan untuk menunggu kedatangan dokter Emma, dan mengantarkannya ke kamar Davina.
Dengan cepat dokter Emma melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga tersebut. Ia merasa sedikit heran, apakah Deva yang sakit atau yang lain. Kenapa kamarnya tepat di samping kamar milik Deva.
Dengan berbagai macam isi pikiran Emma, hingga tanpa sadar ia sudah sampai di kamar tersebut dan segera membukanya.
“Selamat malam Aliya,” sapa dokter Emma pada sosok kepala pelayan tersebut.
“Eh! Selamat malam, dokter Emma. Tolong periksa nona Davina dok, badannya demam,” pinta Aliya tegas tapi tetap sopan.
“Siapa wanita ini, Aliya?” tanya dokter Emma penasaran, tapi Aliya hanya diam tak bergeming sedikitpun.
Ia tahu, jika pelayan itu sangat profesional, tapi ia juga sangat penasaran pada wanita yang ada di kamar tersebut.
Melihat Aliya yang hanya diam tak bergeming, membuat Emma pasrah dan menghela napas panjang sebelum akhirnya memeriksa kondisi tubuh Davina. Emma merasa terkejut saat melihat banyak luka memar dan juga lepuhan kulit di tubuh wanita cantik yang terbaring lemah tersebut.
Tak ingin banyak tanya, Emma langsung menuliskan resep obat untuk demam, rasa nyeri, dan juga salep untuk kulit Davina.
“Aliya, ini resep obatnya, kau keluar dan tebuslah obat ini. Aku yang akan menjaga wanita ini,” ucap Emma bernada perintah. Aliya langsung memegang secarik kertas yang berisikan resep obat untuk Davina.
“Baik dokter, saya akan keluar sebentar. Mohon dokter menjaga nona Davina,” pinta Aliya membungkuk hormat kemudian bergegas pergi meninggalkan Davina dan Emma di kamar tersebut.
Setelah kepergian Aliya, Emma duduk di sisi tempat tidur tepat di samping Davina. Emma meneliti wajah Davina yang penuh luka dan memar, dengan wajah pucat dan kulit yang melepuh. Emma sadar jika Davina adalah sosok wanita yang sangat cantik.
“Enghhh,” terdengar suara lenguhan dari Davina, sepertinya wanita lemah itu tengah mengigau karena demam. Ingin rasanya Emma merawat Davina di rumah sakit, tapi ia sadar, jika Davina pasti adalah seorang tawanan dari sahabatnya, Deva.
Tak butuh waktu lama, Aliya datang dengan membawa plastik obat yang ia minta.
“Dokter, saya sudah mendapatkan obat yang dokter minta. Apakah sudah boleh dioleskan?” tanya Aliya yang sangat khawatir.
“Boleh, Aliya. Apakah Deva ada di ruangannya?” tanya Emma pada Aliya, yang dijawab sebuah anggukan oleh Aliya. Melihat jawaban Aliya, Emma langsung bergegas keluar dari kamar tersebut untuk menemui Deva.
...****************...
Terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Dapur Singgani New
tega bgtu yah deva
2022-10-11
1
Nurma sari Sari
apakah dokter Ema mengenal Davina, karena mereka ber dua sama2 dokter
2022-09-29
1
Novianti Ratnasari
kasian bgd. gabis di perkosa trus di siram air panas. sakit bgd
2022-07-02
2