Pagi itu, Nada menatap dirinya di cermin. Dia menyisir rambutnya lalu mengikatnya ke belakang. Dia memoles wajahnya dengan make up natural dan sangat tipis lalu memakai kacamata bulat sebagai pelengkap penyamarannya.
"Oke, sekarang kamu adalah Nada Pratiwi." Nada tersenyum miring sambil menatap pantulan dirinya yang berbeda di depan cermin.
Setelah itu, dia berdiri dan mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari kamar. Menghampiri Papanya yang sedang duduk di meja makan bersama Satya untuk sarapan bersama di pagi hari itu.
"Nada, kamu serius mau nyamar jadi mahasiswi kayak gini?" Pak Teguh melihat penampilan putrinya dari bawah sampai atas yang sangat berbeda dengan Nada aslinya.
"Iya Pa. Misi penyamaran."
"Idih, demi Reno aja kayak gitu. Ntar Reno udah lupa jangan nyesel loh." Cibir Satya.
"No, no. Seorang Nada gak akan pernah menyesal."
Pak Teguh tersenyum melihat keoptimisan putrinya. "Dulu Mama kamu memang ingin menjodohkan kamu sama Reno. Reno kan putra dari sahabat Mama kamu. Tapi sejak Mama kamu gak ada dan Reno kuliah di luar negri, kita kehilangan komunikasi dengan mereka. Termasuk kamu. Jadi Papa harap, kalau seandainya Reno mungkin sudah mempunyai pasangan kamu jangan patah hati ya."
Nada menggeleng yakin. "Papa tenang aja. Nada selalu optimis."
"Na, kamu berangkat bareng aku ya. Sekalian mau ke kantor."
"Nggak. Aku udah nyiapin motor beat kesayangan aku buat berangkat." kata Nada dengan sangat antusias.
...***...
Setelah memasuki kawasan kampus, Nada kini memarkir motornya di tempat parkir. Setelah itu, dia berjalan terburu untuk mencari ruang administrasi terlebih dahulu.
Dia kembali mengoyak isi tasnya untuk mengecek berkas-berkasnya kembali. Dengan pandangan yang menunduk melihat isi tas, Nada masih tetap melangkahkan kakinya. Hingga tanpa sadar kakinya tersandung sebuah batu yang membuat badannya limbung ke depan dan menabrak dada bidang seseorang.
Pria itu menahan lengan Nada walau kepala Nada kini menempel di dadanya hingga mampu mendengar detak jantung pria itu.
"Masih pagi, jangan modus."
Suara itu berhasil membuat Nada mendongak dan menegakkan berdirinya. Dia mundur satu langkah. Dia membenarkan kacamatanya lalu menatap pria yang dia tabrak. "Sorry, gue tadi tersandung."
"Tersandung? Bilang aja sengaja. Hal kayak gini itu udah biasa, tapi sorry gue gak tertarik sama lo."
Di beberapa detik kemudian, Nada baru sadar bahwa pria yang sekarang ada di depannya dengan kadar kepercayaan diri yang tinggi ini adalah Aksara. Pria yang meminta foto dengannya kemarin di cafe. Cih, jadi gini sifat aslinya. Dia gak tahu aja siapa gue sebenarnya.
"Narsis banget!" kata Nada sambil berlalu.
"Apa lo bilang! Tunggu dulu." Aksara mempercepat langkahnya lalu menahan tangan Nada. "Lo siapa? Lo mahasiswa baru di sini?"
Nada menarik tangannya dengan kasar sampai terlepas. "Ngapain lo pegang tangan gue! Mau baru, mau lama, emang apa urusan lo!"
"Lo gak tahu aja siapa gue!!"
Gak tahu siapa lo? Halloo.. Siapa kemarin yang minta foto bareng gue.
"Gue Aksara Danendra."
"Hai, sayang. Ngapain? Siapa sih dia?" tanya Salma sambil bergelayut di pundak Aksara.
"Cowok most wanted di kampus ini. Ingat itu." katanya penuh penekanan pada Nada sambil berlalu.
"Siapa sih dia? Jelek banget." kata Salma sambil berlalu bersama Aksara.
"Cewek gak penting."
Suara mereka terdengar walau telah menjauh. Ih, sok keren banget. Tujuan utama gue masuk ke kampus ini adalah Kak Reno, bukan ngurusin bad boy kayak dia!
Perlakuan Aksara sudah berhasil memancing emosinya di kesan pertama memasuki kampus.
Whatever. Tujuan utama Nada masuk ke kampus adalah demi Reno.
Nada berjalan menuju ruang administrasi setelah bertanya pada beberapa mahasiswa yang ada di sana.
Akhirnya ruangan itu ditemukannya. Setelah mengisi formulir dan melengkapi berbagai berkas, Nada sudah resmi menjadi mahasiswa di kampus itu. Walau dia mahasiswa pindahan, cukup mudah untuk masuk di kampus karena adanya koneksi dari Papanya dan semua prestasinya, tentunya.
Dia keluar dari ruang administrasi. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Reno. Ya, dia tak salah lihat. Dia adalah Reno yang dicarinya.
"Pak Reno?" panggil Nada memberanikan diri.
Reno menghentikan langkahnya, dia kini menatap Nada. "Iya, ada apa?"
Nada hanya terdiam. Dia justru terpesona dengan wajah tampan Reno.
"Oiya, saya ingat. Kamu mahasiswa baru itu ya? Yang masuk fakultas musik."
Nada tersenyum. Dia hampir saja berjingkat senang saat Reno mengatakan kata ingat. Ternyata, bukan ingat soal Nada Azalea tapi tentang mahasiswa baru.
"Satu jam lagi kamu masuk kelas saya. Silahkan berkeliling kampus dulu untuk melihat suasana baru."
"Hmm, iya Pak. Saya permisi." Nada mulai melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Reno. Dia kini mulai memikirkan strategi untuk mendekati Reno.
"Gimana ya caranya?" Kemudian Nada duduk di dekat tangga sambil melamun. Tadi beberapa saat kemudian lamunannya dibuyarkan oleh suara aneh di bawah tangga. Seperti suara decapan.
Karena penasaran, Nada mendekati suara itu. Suara itu semakin jelas dari arah bawah tangga yang terhalang beberapa loker.
"Sayang ciuman kamu memang paling mantap." Samar-samar terdengar suara itu.
Nada memekik tertahan saat melihat sepasang anak manusia sedang menyatukan bibir di tempat yang tak seharusnya beradegan seperti itu. Apalagi saat melihat si pemeran pria itu.
"Dasar manusia gak ada akhlak!!!" cibir Nada sambil berlalu.
Seketika Aksara melepaskan pagutannya. Dia kini menatap Nada yang telah membalikkan badannya. "Kamu ke kelas dulu ya." Setelah gadisnya berlalu, Aksara menyusul Nada dengan langkah cepat. Dia menarik tangan Nada.
"Mau apa lo?!" Nada sangat terkejut dengan Aksara yang tiba-tiba menarik tangannya. Sedetik kemudian posisi tubuhnya telah berubah. Dia berada dalam kendali Aksara.
Aksara berhasil mengungkung tubuh Nada di tembok. "Kenapa? Mau coba ciuman gue juga?"
"Cih, gak sudi dapat ciuman dari lo yang bekas orang lain itu."
"Beneran? Sekali rasain lo pasti akan ketagihan." Aksara mendekatkan dirinya pada Nada hingga hangat napasnya kini terasa di pipi Nada.
Dug!!! Dengan cukup keras Nada menggerakkan lututnya dan berhasil memukul aset berharga milik Aksara.
"Aw!! Shits!!" Aksara menjauhkan dirinya sambil meringis kesakitan.
Ketika terlepas dari Aksara, dia segera berlari menjauh.
"Awas ya lo!! Gue gak akan lepasin lo!!" teriak Aksara yang masih saja meringis kesakitan. "Aduh, bisa jadi telor ceplok nih punya gue."
"Kenapa lo, bro?" tanya Radit yang melihat sahabat karibnya itu terlihat kesakitan sambil sedikit menunduk.
"Aset gue ditendang sama anak baru itu. Berani banget dia!"
Radit justru tertawa dengan keras. "Anak baru yang mana? Masih baru jangan pepet terus. Ketahui dulu sifatnya baru tancap gas."
"Ah, udahlah. Yang jelas dia tuh bukan selera gue. Mana ngeselin lagi. Ke kelas aja yuk!"
Yakin Aksara? Dia bukan selera kamu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sri Raganti Ols
Wah ternyata si aksara sperti itu ckckck,,jauh ma kelakuan bos alvin,,emm emm
2022-12-09
1
Lidiawati06
nyicil kka jangan lupa mampir legenda sang dewi alam luxia 🤗
2022-04-19
1