Sementara itu, di lantai dasar sebuah bangunan terlihat pemandangan tak menyenangkan. Sri berada di lantai dan tengah memohon belas kasih kepada seorang pria dan wanita di sampingnya. Segera aku bergegas mendekat dan membantu Sri untuk berdiri.
"Sri, kamu kenapa seperti ini?" Aku bertanya seraya membantu dia bangkit, lalu melihat ke arah orang yang menggangunya.
"Kalian?"
Hatiku rasanya tersayat dan aku menggertakan gigi ketika melihat penampakan wanita yang tidak ingin kulihat lagi, berdiri di hadapanku bersama dengan pria yang sudah tidak asing. Ternyata dia si Karen yang datang bersama kekasih barunya, mereka berdua ternyata sudah lama bermain di belakangku! Sangat keterlaluan.
"Kalian mengapa membuat kerusuhan di tempat ini? Apa belum puas menghancurkan hidupku?" Aku tidak bisa untuk tidak membentak ke arah mereka berdua, aku benar-benar ingin muntah dan jijik terutama pada wanita itu. "Kau juga, dasar wanita tidak tau malu! Kupikir selama ini kamu seorang wanita baik-baik, tapi ternyata kau tidak lebih dari sekedar wanita murahan!"
"Kau...." Karen terlihat sangat marah dengan sikapku barusan, akan tetapi dia buru-buru menenangkan sikap dan melanjutkan perkataanya, "Hanya seorang tukang bersih-bersih, kau tidak berhak menilai siapa diriku! Dan wanita ini, dia sangat menggangu pemandangan. Sayang, mengapa di perusahaanmu ini banyak sekali sampah seperti mereka? Bukankah ini sangat memalukan bagi perusahaan terbaik di kota ini? Apa kata orang nantinya."
"Kau bilang apa-"
"Alan, cukup!" Sri dengan terisak mencoba mencegahku agar tidak melakukan sesuatu yang nantinya akan aku sesali. Dia menarik bajuku dari belakang, mengisyaratkanku untuk tidak ikut campur lebih jauh dalam masalahnya ini. "Terimakasih karena kamu sudah peduli padaku, tapi dia adalah anak dari pemimpin perusahaan ini, kau pergi saja ke tempat ketua. Tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku."
Sri mengelap air matanya dan diam-diam tersenyum kepadaku. Tentu, aku tidak buta untuk melihat Sri sedang berpura-pura terlihat baik di hadapanku. Baik, sangat baik, mereka berdua sangat membuatku sangat muak! Langsung saja aku meraih kerah pria itu dan hendak menghajarnya dengan tinju tanganku ini. Namun, aku tiba-toba sadar jika aku melakukan hal itu akan sangat berakibat fatal pada nasib Sri yang mana masih bekerja di tempat itu.
"Alan, apa kau sudah gila? Apa kau bodoh atau bagaimana? Bukankah aku sudah mengatakan kalau Roy ini adalah anak dari pemimpin perusahaan ini? Anak dari bosmu!" kata Karen dengan geram, kemudian dia mendorong tubuhku untuk menjauh dari sang kekasih.
Pria manja itu pun membuat wajah yang jelek dan berjalan mundur. Dia panik dan buru-buru berteriak untuk memanggil petugas perusahaan yang sedang berjaga. Segera para petugas itu pun datang dan terkejut setelah mendapati kehadiranku yang sedang berhadapan dengan anak bosnya.
"Alan, kamu udah balik kerja?" Pria berseragam hitam, yang mana satpam perusahaan itu menyapaku, namanya Bima. Sementara satu satpam yang lain namanya Toni ikut tersenyum menyambut kedatanganku. Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan mereka, hanya saja kami sering saling menyapa ketika berpapasan. Tak lama, dia pun segera tersadar dan buru-buru menunduk untuk menyapa pria bernama Roy itu. "Salam, Tuan Muda, apakah ada sesuatu yang bisa kami berdua bantu?"
"Kalian saling mengenal?" Roy bertanya kepada Bima dengan raut wajah mengejek.
"Ya?" Bima sesaat tertegun, tapi buru-buru menjawab pertanyaan bos kecilnya itu. "Alan merupakan salah satu karyawan perusahaan ini, dia beberapa hari ini tidak masuk kerja setelah masa cutinya selesai, dan tidak memberikan kabar tentang absennya dari pekerjaaan. Dan yah, Alan sebaiknya kamu segera menemui Pak Gunawan di ruangannya, dia mencarimu dari kemarin."
"Tunggu ... jadi kau karyawan di perusahaan ayahku ini?" Roy tertawa dengan puas dan melihatku dengan tatapan remeh. "Apa hanya seorang pelayan berani bertindak tidak sopan pada tuannya?"
"Oh, baiklah aku bisa saja memaafkan kalian berdua dan menganggap apa yang terjadi barusan hanya kesalahpahaman. Hanya saja sebagai permintaan maaf kalian berdua harus melakukan sesuatu untukku," kata Roy seraya melepas tangannya dari pinggang Karen, kemudian berjalan ke depan, dan memajukan salah satu kakinya yang mengenakan sepatu berwarna hitam. "Kebetulan sekali sepatuku terkena debu saat berjalan menuju tempat ini. Kalian berdua tau kan, harga sepatuku ini sangatlah mahal? Kalian berdua harus membantuku membersihkannya, jadi merangkaklah dan jilat sepatuku ini sampai bersih. Setelahnya aku berjanji tidak akan memperpanjang masalah ini dan kalian bisa tetap bekerja di perusahaan besar milik ayahku ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
Hajarrr Alan kasih hadiah bogem tuh anak..
2024-06-26
0
Eros Hariyadi
Lanjutkan Thor 😄🤣💪👍👍👍
2023-05-31
0
Eros Hariyadi
Paraaahh bangeett selingkuhan Karen, mantan pacar Alan... mending sikaaatt ajaahh... sekalian dan langsung keluar dari perusahaan itu... cuman jadi OB ini..
😝😄💪👍👍👍
2023-05-31
0