POV Shara.
Mengenakan gaun pengantin berwarna putih, aku meringkuk di bawah ranjang pengantin yang berhiaskan kelopak bunga mawar merah.
Berbalut gaun mahal rancangan desainer kondang, aku mengerang menahan sakit.
"Sayang." Mendengar suara Zif yang melangkah mendekatiku, aku semakin tersedu. Aku menarik selimut tebal yang terlampir di ranjang malam pertama kami guna menutupi luka pada bagian kanan wajahku.
"Jangan mendekat Zif!" Pekik ku kala itu.
Laki-laki berwajah tampan, hidung mancung runcing, bibir merona merekah bak strawberry dengan tinggi 175 berpawakan bidang itu tersenyum manis. Aku bisa melihat bayangan senyum nya dari cermin di sudut kamar.
Zif menatap ku meringkuk di sisi ranjang membelakangi dirinya. Jas putihnya ia tanggalkan lalu duduk di tepian tilam pengantin seraya menyingsing lengan bajunya hingga ke siku "Jangan sampai aku memaksa mu sayang. Berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kamu tahu, sudah dari dulu aku menginginkan mu." Ujarnya.
Aku semakin menutupi sebelah kanan wajahku saat Zif membisikkan kata-kata di telinga kiri ku "Siap-siap saja, malam ini, aku tidak akan mengampuni mu." Tangan Zif meraih pinggang ku begitu agresif.
"Hiks hiks!" Kulihat dari cermin Zif berkerut kening menatap tajam kepala ku "Kamu kenapa sayang, jadi benar kamu takut aku sentuh?" Tanyanya.
Selama dua tahun menjadi pacarnya, Zif hanya ku boleh kan mencium pipi dan sekilas bibir saja. Aku termasuk dari perempuan yang tahu batasan bagaimana menjaga baik-baik aset keperawanan ku.
Zif mengusap puncak kepala ku dengan ulasan senyum tipis yang lagi-lagi aku tangkap dari cermin "Ok, kita tidak usah melakukannya malam ini. Tapi, jangan terus menghindari ku." Bisiknya.
"Hiks hiks!" Sedari tadi hanya isak yang mampu ku presentasi kan, dan Zif semakin di buat penasaran dengan kelakuan aneh ku.
Bukan kah seharusnya aku merasa senang di malam pertamaku, dia mungkin sudah teramat geram padaku.
"Sayang, ini tidak lucu, sekarang berdiri, jika tidak mau melakukan itu setidaknya peluk suami mu, ini malam pertama kita Yank!" Zif yang biasanya bertutur kata lembut dia sedikit menaikan nada bicaranya.
Kesal dengan sikap ku Zif menarik paksa lengan ku untuk kemudian dia hadapkan pada wajahnya.
"Jangan Zif! Jangan menatap ku sekarang!" Pekik ku histeris sambil memalingkan wajahku ke arah lain.
Secara cepat Zif menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh ku.
Aku berpaling ke arah kanan, sebab dari kiri Zif masih belum melihat luka bakar ku, dan rencananya aku tak ingin Zif melihat ku.
Netra Zif justru terarah lurus pada belahan dada yang menyembul sempurna menantang dirinya, yah, dari cermin aku bisa melihat gurat predatornya "Bagaimana bisa aku melewatkan malam ini, lihatlah, melihat sedikit tubuhmu saja aku tak mampu melawan hasrat ku!" Dia tarik pinggang ku hingga menyatu dengan tubuhnya.
"Agh! Sakit Zif!" Aku berteriak saat tangan Zif merangkum pipiku dan tak sengaja menerkam lukaku.
Mungkin Zif merasakan bagian kasar di area pipi sebelah kanan milikku, tak seperti biasanya, Zif pun tampak heran, padahal aku yang dia kenal bukanlah wanita yang memiliki sejenis jerawat.
Kesakitan yang aku tunjukkan cukup membuat Zif tergagap berkerut kening memandang pipi mulus ku yang menjadi sangat mengerikan.
Sebagian wajah ku melebur, kemerahan, terkelupas, bahkan seperti ada nanah meleleh yang Zif lihat di sana. Aku tahu dia sangat jijik padaku. Terlihat sekali perubahan ekspresinya.
"Siapa kamu! Siapa kamu hah! Kenapa di kamar pengantin ku!" Bentak Zif melotot. Sejujurnya Zif ialah laki-laki yang dingin, hanya pada ku saja hatinya mampu meleleh.
Mendapati wajahku melebur, Zif seolah tak mau lagi berkata-kata manis, keasliannya mulai ku baca saat itu.
"Tentu saja aku Shara, istri mu." Pada akhirnya aku berani menunjukkan diriku.
Zif menggeleng kasar "Bukan, kau bukan Shara!" Ketusnya.
"Tolong aku Zif, aku harus ke rumah sakit, tolong aku! Sekarang aku harus segera mendapatkan perawatan medis!" Aku menghiba pada suamiku dengan tangan yang menyatu.
"Kau bukan istri ku! Shara ku sangat cantik, lihat lah wajah mu sangat menjijikkan!" Pekik Zif. Oh jadi selama ini karena itu cintanya?
Aku menggeleng sambil mengusap buliran bening di sudut-sudut netraku "Beberapa waktu yang lalu, sebelum kita menikah, seseorang menyiramkan air keras padaku, entah siapa bajingan itu. Tolong bawa aku ke rumah sakit Zif, ini menyakitkan. Hiks!" Isak ku.
Zif tercengang mendengar penuturan kata ku, kecantikan yang selama ini dia cintai telah menghilang hanya dalam waktu singkat saja.
Selang beberapa saat. Suara langkah kaki terdengar mendekat, rupanya Indar berdiri di tengah-tengah keheningan pilu ruangan kami, Indar ialah teman Zif saat masih sama-sama kuliah di Amerika serikat.
Gadis berusia tiga puluh satu tahun yang langsing dengan kaki jenjang itu berkulit putih mulus, dan berwajah cantik, tak di pungkiri Indar benar-benar sangat sedap di pandang mata meskipun usia kami selisih enam tahun.
"Zif, tamu-tamu mu ingin melihat wajah istri mu, tadi saat kalian berikrar pernikahan, Shara mengenakan cadar bukan? Kolega mu juga ingin mengenalnya." Ada senyum getir yang tersungging di sudut bibir perempuan itu.
Zif mengernyit setelah suara Indar memberantas keheningannya "Bagaimana bisa ini terjadi di malam pertama kita Shara?" Dia menatap tajam wajahku.
Aku tergagu, bukanya panik tapi Zif seakan tak memikirkan betapa sakitnya aku "Kenapa bertanya seperti itu Zif? Aku sedang sakit, harusnya kau memikirkan keadaan ku!" Berang ku.
Indar melangkah mendekat dan menepuk pundak suami ku "Ada apa Zif?" Tanyanya lalu beralih padaku dengan mata yang membulat "Astaga, Shara, kau, kulitmu, kenapa menjijikkan begini?" Tanyanya lagi yang terkesan mencaci.
Kulihat ekspresi Zif semakin dogol mungkin ia pikir, betapa cerobohnya aku yang dianggap tak mampu menjaga wajah cantik untuknya.
"Aku kecewa padamu Shara! Lalu bagaimana dengan tamu-tamu ku di luar? Mereka ingin menemui mu, apakah pantas kau keluar dengan wajah seperti ini hah!" Lirih Zif.
Sekali lagi aku tergagap, Zif benar-benar tak memperdulikan bagaimana sakit diriku menahan luka bakar di wajahku. Zif justru terkesan menyalahkan dan memikirkan reputasinya. Aku termangu menatap nanar wajah suamiku, menikmati setiap guratan berawai laki-laki itu padaku.
"Untuk sementara, aku yang akan menemui rekan bisnis mu sebagai istri mu Zif, sekarang kamu urus saja istri cacat mu, bawa dia ke rumah sakit." Kata Indar mengelus lembut tangan Zif.
Aku sempat melihat sentuhan tidak biasa dari Indar teruntuk suamiku. Zif pun menoleh pada Indar dengan tatapan menceku "Apa bisa seperti itu hah?" Berang nya melotot.
Indar mengangguk "Tentu saja, sampai luka istri mu sembuh, aku yang akan menggantikan posisi istri mu, apa kau mau menanggung malu Zif? Teman-teman kita yang dari Amerika pasti menertawakan mu! Mereka akan menyebut istri mu istri buruk rupa, lihatlah dia seperti monster Zif!" Cetusnya.
Zif bergeming, sepertinya dia memikirkan ucapan Indar yang sangat masuk di akal. Selama ini dia tak pernah mau memperkenalkan aku di hadapan banyak orang terutama teman-temannya perkara takut ada salah satu dari mereka yang menikung.
Lagi pun, Hardika mertuaku tak merestui, maka hubungan kami dilakukan secara diam-diam, jarang sekali orang yang tahu hubungan cinta kami yang sudah berlangsung dua tahun terakhir.
Di depan teman-temannya Zif selalu membanggakan kecantikan ku dan hari ini Zif berniat ingin memamerkan wajahku pada semua orang. Namun, apa? Aku justru kehilangan kemulusan kulit ku.
"Kau gantilah baju, pakai baju tidur seksi seperti wanita yang ingin melakukan malam pertama." Titah Zif pada Indar.
Aku dibuatnya tak bergerak, sungguh pernyataan ini membuatku sakit, bukannya iba, Zif justru membuat rencana yang tidak menyenangkan bagiku. Ini di luar nalar ku.
"Zif, ..."
Bagai menabur garam di atas luka, Zif sangat mencengangkan diriku. Tepat di depan retinaku Zif merangkul pinggang ramping Indar keluar dari kamar pengantin.
Dari balik ornamen penyekat ruangan, aku menatap pilu suamiku memperkenalkan Indar pada teman-temannya "Segitu saja kah sayang mu padaku, Zif?" Gumamku.
Hanya sebentar saja Zif melakukan dramanya, sebab setelah itu dia membawaku ke rumah sakit dengan harapan bisa membuat wajah ku kembali cantik.
Di dalam mobil aku mendengar setiap doanya, yang terkesan lebih mementingkan kecantikan ku dari pada keselamatan ku.
...🖋️••••••••••••🖋️...
Esok harinya, di rumah sakit.
Tepatnya di ranjang pasien suite room ku, Zif menatap nanar wajah rusak ku, di lihat dari seri mukanya sepertinya Zif sendiri masih tidak percaya, masih tak mau menerima kenyataan pahit ini.
"Kenapa bisa begini, siapa musuh mu sayang? Kenapa sampai ada orang yang tega merusak wajah mu? Kamu pasti menyakiti hati orang lain, iya kan? Sekarang aku yang harus menanggung akibatnya, aku kehilangan wajah cantik mu!" Zif selalu berkata lirih tapi terdengar sangat menyakitkan bagiku.
Buliran bening terus menetes membasahi perban yang membalut lukaku "Apa karena buruk rupa kau tak lagi menganggap ku baik Zif? Kau lupa, sampai detik ini aku tidak memiliki musuh, adapun musuh ku mungkin itu yang selama ini mengejar cinta mu! Seharusnya kau cari tahu siapa orang yang menyakiti ku, bukan menyalahkan ku." Batinku pilu.
Terdengar suara langkah dari sepatu heels milik seorang wanita seksi, Indar lagi-lagi berada di tengah-tengah kepiluan kami.
"Zif, hari ini, kita jadi kan mengikuti jamuan makan malam bersama kolega mu?" Perempuan itu tersenyum seperti tidak memiliki rasa iba pada pemilik sejati laki-laki tampan yang dia sungging kan senyuman manis.
Aku menatap nanar kearah Indar lalu kembali menatap wajah suamiku "Kalian mau kemana tanpa aku Zif?" Tanyaku.
Zif menggenggam tanganku "Aku harus menerima undangan dari teman bisnis ku, dia memberikan liburan gratis khusus untuk kita di resort nya. Aku ke sana hanya untuk menerima itikad baik teman ku saja sayang. Sementara ini kamu pulihkan dulu luka mu. Nanti setelah itu baru kita yang akan pergi berbulan madu." Ujarnya.
Ada dentuman hebat yang menyentak jantungku barusan, nada lirih penuh ironi suamiku membuat hatiku terasa teriris sebilah keris "Kamu mau meninggalkan ku sendiri di sini? Lalu kamu bawa Indar ke sana?" Tanyaku.
Oh Tuhan, dia mengangguk dengan gerakan perlahan seperti ada ketidak tegaan, tapi apa pun itu dia benar-benar membuat ku kesakitan.
"Di sini aku hanya memiliki mu Zif, orang tua ku sudah tidak ada, Ayah mu juga belum merestui hubungan kita, apa setelah seperti ini kamu tega meninggalkan ku sendiri di rumah sakit sementara kamu pergi dengan Indar Zif!"
Zif kembali menggenggam tanganku, sorot matanya berusaha meyakinkan diriku "Ini hanya satu malam sayang, tidak akan lama kok, kamu sabar, pulihkan dulu luka mu. Cepat sembuh supaya kita bisa memulai malam pertama tertunda kita." Dia bahkan masih saja memikirkan malam pertama bukan kondisi ku.
"Tapi Indar bukan istri mu, Zif!" Sanggahku.
"Aku tahu, tapi semua rekan bisnis ku mengenal Indar sebagai isteri ku sayang, tidak mungkin aku memperkenalkan mu dalam keadaan seperti ini kan hmm? Bisa-bisa kamu malu di ejek sana-sini. Lagi pula di sana aku tidak akan bersenang-senang, aku tetap suami mu seperti sebelumnya. Ini hanya akting saja Yank, hanya akting, ku mohon kamu mengerti, sembuhkan luka mu baru setelah itu aku bawa kamu ke rumah Ayah." Desak Zif membujuk.
Panjang lebar dia menjelaskan, tapi aku masih tidak mengerti dengan arah jalan pikirannya yang terlampau aneh.
Aku memejamkan mata, jika Zif sudah berkeinginan sudah pasti dia akan terus memaksa sampai mendapatkan "Pergilah." Putus ku tak ikhlas. Siapa istri yang mau melepas suaminya bersama wanita lain? Mungkin hanya aku!
Zif tersenyum "Terimakasih." Ucapnya mengelus puncak kepalaku.
Ku lihat Indar tersenyum sinis menatap sipit wajah rusak ku seolah mengatakan "Ini baru permulaan Shara, malam ini, akan aku jadikan malam pertama bagiku bersama dengan Zif ku. Lelaki mana yang akan bertahan dengan gadis buruk rupa seperti mu?"
...🖋️••••••••••••🖋️...
POV author.
Tunai sudah Shara menceritakan semua kejadian naas di malam pertamanya, juga di hari sebelum Zif meninggalkan dirinya sendiri di rumah sakit, kepada Gerald.
Sedari tadi Gerald terdiam, menelaah setiap kata yang berderai dari bibir gadis buruk rupa itu.
Kendati banyaknya permasalahan yang di alami, Gerald masih mampu menunjukkan kesan tertarik mendengar permasalahan orang asing.
Ternyata ada manusia yang lebih menyedihkan dari hidupnya. Dia pikir, hanya dia saja yang mengalami cobaan dalam hidup.
Saking asyiknya bercerita. Tak terasa Gerald dan Shara terbaring dalam satu selimut tebal yang sama.
"Jadi menurut mu, siapa yang berpotensi merusak wajah ku? Apakah menurut mu, Indar pantas di jadikan tersangka?" Tanya Shara, pandangannya ia fokuskan pada langit-langit kapal begitu juga dengan Gerald.
"Itu bisa saja terjadi, tapi ada satu lagi, yang mungkin berpotensi melakukan hal itu." Kata Gerald, Shara mendadak menoleh pada pemuda ini.
"Siapa?"
"Ayah mertua mu, bisa saja, karena dia tidak menyetujui pernikahan kalian, akhirnya dia tega melakukan hal licik seperti ini padamu. Terbukti bukan? Sekarang kau dan suami mu berpisah." Ungkap Gerald lalu menoleh menatap wajah Shara yang sudah dia balut dengan perban.
Shara mengerutkan keningnya dengan mata yang membulat "Atau mungkin, ini rencana mereka berdua." Cetusnya.
Gerald mengangkat bahu seraya mencebik kan bibirnya "Bisa saja, karena biasanya perempuan lebih berani ketika ada pendukung di belakangnya." Ujarnya.
...🖋️••••••••••••🖋️...
...Bersambung. Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 😘 Seperti judulnya, Dendam Si Cantik, akan banyak adegan manipulatif yang dilakukan 🙏 Mohon maaf yang tidak satu server....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
yeni NurFitriah
Apakah yg seperti itu laki"yg kamu cintai Shara...Zif membanggakan mu ketika kamu cantik,tapi pas wjh kamu buruk rupa,dia meninggalkan mu sendiri di RS🙄
2025-01-11
0
Akbar Razaq
Aku meyakini versi ke 3,mereka bekerja sama.Zif saja yg bodoh tapi baguslah dg begitu Shara tahu Zif tak setulus ucapannya.janjinya palsu.
2025-02-28
0
Sweet Girl
Kok iso yoooo, udah tau istrinya kenak musibah malah dimaki-maki.
2025-01-30
0