Memjambaknya

Sepulang kantor Inka berjalan tak semangat. Ia tidak berniat memberhentikan taksi.

Gara gara ciuman dengan Bos nya harinya tambah buruk saja. Inka bingung mau kemana, Dari arah yang berlawanan mobil Bagas masih setia menunggu istrinya. Bagas sengaja memberhentikan mobilnya jauh dari kantor Sean.

Bagas keluar mobil dan berjalan menuju istri nya. Saat di lihat istrinya keluar gerbang.

Hap...

"Sayang..... Ku mohon maafkan mas. Mas akan memperbaiki semua. Tapi jangan tinggalkan mas,mas ga bisa hidup tanpa mu,"

Bagas memeluk istrinya. Mencurahkan isi hatinya,berharap istri nya mau memaafkan nya.

Sementara Inka sama sekali tak membalas pelukan suaminya. Ia kecewa dengan suaminya sendiri. Di saat dirinya butuh dukungan, justru suaminya sendiri yang mematahkan semangat nya.

Bagas kecewa istrinya tak membalas pelukan nya. Mungkin dia masih marah, jadi ia harus bersabar meluluhkan istrinya lagi.

"Pulang sayang... Jangan begini,"

Bagas menuntun Inka masuk ke mobilnya.

Di dalam mobil, baik Inka maupun Bagas. Tak ada yang bicara, hanya sesekali Bagas melirik istrinya. Sementara Inka wanita itu memandang kesamping entah apa yang di lihatnya.

"Mas tolong ijinkan aku pergi"

Bagas menghentikan langkahnya saat hendak ke dapur, mengambil minum untuk istrinya. Ia menoleh ke arah Inka memandang dengan datar.

"Tak ada yang boleh pergi dari sini,!"

Inka menautkan alisnya apa maksudnya?

Inka menjatuhkan dirinya pada sofa ruang tamu . Dia lelah kalau harus berdebat lagi dengan Bagas suaminya.

"Kau sudah pulang.."

Monik menyapa Inka,ibu mertua nya itu berjalan berdua dengan istri kedua suaminya.

Inka menoleh suaminya yang baru saja mengambil jus jeruk kesukaan nya. Mencari maksud dari semua ini bagaimana bisa madunya ada di sini. Bersama ibu mertua nya.

"Dia akan tinggal bersama kita. Hanya memastikan sayang, apa benar ada calon bayi di rahimnya?,"

Bagas mencoba menjelaskan. Inka tersenyum masam bagaimana teganya suaminya. Memasukan perempuan lain di rumahnya. Meskipun mereka berdua telah menikah. Apa tak ada rasa kasihan padanya. Inka tak bisa membayangkan akan berbagi suami di rumah yang sama. Seketika dadanya sesak iya mati matian menahan air matanya agar tak jatuh.

Inka tak boleh lemah ia tak mau di Tindas. Sudah cukup dia bersabar, yang selalu dikatakan mandul.

Inka berdiri melangkah menuju kamarnya. Ia tak menjawab sapaan dari ibu mertua nya. Ia tak kuat menahan sesak. Jangan sampai air matanya jatuh. Mereka senang jika dirinya lemah. Inka tak mau mereka bersenang senang di atas penderitaan nya. Ia akan tunjukan bahwa dirinya tak lemah.

Inka membuka lemarinya ia kaget tangannya membuka tumpukan baju dan membolak-balikkan baju. Ini bukan bajunya iya memejamkan matanya.

"Ternyata bukan cuma suamiku yang kau rebut. Kau juga merebut kamarku"

Dadanya naik turun menahan emosi. Inka membuka laci, ia mengambil barang nya. Lalu

Inka turun menuruni anak tangga.

Ia lalu bergabung di meja makan.

"Maaf Inka ibu menyuruh ku mengemasi barang-barang mu,di kamar dan membawanya ke kamar tamu!"

Clarisa bicara dulu sebelum Inka bertanya. Ada senyum kemenangan di sudut bibirnya. Inka yang melihat itu tak kalah menunjukan senyum manisnya.

Dia tak boleh menangis jangan biarkan ular ini melilit mu lebih keras lagi. Inka bermonolog dalam hati.

Sementara Bagas iya shock. Mendengar Clarisa memindahkan barang barang istrinya.

"Apa apaan kau Clarisa,jangan melebihi batasan mu"

Bagas berteriak keras memaki Clarisa.

"Maaf...."

Clarisa mengeluarkan air mata buaya nya.

"Jangan memarahi Clarisa. Ibu yang menyuruh mbok Darmi tadi membereskan barang nya. Karna mulai malam ini Clarisa yang akan menempati nya"

"Dan lagi, mbok Darmi akan di sini membantu Clarisa. Jangan sampai dia lelah jika benar benar ingin program hamil. Biar ibu cari pembantu lagi,"

Monik antusias memberi wejangan buat Clarisa. Supaya janin yang dikandung sehat.

"Bu Clarisa tidak hamil Bu,"

"Belum... Sebentar lagi dia pasti hamil. Makanya ibu menyuruh mu tidur dengannya,"

Inka yang mendengar itu meremas sendok nya.

Jangan lemah, jangan lemah dia hanya melafalkan mantra itu. Bagas yang melihat Inka hanya memohon lewat tatapan matanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Maaf... Aku sudah selesai. Permisi"

Inka melangkah ke kamar tamu. Yang mana katanya semua barang nya sudah berpindah. Yang akan menjadi kamar barunya.

Inka merebahkan badannya lelah. Ia tak bisa terus terusan seperti ini. Inka menyalakan kembali ponselnya, setelah seharian ia matikan. Ia sengaja karna malas bicara dengan Bagas suaminya. Tapi nyatanya semua harus ia hadapi. Lari juga tak akan merubah suaminya jadi miliknya seorang.

Begitu layar ponsel nya aktif. Ponselnya langsung berdering, sahabatnya Siska pasti khawatir padanya. Dia pulang kemari, Siska tak tau.

"Inka Lo apa apaan sih. Lo minggat kemana lagi. Gila Lo ya,bikin pusing gue aja tau gak. Pulang deh suami Lo dari pagi Nelponin gue mulu. Males gue ngomongnya masih Gedeg gue sama suami Lo "

Siska nyerocos tanpa henti. Sementara Inka menjauhkan ponselnya dari telinganya.

"Gue di rumah Sis "

Inka terisak. Sementara Siska yang mendengar suara bernada serak itu hanya diam. Iya juga ikut menangis,melihat sahabatnya yang rapuh. Tak seperti sebelumnya. Inka selalu ceria dan penuh semangat.

"Wanita itu tinggal di sini. Aku juga pindah kamar. Wanita itu dan mas Bagas yang akan menempati kamar kami,"

Siska meremas ponselnya mendengar curhatan sahabatnya.Siska mematikan ponselnya dan pergi meninggalkan kost nya, menuju rumah bagas. Ia geram dengan suami Inka apa dia tak punya hati.

Di mana hati nurani nya,ketika tempat yang dulunya adalah milik ratu. Dia dengan teganya menggeser posisi nya dengan selir. Apa selir itu lebih cantik dari Inka. Seberapa cantik nya wanita ular itu. Sehingga Bagas berpaling,dasar laki laki biadab.

Sepanjangan jalan Siska mengumpati Bagas. Ia melajukan motor matic nya dengan kecepatan tinggi. Sudah tak sabar iya ingin meremas wajah wanita ular itu.

Sementara di kamar. Bagas dan Clarisa sedang berargumen. Bagas kaget semua yang ada di kamar nya. Berganti dari foto pernikahan di atas nakas sampai seprei juga tak luput.

"Apa maksudnya ini Risa?"

Bagas melotot ke arah Clarisa.

"Kenapa kau mengganti semua yang ada di kamarku Risa. Lancang sekali kau!,"

Bagas mencekik leher Risa.

"Mas lepaskan"

Bagas melepaskan cengkraman tangannya di leher Risa.

Uhuk.. Uhuk ..,

"Mas kau kenapa. Aku juga istrimu mas. Ibu yang menyuruhku pindah di sini,"

"Ibu juga yang menyuruh mbok Darmi membereskan barang barang Inka, bukan aku.

aku juga perempuan mas. Aku juga sakit harus tidur di kamar kalian. Tapi aku tak punya pilihan mas. Jadinya aku mengganti semua letak posisi nya, dan juga seprei nya,"

Bagas hanya meremas rambut nya.

"Keluar Clarisa jangan melebihi batasan mu. Kamar ini milik istriku. Aku tak mung_."

Ucapan Bagas terpotong untuk mengusir istri sirinya. Karna mendengar suara ketukan pintu,lebih tepatnya gedoran pintu.

Tok tok tok..

Siska mengetuk pintu keras. Efek gondoknya pada suami Inka.

Clek...

"Siska mau apa kamu... Bikin ribut malam malam di rumah orang,"

Bagas kaget saat membuka pintu. Siska menatap nya seperti penjahat.

Sementara Siska beralih menatap wanita di samping Bagas. Ia menelisik dari atas sampai bawah. Sementara Clarisa yang mendapat tatapan mata gadis di depannya ini melotot tajam.

Siska tersenyum sinis pada Bagas.

"Jadi gara gara perempuan ini. Lo nyakitin perasaan sahabat gue,,"

Bagas diam, dia tau pasti sahabat istri nya ini. Tak terima dengan penghianatan yang di lakukan.

"Apa Lo buta Gas. Istri Lo jauh lebih cantik dari wanita gatal ini"

Clarisa yang mendengar dia di hina. Mendorong tubuh gadis itu. Iya tak terima di katai gatal. Meskipun itu benar.

"Brengsek Lo..., Eh dasar wanita murahan. Wanita gatal, ga laku Lo.... Ngerebut suami orang"

Siska balik menjebak rambut Clarisa.

Akh....

"Mas tolongin Risa. Lepasin sakit...,"

Risa meronta,meminta gadis itu melepaskan jambakkan nya. Sementara Bagas pria itu shock, tak tau harus berbuat apa.

Inka segera melerai sahabatnya,yang menjambak rambut Clarisa. Ia tadi di kamar mandi, sehingga tak tau jika sahabat nya datang membuat keributan.

"Sis... Lepasin ,"

Inka berseru

"Lepasin brengsek...,Mas tolongin Risa,"

Bagas masih diam. Ia linglung, melihat perempuan yang saling Jambak. Lebih tepatnya Clarisa yang di Jambak.

"Mas tolongin pisahkan mereka,"

Bagas terkesiap mendengar suara Inka. Ia baru menyadari bahwa Clarisa dan Siska sedang saling Jambak.

Vote dan hadiah 🤧

Jangan lupa like dan komen nya 😌

Terpopuler

Comments

dite đáng yêu

asli aku heran kalo ada anak orkay tapi cm nangis aja pas di madu gini 😷
tetanggaku ada yg nikah ama anak orkay, anak juragan lah si istri. suatu ketika si suami mukul istrinya entah krn apa kurang tahu.. si istri lgsg gugat cerai tu suami.. ya secepat itu prosesnya, ga kelamaan nangisin suami.
pada dasarnya kalo punya duit hidup lebih mudah dijalani.

2022-06-12

11

Zaimar Simatupang

kok inka bodohnya ampe langit ya..
knp mau d ajak pulang bagas...

laki laki penghianat
gx perlu di pake inka...

2022-06-14

12

Tjitjik Juni Supriyati

Udahlah inka.!!! Pergi dari rmh neraka itu. Pergilah bersama sahabat mu utk sementara.

2022-06-12

9

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Ada apa dengan bagas
3 Rencana liburan
4 Pertemuan
5 Rahasia
6 Berbohong
7 Sah
8 Menggodanya
9 Clarisa marah
10 Bertemu lagi
11 Menyembunyikan fakta
12 Mulai bekerja
13 Clarisa ke kantor
14 Maksud tersembunyi
15 Cemburu
16 Foto yang pecah
17 Jebakan
18 Terkurung
19 Shock
20 Mencari
21 Salah tingkah
22 Suara asing
23 Terbongkar
24 Pergi
25 Ingin seatap
26 Bingungnya siska
27 Ciuman paksaan
28 Memjambaknya
29 Menunjukan kepemilikan
30 Tak sengaja
31 Kualitas kecebong
32 Bimbang
33 Gairah tersalurkan
34 Tak mau rugi
35 Kecewa
36 Membunuh rasa
37 Ingin memperbaiki
38 Dilema
39 Pertengkaran
40 Pergi
41 Cemburu
42 Rencana Clarisa
43 Pingsan
44 Hari baru
45 Akhir
46 Sah bercerai
47 Hilang kendali
48 Depresi
49 Akal bulus
50 Cara licik sean
51 Albert berkunjung
52 Hak waris
53 Di hadang
54 Pantai
55 Pesta perusahaan
56 Nasi goreng
57 Terbongkar
58 Iri
59 Cincin
60 Pernikahan kedua
61 Malam panas
62 Lagi
63 Penyesalan Bagas
64 Pengalihan
65 Kabur
66 Minta izin
67 Terpaksa
68 Terpaksa
69 Perselingkuhan
70 Kerja sama
71 Pembelaan
72 Perang dingin
73 Tameng
74 Pertemuan tak terduga
75 Wanita masa lalu
76 Brian bahagia
77 Keguguran
78 Ketakutan Sean
79 Maksud tersembunyi
80 Siuman
81 Tak percaya
82 Pria itu
83 Mengidam
84 Permintaan Inka
85 Kepergian Sean
86 Wanita yang sama
87 Umpan
88 Markas Sean
89 Peringatan Brian
90 Mencari tau
91 Pengorbanan Brian
92 Salah mengira
93 Sandra
94 Pasrah
95 Duel
96 Akhir Lincoln
97 Kedatangan Mario
98 Rubi Felisa
99 Langkah Sean
100 Menjenguk Clarisa
101 Gagal
102 Canggung
103 Kepergok
104 Penculikan
105 Jatuhnya harga diri
106 Salah paham
107 Tentang Kenzo
108 Maksud terselubung
109 Wanita gila
110 Perpisahan
111 Mengabaikan
112 Ungkapan perasaan
113 Tertangkap basah
114 Alicia Deandra
115 Pengganggu
116 Kemarahan Radika
117 Menciumnya
118 Pikiran Cello
119 Berbuat ulah
120 Rasa penasaran
121 Takut kehilangan
122 Menahannya
123 Emosi jiwa
124 Siapa Alicia
125 Gadis misterius
126 Kenyataan
127 Sean berang
128 Keputusan Alicia
129 Partner
130 Kesempatan Alicia
131 Dendam masa lalu
132 Pengorbanan Alicia
133 Terhasut
134 Alicia berang
135 Langkah Alicia
136 Penyesalan
137 Pria misterius
138 Wanita cerdik
139 Sebuah kepercayaan
140 Kekecewaan
141 Sandiwara
142 Taktik Alicia
143 Beradu tatap
144 Cello murka
145 Fakta
146 Mengerjai
147 Memalukan
148 Tekad
149 Grisa
150 Memancing musuh
151 Mengorek informasi
152 Kecurigaan Albi
153 Merasa tak di hargai
154 Berbuat ulah lagi
155 Mabuk
156 Mencari
157 Membuang harga diri
158 Mual
159 Shock
160 Dendam yang membara
161 Terjebak
162 Mengintai
163 Obsesi Grisa
164 Cello bodoh
165 Kebahagiaan Cello
Episodes

Updated 165 Episodes

1
Prolog
2
Ada apa dengan bagas
3
Rencana liburan
4
Pertemuan
5
Rahasia
6
Berbohong
7
Sah
8
Menggodanya
9
Clarisa marah
10
Bertemu lagi
11
Menyembunyikan fakta
12
Mulai bekerja
13
Clarisa ke kantor
14
Maksud tersembunyi
15
Cemburu
16
Foto yang pecah
17
Jebakan
18
Terkurung
19
Shock
20
Mencari
21
Salah tingkah
22
Suara asing
23
Terbongkar
24
Pergi
25
Ingin seatap
26
Bingungnya siska
27
Ciuman paksaan
28
Memjambaknya
29
Menunjukan kepemilikan
30
Tak sengaja
31
Kualitas kecebong
32
Bimbang
33
Gairah tersalurkan
34
Tak mau rugi
35
Kecewa
36
Membunuh rasa
37
Ingin memperbaiki
38
Dilema
39
Pertengkaran
40
Pergi
41
Cemburu
42
Rencana Clarisa
43
Pingsan
44
Hari baru
45
Akhir
46
Sah bercerai
47
Hilang kendali
48
Depresi
49
Akal bulus
50
Cara licik sean
51
Albert berkunjung
52
Hak waris
53
Di hadang
54
Pantai
55
Pesta perusahaan
56
Nasi goreng
57
Terbongkar
58
Iri
59
Cincin
60
Pernikahan kedua
61
Malam panas
62
Lagi
63
Penyesalan Bagas
64
Pengalihan
65
Kabur
66
Minta izin
67
Terpaksa
68
Terpaksa
69
Perselingkuhan
70
Kerja sama
71
Pembelaan
72
Perang dingin
73
Tameng
74
Pertemuan tak terduga
75
Wanita masa lalu
76
Brian bahagia
77
Keguguran
78
Ketakutan Sean
79
Maksud tersembunyi
80
Siuman
81
Tak percaya
82
Pria itu
83
Mengidam
84
Permintaan Inka
85
Kepergian Sean
86
Wanita yang sama
87
Umpan
88
Markas Sean
89
Peringatan Brian
90
Mencari tau
91
Pengorbanan Brian
92
Salah mengira
93
Sandra
94
Pasrah
95
Duel
96
Akhir Lincoln
97
Kedatangan Mario
98
Rubi Felisa
99
Langkah Sean
100
Menjenguk Clarisa
101
Gagal
102
Canggung
103
Kepergok
104
Penculikan
105
Jatuhnya harga diri
106
Salah paham
107
Tentang Kenzo
108
Maksud terselubung
109
Wanita gila
110
Perpisahan
111
Mengabaikan
112
Ungkapan perasaan
113
Tertangkap basah
114
Alicia Deandra
115
Pengganggu
116
Kemarahan Radika
117
Menciumnya
118
Pikiran Cello
119
Berbuat ulah
120
Rasa penasaran
121
Takut kehilangan
122
Menahannya
123
Emosi jiwa
124
Siapa Alicia
125
Gadis misterius
126
Kenyataan
127
Sean berang
128
Keputusan Alicia
129
Partner
130
Kesempatan Alicia
131
Dendam masa lalu
132
Pengorbanan Alicia
133
Terhasut
134
Alicia berang
135
Langkah Alicia
136
Penyesalan
137
Pria misterius
138
Wanita cerdik
139
Sebuah kepercayaan
140
Kekecewaan
141
Sandiwara
142
Taktik Alicia
143
Beradu tatap
144
Cello murka
145
Fakta
146
Mengerjai
147
Memalukan
148
Tekad
149
Grisa
150
Memancing musuh
151
Mengorek informasi
152
Kecurigaan Albi
153
Merasa tak di hargai
154
Berbuat ulah lagi
155
Mabuk
156
Mencari
157
Membuang harga diri
158
Mual
159
Shock
160
Dendam yang membara
161
Terjebak
162
Mengintai
163
Obsesi Grisa
164
Cello bodoh
165
Kebahagiaan Cello
We will open more payment methods as soon as possible
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!