Sean langsung memegang pinggang ramping wanita itu. Melihat mata bulat itu tertutup rapat. Mungkin dia takut terjatuh. Sean terpesona dengan wajah cantik alami gadis kecil itu.
Cukup lama Sean memperhatikan wajah cantik itu. Mencoba mendekatkan wajahnya Sean ingin melabuhkan bibir nya pada bibir merah alami itu. Inka sudah ketar ketir takut bokong seksinya mendarat di lantai.
Ah aman kirain mau cium lantai bokong gue. Eh eh eh dia seperti mencium aroma menyegarkan dari hidung nya.
Apa gue udah di surga mencoba membuka mata menyipit kan mata nya. Apa dia malaikat yang mau menjemput ku, tampan sekali ya ampun kenapa ada malaikat pencabut nyawa tampan banget.Tunggu tunggu seperti nya gue pernah liat deh. Hah seketika Inka terbelalak berdiri dan..
Duk..
"****..."
Sean langsung memegang hidung nya yang mancung bak prosotan itu.
"Kau.."
Sean geram dengan wanita ini. Suka sekali bikin ulah. Selalu saja setiap bertemu membuat nya naik darah. Ah tapi ini anugrah terindah untuk Sean meskipun hidungnya sakit.
Inka hanya mengusap keningnya pasti merah.
"Nona apa kau tidak bisa melihat di mana ma...."
Manajer tersebut hendak memaki Inka tapi Sean menahannya dengan mengangkat tangan kanan nya. Manajer tersebut menunduk salah, takut dia di pecat karna membiarkan pengunjung berbuat tidak sopan pada pemilik mall tersebut.
Sementara Kenzo pria itu diam saja melihat tuannya yang membela gadis kecil tersebut. Ah bukan gadis dia itu sudah bersuami tentu saja wanita julukan yang pas untuk nya.
"Ka kenapa mesti lari sih. Dasar Lo yah ga inget teman kalo dah dapat gratisan,"
Siska menarik nafas yang memburu karna berlarian mengejar Inka.
Inka hanya nyengir, sambil melirik ke arah samping. Berharap sahabat nya ini jangan sampai nerocos. Bisa bisa ketahuan dia?
Di belakang sana nampaknya ada gadis berambut cokelat itu sedikit berlari menghampiri mereka.
"Mampus.."
Inka bergumam lirih. Masih dapat di dengar oleh sean. Pria itu hanya melirik ke arah Inka.
"Eh Lo yang tadi ngerebut tiket itu Lo kan,"
Inka hanya menggeleng
"Gak enak aja, Gue duluan yang dapat ko,"
"Ga gue duluan sini balikin ke gue,"
Sambil menengadah tangannya wanita itu meminta pada Inka.
"Hem..."
Wanita itu melirik ke arah Sean.
"Eh buset ganteng banget nih bule,"
Wanita itu tidak menyangka kalau ada orang yang sangat tampan di depan matanya. Dia maju hendak memegang wajah tampan tersebut. Tapi Kenzo maju menghalangi wanita itu.
"Jangan sekali kali mencoba menyentuh nya, kalau anda ingin kehilangan jarimu ,"
Mereka semua menelan ludah kasar mendengar suara bernada ancaman. Begitupun dengan sang manajer.
Ternyata isu itu benar adanya. Dia sedikit takut sesekali mengusap keringat dingin yang tiba-tiba muncul di dahinya.
"Berikan.."
Lagi suara yang bernada Bas itu memecah keheningan.
"Gak bisa gue duluan yang dapat kenapa mesti gue kasih ke dia..,"
Inka protes sambil menyembunyikan sesuatu yang ada di tangan nya. Sean menoleh kearah wanita mungil itu sambil membungkuk kan badan nya berbisik..
"Berikan atau ku panggil satpam dan satu lagi kau lagi lagi menabrak ku bagaimana kalau ku tambah ganti ruginya ,"
Inka melotot tajam mendengar suara bernada ancaman.
"Kenapa kau membela nya. Aku duluan yang pegang,"
Tidak terima tiket yang di dapat nya dengan susah payah sambil berdesakan. Dengan entengnya pria ini menyuruh nya memberikan pada orang lain.
Sean lagi lagi harus membungkukkan badan nya
"Berikan tiket nya dan aku anggap lunas hutang mu"
Inka melirik nya huff.. menyodorkan tangan nya dengan tak berat hati. Inka memberikan tiket nonton gratis di bioskop film favorit nya.
Huh gapapa deh tiket melayang yang penting hutan lunas banyak lagi.
Siska bengong kenapa dengan mudah nya Inka merelakan tiketnya. Tadi aja sampek hampir gelud tuh anak.
Sean mengibaskan tangannya tandanya menyuruh gadis itu pergi. Dengan senang hati gadis berambut cokelat itu pergi meninggalkan mereka setelah mendapat tiket nonton gratis.
Sementara setelah gadis itu pergi tidak ada yang berani bicara mereka masih saling diam.
Sean melirik Kenzo sambil memasukkan tangannya ke saku celana berjalan menuju ruangan VIP.
"Mari nona ikuti saya," Inka hanya mengangguk.
****
Di kamar Clarisa duduk di meja rias mewahnya memperhatikan wajahnya.
Aku masih cantik meskipun aku lebih tua. Aku bisa memberikan kamu keturunan mas Bagas wanita itu tidak .
Risa mencari nomor telepon Bagas.
Tut Tut Tut bunyi dering ke tiga Bagas mengangkat telponnya.
"Ya hallo",
"Mas Bagas bisakah kau beri aku kesempatan mas. Aku yakin kamu akan mencintai ku mas. Kamu belum mencobanya saja,"
"Sudah kubilang Risa aku tidak mencintai mu. Pernikahan ini karena terpaksa,"
Tut... Tut ...Tut ...
Bagas melempar ponselnya dan
Brak..
Bagas terduduk lesu. Kenapa tidak ada yang berjalan sesuai keinginan. Bagaimana jika Inka tau dia mendua. Serapat rapat nya bangkai di tutupi pasti akan ke cium juga.
Argh...
Menjambak rambut nya frustasi dia tidak mau kehilangan Inka.
"Inka"
Bagas bergegas menyambar kunci mobil nya. Keluar dengan terburu buru.
****
Di kamar mandi Inka melamun dengan kejadian tadi. Kejadian di mana dia di minta untuk menjadi asisten seseorang selama sebulan.Yang benar saja...
Sean memang mencari kesempatan untuk lebih dekat dengan Inka. Anggap saja begitu. Sebelum Sean menyuruh Inka menjadi asisten nya dia juga sudah melihat CV milik Inka. Dari situ Sean punya ide bukankah itu berarti Inka tidak perlu melakukan interview. Sean memang punya sejuta akal bulus.
"Ko bisa ya kebetulan banget gue nungguin panggilan interview di perusahaan besar itu. Eh ini malah tanpa seleksi. Padahal kan kemarin ada tiga kandidat yang lolos. Apa mereka semua mengundurkan diri ya. Ah bodo rejeki gak kemana kan."
Inka senyum senyum sendiri.
Hap..
Inka hampir menjerit kalau tidak ada tangan Bagas yang membungkam mulutnya.
"Ini mas sayang. Mas kangen,"
Bagas memeluk tubuh polos Inka dari belakang. Ikut basah lah bagas. Dia tidak perduli saat ini dia hanya ingin memeluk istrinya. Bagas hanya ingin Inka wanita yang sangat di cintai nya.
Inka membalikkan tubuhnya menghadap suaminya itu.
"Mas udah pulang ku pikir malam ini masih sore udh plng ada apa mas. Apa ada masalah..?"
Inka bertanya pada Bagas lelaki itu hanya menatap wajah cantik nya. Mata Bagas berkaca kaca dia sudah menyakiti wanita yang selama ini ada untuk nya.
"Ga sayang ga papa,"
Bagas kembali memeluk tubuh polos Inka.
"Sayang jika mas buat salah jangan tinggalkan mas",
**klik like dulu ya...
beri dukungan sama OTOR ...🤭**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 165 Episodes
Comments
Dwi Zwei
/Drool//Drool//Drool/
2024-05-16
0
Iman sulaiman
kesel sama bagas
2022-10-13
0
Wirda Lubis
jujur takut di tinggal inka
2022-07-06
1