Cerita berpindah ke ibukota Nusantara, tepatnya di markas besar perserikatan sihir pusat. Di sana kita di perlihatkan komandan tinggi perserikatan sihir Hanura The Lion yang sedang berada di taman bersama Raiden sang kecepatan.
Mereka berdua sedang membicarakan tentang para pemberontak Kerajaan dan juga ancaman dari para iblis-iblis yang kian hari kian banyak membuat kerusakan serta kekacauan.
Di tengah pembicaraan itu komandan Hanura tiba-tiba tersentak mengetahui bahwa teknik judo tertingginya telah berhasil di hancurkan, hal itu membuatnya sedikit kaget dan termenung seketika.
"Ada hal apa yang membuat komandan termenung di tengah pembicaraan, apa ada sesuatu tuan Hanura?" ucap Raiden dengan sopan santun dan lembut.
"Tidak ada apa apa itu cuma masalah kecil Raiden, mari kita lanjutkan pembicaraan, sampai mana kita tadi" ucap komandan Hanura dengan berjalan pelan sambil masih membayangkan apa yang telah terjadi di desa Hura.
“Tadi kita sampai tentang para pemberontak tuan Hanura,” Ucap Raiden.
“Oh ya, mengenai para pemberontak aku serahkan semua masalahnya padamu Raiden!”
“Di mengerti tuan Hanura.”
Di tengah pembicaraan itu tiba-tiba datang kesatria sihir rangking B (bagian informasi), yang menginformasikan bahwa para pemberontak saat ini sedang mengacau di desa Sumo.
"Lapor tuan! Para pemberontak terlihat mengacau di desa Sumo" ucap kesatria sihir rangking B sambil menundukkan kepalanya menaruh hormat.
“Kerahkan dua kesatria sihir rangking B untuk menuju ke sana dan jangan lupa bahwa keselamatan adalah nomor satu," Ucap komandan Hanura dengan tegas.
"Baik tuan perintah anda akan segera di laksanakan”
Komandan Hanura kalu kemudian menanyakan tentang kasus kemunculan iblis bernomor beberapa hari yang lalu kepada Raiden.
“Bagaimana dengan kemunculan iblis bernomor beberapa hari yang lalu Raiden, apakah sudah berhasil di tangani dengan benar,” ucap komandan Hanura dengan serius.
“Iblis bernomor itu sudah berhasil dikalahkan tuan, aku sendiri yang langsung turun tangan menghadapinya.”
“Baguslah kalau begitu Raiden, kita harus terus memantau pergerakan para iblis bernomor supaya tidak terlalu banyak membuat kerusakan dan menimbulkan korban jiwa,” ucap komandan Hanura.
Cerita kemudian berpindah ke desa Sumo, di sana kita di perlihatkan para pemberontak yang sedang menyiksa para penduduk desa dengan kejam. Mereka tidak segan membunuh siapa pun yang mencoba melawan.
"Tolong ampuni kami tuan, tolong jangan bawa putri kami dia putri kami satu satunya" ucap salah satu warga sambil memohon agar anak perempuannya tidak di bawah.
“Dia sangat cantik bos, sayang kalau kita langsung menjualnya ke dunia bawah,” ucap salah satu pemberontak dengan tawa sombong tampak begitu jelas.
“Kau benar! Cepat ikat dia dan beri pelayanan khusus padanya, kita akan menikmati tubuhnya selepas pergi dari tempat ini,” Ucap bos pemberontak sambil memegangi dagu sang gadis cantik tersebut.
Ayah dari gadis cantik tersebut sekali lagi memohon ampun agar anak semata wayangnya segerah dilepaskan, dia bersujud meminta welas asih kepada para pemberontak namun itu tetap sama saja. Para pemberontak itu tetap tidak mau melepaskan anaknya.
"Doooooooor," suara senapan terdengar keras menembus kepala warga yang barusan.
Sontak hal itu membuat para warga yang melihatnya sangat amat ketakutan, mereka hanya bisa terdiam tanpa mencoba melakukan perlawanan.
"Kenapa kau menembaknya? Bukankah dia tidak melakukan tindakan ancaman?" ucap kepala desa sambil menahan rasa sedih bercampur takut.
"Dia barusan menyentuh kakiku, bagiku itu merupakan tindakan perlawanan, Jadi aku menembaknya," ucap bos pemberontak dengan tertawa puas.
Pak kepala desa tidak bisa berbuat apa-apa dalam kasus ini, mereka hanya bisa menunggu sampai para kesatria sihir datang menyelamatkan mereka semua.
Pemimpin pemberontak itu bernama Gedo, dia merupakan pimpinan pemberontak yang suka menculik para gadis-gadis perawan untuk di jual belikan di dunia bawah.
Nama. : Gedo.
Anugrah. : Bakat Tanah Status 3.
Informasi. : Pemberontak Organisasi VANE .
Nilai Buronan. : 3 juta rupiah.
"Cepat serahkan gadis-gadis di desa ini yang masih tersisa atau kami akan membunuh kalian semua, aku kasi waktu lima menit," teriak Gedo duduk dengan santai di atas tumpukan mayat yang ia bunuh sebelumnya.
Gedo mengintimidasi para penduduk dan tak segan-segan membunuh siapa pun yang mencoba melawan. Ia sama sekali tidak memiliki rasa welas asih.
"Sudah tidak ada lagi gadis di desa ini!" jawab kepala desa.
"Doooooooooor." terdengar suara tembakan lagi, salah satu warga pun meninggal.
"Apa yang kau lakukaaaaaaan? Sudah hentikan jangan menambah korban lebih banyak lagi aku mohon," ucap kepala desa sambil mengumpat rasa sedih dan marahnya.
Mereka para pemberontak itu menembak setiap warga tiap menitnya, jika masih belum ada yang memberi tahu lokasi di mana gadis-gadis di sembunyikan.
"Doooooooooor."
"Doooooooooor."
Terdengar tembakan yang sangat nyaring, empat orang sudah menjadi korban, tersisa satu menit lagi dan jika masih belum ada yang memberi tahu di mana mereka menyembunyikan para gadis.
Maka para pemberontak itu tak segan-segan akan menghabisi semua penduduk desa tanpa menyisakan satu pun, sungguh sangat amat kejam dan tidak manusiawi.
Para penduduk desa sudah tidak bisa menyelamatkan diri, beberapa menit lagi mereka semua akan segera mati, tatapan kosong terpampang jelas dalam mata mereka.
"Tersisa satu menit, kalian semua akan mati! Hahahahahaah," ucap Gedo sambil menodongkan pistolnya ke arah pak kepala desa.
"Tolong ampuni kami, aku berani bersumpah jika sudah tidak ada gadis lagi di desa ini," ucap kepala desa memohon ampun menangis sujud di kaki Gedo.
Melihat pak kepala desa yang memohon ampun dengan cara menyedihkan seperti ini, membuktikan bahwa betapa cintanya ia kepada para penduduknya, Gedo akhirnya berubah pikiran untuk tidak membunuh semua penduduk desa.
"Kalian semua jangan bunuh para penduduk! Kita harus cepat pergi sebelum para kesatria sihir datang," ucap Gedo.
“Baik bos dimengerti, semuanya cepat bawah para gadis-gadis itu masuk ke dalam kereta kuda” jawab tangan kanan Gedo pada para bawahan yang lain.
“Kita tidak membunuh para penduduk desa, tapi kita akan membakar mereka semua beserta desa-desanya! Hehahaaha,” ucap Gedo memerintahkan pada semua pasukannya untuk membakar desa bersama para penduduk di dalamnya.
Dengan cepat para pemberontak itu melumpuhkan semua penduduk dan membakar desa beserta para penduduk di dalamnya, sesa'at para pemberontak itu akan menyalakan api.
"Jleeeeeeeeeeeeb,"
Dari kejauhan tombak petir tiba-tiba menembus badan salah satu pemberontak, hal itu membuat para pemberontak yang lain langsung lari dan bersembunyi.
"Apaaaaaaa!! Siapa yang berani menyerang kita?" teriak Gedo sambil kebingungan menoleh ke kanan dan ke kirinya.
Kesatria sihir akhirnya datang, mereka terdiri dari sembilan kesatria sihir rangking C dan dua kesatria sihir rangking B, setitik harapan dari para penduduk kembali berkobar.
"Para kesatria sihir telah dataaaaaaaaaang!! kita akan selamat," teriak salah satu warga dengan keras.
“Kesatria sihir telah datang.”
“Hajar para pemberontak itu.”
Kedatangan para kesatria sihir seketika membuat para warga sangat bergembira dan antusias menyambutnya, mereka akhirnya bisa selamat dari kekejaman para pemberontak itu.
“Dia adalah Hajime dan Roman, mereka berdua merupakan kesatria sihir rangking B yang terkenal, apa yang akan kita lakukan,” ucap salah satu pemberontak.
"Sial, kenapa mereka berdua bisa berada di sini? Ini akan menjadi lebih rumit dari apa yang aku bayangkan," ucap Gedo dengan sedikit panik tampak di wajahnya.
"Kita harus cepat melarikan diri bos, kita tidak bisa mengalahkan mereka berdua, mereka adalah salah satu dari sepuluh Top Tier rangking B.”
Para pemberontak itu mencoba melarikan diri, namun tombak-tombak petir menghujam mereka semua sampai membuat mereka kewalahan.
"Ahhhh tidaaaaaaak! Aku terkena serangan jangan tinggalkan aku" teriak salah satu pemberontak yang terkena serangan tombak petir.
"Tombak petir ini sangat merepotkan! Kita tidak bisa terus terusan lari seperti ini, kalian semua serang dia!" teriak Gedo memerintahkan para bawahannya.
Pertarungan antara pemberontak dan kesatria sihir sudah tidak bisa di hindari, jual beli serangan antara kedua bela pihak tampak sangat amat begitu sengit.
Para kesatria sihir rank C berhadapan dengan bawahan Gedo, pertarungan mereka bisa di bilang cukup seimbang namun para kesatria sihir rank C sedikit unggul.
"Apa kau ingin melawannya?" ucap Roman kepada Hajime sambil memandangi Gedo yang tampak bersiap-siap memulai serangan.
"Ya tolong jangan ganggu pertarungan ku! Aku tidak mau jika pertarunganku di ganggu!" jawab Hajime dengan nada dingin.
"Hahahahahaha, baiklah terserah apa katamu tapi ingat jangan terlalu lama, kau tahu sendiri kan kalau aku tidak suka menunggu," ucap Roman sambil mencari tempat duduk yang pas untuk menonton pertarungan tersebut.
Pertarungan antara Gedo melawan Hajime pun di mulai, Gedo memulai serangan terlebih dahulu menggunakan bakat miliknya, ia tidak membiarkan Hajime bergerak leluasa.
"Bakat tanah, tusukan kematian, matilah kau kesatria sihir!" teriak Gedo dengan tertawa puas.
Serangan itu membuat tanah di sekitarnya tiba tiba mengeluarkan batu-batu runcing mengarah ke atas, Gedo yakin bahwa tidak ada yang bisa menghindari serangannya itu.
Tombak tombak tanah itu sangat amat tajam, jika saja ada yang terkena serangan tombak itu maka dapat dipastikan bahwasanya korbannya pasti akan langsung mati.
"Bakat petir, perisai petir status 2" ucap Hajime, (Ini adalah perisai petir yang bahkan mampu menggagalkan serangan iblis tingkat satu)
Dan benar saja, perisai itu berhasil menggagalkan serangan Gedo yang membuat Gedo terpental, karena serangannya berbalik menyerang dirinya.
"Kurang ajaaaaar!!! Matilah kau kesatria sihir sialan, bakat tanah tusukan kematian status 3."
Batu-batu runcing dengan skala yang lebih besar dari yang tadi mulai muncul dari permukaan tanah dan langsung menusuk Hajime.
Tinggal beberapa centimeter saja serangan itu mengenai Hajime, namun tiba tiba serangan itu terhenti pas di depan matanya.
"Bakat petir status 4! Tombak petir berhasil mengenai target" Ucap Hajime menatap mata Gedo.
Gedo merasa kebingungan mengapa serangannya terhenti, lantas Hajime meminta Gedo untuk melihat kondisi tubuhnya, tanpa di sadari tombak petir Hajime telah menancap di dada Gedo.
"Tidak mungkin!!! Sejak kapan kau melakukannya? Sialan kau kurang ajar." panik Gedo sambil tampan darah keluar dari mulutnya.
"Tepat setelah kau mengeluarkan jurus keduamu, seranganku sangat halus bahkan musuh tidak merasa bawah dirinya sudah terkena serangan," jawab Hajime.
Serangan itu membuat Gedo akhirnya berhasil di kalahkan, hal tersebut sontak membuat para penduduk desa sangat bergembira melihatnya.
Semua pemberontak itu lalu di tangkap dan akan segera di adili di biro pengadilan sihir Kerajaan Nusantara, kemudian menentukan hukuman apa yang pantas mereka dapatkan atas kejahatan yang telah mereka buat.
"Apakah adah yang terluka?" ucap Hajime pada para kesatria sihir yang lain.
"Tidak ada kapten"
"Baiklah syukurlah kalau begitu, para medis segera obati semua penduduk." Hajime menyuruh para medis segerah mengobati penduduk yang terluka.
"Baik di mengerti kapten." dengan cepat para medis langsung mengobati para warga desa yang terluka.
CERITA KEMBALI KE ENZO
Kita di perlihatkan kaiju yang sedang menunggu Enzo di depan toilet umum, tampaknya terjadi sedikit masalah antara mereka berdua.
"Sudah berapa kali kau buang air besar Bos, aku sudah bosan menunggumu bolak balik ke tempat ini" Ucap Kaiju sedikit kesal.
"Itu karena kau bodoooooh, akibat ulah mu yang meminta beli sate buaya, aku harus berkali kali ke toilet sialan,” jawab Enzo sambil menahan sakit perutnya di dalam toilet umum.
"Maaf bos, habisnya sate itu keliatan enak tapi mengapa aku tidak sakit perut juga sepertimu ya?" ucap Kaiju sambil terlihat memikirkan sesuatu.
"Itu karena kau iblisssssss" jawab Enzo di barengi suara kentutnya yang keluar.
“Baiklah boos, maafkan aku”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
anggita
Hanura the Lion..
2022-07-31
0