Pencarian yang memakan waktu lama itu akhirnya menemukan sedikit titik terang, terdapat dinding tidak terlihat tertutup semak-semak dan bersinar agak terang ketika terkena paparan cahaya bulan.
Enzo sangat yakin bahwa suara-suara mengerikan yang selama ini meneror para warga pasti berasal dari dinding tidak terlihat ini, lantas hal itu semakin membuat Enzo penasaran akan mengenai kebenarannya.
“Aku berani bertaruh! Suara-suara monster mengerikan itu pasti berasal dari dalam dinding tidak terlihat ini,” ucap Enzo penuh keyakinan sembari menganalisa mencari sesuatu yang barangkali terhubung satu sama lain.
“Kau benar bos! Aku juga berpikir seperti itu, sepertinya telah terjadi pertarungan di tempat ini dan kemungkinan sang iblis telah di masukkan ke dalam Teknik penyegel Judo 99!”
“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan dinding tidak terlihat ini Kaiju! Apa kau tahu bagaimana cara membukanya?” tanya Enzo sembari menggaruk kepalnya.
“Aku juga tidak mengetahuinya bos, tapi aku yakin pasti ada cara untuk membukanya!” Kaiju menatap dinding tidak terlihat itu dengan tatapan tajam.
Mereka berdua terus-menerus mencari cara membuka dan menggali informasi sebanyak-banyaknya mengenai dinding tidak terlihat ini, ketika Enzo dan Kaiju sedang fokus memecahkan misteri itu tiba-tiba ada anak perempuan bermain main di sekitar mereka.
“Hai kau! Apa yang sedang di lakukan Anak kecil sepertimu malam-malam di tempat berbahaya ini?” teriak Enzo sembari mendekati sang anak perempuan tersebut.
Anak kecil itu tidak mendengarkan teriakan Enzo dan malah lari pergi menjauh, lantas hal itu membuat Enzo semakin penasaran dan khawatir akan keselamatan anak tersebut, mengingat di hutan ini pasti ada iblis yang tak segan-segan membunuh dan memakan manusia.
“Tunggu! Mau ke mana kau anak kecil! Tempat ini sangat berbahaya, banyak iblis – iblis jahat berkeliaran di tempat ini, kembalilah wooy!” Teriak Enzo berkali-kali memanggilnya dengan suara yang lantang.
“Woooy mau ke mana kau bos! Jangan tinggalkan aku!” teriak Kaiju mendapati Enzo yang tiba-tiba berlari tanpa sebab.
“Tunggu sebentar Kaiju! Aku akan segerah kembali,” jawab Enzo sambil lari mengejar anak perempuan yang ia lihat barusan.
Bagaimanapun Enzo telah memperingatkan, bocah perempuan itu tetap sama sekali tidak berhenti dan terus-menerus berlari masuk jauh ke dalam hutan.
“Cih! Bocah yang aneh, bagaimanapun aku tidak bisa membiarkan bocah itu mati sia-sia, aku harus segerah menghentikannya!” batin Enzo sembari menyingkirkan ranting-ranting pohon yang menghalangi laju jalannya.
Enzo berlari dan terus berlari mengejar bocah perempuan itu, tak peduli meskipun di depannya terdapat ranting-ranting pohon tajam yang selalu siap menusuk badannya kapan pun.
Pengejaran terpaksa Enzo hentikan sejenak tatkala Enzo kehilangan jejak sang bocah misterius itu, “Cepat sekali larinya anak itu! Semoga tidak ada iblis yang menyerangnya!” Enzo bersender di bawah pohon besar mengatur nafasnya yang tidak stabil.
Bunyi napas dan detak jantung Enzo terdengar cukup nyaring ke telinga, tidak ada waktu untuk beristirahat Enzo harus segerah menemukan bocah perempuan itu secepatnya sebelum hal-hal yang buruk terjadi.
Semakin dalam Enzo masuk ke dalam hutan semakin petang keadaan di sana, sinar cahaya bulan tidak bisa masuk dikarenakan terhalang oleh lebatnya daun-daun pepohonan besar hutan Hura.
Sepanjang mata memandang, Enzo hanya melihat kegelapan dan suara-suara hewan hutan di antaranya jangkrik dan burung hantu, suara terdengar tampak menyeramkan namun Enzo sama sekali tidak menghiraukannya.
“Sial! Aku sama sekali tidak bisa melihat, pohon-pohon besar ini tampaknya menghalangi cahaya bulan yang masuk!” ucap Enzo berjalan perlahan lahan sambil merambah - rambah sekitarnya agar tidak menabrak sesuatu.
Alih-alih menyelamatkan sang bocah perempuan, Enzo sendiri malah tersesat dan tidak bisa keluar dari tempat ini dikarenakan tempat ini sama sekali tidak ada cahaya alias gelap gulita.
“Bagaimana ini! Apa yang harus aku lakukan selanjutnya! Aku sama sekali tidak bisa melihat jalan!”
Di tengah kegelapan yang menyelimuti, tampak terlihat setitik cahaya biru menyalah terang, perlahan Enzo menghampiri cahaya itu yang ternyata merupakan seekor kupu-kupu biru penghuni hutan Hura.
Sayap kupu-kupu itu menyalah terang berkedip-kedip bagaikan seperti cahaya bintang, perlahan demi perlahan kupu-kupu itu juga terbang mendekati Enzo.
“Ha dia menuju kemari? Syukurlah kalau begitu, dengan begini kupu-kupu itu bisa membantuku menerangi jalan”
Kupu-kupu itu seakan seperti memerintahkan Enzo untuk mengikutinya, Enzo yang menyadari hal tersebut dengan cepat kemudian mengikuti arah kupu-kupu itu terbang.
“Sepertinya dia ingin menunjukkan sesuatu padaku! Baiklah mohon bantuannya ya kupu-kupu! Gara-gara mengejar bocah itu aku jadi tersesat sialan!” ucap Enzo sembari berjalan mengikuti cahaya kupu-kupu yang entah akan membawanya ke mana.
Setelah cukup lama berjalan, kemilau cahaya biru kupu-kupu menghilang dengan sendirinya sehingga membuat Enzo dibuat terkejut akan hal itu, “Apa yang telah terjadi, mengapa cahayanya tiba-tiba menghilang.”
“Sialan sepertinya aku harus berjalan menyusuri kegelapan hutan ini sendirian lagi! Tapi ya sudahlah itu tidak terlalu penting, ngomong-ngomong bocah misterius tadi siapa ya, kok aku jadi penasaran?”
Tanpa pikir panjang Enzo kemudian bergegas berjalan kembali, meskipun tidak ada cahaya alias gelap gulita, nyatanya Enzo tidak terlalu memikirkan hal itu dan lebih memilih untuk terus berjalan menyusuri gelapnya hutan Hura.
Beberapa langkah setelah Enzo berpijak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba Enzo jatuh masuk ke dalam jurang, Enzo terbentur berbatuan, terpental ke sana kemari sampai akhirnya ia mendarat di atas batu besar dengan suara cukup nyaring.
“Tulang punggungku sepertinya agak sedikit bergeser.”
“Kepalaku sakit sekali haduuuh.”
“Sialaaaaaaaaaaaan aku tidak tahu jika ada jurang di depanku! Dan mengapa hanya ada kegelapan sepanjang pandanganku,” teriak Enzo dengan kesalnya meskipun tadi dia sudah menahan untuk tidak mengelu akan hal itu.
Di tengah kekesalan itu tiba-tiba ada batu dari atas jurang yang jatuh menimpa kepalanya dengan sangat keras, hal itu semakin membuat Enzo emosi.
“Batu kurang ajaaaaaaaaaaaar! Aku tidak akan memaafkanmu.”
Enzo kemudian melanjutkan langkanya kembali, ia berjalan sambil memegangi punggungnya yang kesakitan. Enzo sangat muak dengan semua kesialan yang menimpa dirinya malam ini.
Setelah cukup lama berjalan, Enzo melihat kilauan cahaya terang benderang dari arah barat, dengan cepat Enzo menghampiri cahaya itu.Setelah sampai alangkah terkejutnya Enzo mendapati bahwa di depannya terdapat desa yang bisa di bilang cukup ramai
“Ha, ternyata ada desa di tengah hutan? Aku sama sekali tidak mengetahuinya,” kejut Enzo sambil memasuki desa itu secara perlahan lahan.
Desa itu sangat ramai meskipun saat ini waktu menunjukkan tengah malam, apakah warga desa ini tidak ada yang tidur. Terlihat obor - obor menyala terang di setiap sudut-sudut rumah yang sekali lagi membuat suasana desa sangat mencolok.
Sekali lagi Enzo tidak menyangka bahwa di tengah hutan gelap gulita seperti ini masih terdapat pemukiman desa seramai ini, namun Enzo tidak mempermasalahkan hal itu karena bagi Enzo itu kehendak mereka.
Para warga terlihat sangat bergembira dan bersemangat meskipun waktu menunjukkan pukul tengah malam, senda gurau dari para masyarakat tampak terlihat jelas dari wajah - wajah mereka.
Panorama indah desa itu seakan menghipnotis Enzo, Enzo terpanah melihat keramaian yang di sajikan para penduduk desa, ia berjalan perlahan sambil melihat kanan kirinya.
“Silakan Nak dilihat dulu,”
“Mari – mari coba lihat dulu barangkali buah segar ini cocok untuk Anda,”
“Ini adalah padi kualitas terbaik”
“Kacangnya silakan dilihat lihat dulu”
Para pedagang menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang melintas, Enzo hanya mengangguk senyum kepada para penjual yang menawarkan dagangan padanya.
Di tengah keramaian itu tiba-tiba bocah perempuan misterius itu muncul lagi, tanpa pikir panjang Enzo langsung meneriakinya, “Hai bocah tunggu, akhirnya aku menemukanmu,”
Mengetahui hal tersebut, bocah misterius itu langsung lari dengan cepat dan lincah melewati keramaian para masyarakat yang lalu lalang.
“Hai tunggu anak kecil aku tidak berniat jahat, cih dia kabur lagi,”
Semakin dibuat penasaran Enzo dengan cepat langsung mengejarnya kembali, Enzo berlari menabrak para masyarakat sehingga menimbulkan sedikit masalah di tempat tersebut .
“Maaf aku tidak sengaja, aku harus segerah cepat menemukan bocah itu” ucap Enzo kepada beberapa masyarakat yang ia tabrak.
Setelah cukup lama Enzo mengejar, anak itu kemudian lari masuk ke dalam rumah, Enzo pun tidak lagi bisa mengejar anak perempuan itu takutnya nanti ia malah di kira penjahat karna masuk rumah warga sembarangan.
“Cih dia masuk ke dalam rumah, jika begini aku tidak bisa mengejarnya”
Sesaat akan pergi tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara yang memanggilnya untuk masuk, suara itu semakin terdengar jelas sehingga membuat Enzo akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam rumah tersebut.
“Wahai anak muda, perkenalkan aku adalah kepala desa di tempat ini,” ucap paman kepala desa sambil menyuruh pembantunya menyiapkan teh hangat.
Rumah itu ternyata adalah rumah kepala desa setempat, Pak kepala desa menanyakan apa maksud dan tujuan Enzo datang ke tempat ini. “Ada gerangan apa sampai Anda datang ke tempat ini” ucap kepala desa dengan ramah lembut.
Saat ini bocah perempuan misterius itu sedang di belakang pak kepala desa takut bertemu dengan Enzo karena mengiranya dia merupakan seorang penculik.
Sebelum menjelaskan alasan yang sebenarnya ia datang ke tempat ini, Enzo terlebih dahulu memperkenalkan dirinya pada pak kepala desa.
Enzo lalu menjelaskan semuanya secara terperinci kepada pak kepala desa alasan hingga ia bisa sampai di tempat ini, pak kepala desa yang mendengarnya cukup puas mendengar hal tersebut.
“Oh jadi seperti itu kejadiannya ya nak Enzo, bocah perempuan ini memang selalu pergi ke hutan dengan harapan bertemu dengan kedua orang tuanya, Terima kasi sebelumnya nak Enzo telah menghawatirkan keselamatan anak ini,” ucap kepala desa sambil memberikan teh hangat dan makanan ringan.
“Silakan dimakan dulu, dan istirahat lah sejenak di tempat ini” ucap Kepala desa.
“Baik terima kasih atas jamuannya”
Pak kepala desa kemudian memberi tahu bahwa anak kecil yang Enzo kejar sebelumnya itu bernama Erika dan dia merupakan anak yatim piatu. Ayah dan ibunya telah meninggal di makan oleh iblis leluhur dan sekarang ia tinggal bersama kepala desa.
“Oh, jadi bocah misterius itu bernama Erika” jawab Enzo dengan perlahan.
Erika yang dulu selalu bergembira kini menjadi anak yang pemurung dan suka menyendiri bahkan sering masuk ke dalam hutan sendirian, meskipun sudah di ingatkan akan bahayanya pergi sendirian di dalam hutan sebab banyak iblis - iblis jahat di dalam hutan, namun Erika masih tetap saja tidak menghiraukan hal tersebut.
“Jadi itu alasan ia pergi ke hutan sendirian, maaf ya Erika karena aku telah mengejarmu dan membuatmu ketakutan,” ucap Enzo sembari jongkok dan mengelus rambut Erika.
“Tidak apa-apa Erika juga mengira Kaka Enzo adalah orang jahat,” jawab Erika dengan malu-malu tampak di keningnya.
“Ha, apakah wajah gagah ini tampak terlihat seperti penjahat?” gurau Enzo kepada Erika yang membuatnya sedikit tersenyum.
Enzo lalu menanyakan kepada pak kepala desa mengenai aktivitas para masyarakat yang menyalakan obor – obor terang di setiap sudut rumah mereka, dan tetap beraktivitas lebih padahal ini sudah larut malam.
Alasan para warga menyalahkan obor di setiap sudut-sudut rumah dan tetap berjaga meskipun sudah larut malam, ialah untuk melindungi diri dari serangan iblis leluhur yang sering menebar teror dan kerusakan.
“Iblis leluhur? Apa maksudnya pak kepala desa,” tanya Enzo dengan rasa ingin tahunya.
Hal itu para penduduk desa lakukan karena para kesatria sihir yang katanya penegak kejahatan sejati, tidak pernah kunjung datang hingga sampai saat ini. Alhasil para penduduklah yang harus bertahan dan berjuang melawan kebrutalan iblis leluhur dengan mengandalkan kekuatan apa adanya.
Iblis leluhur adalah iblis yang jahat dan kejam, iblis itu terus menerus membuat kerusakan dan memakan banyak korban jiwa, di antara korban - korban itu salah satunya ialah kedua orang tua Erika.
Para penduduk desa sebelumnya sudah sempat memberikan perlawanan, namun apa daya iblis leluhur itu di luar kemampuan mereka semua. Iblis leluhur berada di ranah tingkat yang berbeda dengan iblis - iblis pada umumnya.
“Oh jadi itu alasan para warga menyalakan obor di setiap sudut-sudut rumah mereka, supaya jikalau ada iblis leluhur yang muncul maka dengan mudah mereka menginfokan kepada yang lain,” ucap Enzo.
“Ya, setidaknya itulah satu-satunya cara untuk mengantisipasi serangan dari iblis leluhur,” jawab pak kepala desa.
Selang beberapa waktu kemudian terdengar teriakan keras dari salah satu penjaga yang mengatakan bawa iblis leluhur telah datang dari arah selatan.
Sontak hal itu membuat para warga pada lari berhamburan menyelamatkan diri, kondisi yang tadinya sangat amat ramai kini berbalik sembilan puluh derajat.
“Dia dataaaaaaaaaaaaaanng..!!! Semuanya bersiaplah.”
“Dari arah selatan, cepat para penjaga segerah menuju ke sana.”
Suasana yang tadinya ramai dan tenteram sekarang menjadi tegang mencekam, Enzo dan pak kepala desa lalu menuju ke arah sumber masalah itu.
“Jadi iblis itu telah datang, baiklah,” kejut Enzo sambil bersiap - siap menuju ke sana bersama kepala desa dan yang lainnya.
“Erika cepat lari ke tempat evakuasi bersama yang lainnya,” ucap pak kepala desa.
Terlihat setiap penjaga membawa obor masing-masing dan bergegas menuju ke titik di mana iblis itu muncul, mereka semua menari dan terus menari diiringi kobaran obor - obor di tangan mereka.
Bukannya melakukan perlawanan kepada sang monster para penduduk desa malah menari-nari dengan membawa obor - obor yang menyalah terang.
“Apa yang sedang penduduk desa itu lakukan, apakah ini yang tadi di maksud pak kepala desa,” gumam Enzo dalam hatinya karna merasa cukup aneh melihat kejadian ini.
Dan benar saja tak lama kemudian iblis leluhur itu akhirnya muncul dari balik pepohonan yang lebat, iblis itu sangat besar serta memiliki taring tajam yang panjangnya hampir 2 meter.
Matanya menyalah terang seakan hawa membunuh yang begitu tinggi, bulu - bulu lebat hitam yang menyelimuti iblis itu membuatnya terlihat begitu menyeramkan.
“Grhahahahahahahah.”
“Grhahahahahahahah.”
Iblis leluhur mengaum dengan sangat keras disertai tumbuhnya yang bergoyang-goyang seperti menikmati tarian obor para penduduk.
“Jadi ini perwujudan dari iblis leluhur itu, sungguh sangat amat mengerikan!” ucap Enzo dengan keluar keringat dingin yang tampak jelas karna merasakan kutukan yang busuk terpancar dari sang iblis..
Melihat penduduk desa yang menari - menari sambil membawa obor, iblis leluhur itu meloncat loncat dan mengaung dengan sangat keras seakan akan ia menikmatinya.
“Grhahahahahahahah.”
“Grhahahahahahahah.”
“Grhahahahahahahah.”
Setelah cukup lama iblis leluhur kemudian masuk kembali ke dalam gelapnya hutan, para warga kemudian kembali lagi ke tempat masing-masing dan bersiap kembali apabila iblis leluhur muncul lagi.
Enzo di buat terheran akan ini semua, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa iblis itu masuk lagi ke hutan dan apakah suara Aungan misterius selama ini berasal dari tempat ini.
Selepas peristiwa itu Enzo menanyakan pada kepala desa mengenai peristiwa yang terjadi barusan. Pak kepala desa menjelaskan bahwa itu merupakan satu satunya cara untuk mengusir iblis leluhur yang ia sebutkan tadi.
Para warga hanya bisa melakukan cara itu sebab terbatasnya kekuatan yang mereka miliki jika melawan sang iblis dengan kekuatan langsung, upaya bertahan seperti tadi adalah jalan satu-satunya yang bisa mereka lakukan untuk melawan iblis leluhur.
“Setiap hari para penduduk desa harus berjaga agar iblis leluhur tidak menyerang desa, itulah salah satu alasan yang aku sebutkan tadi nak Enzo , mengapa desa kami selalu ramai meskipun waktu sudah menunjukkan tengah malam,” ucap kepala desa.
Enzo yang merasa kasihan terhadap penduduk desa terutama pada Erika memutuskan untuk membantu dan mengalahkan sang iblis leluhur.
Meskipun ia tahu bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengalahkan sang iblis itu seorang diri mengingat kutukan yang iblis pancarkan tadi sangat amat besar, jadi ia meminta bantuan pada para warga untuk membantunya.
Berbekal tekad dan komitmen tinggi yang ia miliki, Enzo percaya bahwa ia pasti bisa mengalahkan iblis leluhur tak peduli cara apa yang ia gunakan. Pak kepala desa lalu mengumpulkan seluruh warga desa yang bersedia membantu Enzo mengalahkan iblis leluhur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
anggita
Enzo~ hutan hura.
2022-07-31
0