Graciella melihat Juan sudah duduk di salah satu kursi di dalam kafe. Keringat dingin pun bercucuran di wajahnya.
Kenapa harus di kafe? Kenapa tidak di tempat lain saja?
Itulah yang terpikir di dalam benaknya gadis itu. Apakah jantungnya akan aman di dalam sana?
Pembahasan mengenai naskahnya pasti akan memakan waktu yang panjang.
Apakah jantungnya aman jika berlama-lama di dekat Juan?
Aneh rasanya jika jantungnya terus berdebar-debar saat di dekat Juan.
Graciella
Mas Juan.
Juan Aidan
Akhirnya dateng juga kamu.
Graciella
Hehe, iya, Mas.
Graciella
Maaf lama, soalnya tadi ada kepentingan lain.
Juan Aidan
Oke.
Juan Aidan
Kamu geser bangkunya ke samping saya.
Graciella mengangkat kedua alisnya.
Graciella
Hah?
Juan Aidan
Geser ke sini bangkunya, Grace. Kita mau bahas naskah kamu.
Juan Aidan
Otomatis, kamu harus liat langsung naskah kamu di laptop saya.
Graciella
Oh, gitu, ya, Mas. Oke, deh.
Graciella berdiri, kemudian menggeser bangkunya ke samping Juan.
Ketika dia hendak duduk kembali, tiba-tiba dia tersandung oleh tali sepatunya yang menjuntai.
Dia hampir jatuh, jika dia tidak berpegangan pada kedua bahu Juan.
Di sinilah tatapan mereka bertemu secara dekat.
Beberapa detik kemudian, Graciella menjauhkan diri dari Juan.
Sementara Juan mengalihkan atensinya sejenak.
Graciella
Maaf, Mas.
Graciella
Tapi sepatu saya kelepas soalnya.
Juan Aidan
Saya bantu iketin, ya.
Graciella
Nggak usah, Mas. Saya bisa sen—
Juan Aidan
Gapapa, saya iketin, ya.
Juan Aidan
Harusnya jangan sampe kelepas gini tali sepatunya. Nanti kalo kamu jatoh lagi, gimana?
Graciella
Tadi di rumah udah saya iket tali sepatunya, Mas. Tapi kelepas lagi, hehe.
Juan Aidan
Oh, oke. Sekarang kita mulai bahas naskah kamu.
Atensi keduanya mulai fokus ke layar laptop Juan.
Juan Aidan
Narasi yang ini menurut saya agak aneh, Grace.
Juan Aidan
Kata sambung -nya, terlalu banyak. Jadi aneh.
Juan Aidan
Nanti coba kamu utak-atik lagi, ya. Saya tandai dulu agar kamu bisa mudah menemukan catatan suntingan dari saya.
Graciella
O—oke, Mas.
Juan Aidan
Nah, terus yang ini.
Juan Aidan
Menurut saya, scene ini nggak perlu kamu cantumin kilas baliknya, karena sudah diceritakan tokoh Sadira di dalam dialognya.
Graciella
Iya, Mas. Nanti saya edit.
Jantung Graciella mau copot rasanya.
Dia rasa, Juan lebih tampan dari mantannya.
Diam-diam, dia kagum akan parasnya Juan (lagi).
Juan Aidan
Oh, ya, masukan dari saya, ketika nanti naskah yang sudah ada saran suntingan dari saya diberikan ke kamu, saya harap kamu dapat merevisi tanda baca dan dialog tag.
Juan Aidan
Sejauh ini, naskahnya memang perfect. Tetapi, naskah kamu akan lebih bagus apabila terdapat variasi dalam penggunaan dialog tag.
Graciella
Oke, Mas, siap.
Graciella
Nanti saya cari variasi dialog tag.
Juan Aidan
Good.
Juan Aidan
Oh, ya, kamu mau mesen apa?
Juan Aidan
Saya yang bayar.
Graciella
Nggak usah, Mas.
Graciella
Saya nggak mau pesen apa-apa.
Juan Aidan
Yakin? Muka kamu keringetan gitu. Pasti kepanasan pas ke sini, kan?
Juan Aidan
Saya pesenin kamu—
Graciella
Maaf, Mas, nggak usah.
Juan Aidan
Grace.
Graciella
A—apa, Mas?
Semakin lama Grace seperti menjadi orang yang patah lidahnya
Juan Aidan
Saya pesenin, ya.
Juan Aidan
Kamu gengsi kalo saya pesenin?
Juan Aidan
Saya editor kamu, loh. Nggak perlu sungkan atau gengsi, Grace.
Graciella
Bu—bukan gitu, Mas.
Graciella
Saya....
Juan Aidan
Saya pesen dulu, ya.
Graciella manggut-manggut. Dia menghela napasnya pasrah.
Asumsinya, Juan adalah pria yang keras kepala, terbukti dari ucapan memaksanya.
Atau... semua itu hanyalah pikiran negatifnya tentang Juan?
Comments
Nur fathin
yok semangat terus🤗
2022-03-03
2