🌻H 4 P P Y R 3 A D I N G 🌻
•
•
•
✨🌹💞🌹✨
"Ada apa dengan mereka kenapa menatap ku seolah mengejek?" Batin Aqila bertanya bingung.
Aqila menelusuri setiap arah di mana semua karyawan masih setia memandang nya."Maaf mbak apa ada yang salah dengan penampilan saya?" Tanya Aqila binggung kenapa sejak keluar dari ruangan Pak Farel semua karyawan terus memandang aneh Aqila hingga ia sendiri tidak nyaman berada di situasi seperti ini.
"Apa kamu habis di marahi Pak Farel?" Balik tanya karyawan tersebut.
"Di marahi?" Ulang Aqila mengerut kening binggung maksud dari karyawan tersebut.
"Iya kamu di panggil Pak Farel pasti di marahi, tidak mungkin memuji karyawan lulusan SMA seperti kamu." Hina karyawan tersebut.
Aqila mendengar hinaan karyawan tersebut hanya diam, ia sadar semua yang mereka ucapkan benar adanya. Namun bukan berarti semua lulusan SMA itu bodoh.
Dari jauh Dewi dapat melihat Aqila di pojoki semua karyawan memandang rendah lulusan terakhir Aqila, Karena di perusahaan ini hanya Aqila seorang diri lulusan SMA yang lain Sarjana tanpa terkecuali.
"Apa-apaan ini! kita disini di gaji untuk bekerja bukan ngerumpi atau jatuhi sesama karyawan kayak gini." Kata Dewi menceramahi mereka." Dan kamu," Tunjuk Dewi pada karyawan yang tadi menghina Aqila."Kamu kira kamu sudah hebat di sini? apa kamu sudah jadi bos sampai harus merendahkan Aqila hanya karena dia lulusan SMA. Asal kalian tau kepintaran Aqila gak sebanding sama kamu yang Sarjana. Aqila diterima kerja dengan jabatan lebih tinggi dari kamu, Bukan berarti sudah jelas Aqila lebih pintar dari kamu." Balas Dewi penuh penegasan secara tidak langsung menghina balik Karyawan tersebut.
"Palingan Aqila ada main sama Pak Farel makangnya di Terima dengan jabatan tinggi." Ucap karyawan tersebut lagi.
Bukan nya bungkam karyawan tersebut semakin terprovokasi dengan pembelaan Dewi kepada Aqila.
"Ada main gimana maksud kamu hah? apa kamu pikir Aqila murahan kayak kamu tiap malam mencari kepuasan dengan banyak pria di luar sana." Skak Dewi membungkam mulut karyawan tersebut.
Karyawan tersebut diam berpikir dari mana Dewi tau semua ini, apa Dewi selalu memantau sehingga tau pergerakan begitu dalam yang dilakukan. Tubuh nya mendadak gemetar ketakutan banyak pasang mata berbalik menatap mendengar perkataan Dewi.
Keringat bercucuran keluar dari wajah Nya, bagaimana tidak? selama ini ia sudah bermain rapi semata-mata agar tidak ada yang tau.
"Kenapa diam? apa kamu malu? jika tidak ingin semua makin panjang dan kamu sendiri juga tambah malu, mending kamu pergi sekarang." Ancam Dewi penuh penekanan.
Mendengar ancaman Dewi karyawan tersebut langsung kabur melarikan diri mencari aman daripada dipermalukan lagi.
"Hufft di ancam baru kabur, dari tadi kemana Bu? apa harus di buka dulu kartu As nya." Ucap Dewi geleng-geleng kepala melihat karyawan tersebut seperti ketinggalan THR.
"Sudah Dewi, kamu gak seharusnya berkata seperti itu, wajar mereka berpikir seperti itu aku dan kalian berbeda, kalian Sarjana sedangkan aku tidak." Kata Aqila tidak enak membuat kacau karena keberadaan nya.
"Lupakan saja Qila gak usah di pikiran, dia pantas di perlakuan begitu suka seenak menghina dan merendahkan karyawan lain dengan mulut petasan nya itu. Aku dari dulu sudah pengen bungkam mulut sombong nya itu, tapi aku belum dapat waktu yang tepat dan sekarang inilah waktu yang bagus membuatnya diam selama nya." Balas Dewi senyum meriah, akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga, tidak perlu bersusah payah mencari masalah sekarang dialah yang datang mencari.
🌿🌺🌿
Mood Arka yang awal sudah kacau semakin kacau dengan amukan Mama Diana yang ngamuk sudah di bohongin Arka.
Yudha pasrah jika ujung nya juga kena semprot, belum juga mengeluarkan kata pembelaan Arka sudah duluan memaki nya."Dasar bego lho kenapa harus kasih tau Mama, kan jadi gini ujung nya. Kapan sih lho sehari melakukan sesuatu menggunakan otak, cape gue lihat kebodohan lho yang gak pintar-pintar." Maki Arka mengatai Yudha.
"Salah lho sendiri bro, kenapa gak kasih tau sedang membohongi Mama Diana. Lagian ini bukan salah gue sepenuh nya, tapi salah lho juga." Protes Yudha membela diri.
"Berani nyalahin gue?" Tantang Arka.
"Yah berani lah emang ini salah lho, kenapa jadi lempar ke gue yang salah." Balas Yudha
"Ohh gitu jadi lho sudah bosan kerja disini. Yah silakan siap kan surat pengunduran diri secara terhormat." Kata Arka mendadak membuat Yudha diam beribu bahasa.
Bagaimana bisa Yudha berani melawan kalau sudah mendengar kata pusaka keluar dari mulut Arka."Iya iya gue yang salah, lho selalu benar, mana ada sih seorang Arka Dirgantara berbuat salah atau mengaku salah. Semua yang dilakukan salah selalu benar jika di bantah kata pusaka akan keluar dari mulut indah nya." Balas Yudha menyindir Arka.
"Masih berani menyindir?" Tatap Arka dengan tatapan tajam seakan siap menelan hidup Yudha.
"Yaelah gitu aja ngerasa, kalau gak benar kenapa marah." Gumam yudha masih bisa di dengar Arka.
"Ooh jadi begitu." Kata Arka dengan nada lembut, perasaan Yudha sudah merasa hawa tidak baik.
Pletok..
Satu lembaran berkas telak di wajah Yudha. Pelaku santai memandang Yudha meringis kesakitan.
"Jahat lho bro kenapa gak kasih aba-aba kalau mau melempar?" Ujar Yudha.
"Kenapa harus di kasih aba-aba?" Tanya balik Arka membuat Yudha menggaruk kepala yang tidak gatal semua perkataan Arka ada benar nya, kenapa harus kasih tau.
"Sudah sana keluar siapkan mobil, gue mau balik gak mood lama-lama berada di sini!" Perintah Arka pada Yudha.
"Siap Pak Arka." Hormat Yudha becanda sebelum meninggalkan ruangan Arka.
"Hmmm." Balas Arka.
Setelah kepergian Yudha Arka kembali termenung mengingat adegan panas dengan Aqila. Hal itu membuat di bawah kembali merangsang."Hufft sialan kenapa hanya memikirkan saja milikku sudah begini. Apa yang terjadi dengan ku, jangan sampai aku menginginkan lagi." Gumam Arka memijat kepala yang pusing ketika kembali mengingat adegan panas bersama Aqila.
"Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh tergantung sama perempuan ular, bisa mulunjak jika dia tau ini." Ucap Arka memperingati diri sendiri.
"Pak Arka Dirgantara terhormat mobil sudah siap." Ucap Yudha mengangetkan Arka.
"Astaghfirullah, lho gak bisa yah masuk salam atau ketok dulu." Kaget Arka mengelus dada, jika ia memiliki penyakit sudah di pastikan akan kambuh saat ini.
"Salah lho sendiri ngapain melamun." Balas Yudha nyolot.
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ.......
✨_______________🌼🌼🌼_______________✨
🥀 Seseorang yang terlihat jelek diluar belum tentu terlihat jelek di dalam. Luar sampul boleh jelek belum tentu dalam juga jelek. Kadang seseorang menutupi diri dengan sampul dengan suatu tujuan.🥀~~~By: Aqila💞
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift🌹 and vote....
...Bantuan jempol mu membantu author untuk semangat menulis....
...Tambahin favorite biar gak ketinggalan up terbarunya.📝📢**...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 289 Episodes
Comments
Dwiarti Arbaningsih
biarin si arka kelimpungan sendiri dah sonoh
2023-10-13
1
Ika Istyo Rini
sabar ya Yudha nasib loe sama seperti Aqila bahkan lebih parah
2023-07-05
0
Aska
bos gendeng sekertaris somplak 😆
2023-06-25
0