🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Meninggalkan dapur Aqila bingung harus kemana untuk beristirahat, di kamar, tidak mungkin, otak nya terus berpikir dengan memandang setiap sudut ruang yang ada.
Mata nya tertuju pada kamar tamu di dekat ruang tamu.
"Lebih baik aku istirahat di sana saja." Batin Aqila berjalan menuju kamar tamu.
Langkah nya terhenti dengan teriakan Arka dari atas.
"Aqila...." Teriak Arka marah.
"Astaghfirullah, kenapa dengan dia, apa tidak bisa sehari tidak marah-marah. Tercipta dari apa pria itu kenapa sangat Arongan." Monolog Aqila berjalan menghampiri Arka.
"Ada apa memanggil ku, apa tidak bisa kamu memanggil ku baik-baik, aku tidak budek hingga harus teriak sekencang ini." Kata Aqila tiba di kamar.
"Ternyata kamu masih punya nyali untuk menjawab, apa masih kurang, hah?" Jalan Arka mendekati Aqila.
"Apa aku harus diam jika kamu berbicara? aku juga manusia punya mulut untuk berkata, jadi di mana salah ku?" Balas Aqila memberanikan diri, meski hati nya kini sedang takut.
"Wanita yang pemberani, tidak salah dugaan ku, keberanian kamu ini sudah membuktikan betapa rendah nya dirimu." Hina Arka menatap jijik Aqila.
"Ya kamu benar aku rendahan karena sudah menikah dengan pria seperti kamu. Pria berhati Iblis." Balas Aqila memaki Arka.
Aqila muak terus di hina dan di tuduh dengan apa yang tidak ia perbuat sama sekali. Ia tidak takut jika lagi dan lagi Arka akan menyakiti dirinya.
Aqila menantang balik tatapan Arka. Ia tahu kini Arka sedang marah dengan lontaran kata yang ia tujukan pada nya.
Plak...
Satu tamparan kuat telak di pipi kanan Aqila hingga berdarah di ujung bibir nya.
"Jangan pernah kamu memaki saya dengan mulut rendahan itu" Tunjuk Arka pada bibir Aqila. "Sekali lagi saya mendengar itu, tidak ada jaminan untuk kamu bisa melihat dunia lagi." Sambung Arka murka menatap Aqila.
"Kenapa? apa kamu akan membunuh saya? lakukan saja biar kamu puas, dengan begitu saya tidak perlu melihat wajah kamu yang keji seperti iblis. Rupah kamu memang seperti manusia, tapi hati kamu seper....."
"Seperti iblis begitu yang kamu maksud?" Kata Arka cepat Mencengkram dagu Aqila."Tapi... yang kamu katakan itu semua nya benar, saya Iblis yang akan membuat hidup mu menderita." Mencengkram kuat hingga Aqila berontak kesakitan minta di lepaskan.
"Semakin kamu berontak, semakin kuat cengkraman ini." Kata Arka menatap benci Aqila.
Aqila menangis tenaga nya tak sekuat tenaga Arka. Badan nya juga belum fit dengan kejadian tadi di dapur. Ia berusaha kuat untuk tidak cengeng di depan Arka.
"Wanita yang malang, kamu salah mencari lawan. Sebelum mengibarkan bendera perang, cari tahu dulu siapa lawan kamu, jika sudah begini kamu tidak akan lolos, karena aku tidak akan membiarkan kamu selamat." Menghempas kuat cengkraman nya pada Aqila hingga terjatuh di lantai akibat kurang nya tubuh Aqila kurang Fit.
Aqila tak membalas perkataan Arka, ia hanya menatap dengan penyesalan sudah menerima pernikahan ini.
Penyesalan terbesar nya menikah dengan pria arogan berwujud iblis.
"Jangan menatap ku begitu." Kata Arka memperingati Aqila." Cepat bangun dan pergi dari hadapan ku sebelum aku berubah pikiran." Ancam Arka muak melihat Aqila di hadapan nya.
Dengan senang hati, tanpa di bilang Aqila akan pergi, ia muak berlama-lama berada di dekat Arka, bukan nyaman yang ia dapatkan, tapi sesak.
Aqila bangun dengan darah di ujung bibir nya, meninggal kan Arka sendiri menuju kamar tamu untuk tempat peristirahatannya.
"Hiksh....hiks... hiks... kenapa nasib ku begini, apa salah ku, kenapa aku terus di uji, aku tidak sanggup melewati ini sendiri... hiks... hiks...." Tangis Aqila pecah saat berada di kamar tamu.
Tiba di kamar tamu Aqila langsung mengunci pintu, ia tidak ingin ada yang masuk menganggu nya. Niat nya hanya ingin menenangkan diri, tapi malah menangis dengan ocehan keluar dari bibir nya. "Tuhan sudah kah engkau melihat, aku tidak sanggup melewati ini lagi, sudah, aku mohon sudah, cukup ujian ini. Aku bukan wanita kuat di luar sana yang bisa melewati semua cobaan mu. Bukan nya sudah cobaan yang engkau berikan pada ku sejak bayi, apa semua nya belum cukup. Apa lagi nanti yang harus aku hadapi ke depan nya." Tangis Aqila mengutuk kehidupan nya.
Tanpa sadar semua perkataan Aqila di dengar Bibi yang ingin memanggil nya, tapi terhenti mendengar tangisan Aqila di dalam.
"Sungguh malang nasib mu nyonya, Bibi berharap nyonya kuat melewati ini. Kebahagian akan ada untuk wanita baik seperti nyonya." Batin Bibi ikut sedih mendengar kesedihan majikan nya.
Tok....
Tok....
Tok....
"Nyonya." Panggil Bibi di luar pintu.
Cekreck
"Ada apa Bi?" Tanya Aqila membuka pintu memandang Bibi di hadapan nya.
Mendengar ketukan pintu berbunyi, Aqila menghapus butiran kristal di pipi nya, ia tidak ingin ada yang melihat. Biarkan saja ia melewati ini sendiri tanpa ada yang tahu kehidupan nya. Ia tidak ingin di kasihanin dengan mereka tahu kondisi nya.
"Nyonya sudah waktu nya makan." Kata Bibi melihat mata sembap Aqila habis menangis.
"Yah sudah bibi duluan saja, nanti saya menyusul." Balas Aqila ingin membersihkan wajah nya dulu.
"Kalau begitu saya pamit nyonya." Meninggalkan Aqila yang ikut masuk kembali.
"Di mana Aqila?" Tanya Arka melihat datang nya Bibi tanpa Aqila.
"Nyonya akan menyusul Tuan." Tunduk Bibi.
"Yah sudah bibi bisa kembali bekerja." Perintah Arka masih menunggu kedatangan Aqila.
"Apa yang dia lakukan di dalam sana, kenapa lama sekali, apa dia sedang merencanakan suatu untuk membalas ku. Awas kau jika rencana mu terbukti kau akan terima berlipat lipat dari ku. Wanita kampung seperti mu tidak mengenal kata kapok kamu salah mencari lawan." Batin Arka.
Arka masih setia menunggu Aqila yang sampai sekarang belum muncul keberadaan nya. Papa dan Mama nya sudah balik ke luar Negeri, semenjak memberi wewenang penuh perusahaan pada Arka, Papa dan Mama nya memilih menghabiskan masa tua di Korea.
Semakin lama menunggu Arka semakin kesal karena Aqila belum datang juga..
"Aqila." Teriak Arka penuh amarah.
Teriakan Arka sampai ke telinga Aqila yang sedang memakai cream di wajah nya agar terlihat fresh. Cream Aqila di mata Arka hanyalah Cream recehan. Namun berbeda dengan nya, cream ini sudah cukup mahal yang ia miliki
"Apa yang akan dia lakukan kali ini? apa dia tidak bosan terus menyakiti ku." Keluh Aqila menyelesaikan dengan cepat cream di wajah nya.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana? apa kamu sedang merencanakan sesuatu untuk membalas ku? sebaiknya kamu hentikan niat buruk mu itu sebelum ketahuan karena itu akan menjadi hari-hari terburuk yang akan selalu kamu kenang sepanjang hidup." Sersa Arka mengancam Aqila baru tiba di meja makan.
...Bersambung✓•••••...
✨_______________🌼🌼🌼_______________✨
🥀. Puaskan dirimu berpikir buruk tentang ku, selagi itu dapat membuat mu bahagia, aku ikhlas meski terus terlihat buruk di mata mu. 🥀~~~By: Aqila💞
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 289 Episodes
Comments
siti rahmah
kenapa ada iklan seh...
2024-05-27
0
NM DwiMulyani PA
kejam sekalu
2024-04-11
0
Novie Achadini
awas aja klo aampe arka bucin gue nggak mau baca lg
2024-04-06
0