🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
•
🌹✨💞✨🌹
Lelah menangis dengan nasib nya, Aqila tertidur di lantai tanpa selimut menutupi dirinya.
Arka melihat tidur nya Aqila dengan mata sembab tidak perduli tanpa niat menyelimuti Aqila dengan selimut.
Hati Arka seperti batu yang keras tidak ada lembut nya kecuali sama Siska wanita yang ia cintai. Arka yakin Aqila alasan Siska lari dari pernikahannya, berpikir buruk perkataan Aqila mengancam Siska dengan asumsi nya sendiri, Arka semakin membenci Aqila.
Perasaan awal nya membenci Aqila semakin besar dengan asumsi nya sendiri. Arka berjanji akan membuat hidup Aqila seperti di neraka tanpa kebahagiaan terlukis di wajah nya.
"Karena kamu kebahagiaan yang harus nya aku rasakan hari ini menjadi hilang. Wanita seperti kamu tidak pantas menjadi Istri dari pria mana pun. Meski kita sudah menikah, pernikahan ini hanya sekedar status yang tertulis di atas kertas kapan saja bisa di robek." Kata Arka memandang Aqila tidur di lantai.
Setiap perkataan yang ia lontarkan tersirat api amarah dendam yang besar. Ia tidak akan melepaskan Aqila dengan mudah sebelum merasakan penderitaan yang besar, seperti yang di rasakan dirinya sekarang.
Tengah malam Aqila terbangun karena dingin nya angin malam membuat badan nya menggigil. Penderitaan Aqila semakin lengkap, kasih sayang tidak pernah ia dapatkan sejak kecil bersama orang tua angkat, kini juga ia dapatkan dari kekasih kakak nya yang kini telah menjadi suami nya.
"Apa dosa ku Tuhan, hingga terus di uji." Tangis kecil Aqila tidak di dengar Arka. "Aku di lahir kan tapi di buang, apa aku tidak di ingin kan, jika iya kenapa mereka membuat ku untuk ada."
Melihat pergerakan Arka, Aqila segera menghapus tetesan air menghiasi pipi nya. Aqila tak ingin Arka melihat ia menangis, bisa-bisa Arka makin senang dengan keterpurukan nya.
Aqila kembali merentangkan badan untuk tidur. Dingin nya lantai tidak sepadan dengan kehidupan Aqila selama ini.
Tidur di lantai bukan pertama bagi Aqila tapi berulang-ulang.
🌠_-_-_🌠
Pagi hari Aqila sudah bangun seperti biasa aktivitas yang ia lakukan saat berada di rumah lama, sholat, membersihkan rumah dan menyiapkan makanan untuk semua.
Setelah melaksanakan kewajiban nya sebagai umat muslim, Aqila tidak lupa berdoa.
Di dapur Aqila sudah siap bertempur dengan alat dan bahan masakan yang ia sajikan.
"Nyonya sedang apa di sini?" Kata Art mengangetkan Aqila yang ingin bertempur.
"Astagfirullah, Bibi kagetin aja." Istighfar Aqila.
"Maaf nyonya." Ucap Art tunduk takut.
"Iya gak apa-apa Bi, tapi jangan di ulangi lagi syukur saya gak ada penyakit jantung kalau ada gimana nanti? bisa end di tempat saya." Becanda Aqila melihat Art tunduk ketakutan.
"Nyonya bisa saja." Jawab Art mendengar candaan Aqila.
"Bukan bisa saja Bi, tapi selalu bisa." Senyum Aqila.
Mendengar candaan Nyonya muda nya, Art tersebut senang Istri dari majikan nya ini ternyata sangat baik dan humble kepada bawahan seperti mereka yang hanya Art.
"Tuan sangat beruntung memiliki istri seperti nyonya sudah cantik baik pula." Puji Art.
"Bibi bisa saja." Jawab Aqila.
Arka bangun dari tidur, tidak melihat Aqila di setiap sudut kamar.
"Apa dia kabur dari sini? tidak... itu tidak boleh terjadi, aku tidak akan membiarkan dia pergi." Marah Arka bangun dari kasur.
Ia segera keluar dari kamar mencari keberadaan Aqila.
Menelusuri setiap ruangan yang ada di mansion, Arka masih saja belum menemukan Aqila. Semakin yakin dan marah Arka pada Aqila.
"Dasar wanita kampungan, berani nya dia kabur sebelum di mulai. Akan aku pastikan kemana pun kamu lari aku akan menemukan mu meski itu di lubang semut sekaligus." Janji Arka dengan menggempak kan jemari nya.
Berjalan menuruni tangga, telinga Arka menangkap suara yang ia kenali dan suara itu suara wanita yang ia cari sejak tadi.
Menghampiri asal suara, Arka berhenti melihat sosok wanita yang ia cari.
"Ternyata kamu di sini?" Bariton berat mengangetkan Aqila dan Bibi yang memasak sesekali berbincang.
"Iya." Singkat Aqila memandang Arka
"Apa ini yang kamu dapatkan dari keluarga? tidak ada sopan santun." Maki Arka menghina Aqila depan Bibi.
"Sopan santun? apa aku tidak salah dengar tadi, kamu menanyakan sopan santun ku? terus beda nya kamu apa?" Tanya balik Aqila tanpa menjawab cacian Arka.
"Jaga ucapan mu!" Bentak Arka maju meremas lengan Aqila.
Bibi melihat Tuan Arka menyakiti Nyonya Aqila tidak bisa membantu selain berdoa. Ia tidak berani ikut campur urusan majikan nya.
"Jangan sekali membalikkan perkataan ku, atau kamu tahu sendiri akibat nya!" Marah Arka menghempas Aqila hingga terpental di dinding.
Dorongan kuat Arka membuat Aqila terpental keras di dinding. Badan nya terasa remuk.
"Nyonya tidak apa-apa?" Khawatir Bibi melihat majikan nya meringis kesakitan.
Setelah kepergian Arka, Bibi mendekati Aqila yang terduduk meringis kesakitan. Ia kasihan melihat perlakuan Tuan nya yang kasar pada nyonya Aqila.
"Saya tidak apa-apa, Bibi jangan khawatir." Aqila berusaha menyakinkan Bibi, meski nyata nya sekarang ia sedang tidak baik.
Aqila tidak ingin membebani Bibi dengan dirinya. Ia yakin bisa melewati ini meski harus dengan air mata ujung nya.
"Hati kamu sungguh baik nyonya, Tuan Arka sangat bodoh telah menyakiti wanita seperti kamu." Batin Bibi melihat Aqila yang berusaha kuat.
"Mari saya bantu nyonya." Bibi mengulurkan tangan dan Aqila menerima, jujur saat ini Aqila merasa sakit untuk bangun saja susah."Apa perlu Bibi hubungin dokter?" Sambung nya menawari diri melihat Aqila kesusahan untuk berjalan.
"Tidak usah Bi, sebentar juga sembuh ini hanya perlu istirahat." Balas Aqila tidak ingin merepotkan Bibi.
Aqila tidak ingin Arka menjadi marah dengan Bibi menghubungi Dokter, bisa saja ini akan menjadi masalah baru buat dirinya untuk Arka terus menyakiti nya.
Aqila belum siap menerima perlakuan Arka dengan badan nya kurang fit, ia memilih untuk mengalah menuruti apa kemauan Arka.
"Tapi Nyonya...."
"Jangan khawatir saya baik, Bibi lanjutin masak saja, maaf saya gak bisa bantu." Potong Aqila cepat pada perkataan Bibi.
"Nyonya tidak perlu minta maaf, ini sudah tugas saya."
"Yah sudah kalau begitu saya ke atas dulu." Pamit Aqila meninggal kan Bibi.
kepergian Aqila dari dapur membuat Bibi terus terdiam memikirkan perilaku kasar tanpa sebab Arka pada Aqila.
Memikirkan kejadian yang terjadi di depan mata, Bibi menjadi yakin dengan tatapan Arka pada Aqila bukanlah cinta melainkan kebencian.
"Bibi berdoa semoga semua baik-baik saja, nyonya perempuan baik tidak pantas di perlakukan buruk begini." Ucap nya memandang kepergian Aqila.
...Bersambung✓•••••...
✨_______________🌼🌼🌼_______________✨
🥀. Kebencian mu telah di kuasai pikiran dan hati, hingga kamu tidak dapat membedakan mana baik dan mana salah. 🥀~By: Aqila💞
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 289 Episodes
Comments
NM DwiMulyani PA
semoga dikuatksn
2024-04-11
0
Novie Achadini
bentar lg jg bucin selaku begitu dunia noveltoon
2024-04-06
0
Borahe 🍉🧡
padahal dia adalah korban dri pernikahan ini. kaisan kmu Qila
2023-10-27
0