Pernikahan hangat

"Sayang, coba lihat. Ini adalah beberapa contoh dekorasi untuk pesta kita besok." panggil Bagas pada sang istri.

Syifa pun menghampiri, lalu melihat beberapa gambar yang tertera di layar laptop suaminya. Ia menunduk, tepat di samping Bagas hanya dengan baju dinas malamnya yang berlengan segaris itu.

Rambutnya pun telah Ia gulung dengan rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan indah. Apalagi, bibirnya yang merona dengan polesan lipstik warna merahnya. Membuat Bagas menelan salivanya berkali-kali, dengan jakun yang naik turun.

Bagas meraih beberapa helai rambut Syifa yang terjatuh. Ia memilinnya dengan tangan berkali kali. Seperti biasa, rasa gemas kian menghantuinya ketika sedang berdua dikamar.

"Ini bagus, Mas. Ini aja, ya?" pinta Syifa, pada sebuah contoh.

"Baiklah, jika kamu suka. Aku akan langsung boking, dan kita tinggal terima beres." jawab Bagas.

"Benar? Semahal apapun itu?" tanya Syifa, dengan tatapannya yang menggoda.

"Dan ketika aku telah memberikan kewajibanku, bolehkah aku meminta hak ku?" tanya Bagas, dengan jari yang menari-nari di pipi Syifa.

Syifa menangkap jari itu dalam genggamannya. Lalu Ia menciumi tangan itu berkali-kali dengan lembut. Bagas merasa telah menerima respon positif. Ia langsung berdiri, dan menggendong tubuh Syifa ke ranjang.

Bagas mengecupi pipi Syifa dengan gemas, sembari sesekali memainkan hidung mereka dengan penuh tawa. Syifa mulai menggeranyangi bagian pavoritnya, yaitu roti sobek milik sang suami yang tampak semakin mengembang mekar. Bahkan Ia tak segan untuk langsung membuka piyama Bagas, dan menggigit bibirnya gemas karena begitu menyenangkan.

"Kenapa, aku semakin menyukainya?" lirih Syifa.

Bagas membaringkan tubuh Syifa, dan mulai melancarkan aksinya. Bibir tipis itu menjadi sasaran utama, sembari memainkan bola karet pavoritnya. Syifa tampak merasakan sebuah sensasi, yang membuatnya mencengkram kuat punggung suaminya yang telah menguasai tubuhnya itu.

Sreeeekkkk!

"Ah, kenapa di sobek? Ini baru beli, Mas." tanya Syifa, ketika Bagas merobek lingerie barunya.

"Aku, sudah tak tahan lagi, Fa. Seperti biasa. Kamu begitu menggemaskan." bisik Bagas, dengan nafas yang mulai tak beraturan. Ketika itulah, Syifa harus mulai siaga Satu, dan bersiap dengan segala yang akan terjadi padanya.

Gerakan Bagas semakin liar. Dari bibir ke leher, lalu samakin turun kebawah. Ia menerkam dan melahapnya dengan begitu rakus, hingga Syifa tak tahan lagi mengeluarkan suara kenikmatannya.

"Mas....."

"Ya, lepaskan saja." jawab Bagas.

Hembusan nafas sudah tak beraturan diantara keduanya. Apalagi, ketika junior telah mendapatkan rumah impiannya dan tengah asyik bermain disana. Hujan rintik-rintik, dan dingin nya angin malam pun tak lagi terasa. Hanya peluh yang mengalir, membanjiri seluruh tubuh mereka saat ini.

Udara semakin terasa panas, suara kenikmatan semakin menjadi-jadi dan saling berbalas diantara keduanya. Pergantian posisi pun beberapa kali di lakukan, demi memuaskan hasrat bersama. Hingga, Bagas mempercepat gerakannya, dan tiba saat mereka memekik lirih, dengan nada yang terlalu sulit di gambarkan.

Syifa menghela nafas lega, dengan belaian lembut dari Bagas yang masih membiarkan juniornya beristirahat sejenak.

Cup... Cup... Bagas mengecupi bibir Syifa berkali-kali. Syifa pun membalasnya dengan senyuman manjanya.

"Nakal, sukanya robekin baju." omel Syifa.

"Tinggal beli. Bila perlu, aku borong semuanya untukmu."

"Untuk di sobek lagi?" goda Syifa.

Mereka hanya tertawa, di sela nafas yang masih terengah. Tak perduli, Reza beberapa kali memanggil lewat teleponnya. Bagas bahkan tak melihat Hp untuk beberapa waktu tadi.

"Dasar! Aku tahu, kalian itu pengantin baru yang tertunda. Tapi, apakah kalian sadar, jika ada......... Ah, sudah. Tunggu pembalasanku." gerutu Reza.

Mampir juga Gaes😘😘😘

"Apa?! Bagaimana bisa Qilla keluar dari rumah tanpa seorang pun yang tahu kepergiannya? Sebenarnya apa yang kalian lakukan saat ku tugaskan menjaga putriku?!" Maki laki-laki berumur 46 tahun kepada para bodyguard yang  bertugas di depan kamar putrinya, Ashira Aqilla Putri Sebastian.

"Maaf Tuan, Dion. Kami benar-benar tidak tahu bagaiaman cara Non Qilla itu kabur. Karena kita semua sudah berjaga di depan pintu kamarnya." Salah seorang dari para bodyguard itu menjawab.

"Seharusnya kalian lebih teliti lagi dalam menjaganya! Meski kelihatannya ceroboh, Qilla adalah gadis yang cerdas. Hanya saja aku tidak menyangka kalau kalian akan secepat ini kehilangan dia," lanjut Dion. Dia tampak kesal kepada para bodyguard yang dipekerjakan untuk menjaga putrinya tersebut.

"Mas, bukankah sudah ku bilang, jangan paksa putri kita itu untuk menikah. Kamu tahu kan kalau Qilla masih menyukai kebebasan." Kali ini Mikha ikut berbicara. Dia juga kesal dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba saja menjodohkan putri sulungnya tersebut. "Kalau sudah begini, di mana kita akan menemukannya?"

"Maafkan aku, Sayang. Tadinya kupikir dengan menjodohkannya, dia akan lebih bersifat dewasa dan mau bertanggung jawab dengan perusahaan yang sudah aku serahkan kepadanya."

"Tetap saja kamu salah! Bukan salah putri kita kalau dia bersikap sesukanya pada perusahaan yang kamu serahkan, karena Qilla memang tidak ingin menjadi seorang pengusaha."

"Lalu dia inginnya jadi apa? Dia juga tidak berminat untuk menjadi dokter sepertimu atau pun mommy kan, padahal usianya sudah 20 tahun."

"Mas perkembangan setiap anak itu beda, keinginan mereka juga beda. Mungkin di usia itu aku sudah menemukan hal yang ingin aku capai. Tapi, bukan berarti putri kita juga harus sama kan? Kadang karena dia terlalu nyaman dengan hal yang kita berikan, dia sampai tidak tahu hal yang sebenarnya membuat dia tertarik itu apa. Bukan salah dia kalau dia belum menemukan hal itu, tapi salah kita sebagai orang tuanya yang selalu menyuruhnya mengerjakan ini itu dan membuatnya tidak memiliki minat untuk berproses," ucap Mikha panjang lebar. Dia mengakui caranya mengasuh putrinya tersebut salah.

Selama ini, Mikha dan Dion memberikan segala hal yang bahkan belum menjadi pilihan putrinya itu, mereka mengira dengan begitu putrinya akan menyukai segala hal yang mereka sodorkan kemudian menjadi minatnya di masa depan. Namun ternyata, semua itu tidak berlaku pada diri putrinya tersebut. Qilla memang melakukan segala kegiatan yang disodorkan kepadanya, mulai dari membantu perusahaan ayahnya, membantu pekerjaan ibunya di rumah sakit, sampai dengan memperkenalkan putrinya itu tentang salon kecantikan, tetapi sayangnya semua hal itu tidak menjadi minat bagi dirinya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dion kepada istrinya, Mikha.

"Mana aku tahu. Semua kan karena kamu, Mas, jadi, kamu juga yang harus mencari solusinya. Pokoknya, aku tidak mau tahu, Mas dan anak buah Mas harus menemukan Qilla secepatnya. Aku tidak mau dia kenapa-napa di luaran sana," jawab Mikha. Dia terlalu kesal dengan sikap suaminya yang kadang berlebihan dan otoriter.

"Baiklah, Sayang, aku janji, aku pasti akan menemukan putri kita secepatnya," janji Dion kepada sang istri.

Mikha hanya memutar bola matanya malas. Dia terlalu bosan dengan janji yang diucapkan oleh suaminya tersebut. Berkali-kali dia sudah berjanji kalau dia tidak akan memaksakan kehendak kepada putrinya, namun, berkali-kali pula suaminya itu memaksakan kehendaknya, dan kali ini sampai membuat putri kesayangannya itu kabur.

"Sayang kamu mau ke mana?" tanya Dion saat melihat Mikha berjalan meninggalkan kamar putri mereka.

"Aku mau ke kamar. Ingat! Malam ini kamu tidur bareng Atta, aku mau tidur sendiri," jawab Mikha dengan perasaan kesal. 

Attarazka Putra Sebastian adalah putra kedua dari Mikha dan Dion. Dia memiliki selisih umur 5 tahun lebih muda dari kakaknya Qilla. 

"Tapi, sayang….  "

"Tidak ada tapi-tapi." Mikha terus melangkah keluar meninggalkan kamar tersebut.

Dion hanya bisa mengesah kasar. Gara-gara keegoisannya, putri kesayangannya kabur dari rumah, dan kini, istrinya pun ikut marah dengan dirinya.

"Kalian semua cari putriku sampai dapat! Ingat! Jangan sampai kalian melukai putriku saat ingin membawanya kembali!" Suruh Dion kepada para bodyguardnya.

"Baik, Tuan." Jawab para bodyguard itu kompak. Mereka segera meninggal kan bos mereka untuk mencari Qilla.

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Reza tunggu sabar Mas Bagas lagi transfusi darah putih ki Ifa... ga sabaran ya Reza mau di jewer... sama Papi atau mau di plototin sama Mami Syifa..
kacau ampun mateng lah... 😄😄😄😄😄

2022-06-13

0

woin🍃

Baju mahal 1 x robek🤣🤣
Sultan ma bebas kalau udh gk tahan🤭🤭sifa stok aja yang bnyak buat di robek bagas🤣🤣

2022-06-20

0

Kokom Komala

Bagas terus aja melakukanya dengan baik padahal Syifa udah dari tadi merengek bilang Ama Bagas

2022-05-31

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan Tragis malam itu
2 Diagnosa yang menyakitkan
3 Di tinggalkan, ketika tak berdaya
4 Dari saksi, menjadi tersangka
5 Berusaha ikhlas dengan keadaan.
6 Perawat pilihan hati
7 Keadaan yang pahit
8 Mengadakan perjanjian
9 Perawat dan Muhrim
10 Keluarga yang menepati Janji
11 Mantan yang masih memanfaatkan
12 Bagaimana Ijab Qabul nya?
13 Syifa akan selalu di sampingnya
14 Tuan, kau perlu gosok gigi..
15 Sakit yang tak dapat di sembuhkan.
16 Aku akan segera sembuh!
17 Pernikahan pasif.
18 Sambutan para kelarga.
19 Seperti, Suami Istri betulan.
20 Makan malam yang berantakan
21 Kan, sudah muhrim
22 Syifa capek, Yah.
23 Ingin menggenggam tanganmu erat
24 Tentang keberadaan Syifa
25 Kata pertama dari Bagas
26 Kesabaran sang Junior
27 Harusnya adalah pengantin baru.
28 Yang selalu kalah dengan keadaan
29 Karena kamu Istriku, Fa.
30 Membuat keajaiban sendiri.
31 Mama rindu suaramu...
32 Maafkan aku, Fa.
33 Berat badanmu, tak seberat badanku.
34 Gosip tentang Syifa dikampungnya
35 Wajahmu seperti ikan Fugu.
36 Subhanallah, Cantiknya!
37 Lekaslah sembuh, jika ingin menunaikan hakmu, Mas.
38 Berani melawan Papamu, Reza?
39 Haruskah, berbicara seperti itu?
40 Syifa tak sepolos yang Bagas kira.
41 Sebutir nasi di pipimu, yang tak dapat ku singkirkan.
42 Ternodai oleh tangan.
43 Mama mendukungmu, sayang.
44 Kamu bagaikan candu untukku.
45 Undangan dari mantan
46 Bola karet kenyal
47 Kamu cemburu?
48 Aku bukan menantu pilihan.
49 Kapan kaki ini bergeak?
50 Tatapan yang saling mengisi
51 Ingin agar semua mendoakanmu.
52 Tatapannya di jaga, Fa.
53 Bola Karet yang buat otak traveling
54 Meminta Ayah dan Ibu untuk berkunjung
55 Jangan ganggu suamiku
56 Kedatangan mertua.
57 Kasihan Gibran
58 Nikmatnya Bakso buatan mertua
59 Hp baru dari Kakak Ipar
60 Apa kalian, sudah saling mencintai?
61 Pernikahan Luna
62 3 kecupan sebelum tidur.
63 Ikan fugunya, kalau nangis jelek.
64 Berusaha keras memelukmu
65 Aku kapan belajar jalan?
66 Mengungsi kerumah Bagas
67 Apa yang kamu sembunyikan?
68 Ya, emang kamu ganteng, Mas...
69 Makin lama makin cerewet
70 Tamu tak diundang
71 Semua orang menjadi jahat, ketika aku lemah
72 Syifa selalu memancing
73 Pujian untuk Syifa
74 Shoping untuk menantu kesayangan
75 Bisakah, jangan ucap perpisahan?
76 Hanya kalian, harapanku dalam keluarga ini.
77 Tentang surat kuasa
78 Satu-satunya yang Bagas percaya saat ini
79 Kecupan pertama
80 Syoknya Mama Ayu
81 Huru Hara di perusahaan Keluarga
82 Reza juga ingin di peluk
83 Kamu semakin menggemaskan
84 Mendandani anak perempuan.
85 Istri Sang Direktur Utama
86 Peringat ke Dua. Mengenai Om Edward
87 Tak ada yang dapat menolak pesona Syifa.
88 Aku ikut, kemanapun kamu pergi
89 Mendadak ingin punya cucu
90 Mati dalam keadaan glowing
91 Panggilan Sayang yang menggemaskan
92 Bermimpi, Mama menghampiri (Reza)
93 Mengunjungi mertua
94 Omongan para tetangga
95 Rendang jengkol kesukaan
96 Ada saja penemuan hari ini.
97 Maaf, Mas. Kelepasan...
98 Akhirnya, ada yang bilang aku tampan.
99 Mau mandi sama-sama...
100 Syifa dengan amarahnya
101 Takaran bahagia manusia itu, berbeda
102 Terapi untuk berjalan.
103 Hubungan suami istri?
104 Pertemuan yang mendebarkan
105 Sakit di awal, demi sebuah kesembuhan
106 Si Rambut Mie, yang begitu mempesona
107 Mulai tak fokus
108 I LOVE YOU sayang
109 Pergulatan Reza dan Bagas.
110 Ketemu mantan
111 Apa yang kamu katakan, Luna?
112 Mengejar wanita idaman
113 Aku Cemburu!
114 Percobaan pertama yang gagal
115 Membersihkan kenangan dari Luna
116 Kalian jahat padaku...
117 Kemesraan kalian, menyebalkan.
118 Sindiranmu menyakitkan, Fa.
119 Kak, Aku lelah..
120 Perkenalan yang manis.
121 Fikiran yang semakin melayang terbang
122 Aku sudah punya yang asli
123 Pawangku mantap.
124 Syifa tukang ngambek
125 Tak pernah ada alasan, untuk mencintaimu
126 Ada penyerangan di rumah
127 Bercandanya ngga lucu, Humairah.
128 Lakukan saja, apa yang harus dilakukan
129 Menjadi istrimu seutuhnya
130 Akan terjadi huru hara lagi
131 Jangan pernah halangi Papa, Za!
132 Langkah kaki pertamamu.
133 Jika sakit, katakan sakit.
134 Aku akan jadi Zuko, atau jadi Azula?
135 Pertengkaran kedua saudara
136 Asal mula huru hara keluarga
137 Semakin suka curiga.
138 Apapun untukmu, Humairah.
139 Kejutan Untuk Syifa
140 Makan gratis di kedai baru.
141 Tendangan maut, ala Cinta.
142 Kesialan seorang Reza
143 Dikira, hanya bersandiwara.
144 Dokter pelanggar sumpah
145 Udah lama ngga di cubit, ya?
146 Pengen punya Bayi....
147 Berkumpulnya Dua keluarga
148 Pertama kalinya, pergi tanpa suami.
149 Siapa, Kalian?!
150 Bukan Hanya Papa yang jahat, Reza.
151 Lakukan perintah mereka, sayang.
152 Kembalinya Syifa
153 Makan lah dengan cinta..
154 Kuasa tak berlaku lagi, ketika Bagas sehat.
155 Aku harus apa dengan keadaan ini?
156 Gempa Lokal
157 Andai semuanya mudah
158 Wajah Reza, Wajah Badboy
159 Aku selalu gagal, Bu.
160 Rasa cinta yang membabi buta
161 Pi, Mami mulai galak.
162 Tujuan yang tak jelas lagi.
163 Sebahagia itukah kalian?
164 Olin tak mempan di rayu
165 Tetaplah di sana, Olin.
166 Saya diam, ketika diminta untuk diam
167 Kenapa tak mati saja?
168 Tak ada jalan lain
169 Andai aku dapat berlari
170 Dia tak akan berani melawanku
171 Kau, pengkhianat
172 Dia, Ayahku.....!
173 Ingin pulang, dan segera memelukmu.
174 Mencintaimu dengan leluasa.
175 Siaga Satu
176 Tangis Reza
177 Kenyataan dari masa lalu.
178 Keisengan Reza
179 Aku yang sakit, kenapa Bagas yang dipeluk?
180 Melamar Humairah ku.
181 Arti sebuah keluarga
182 Dulu pengap, sekarang nyaman.
183 Permintaan Reza
184 Dua raga, Satu jiwa.
185 Sifat Asli Bagas.
186 Kejujuran Olin.
187 Olin selalu menghindar
188 Syifa turun tangan membantu Reza
189 Tersedak hatiku karenamu, Olin.
190 Gadis yang tak mudah di taklukan
191 Senyum itu, hanya milikku.
192 Es kutub, yang telah mencair.
193 Tak dapat membiarkanmu sendirian.
194 Caraku meredam amarahmu
195 Jomblo terhormat, yang terbully
196 Tak pernah melihat orang, hanya dari statusnya
197 Seperti anak kecil yang menggemaskan
198 Harapan Syifa
199 Aku masih ingin memanjakanmu, sayang.
200 Reza ingin melamar Olin
201 Reza tergesa-gesa
202 Jadian, Olin dan Reza
203 Getaran dahsyat di hati Reza
204 Pernikahan hangat
205 Babang Eza ngambek lagi.
206 Hari-hari indah Reza
207 Olin Naik pangkat
208 Apel pertama Reza Edwardo
209 Papi marah dengan anak bujangnya
210 Mejenguk Papa Edward
211 Asing, tapi bahagia.
212 Bukan hanya, sekedar wanita
213 Mencuri waktu bertemu Ayang
214 Olin mulai berharap.
215 Terpisah oleh adat dan keluarga.
216 Pagi hari tanpa peluk mesra Ayang
217 Dia telah muncul kembali.
218 Seharusnya, hari bahagiaku
219 Dia datang tepat waktu.
220 Jebakan untuk Viona.
221 Kejutan dari Mami untuk Papi.
222 Part Ekstra bab 1
223 Ekstra part bab 2
224 Promosi karya baru
225 Ekstra part 3
226 Ekstra part 4
227 Ekstra part 5
228 Ekstra part 6
229 Akhirnya Olin mengeluh
230 Promo kisah Zaolin.
231 Ekstra part 1 kelahiran Baby B.
232 Ekstra part, lahirnya Baby B, 2
233 Ekstra part: Breyhan Nata Nugraha
234 Baby Brey
235 Sambutan untuk Breyhan
236 Brey itu anakku, Mas.
237 Promo karya baru. Istri Tuan Amnesia
238 Oh, Baby Brey
Episodes

Updated 238 Episodes

1
Kecelakaan Tragis malam itu
2
Diagnosa yang menyakitkan
3
Di tinggalkan, ketika tak berdaya
4
Dari saksi, menjadi tersangka
5
Berusaha ikhlas dengan keadaan.
6
Perawat pilihan hati
7
Keadaan yang pahit
8
Mengadakan perjanjian
9
Perawat dan Muhrim
10
Keluarga yang menepati Janji
11
Mantan yang masih memanfaatkan
12
Bagaimana Ijab Qabul nya?
13
Syifa akan selalu di sampingnya
14
Tuan, kau perlu gosok gigi..
15
Sakit yang tak dapat di sembuhkan.
16
Aku akan segera sembuh!
17
Pernikahan pasif.
18
Sambutan para kelarga.
19
Seperti, Suami Istri betulan.
20
Makan malam yang berantakan
21
Kan, sudah muhrim
22
Syifa capek, Yah.
23
Ingin menggenggam tanganmu erat
24
Tentang keberadaan Syifa
25
Kata pertama dari Bagas
26
Kesabaran sang Junior
27
Harusnya adalah pengantin baru.
28
Yang selalu kalah dengan keadaan
29
Karena kamu Istriku, Fa.
30
Membuat keajaiban sendiri.
31
Mama rindu suaramu...
32
Maafkan aku, Fa.
33
Berat badanmu, tak seberat badanku.
34
Gosip tentang Syifa dikampungnya
35
Wajahmu seperti ikan Fugu.
36
Subhanallah, Cantiknya!
37
Lekaslah sembuh, jika ingin menunaikan hakmu, Mas.
38
Berani melawan Papamu, Reza?
39
Haruskah, berbicara seperti itu?
40
Syifa tak sepolos yang Bagas kira.
41
Sebutir nasi di pipimu, yang tak dapat ku singkirkan.
42
Ternodai oleh tangan.
43
Mama mendukungmu, sayang.
44
Kamu bagaikan candu untukku.
45
Undangan dari mantan
46
Bola karet kenyal
47
Kamu cemburu?
48
Aku bukan menantu pilihan.
49
Kapan kaki ini bergeak?
50
Tatapan yang saling mengisi
51
Ingin agar semua mendoakanmu.
52
Tatapannya di jaga, Fa.
53
Bola Karet yang buat otak traveling
54
Meminta Ayah dan Ibu untuk berkunjung
55
Jangan ganggu suamiku
56
Kedatangan mertua.
57
Kasihan Gibran
58
Nikmatnya Bakso buatan mertua
59
Hp baru dari Kakak Ipar
60
Apa kalian, sudah saling mencintai?
61
Pernikahan Luna
62
3 kecupan sebelum tidur.
63
Ikan fugunya, kalau nangis jelek.
64
Berusaha keras memelukmu
65
Aku kapan belajar jalan?
66
Mengungsi kerumah Bagas
67
Apa yang kamu sembunyikan?
68
Ya, emang kamu ganteng, Mas...
69
Makin lama makin cerewet
70
Tamu tak diundang
71
Semua orang menjadi jahat, ketika aku lemah
72
Syifa selalu memancing
73
Pujian untuk Syifa
74
Shoping untuk menantu kesayangan
75
Bisakah, jangan ucap perpisahan?
76
Hanya kalian, harapanku dalam keluarga ini.
77
Tentang surat kuasa
78
Satu-satunya yang Bagas percaya saat ini
79
Kecupan pertama
80
Syoknya Mama Ayu
81
Huru Hara di perusahaan Keluarga
82
Reza juga ingin di peluk
83
Kamu semakin menggemaskan
84
Mendandani anak perempuan.
85
Istri Sang Direktur Utama
86
Peringat ke Dua. Mengenai Om Edward
87
Tak ada yang dapat menolak pesona Syifa.
88
Aku ikut, kemanapun kamu pergi
89
Mendadak ingin punya cucu
90
Mati dalam keadaan glowing
91
Panggilan Sayang yang menggemaskan
92
Bermimpi, Mama menghampiri (Reza)
93
Mengunjungi mertua
94
Omongan para tetangga
95
Rendang jengkol kesukaan
96
Ada saja penemuan hari ini.
97
Maaf, Mas. Kelepasan...
98
Akhirnya, ada yang bilang aku tampan.
99
Mau mandi sama-sama...
100
Syifa dengan amarahnya
101
Takaran bahagia manusia itu, berbeda
102
Terapi untuk berjalan.
103
Hubungan suami istri?
104
Pertemuan yang mendebarkan
105
Sakit di awal, demi sebuah kesembuhan
106
Si Rambut Mie, yang begitu mempesona
107
Mulai tak fokus
108
I LOVE YOU sayang
109
Pergulatan Reza dan Bagas.
110
Ketemu mantan
111
Apa yang kamu katakan, Luna?
112
Mengejar wanita idaman
113
Aku Cemburu!
114
Percobaan pertama yang gagal
115
Membersihkan kenangan dari Luna
116
Kalian jahat padaku...
117
Kemesraan kalian, menyebalkan.
118
Sindiranmu menyakitkan, Fa.
119
Kak, Aku lelah..
120
Perkenalan yang manis.
121
Fikiran yang semakin melayang terbang
122
Aku sudah punya yang asli
123
Pawangku mantap.
124
Syifa tukang ngambek
125
Tak pernah ada alasan, untuk mencintaimu
126
Ada penyerangan di rumah
127
Bercandanya ngga lucu, Humairah.
128
Lakukan saja, apa yang harus dilakukan
129
Menjadi istrimu seutuhnya
130
Akan terjadi huru hara lagi
131
Jangan pernah halangi Papa, Za!
132
Langkah kaki pertamamu.
133
Jika sakit, katakan sakit.
134
Aku akan jadi Zuko, atau jadi Azula?
135
Pertengkaran kedua saudara
136
Asal mula huru hara keluarga
137
Semakin suka curiga.
138
Apapun untukmu, Humairah.
139
Kejutan Untuk Syifa
140
Makan gratis di kedai baru.
141
Tendangan maut, ala Cinta.
142
Kesialan seorang Reza
143
Dikira, hanya bersandiwara.
144
Dokter pelanggar sumpah
145
Udah lama ngga di cubit, ya?
146
Pengen punya Bayi....
147
Berkumpulnya Dua keluarga
148
Pertama kalinya, pergi tanpa suami.
149
Siapa, Kalian?!
150
Bukan Hanya Papa yang jahat, Reza.
151
Lakukan perintah mereka, sayang.
152
Kembalinya Syifa
153
Makan lah dengan cinta..
154
Kuasa tak berlaku lagi, ketika Bagas sehat.
155
Aku harus apa dengan keadaan ini?
156
Gempa Lokal
157
Andai semuanya mudah
158
Wajah Reza, Wajah Badboy
159
Aku selalu gagal, Bu.
160
Rasa cinta yang membabi buta
161
Pi, Mami mulai galak.
162
Tujuan yang tak jelas lagi.
163
Sebahagia itukah kalian?
164
Olin tak mempan di rayu
165
Tetaplah di sana, Olin.
166
Saya diam, ketika diminta untuk diam
167
Kenapa tak mati saja?
168
Tak ada jalan lain
169
Andai aku dapat berlari
170
Dia tak akan berani melawanku
171
Kau, pengkhianat
172
Dia, Ayahku.....!
173
Ingin pulang, dan segera memelukmu.
174
Mencintaimu dengan leluasa.
175
Siaga Satu
176
Tangis Reza
177
Kenyataan dari masa lalu.
178
Keisengan Reza
179
Aku yang sakit, kenapa Bagas yang dipeluk?
180
Melamar Humairah ku.
181
Arti sebuah keluarga
182
Dulu pengap, sekarang nyaman.
183
Permintaan Reza
184
Dua raga, Satu jiwa.
185
Sifat Asli Bagas.
186
Kejujuran Olin.
187
Olin selalu menghindar
188
Syifa turun tangan membantu Reza
189
Tersedak hatiku karenamu, Olin.
190
Gadis yang tak mudah di taklukan
191
Senyum itu, hanya milikku.
192
Es kutub, yang telah mencair.
193
Tak dapat membiarkanmu sendirian.
194
Caraku meredam amarahmu
195
Jomblo terhormat, yang terbully
196
Tak pernah melihat orang, hanya dari statusnya
197
Seperti anak kecil yang menggemaskan
198
Harapan Syifa
199
Aku masih ingin memanjakanmu, sayang.
200
Reza ingin melamar Olin
201
Reza tergesa-gesa
202
Jadian, Olin dan Reza
203
Getaran dahsyat di hati Reza
204
Pernikahan hangat
205
Babang Eza ngambek lagi.
206
Hari-hari indah Reza
207
Olin Naik pangkat
208
Apel pertama Reza Edwardo
209
Papi marah dengan anak bujangnya
210
Mejenguk Papa Edward
211
Asing, tapi bahagia.
212
Bukan hanya, sekedar wanita
213
Mencuri waktu bertemu Ayang
214
Olin mulai berharap.
215
Terpisah oleh adat dan keluarga.
216
Pagi hari tanpa peluk mesra Ayang
217
Dia telah muncul kembali.
218
Seharusnya, hari bahagiaku
219
Dia datang tepat waktu.
220
Jebakan untuk Viona.
221
Kejutan dari Mami untuk Papi.
222
Part Ekstra bab 1
223
Ekstra part bab 2
224
Promosi karya baru
225
Ekstra part 3
226
Ekstra part 4
227
Ekstra part 5
228
Ekstra part 6
229
Akhirnya Olin mengeluh
230
Promo kisah Zaolin.
231
Ekstra part 1 kelahiran Baby B.
232
Ekstra part, lahirnya Baby B, 2
233
Ekstra part: Breyhan Nata Nugraha
234
Baby Brey
235
Sambutan untuk Breyhan
236
Brey itu anakku, Mas.
237
Promo karya baru. Istri Tuan Amnesia
238
Oh, Baby Brey
We will open more payment methods as soon as possible
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!