Syifa selalu memancing

"Hallo, Fa. Tante Viona datang kerumah?"

"I-iya, Ma. Ifa baru tahu, karena waktu pulang, beliau sudah di rumah. Malah sama Farah, anaknya."

"Ya, apa yang terjadi?" tanya Mama Ayu.

"Yaelah, sepertinya ada yang mengadukan nasibnya barusan."batin Syifa.

Kemudian, Syifa menceritakan kejadian baru beberapa jam terjadi itu. Ia menceritakan secara detail, meski Ia ragu jika Mama Ayu akan mempercayainya. Atau bahkan, akan memarahinya karena bertengkar dengan salah satu saudaranya. Tapi, setidaknya Ia jujur dan apa adanya.

"Maaf, Ma. Baru ketemu malah ngajak berantem. Syifa ngga akan ngelawan, kalau ngga digituin." ucap Syifa.

"Ya, ngga papa. Terkadang, memang ada yang harus bersikap keras pada mereka yang keterlaluan. Jaga rumah, jaga Bagas. Besok kami pulang."

"Iya, Ma." balas Syifa, lalu menutup teleponnya.

Tak disangka, justru Mama Ayu membelanya. Ya, mungkin karena Mana Ayu faham dengan apa yang Syifa maksud barusan. Apalagi, mereka memang keterlaluan karena menjelajah rumah orang tanpa izin, apalagi seisi rumah sedang pergi.

"Maaf Non. Beliau kami tinggal karena harus belanja tadi. Semua keperluan sudah habis, dan kami percaya saja pada mereka." sesal Bik Darmi.

"Iya, ngga papa. Syifa ngerti kok. Kalian sudah bekerja dengan baik. Hanya mereka yang menyalah gunakan keadaan." jawab Syifa.

Obrolan terhenti, ketika Bagas bangun. Ia tidur cukup lama karena kelelahan dengan semua aktifitasnya. Dan kini, waktunya Ia mandi lalu Syifa mempersiapkan alatnya.

"Mandi air anget, Fa? Badanku kurang enak. Sakit-sakit." ucap Bagas.

"Ya, efeknya sama ketika kita yang ngga pernah olah raga, tiba-tiba harus gerak sedikit berat. Iya kan?"

"Iya sih... Padahal dulu rajin nge Gym."

"Iya tahu, kelihatan kok dari ototnya yang sixpack." ucap Syifa, dengan menepuk bagian dada Bagas yang berotot.

"Ngga usah mancing bisa ngga?"

"Mancing apa loh? Ifa cuma suka sama ototnya. Wooouuuw, so seksiiiiih." puji Syifa dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Awas kamu, Fa." batin Bagas.

Pakaian Bagas sudah tanggal. Syifa membawanya ke kamar mandi, lalu mengguyur tubuh nya dengan air hangat. Begitu nyaman, dan Bagas menikmatinya. Sentuhan demi sentuhan Ia rasakan, apalagi ketika Syifa menggosok bahunya dengan lembut, sembari memberi pijitan kecil disana. Aroma sabun yang wangi dan begitu menenangkan, menambah relaksasi kala itu. Bahkan Bagas dengan iseng, mencolekkan busa sabun ke hidung Syifa.

"Eh, tangannya... Nakal." lirik Syifa padanya.

"Kalau nakal, tandanya udah mau sembuh 'kan? Mulai aktif." jawab Bagas, dengan bangga menatap kedua telapak tangannya.

Syifa kesal, lalu mengusap wajah Bagas dengan busa sabun. Bagas pun berteriak karena matanya perih, tapi Syifa justru tertawa.

"Fa, serius, Fa. Ini perih banget."

"Iya, iya... Aku siramin bentar." ucap Syifa.

Ia pun menyiram tubuh Bagas pagi, dari atas kepalanya. Hingga semua shampo dan sabun yang ada di wajah Bagas terbilas dan bersih. Dan saat itu lah, lagi dan lagi mereka bertatap mata dengan begitu dekat. Bahkan Bagas meraih tangan Syifa agar semakin dekat dengannya.

"Tetaplah seperti ini, Fa." ucap Bagas, dan mereka berada dalam guyuran air yang sama.

Tubuh Syifa ikut basah karenanya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bagas memperhatikan setiap lekuk tubuh yang indah itu, bahkan sempat menarik ikat rambut Syifa hingga terurai dengan indah.

"Kamu cantik." puji Bagas, dengan membelai wajah Syifa yang di aliri air itu.

"Mas, udah yuk. Nanti masuk angin." ajak Syifa.

Bagas tak bergeming. Di raihnya dagu Syifa, lalu menatapnya dengan semakin tajam. Perlahan, Ia mendekatkan wajah pada istri yang bahkan belum pernah Ia cium itu.

Dada Syifa bergemuruh, serasa tak dapat terkontrol lagi. Ia hanya dapat memejamkan mata, dan menerima semua perlakuan itu padanya. Bagas pun makin lama makin dekat, hingga bibir bertemu bibir, nyaris mulai menikmati semua adegan yang Ia ciptakan.

"Haaachiiiiiim...!!" syifa bersin, dan menyembur tepat di wajah Bagas.

"Fa... Bisa ngga sih tahan dikit. Baru mau mesra." gerutu Bagas

Hay Guys... Mau promo karya sahabat otor nih. Karya baru netes, tapi udah banyak bab nya. Ehmmm, ada Hot2nya gitu.

Ya, kalian kan suka nanya, Syifa dan Bagas yang belum bisa hot kan ya. 🤣🤣 Gimana mau hot, gerakin kaki aja belom bisa. Wkwkwkw.

Jadi, saranin mampir deh kesini. Sambil nunggu Syifa dan Bagas. 🙏🙏 Buat yang selalu setia... SARANGHAE ❤️❤️❤️😘😘

Nah ini sampel bab nya buat testimoni

****

Bagaimana Arya tidak fokus ke arah bagian tubuh Anna yang menantang, dia hanyalah laki-laki normal yang terjebak dalam situasi yang sangat memungkinkan dirinya untuk terbangun gairahnya.

Apalagi Arya memang diam-diam mengagumi sosok sekretarisnya yang cerdas, cakap, pintar, perhatian, kadang sedikit manja meski tidak terlalu kentara, membuat dia lambat laun jatuh dalam pesona Anna yang menawan.

"Ehem," Anna berdehem saat sudah berhasil naik ke atas ranjang karena Bos di sampingnya masih fokus pada gunung kembarnya yang kini makin terlihat jelas.

Arya pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mereka berdua bersiap tidur.

Keduanya tidak bisa memejamkan kedua mata mereka.

"Pak," panggil Anna lirih.

"Iya," sahut Arya cepat.

"Aku kira Bapak udah tidur, hehe," tawa Anna pelan.

"Belum kok. Aku nggak tau kenapa ga terlalu ngantuk," dan adik kecilku juga sekarang tidak bisa ditidurkan, lanjutnya dalam hati. "Kamu kenapa belum tidur juga?" tanya Arya balik.

"Aku pun nggak bisa tidur, Pak."

Suasana hening sesaat.

"Pak,"

"An,"

Keduanya memanggil satu sama lain.

"Hahaha," tawa renyah pun terbit dari keduanya.

Kini mereka berdua saling berpandangan.

"Kamu mau ngomong apa, An?"

"Bapak tadi mau ngomong apa?" tanya Anna yang malah membalikkan pertanyaan.

"Aku cuma mau tanya kalau jam segini biasanya kamu ngapain kalau ga bisa tidur?"

Anna terlihat berpikir, "Aku ga pernah kayak gini sih, Pak. Ini baru pertama kalinya. Mungkin efek karna tidur seranjang sama lawan jenis."

"Kamu nggak nyaman sama kehadiran saya?" tanya Arya dengan nada bicara tidak enak dan juga tersirat getar kecewa karena Anna tidak nyaman berada dekat dengannya.

Anna langsung menyampingkan tubuhnya dengan gerakan yang panik. "Nggak, Pak. Aku nggak ngerasa kayak gitu kok." gelengnya kuat-kuat.

Arya pun ikut menyampingkan tubuhnya dan menghadap ke arah Anna.

"Lalu kalau bukan itu alasannya, trus karena hal apa?"

"Aku ini udah lama kehilangan sosok seorang ayah, Pak, dari jaman masih kecil, jadi aku tuh ngerasa kehadiran Bapak di samping aku kayak menggantikan sosok ayah. Gitu lho, Pak," jelas Anna yang malah membuat ngilu hati Arya karena dirinya hanya dianggap sebagai sosok ayah.

"Kenapa aku kok malah kecewa ya?" batin Arya.

"Aku pengen kayak anak gadis lain yang bisa curhat sama ayahnya pas mereka masih kecil. Makanya aku ga bisa eh lebih tepatnya ga mau tidur karena pengen rasain pengalaman yang sama."

"Ya udah kalau gitu kamu anggap aku sebagai ayah kamu aja." pasrah Arya meski dalam hati menangis pilu cuma dianggap ayah.

"Makasih ya, Pak," senang Anna yang dengan refleks memeluk laki-laki dewasa itu.

Serrr ....

Arya makin berkobar ga*rahnya saat anggota badan kenyal dan lembut milik Anna dengan sangat nyata dan terasa menempel pada tubuhnya.

Adik kecilnya yang sedari tadi dia usahakan untuk tidur kini malah semakin bertambah rewel ingin diluapkan segala hasrat yang tertahan.

"Eh, maaf, Pak," ucap Anna yang sadar kalau dirinya telah kelewatan batas.

Arya tak menjawab dan saat Anna ingin menjauhkan tubuhnya, tangan lelaki itu mencekal lengan Anna agar tak segera menjauh darinya.

Keduanya saling bertatapan dengan sangat dalam dan karena memang sudah terbawa suasana wajah Arya mulai mendekati wajah Anna yang hanya berjarak beberapa puluh centi saja dari posisinya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Jastia Fadrisyah

hancorrrr semua nya hancur bayangan ku thor🤣🤣

2022-06-09

4

𝑖'𝑚 𝑐𝑢𝑡𝑖𝑒𝑒𝑒><

gak pas dih bersin nya

2022-06-25

1

𝑖'𝑚 𝑐𝑢𝑡𝑖𝑒𝑒𝑒><

author nya keanya kpopers ni

2022-06-25

1

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan Tragis malam itu
2 Diagnosa yang menyakitkan
3 Di tinggalkan, ketika tak berdaya
4 Dari saksi, menjadi tersangka
5 Berusaha ikhlas dengan keadaan.
6 Perawat pilihan hati
7 Keadaan yang pahit
8 Mengadakan perjanjian
9 Perawat dan Muhrim
10 Keluarga yang menepati Janji
11 Mantan yang masih memanfaatkan
12 Bagaimana Ijab Qabul nya?
13 Syifa akan selalu di sampingnya
14 Tuan, kau perlu gosok gigi..
15 Sakit yang tak dapat di sembuhkan.
16 Aku akan segera sembuh!
17 Pernikahan pasif.
18 Sambutan para kelarga.
19 Seperti, Suami Istri betulan.
20 Makan malam yang berantakan
21 Kan, sudah muhrim
22 Syifa capek, Yah.
23 Ingin menggenggam tanganmu erat
24 Tentang keberadaan Syifa
25 Kata pertama dari Bagas
26 Kesabaran sang Junior
27 Harusnya adalah pengantin baru.
28 Yang selalu kalah dengan keadaan
29 Karena kamu Istriku, Fa.
30 Membuat keajaiban sendiri.
31 Mama rindu suaramu...
32 Maafkan aku, Fa.
33 Berat badanmu, tak seberat badanku.
34 Gosip tentang Syifa dikampungnya
35 Wajahmu seperti ikan Fugu.
36 Subhanallah, Cantiknya!
37 Lekaslah sembuh, jika ingin menunaikan hakmu, Mas.
38 Berani melawan Papamu, Reza?
39 Haruskah, berbicara seperti itu?
40 Syifa tak sepolos yang Bagas kira.
41 Sebutir nasi di pipimu, yang tak dapat ku singkirkan.
42 Ternodai oleh tangan.
43 Mama mendukungmu, sayang.
44 Kamu bagaikan candu untukku.
45 Undangan dari mantan
46 Bola karet kenyal
47 Kamu cemburu?
48 Aku bukan menantu pilihan.
49 Kapan kaki ini bergeak?
50 Tatapan yang saling mengisi
51 Ingin agar semua mendoakanmu.
52 Tatapannya di jaga, Fa.
53 Bola Karet yang buat otak traveling
54 Meminta Ayah dan Ibu untuk berkunjung
55 Jangan ganggu suamiku
56 Kedatangan mertua.
57 Kasihan Gibran
58 Nikmatnya Bakso buatan mertua
59 Hp baru dari Kakak Ipar
60 Apa kalian, sudah saling mencintai?
61 Pernikahan Luna
62 3 kecupan sebelum tidur.
63 Ikan fugunya, kalau nangis jelek.
64 Berusaha keras memelukmu
65 Aku kapan belajar jalan?
66 Mengungsi kerumah Bagas
67 Apa yang kamu sembunyikan?
68 Ya, emang kamu ganteng, Mas...
69 Makin lama makin cerewet
70 Tamu tak diundang
71 Semua orang menjadi jahat, ketika aku lemah
72 Syifa selalu memancing
73 Pujian untuk Syifa
74 Shoping untuk menantu kesayangan
75 Bisakah, jangan ucap perpisahan?
76 Hanya kalian, harapanku dalam keluarga ini.
77 Tentang surat kuasa
78 Satu-satunya yang Bagas percaya saat ini
79 Kecupan pertama
80 Syoknya Mama Ayu
81 Huru Hara di perusahaan Keluarga
82 Reza juga ingin di peluk
83 Kamu semakin menggemaskan
84 Mendandani anak perempuan.
85 Istri Sang Direktur Utama
86 Peringat ke Dua. Mengenai Om Edward
87 Tak ada yang dapat menolak pesona Syifa.
88 Aku ikut, kemanapun kamu pergi
89 Mendadak ingin punya cucu
90 Mati dalam keadaan glowing
91 Panggilan Sayang yang menggemaskan
92 Bermimpi, Mama menghampiri (Reza)
93 Mengunjungi mertua
94 Omongan para tetangga
95 Rendang jengkol kesukaan
96 Ada saja penemuan hari ini.
97 Maaf, Mas. Kelepasan...
98 Akhirnya, ada yang bilang aku tampan.
99 Mau mandi sama-sama...
100 Syifa dengan amarahnya
101 Takaran bahagia manusia itu, berbeda
102 Terapi untuk berjalan.
103 Hubungan suami istri?
104 Pertemuan yang mendebarkan
105 Sakit di awal, demi sebuah kesembuhan
106 Si Rambut Mie, yang begitu mempesona
107 Mulai tak fokus
108 I LOVE YOU sayang
109 Pergulatan Reza dan Bagas.
110 Ketemu mantan
111 Apa yang kamu katakan, Luna?
112 Mengejar wanita idaman
113 Aku Cemburu!
114 Percobaan pertama yang gagal
115 Membersihkan kenangan dari Luna
116 Kalian jahat padaku...
117 Kemesraan kalian, menyebalkan.
118 Sindiranmu menyakitkan, Fa.
119 Kak, Aku lelah..
120 Perkenalan yang manis.
121 Fikiran yang semakin melayang terbang
122 Aku sudah punya yang asli
123 Pawangku mantap.
124 Syifa tukang ngambek
125 Tak pernah ada alasan, untuk mencintaimu
126 Ada penyerangan di rumah
127 Bercandanya ngga lucu, Humairah.
128 Lakukan saja, apa yang harus dilakukan
129 Menjadi istrimu seutuhnya
130 Akan terjadi huru hara lagi
131 Jangan pernah halangi Papa, Za!
132 Langkah kaki pertamamu.
133 Jika sakit, katakan sakit.
134 Aku akan jadi Zuko, atau jadi Azula?
135 Pertengkaran kedua saudara
136 Asal mula huru hara keluarga
137 Semakin suka curiga.
138 Apapun untukmu, Humairah.
139 Kejutan Untuk Syifa
140 Makan gratis di kedai baru.
141 Tendangan maut, ala Cinta.
142 Kesialan seorang Reza
143 Dikira, hanya bersandiwara.
144 Dokter pelanggar sumpah
145 Udah lama ngga di cubit, ya?
146 Pengen punya Bayi....
147 Berkumpulnya Dua keluarga
148 Pertama kalinya, pergi tanpa suami.
149 Siapa, Kalian?!
150 Bukan Hanya Papa yang jahat, Reza.
151 Lakukan perintah mereka, sayang.
152 Kembalinya Syifa
153 Makan lah dengan cinta..
154 Kuasa tak berlaku lagi, ketika Bagas sehat.
155 Aku harus apa dengan keadaan ini?
156 Gempa Lokal
157 Andai semuanya mudah
158 Wajah Reza, Wajah Badboy
159 Aku selalu gagal, Bu.
160 Rasa cinta yang membabi buta
161 Pi, Mami mulai galak.
162 Tujuan yang tak jelas lagi.
163 Sebahagia itukah kalian?
164 Olin tak mempan di rayu
165 Tetaplah di sana, Olin.
166 Saya diam, ketika diminta untuk diam
167 Kenapa tak mati saja?
168 Tak ada jalan lain
169 Andai aku dapat berlari
170 Dia tak akan berani melawanku
171 Kau, pengkhianat
172 Dia, Ayahku.....!
173 Ingin pulang, dan segera memelukmu.
174 Mencintaimu dengan leluasa.
175 Siaga Satu
176 Tangis Reza
177 Kenyataan dari masa lalu.
178 Keisengan Reza
179 Aku yang sakit, kenapa Bagas yang dipeluk?
180 Melamar Humairah ku.
181 Arti sebuah keluarga
182 Dulu pengap, sekarang nyaman.
183 Permintaan Reza
184 Dua raga, Satu jiwa.
185 Sifat Asli Bagas.
186 Kejujuran Olin.
187 Olin selalu menghindar
188 Syifa turun tangan membantu Reza
189 Tersedak hatiku karenamu, Olin.
190 Gadis yang tak mudah di taklukan
191 Senyum itu, hanya milikku.
192 Es kutub, yang telah mencair.
193 Tak dapat membiarkanmu sendirian.
194 Caraku meredam amarahmu
195 Jomblo terhormat, yang terbully
196 Tak pernah melihat orang, hanya dari statusnya
197 Seperti anak kecil yang menggemaskan
198 Harapan Syifa
199 Aku masih ingin memanjakanmu, sayang.
200 Reza ingin melamar Olin
201 Reza tergesa-gesa
202 Jadian, Olin dan Reza
203 Getaran dahsyat di hati Reza
204 Pernikahan hangat
205 Babang Eza ngambek lagi.
206 Hari-hari indah Reza
207 Olin Naik pangkat
208 Apel pertama Reza Edwardo
209 Papi marah dengan anak bujangnya
210 Mejenguk Papa Edward
211 Asing, tapi bahagia.
212 Bukan hanya, sekedar wanita
213 Mencuri waktu bertemu Ayang
214 Olin mulai berharap.
215 Terpisah oleh adat dan keluarga.
216 Pagi hari tanpa peluk mesra Ayang
217 Dia telah muncul kembali.
218 Seharusnya, hari bahagiaku
219 Dia datang tepat waktu.
220 Jebakan untuk Viona.
221 Kejutan dari Mami untuk Papi.
222 Part Ekstra bab 1
223 Ekstra part bab 2
224 Promosi karya baru
225 Ekstra part 3
226 Ekstra part 4
227 Ekstra part 5
228 Ekstra part 6
229 Akhirnya Olin mengeluh
230 Promo kisah Zaolin.
231 Ekstra part 1 kelahiran Baby B.
232 Ekstra part, lahirnya Baby B, 2
233 Ekstra part: Breyhan Nata Nugraha
234 Baby Brey
235 Sambutan untuk Breyhan
236 Brey itu anakku, Mas.
237 Promo karya baru. Istri Tuan Amnesia
238 Oh, Baby Brey
Episodes

Updated 238 Episodes

1
Kecelakaan Tragis malam itu
2
Diagnosa yang menyakitkan
3
Di tinggalkan, ketika tak berdaya
4
Dari saksi, menjadi tersangka
5
Berusaha ikhlas dengan keadaan.
6
Perawat pilihan hati
7
Keadaan yang pahit
8
Mengadakan perjanjian
9
Perawat dan Muhrim
10
Keluarga yang menepati Janji
11
Mantan yang masih memanfaatkan
12
Bagaimana Ijab Qabul nya?
13
Syifa akan selalu di sampingnya
14
Tuan, kau perlu gosok gigi..
15
Sakit yang tak dapat di sembuhkan.
16
Aku akan segera sembuh!
17
Pernikahan pasif.
18
Sambutan para kelarga.
19
Seperti, Suami Istri betulan.
20
Makan malam yang berantakan
21
Kan, sudah muhrim
22
Syifa capek, Yah.
23
Ingin menggenggam tanganmu erat
24
Tentang keberadaan Syifa
25
Kata pertama dari Bagas
26
Kesabaran sang Junior
27
Harusnya adalah pengantin baru.
28
Yang selalu kalah dengan keadaan
29
Karena kamu Istriku, Fa.
30
Membuat keajaiban sendiri.
31
Mama rindu suaramu...
32
Maafkan aku, Fa.
33
Berat badanmu, tak seberat badanku.
34
Gosip tentang Syifa dikampungnya
35
Wajahmu seperti ikan Fugu.
36
Subhanallah, Cantiknya!
37
Lekaslah sembuh, jika ingin menunaikan hakmu, Mas.
38
Berani melawan Papamu, Reza?
39
Haruskah, berbicara seperti itu?
40
Syifa tak sepolos yang Bagas kira.
41
Sebutir nasi di pipimu, yang tak dapat ku singkirkan.
42
Ternodai oleh tangan.
43
Mama mendukungmu, sayang.
44
Kamu bagaikan candu untukku.
45
Undangan dari mantan
46
Bola karet kenyal
47
Kamu cemburu?
48
Aku bukan menantu pilihan.
49
Kapan kaki ini bergeak?
50
Tatapan yang saling mengisi
51
Ingin agar semua mendoakanmu.
52
Tatapannya di jaga, Fa.
53
Bola Karet yang buat otak traveling
54
Meminta Ayah dan Ibu untuk berkunjung
55
Jangan ganggu suamiku
56
Kedatangan mertua.
57
Kasihan Gibran
58
Nikmatnya Bakso buatan mertua
59
Hp baru dari Kakak Ipar
60
Apa kalian, sudah saling mencintai?
61
Pernikahan Luna
62
3 kecupan sebelum tidur.
63
Ikan fugunya, kalau nangis jelek.
64
Berusaha keras memelukmu
65
Aku kapan belajar jalan?
66
Mengungsi kerumah Bagas
67
Apa yang kamu sembunyikan?
68
Ya, emang kamu ganteng, Mas...
69
Makin lama makin cerewet
70
Tamu tak diundang
71
Semua orang menjadi jahat, ketika aku lemah
72
Syifa selalu memancing
73
Pujian untuk Syifa
74
Shoping untuk menantu kesayangan
75
Bisakah, jangan ucap perpisahan?
76
Hanya kalian, harapanku dalam keluarga ini.
77
Tentang surat kuasa
78
Satu-satunya yang Bagas percaya saat ini
79
Kecupan pertama
80
Syoknya Mama Ayu
81
Huru Hara di perusahaan Keluarga
82
Reza juga ingin di peluk
83
Kamu semakin menggemaskan
84
Mendandani anak perempuan.
85
Istri Sang Direktur Utama
86
Peringat ke Dua. Mengenai Om Edward
87
Tak ada yang dapat menolak pesona Syifa.
88
Aku ikut, kemanapun kamu pergi
89
Mendadak ingin punya cucu
90
Mati dalam keadaan glowing
91
Panggilan Sayang yang menggemaskan
92
Bermimpi, Mama menghampiri (Reza)
93
Mengunjungi mertua
94
Omongan para tetangga
95
Rendang jengkol kesukaan
96
Ada saja penemuan hari ini.
97
Maaf, Mas. Kelepasan...
98
Akhirnya, ada yang bilang aku tampan.
99
Mau mandi sama-sama...
100
Syifa dengan amarahnya
101
Takaran bahagia manusia itu, berbeda
102
Terapi untuk berjalan.
103
Hubungan suami istri?
104
Pertemuan yang mendebarkan
105
Sakit di awal, demi sebuah kesembuhan
106
Si Rambut Mie, yang begitu mempesona
107
Mulai tak fokus
108
I LOVE YOU sayang
109
Pergulatan Reza dan Bagas.
110
Ketemu mantan
111
Apa yang kamu katakan, Luna?
112
Mengejar wanita idaman
113
Aku Cemburu!
114
Percobaan pertama yang gagal
115
Membersihkan kenangan dari Luna
116
Kalian jahat padaku...
117
Kemesraan kalian, menyebalkan.
118
Sindiranmu menyakitkan, Fa.
119
Kak, Aku lelah..
120
Perkenalan yang manis.
121
Fikiran yang semakin melayang terbang
122
Aku sudah punya yang asli
123
Pawangku mantap.
124
Syifa tukang ngambek
125
Tak pernah ada alasan, untuk mencintaimu
126
Ada penyerangan di rumah
127
Bercandanya ngga lucu, Humairah.
128
Lakukan saja, apa yang harus dilakukan
129
Menjadi istrimu seutuhnya
130
Akan terjadi huru hara lagi
131
Jangan pernah halangi Papa, Za!
132
Langkah kaki pertamamu.
133
Jika sakit, katakan sakit.
134
Aku akan jadi Zuko, atau jadi Azula?
135
Pertengkaran kedua saudara
136
Asal mula huru hara keluarga
137
Semakin suka curiga.
138
Apapun untukmu, Humairah.
139
Kejutan Untuk Syifa
140
Makan gratis di kedai baru.
141
Tendangan maut, ala Cinta.
142
Kesialan seorang Reza
143
Dikira, hanya bersandiwara.
144
Dokter pelanggar sumpah
145
Udah lama ngga di cubit, ya?
146
Pengen punya Bayi....
147
Berkumpulnya Dua keluarga
148
Pertama kalinya, pergi tanpa suami.
149
Siapa, Kalian?!
150
Bukan Hanya Papa yang jahat, Reza.
151
Lakukan perintah mereka, sayang.
152
Kembalinya Syifa
153
Makan lah dengan cinta..
154
Kuasa tak berlaku lagi, ketika Bagas sehat.
155
Aku harus apa dengan keadaan ini?
156
Gempa Lokal
157
Andai semuanya mudah
158
Wajah Reza, Wajah Badboy
159
Aku selalu gagal, Bu.
160
Rasa cinta yang membabi buta
161
Pi, Mami mulai galak.
162
Tujuan yang tak jelas lagi.
163
Sebahagia itukah kalian?
164
Olin tak mempan di rayu
165
Tetaplah di sana, Olin.
166
Saya diam, ketika diminta untuk diam
167
Kenapa tak mati saja?
168
Tak ada jalan lain
169
Andai aku dapat berlari
170
Dia tak akan berani melawanku
171
Kau, pengkhianat
172
Dia, Ayahku.....!
173
Ingin pulang, dan segera memelukmu.
174
Mencintaimu dengan leluasa.
175
Siaga Satu
176
Tangis Reza
177
Kenyataan dari masa lalu.
178
Keisengan Reza
179
Aku yang sakit, kenapa Bagas yang dipeluk?
180
Melamar Humairah ku.
181
Arti sebuah keluarga
182
Dulu pengap, sekarang nyaman.
183
Permintaan Reza
184
Dua raga, Satu jiwa.
185
Sifat Asli Bagas.
186
Kejujuran Olin.
187
Olin selalu menghindar
188
Syifa turun tangan membantu Reza
189
Tersedak hatiku karenamu, Olin.
190
Gadis yang tak mudah di taklukan
191
Senyum itu, hanya milikku.
192
Es kutub, yang telah mencair.
193
Tak dapat membiarkanmu sendirian.
194
Caraku meredam amarahmu
195
Jomblo terhormat, yang terbully
196
Tak pernah melihat orang, hanya dari statusnya
197
Seperti anak kecil yang menggemaskan
198
Harapan Syifa
199
Aku masih ingin memanjakanmu, sayang.
200
Reza ingin melamar Olin
201
Reza tergesa-gesa
202
Jadian, Olin dan Reza
203
Getaran dahsyat di hati Reza
204
Pernikahan hangat
205
Babang Eza ngambek lagi.
206
Hari-hari indah Reza
207
Olin Naik pangkat
208
Apel pertama Reza Edwardo
209
Papi marah dengan anak bujangnya
210
Mejenguk Papa Edward
211
Asing, tapi bahagia.
212
Bukan hanya, sekedar wanita
213
Mencuri waktu bertemu Ayang
214
Olin mulai berharap.
215
Terpisah oleh adat dan keluarga.
216
Pagi hari tanpa peluk mesra Ayang
217
Dia telah muncul kembali.
218
Seharusnya, hari bahagiaku
219
Dia datang tepat waktu.
220
Jebakan untuk Viona.
221
Kejutan dari Mami untuk Papi.
222
Part Ekstra bab 1
223
Ekstra part bab 2
224
Promosi karya baru
225
Ekstra part 3
226
Ekstra part 4
227
Ekstra part 5
228
Ekstra part 6
229
Akhirnya Olin mengeluh
230
Promo kisah Zaolin.
231
Ekstra part 1 kelahiran Baby B.
232
Ekstra part, lahirnya Baby B, 2
233
Ekstra part: Breyhan Nata Nugraha
234
Baby Brey
235
Sambutan untuk Breyhan
236
Brey itu anakku, Mas.
237
Promo karya baru. Istri Tuan Amnesia
238
Oh, Baby Brey
We will open more payment methods as soon as possible
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!