Makan malam tiba. Para keluarga yang tadi datang, kembali lagi untuk makan malam bersama. Mereka ingin merayakan kepulangan Bagas saat itu, meski tak semua bahagia seperti kelihatannya.
"Selamat malam..." ucap Reza, sepupu Bagas, anak Om edward.
"Hey, Za. Gimana kabarnya?" tanya Mama Ayu.
"Baik, Tante. Mana Bagas?"
"Sebentar lagi keluar kok, tunggu aja."
Reza pun duduk dengan santai, sembari memainkan Hpnya. Ia memang akrab dengan Bagas, tapi sejak memperebutkan Luna beberapa waktu lalu, hubungan mereka sedikit renggang. Reza mencoba memperbaiki, ketika tahu Luna telah mencampakan Bagas begitu saja.
" Tante, katanya Bagas udah nikah? Sama siapa?" tanya Reza.
"Sama perawatnya. Dia anak tukang Bakso yang bikin Bagas celaka. Jadi dia bersedia nikah sama Bagas buat ngerawat dia."
"Nikah kontrak?"
"Sampai Bagas sembuh. Tapi, ngga tahu juga. Kemungkinanya sembuh total, kecil kata dokter." ucap Mama Ayu, berubah murung.
"Maaf ya, Tante." sesal Reza.
"Iya, ngga papa... Usahakan jangan perlihatkan wajah sedih kamu di depan dia. Perlakukan dia seperti biasanya, jangan sampai dia sedih."
"Ba-baik..." jawab Reza.
Tak kelang beberapa lama, Bagas pun keluar bersama Syifa. Reza menatap Bagas yang sebenarnya begitu memprihatinkan. Lumpuh total, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja begitu sulit. Ia pun belum dapat berbicara sampai saat ini.
"Hay Bro... Gimana kabar loe? Sehat 'kan?" sapa Reza dengan senyum renyahnya. Meski dalam hati begitu sakit melihat sepupunya seperti ini.
Reza mengenggamkan lengannya, lalu mengarahkan tinjunya kearah tangan Bagas untuk Tos bersama seperti yang sering mereka lakukan dulu. Tapi, kini Bagas tak dapat melawannya seperti biasa.
"Hey, kamu pasti istri Bagas 'kan?" sapa Reza, menatap kecantikan Syifa yang paripurna.
"Iya, saya Syifa. Istri sekaligus perawat Mas Bagas." jawab Syifa.
Reza pun mempersilah kan Ia duduk di dekatnya, dan mendorong kursi roda Bagas di sisi sebelahnya lagi. Mereka mengobrol ringan, sembari menunggu yang lain berkumpul dengan lengkap dan memulai makan malam yang mewah itu.
"Fa, titip Bagas, ya? Dia emang suka bandel, nakal, dan mau menang sendiri. Tapi, hatinya baik kok."
"Iya, Insya allah, saya akan jaga dia." jawab Syifa.
"Subhanallah, shalehah nya wanita ini." puji Reza dengan begitu manis. Hingga Bagas tampak meliriknya dengan sadis.
Reza langsung diam, dan tak lagi menggoda Syifa di hadapan suaminya.
Semua telah lengkap. Papa Erland pun sudah datang dan berada ditengah mereka. Makan malam pun dimulai, dan mereka menyantap semua makanan mewah itu dengan begitu lahap dan tenang. Kecuali Syifa, Ia yang baru pertama kali di jamu dengan hal mewah seperti itu, lalu bingung hanya untuk mengikuti cara mereka memakan steak yang ada di hadapannya.
"Mas... Aku ngga ngerti cara makannya." bisik Syifa pada Bagas.
"Oh, andai aku setidaknya dapat menggerakkan tanganku, pasti akan aku bantu kamu, Fa. Tak tega rasanya, melihatmu di lirik seperti itu oleh yang lain." batin Bagas berkecamuk.
"Sini, Fa_ Aku ajarin." ucap Reza, yang tiba-tiba menggenggam tangan Syifa, lalu mengajarinya memotong daging dengan pisau dan garpunya.
"Maaf, Mas _ngerepotin." ucap Syifa, sungkan.
Dengan perlahan, akhirnya Syifa bisa melakukannya dan memakan makanannya. Meski, beberapa orang di sana mentertawakan dirinya yang tampak kampungan.
"Mas mau makan? Sini, aku suapin." tawar Syifa pada Bagas.
Bagas pun perlahan membuka mulutnya, dan Syifa menyuapkan sepotong daging padanya. Bagas menikmati makanan itu, dan Syifa pun tak lupa memberikan minuman karena Bagas belum bisa mengunyah dan menelan dengan sempurna..
"Yu, Bagas ngga di operasi?"
"Engga, Mba. Kata dokter, kalau operasi justru membahayakan. Jadi, kami memilih untuk terapi saja." jawab Mama Ayu.
"Kalau terapi, kapan sembuhnya? Lama lah pastinya. Menunggu keajaiban lagi kau begitu." jawab yang lain.
"Kalau begitu, alihkan saja perusahaan pada Reza. Dia kan sepupu Bagas, apalagi sedang begitu berkembang. Kemampuan Erland, takutnya kurang memadai." ucap Om Edward.
"Kakek Bagas sudah memepercayakan pada kami. Jadi, bagaimanapun caranya, kami yang akan mengurusnya. Sesulit apapun itu." ucap Papa Erland.
Begitu di sayangkan, keharmonisan yang hanya sesekali itu harus di rusak hanya karena membahas warisan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjuuutt Thor 😛😆💪👍🙏
2024-01-27
1
Hades Riyadi
Penyakit lama Keluarga kaya tak pernah jauh daripada berebut warisan kekayaan...duuhh... ironisnya didepan Bagas yang lumpuh lageee...🤔🙄😩😠😆👍👍
2024-01-27
0
Fatah Liverpooldlian
lih
2023-12-24
0