Angin bertiup tepat di dahi Syifa. Membangunkannya dari tidur sesaat yang lelap itu. Ia mengangkat kepala dan pundak Bagas, dan mencari sumber angin yang meniupnya. Dan ternyata Bagas yang melakukannya. Ia meniup dahi Syifa untuk membangunkannya. Wajar saja, karena Ia belum bisa mengeluarkan suara, dan tangannya belum dapat Ia gerakkan.
"Eh... Udah nyampe? Mas bangunin aku?" tanya Syifa.
"Kamu, di bangunin saya ngga bangun-bangun. Cuma karna di tiup sama Bagas, kamu langsung bangun. Apa maksudnya?" tanya Mama Ayu, yang tampak sewot.
"Ma-maaf, tapi memang ngga dengar."
Syifa pun langsung turun dari mobil. Ia menyiapkan kursi roda dibantu oleh supirnya. Lalu, Ia kembali membopong tubuh Bagas untuk naik ke kursi rodanya itu.
Mereka berjalan, menapaki jalan beraspal yang lumayan panjang hinga sampai tepat di pintu masuk rumah mewah bak istana itu. Dan sepanjang jalan tadi, Syifa tak henti menatap rumah itu dengan takjubnya.
"Mas... Ini rumahmu?" bisik Syifa, dan Bagas pun kembali mengangguk.
Mama Ayu membuka pintu, dan tampak beberapa orang berdiri menyambut mereka semua. Mengulurkan senyum, dan merentangkan tangan untuk memeluk kesayangan mereka yang baru pulang dari tempat pembaringannya.
Syifa melangkahkan kakinya perlahan, masuk kerumah besar itu. Dengan perasaan takjub, dan seolah gamang dengan suasana yang sama sekali tak pernah Ia bayangkan untuk masuk ke rumah besar seperti itu. Apalagi harus tinggal disana dalam waktu yang lumayan panjang.
"Bagas.... Keponakan Tante.." seru Seorang wania seusia Mama Ayu. Dan dengan pelukan hangatnya mendekap Bagas dengan erat. Ia bernama Tante Viola, Tante yang cukup dekat diantara yang lainnya, dari pihak Papa Erland.
Setelah itu, yang lain pun ikut mendatangi Bagas. Memeluk, mencium, dan menyatakan bela sungkawa mereka dari hati terdalam. Meski tak tahu, bagaimana ketulusan mereka.
Om Edward, adalah adik dari Mama Ayu. Ia anak kedua dari Kakek Adi Nugraha yang telah meninggal. Ia mendatangi Bagas, dan ingin memeluknya. Tapi, tampaknya Bagas ingin menghindarinya.
"Mas, capek?" bisik Syifa, yang melihat Bagas mulai tak nyaman.
Bagas mengangguk, lalu Syifa kembali mendorong kursi roda Bagas untuk masuk ke kamarnya.
"Bagas, kamar Bagas sekarang di bawah, ya? Mama belum bisa buatin tangga buat kursi roda Bagas.."ucap Mama Ayu.
" Eh, dia siapa?" tanya Om Edward.
" Saya..... "
" Dia Istri Bagas. Baru menikah sebulan ini. Hanya pihak keluarga, dan anggota dewan perusahaan yang menjadi saksi." potong mama Ayu.
" Hey, Mbak ku tersayang. Aku ini adikmu semata wayang. Kenapa ngga diundang dalam acara dadakan kalian?" tanya Om Edward.
" Kenapa nikah mendadak, kenapa nikah siri? Kayak ngga ada waktu lain aja buat nikah? Udah kebelet pengen jadi istri pengusaha, samapai maksa nikah dalam keadaan begitu? "sahut yang lain. Mencecar berbagai pertanyaan pada Syifa.
"Jangan-jangan, kayak yang di novel itu. Kalian tidur bareng, dan kamu ngejar Bagas buat tanggung jawab. Iya kan?"
Syifa hanya menghela nafas kasar. Ia kira, Orang kaya itu semua berpendidikan, elegan dan ucapannya tertata meski kadang angkuh. Tapi ternyata Ia beda.
" Pertanyaan apa yang kalian ucapkan. Yang jelas, dia menantuku. Sudah, biarkan dia istirahat di kamarnya. Ia juga lelah, selalu menjaga Bagas setiap hari." sergah Mama Ayu, membela Syifa.
Syifa masih terdiam, dan kembali mendorong Bagas untuk masuk ke kamarnya. Dikamar yang megah itu, terdapat Dua tempat tidur yang memang disediakan untuk Bagas dan Syifa. Tempat tidur yang sama besar, dan sama nyamannya..
Syifa lalu meletakkan kursi roda itu di tepi ranjang. Ia mengganjal kursi rodanya agar tak banyak bergerak, lalu Ia mulai lagi, perlahan mengangkat tubuh Bagas naik ke tempat tidurnya.
"Bismillah... Arrrghh, berat sekali." keluhnya yang mulia berhasil mengangkat tubuh Bagas.
Namun, setengah Bagas berdiri, kaki Syifa terpeleset. Bruuuughhhh! Tubuh Bagas jatuh menimpa tubuh Syifa.
"Aaaaahhh, tambah berat." rengek Syifa, yang kini tertindih tubuh Bagas.
Syifa pun mendorong tubuh Bagas ke samping, agar berguling di kasurnya. Lalu, membenarkan posisi tubuh suaminya itu agar nyaman.
"Kenapa kasar sekali? Mendorongku seperti itu. Padahal, aku hampir menikmati moment menindih tubuhnya tadi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjuuutt Thor 😛😆💪👍🙏
2024-01-27
3
Hades Riyadi
Dasaarr lelaki walopun dalam kondisi lumpuh tetap ajaaahh... berusaha mengambil keuntungan...😛😆💪👍👍👍
2024-01-27
1
Melani Sunardi
/Facepalm/ berat tau gas...
2023-12-30
0