Suara langkah kaki yang begitu elegan, memasuki sebuah rumah yang lumayan besar. Tanpa mengetuk pintu, atau pun memencet bel, Mama Ayu membuka dan mendorong pintu rumah itu dengan kuat.
"Luna! Luna, keluar kamu!" pekik Mama Ayu dalam rumah itu.
Belum ada yang menjawab, hingga seorang wanita keluar dari kamarnya.
"Ngapain kesini? Mau cari anak saya, lalu memohon agar tak meninggalkan anak kamu?" tanya Mama Nuri, yang tak kalah ganas dengan Mama Ayu.
"Mau meninggalkan, silahkan. Mau pergi, saya ngga perduli. Tapi, kembalikan credit card anak saya sekarang." ucap Mama Ayu.
Seketika wajah mama Nuri tampak pucat. Ia kaget karena Mantan calon besannya itu telah mengetahui kredit card Bagas yang hilang.
" Mana ada sama Luna. Dia kan kecelakaan, siapa tahu semua kartunya hilang berceceran di lokasi. Kenapa harus menuduh Luna?".
"Lalu... Untuk apa Luna mencuri cap jempol Bagas? Kamu fikir, itu masih berlaku di era seperti ini? Kolot!" balas Mama Ayu lagi.
Adu argumen terjadi selama beberapa waktu. Hingga tiba-tiba, Luna masuk tanpa melihat Mama Ayu di dalam.
"Ma... Ngga bisa, Ma. Ngga sah katanya..... Eh, Mama Ayu, kok kesini?" tanya Luna yang tampak kaget.
Mama Ayu memberikan senyum lebar untuknya, "Kenapa? Cap jempolnya ngga sah ya? Atau... Kredit cardnya ngga bisa di kuras?"
"Ma-maksudnya? Luna ngga ngerti."
"Jangan pura-pura bodoh. Sebelum kalian kuras habis, saya sudah blokir semuanya. Enak saja, mau morotin uang anak saya, tapi ngga mau bantu urus."
"Tan-Tante, maafin Luna. Itu, Bagas sendiri yang kasih kredit cardnya. Bukan Luna yang ambil." ucap Luna, dengan wajah memelasnya.
"Ya, sekalipun Bagas yang kasih, setidaknya kamu kembalikan setelah kata putus."
Mama Ayu lalu menghampiri Luna. Ia merebut tas gadis itu dan memeriksa semua isi tas dan dompetnya.
"Kalau mau tinggalkan... Semuanya tinggalkan. Yang telah di berikan anak saya pada kalian, anggap saja sedekah. Yang ini, sudah bukan hak kalian. Saya pergi." ucap Mama Ayu, dengan mengayunkan kakinya keluar dari rumah itu.
"Brengsek! Padahal Bagas begitu mencintai kamu. Bahkan sudah akan menjadikan kamu istrinya! Pasti Bagas begitu patah hati saat ini." tangis Mama Ayu di dalam mobilnya.
*
"Andai tahu seperti ini, kita kuras aja dari kemarin." ucap Mama Nuri pada putrinya.
"Katanya, Bagas udah sadar, Ma. Apa aku harus kesana?"
"Mau apa? Mau minta maaf dan kembali sama dia? Jangan bodoh! Robi sudah ngelamar kamu. Dan Mama udah terima lamaran itu beserta mahar yang Ia berikan."
"Uangnya mana, Ma? Luna mau bayar tagihan limit kredit card. Kan, Mama juga yang abisin."
"Enak aja... Itu hak Mama, jangan kamu ganggu. Setidaknya, itu balas budi kamu sama Mama yang udah rawat kamu sendiri selama ini." ucap Mama Nuri, lalu pergi meninggalkan Luna yang tertekan sendirian.
Membayar tagihan sebanyak itu, begitu berat Ia lakukan. Apalagi, pekerjaannya sebagai sekretaris tak juga cukup untuk mencukupi itu semua.
" Masa iya, harus minta sama Mas Robi? Baru calon istri, tapi udah banyak minta." fikirnya, yang benar-benar pusing saat ini.
❤️❤️❤️
"Aku sebenarnya kasihan padamu. Kecelakaan, lumpuh nyaris total, ditinggal kekasih, dan Kredit cardmu di kuras olehnya. Ya, meskipun kamu ngga akan kehabisan uang hanya gara-gara itu. Tapi pasti sakit, ketika kondisi seperti ini, dia malah meninggalkan kamu." ucap Syifa, ketika megelap kembali wajah Bagas yang berkeringat.
Tiba-tiba mata Bagas terbuka. Pria itu memberikan sebuah senyum manis yang begitu tulus untuk Syifa. Membuat wajah gadis itu memerah, dan Ia pun gugup di buatnya. Apalagi, posisi mereka begitu dekat saat ini.
"Tuan, sepertinya kau perlu gosok gigi." ucap Syifa, yang seketika menghilangkan senyuman itu dari bibir Bagas
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Lintang Kinan
Syifa..... ambyar dah momen romantis nya...😡😡
2022-01-15
420
Syech Sihab
aku dah baca berulang kali... gak bosan... padahal dah ganti hp tetap aku cari novel ini sesuka itu....
2024-04-26
5
Cha Cha
sesuka itu sama ini novel/Smile/
2024-03-04
0