"Hallo, Kak... Kakak dimana? Ayah pulang, Kak." ucap Gibran lewat teleponnya..
"Keluarga itu, telah benar-benar menepati janjinya. Ya, Gib... Kakak masih di Rumah sakit. Salam sama Ayah, ya. Nanti, kalau kamu sempet, tolong bawakan baju Kakak. Masukin ke tas besar yang ada di atas lemari."
"Lah, kok gitu? Kakak ngga pulang? Kita makan bareng seperti biasa. Ibu udah masak, Ibu udah sehat karena Ayah. Tinggal Kakak yang belum ada." tanya Gibran.
"Kakak... Kakak ada kontrak baru, jadi perawat pribadi. Jadi Kakak ngga pulang dulu. Lumayan, nanti kalau dapat duit tambahan, bisa di tabung buat kuliah kamu."
Syifa langsung mematikan Hpnya. Serasa tak sanggup lagi bicara dan berbohong pada Adik kesayangannya itu. Meski, Ia tahu jika Sang ayah pasti akan bicara jujur dengan keadaan nya saat ini.
***
" Hah... Menikah? Bagaimana bisa? Mereka sama sekali tak saling kenal. Bukankah, wajar jika perawat merawat yang beda jenis kelamin?" tanya Ibu Nuri.
"Ya, Ayah tahu itu. Tapi, tugas kali ini beda, Bu. Syifa harus merawatnya seharian penuh. Melayani semua yang di butuhkan, merawat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tahu sendiri, bagaimana merawat orang lumpuh total."
"Emang ngga ada yang lain, Yah?" tanya Gibran, sembari menyusun pakaian Syifa dalam tasnya.
Pak Abu menggeleng. Ia pun menjelaskan semua informasi yang Ia dapat dari pengacara keluarga itu. Bahwa, Bagas adalah orang yang perfectionist dan Ia tak pernah mau tubuhnya disentuh orang lain. Bahkan, dengan Mamanya pun segan.
"Dan dengan Syifa, entah kenapa dia menurut." ucap pak Abu.
"Yah, Gibran berangkat dulu, dianter Somad. Kata Kakak, motornya biar Gibran bawa sekolah aja. Biar cepet, dan bisa bantuin Ayah jualan."
Gibran pun mencium tangan Ayah dan Ibunya, lalu Ia pergi ketika suara klakson dari motor sahabatnya berbunyi dari luar rumah.
" Seakan, kita sedang menggadaikan anak gadis kita sendiri, Yah." sesal Bu nuri.
" Itu keputusan dia, Bu. Sudah Ayah peringatkan berkali-kali, tapi Ia pilih itu. Hargai keputusan dia, untuk membuat kita bahagia."
"Demi kita bahagia, tapi dia sendiri? Ibu takut, dia diperlakukan semena-mena dengan keluarga kaya raya itu. Seperti mereka memperlakukan Ayah." ucap Bu Nuri, yang sempat trauma setelah kejadian itu.
Pak Abu hanya memeluk istrinya, dan mengusap bahunya. Mencoba menabahkan hati sang istri, agar menerima semua takdir ini.
"Jangan perlihatkan kesedihan lagi. Kasihan, Syifa nanti makin sedih. Hargai pengorbanan dia, Bu." ucap pak Abu dengan lembut.
Ibu Nuri hanya mengangguk pasrah, karena memang mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi dengan itu semua. Hanya saja, Ia masih penasaran bagaimana mereka menikah nantinya. Sedangkan Bagas belum juga sadar dari koma nya.
***
"Permisi, saya adiknya Kak Syifa. Mau anter pakaian." ucap Gibran pada seorang petugas jaga.
"Oh, ini Gibran. Sebentar, saya panggilkan Kakaknya. Tapi, cuma bisa ngobrol sebentar.".
"Iya, ngga papa." jawab Gibran, lalu duduk di kursi yang tersedia di sana.
Mendapat kabar datangnya Gibran, Syifa pun begitu bahagia. Ia menitipkan Bagas sejenak pada rekannya, meski tak diperbolehkan menyentuh pria itu.
Syifa berlari kecil, melepas seragamnya dan menghampiri adik kecilnya yang menggemaskan.
"Gibran..." peluknya dengan erat.
"Ini, bajunya. Kakak ngga pakai pulang lagi apa?" tanya Gibran.
"Pulang... Tapi Kakak belum tahu kapan. Nanti Kakak kabarin."
"Kakak, katanya mau nikah sama dia. Benar?" tanya Gibran, dan Syifa mengangguk.
"Gimana mau nikah, Kakak ngga kenal dia? Dia aja tidur, gimana mau ijab qabul?"
"Gib... Jangan banyak tanya dulu, ya? Gibran belum faham dengan keadaan ini. Gibran fokus aja sama sekolah, dan bantu Ayah. Kakak janji, akan kuliahin Gibran sampai tinggi, besok."
Gibran hanya mengangguk dan mengusap air mata nya yang sedikit jatuh di pipi.
" Cowok ngga boleh nangis. Malu ih, nanti ngga ada yang naksir. "ledek Syifa pada nya.
Gibran lalu pamit, setelah menerima kunci motor dari Syifa. Gibran pun berjanji, akan merawat dan menjaga motor itu dengan baik. Karena itu hasil tabungan sang Kakak selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjuuutt Thor 😛😆💪👍🙏
2024-01-27
1
Hades Riyadi
Kliatan nyesek rasanya melihat kehidupan Syifa sekeluarga, mang resikonya jadi orang miskin cobaannya begitu banyak dan ada-ada ajaahh...kalo dipikirkan suka ga masuk akal...🤔🙄😩😠😪😭😭
2024-01-27
0
Fatah Liverpooldlian
gib
2023-12-24
0