"Hey, kamu apain anak saya? Mau kamu celakain?" bentak Mama Ayu yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
"Ma, suaranya jangan keras-keras. Ini ICU loh..."
"Biarin, bila perlu, Mama teriak sampai kedengeran keluar Rumah sakit ini. Biar semua tahu, dia itu jahat."
"Bu... Sediktipun saya ngga pernah ada niat jahat sama Anak Ibu. Ngga ada. Saya merawat beliau dengan ikhlas."
"Ya ikhlas, orang kamu di gaji sama Rumah sakit ini. Apa mau saya suruh pecat sekalian? Jangan-jangan, kamu mau malpraktek ke anak saya lagi."
"Mama! Kenapa jadi gini sih, omongannya? Ngga sopan, kayak ngga berpendidikan. Sus, maaf ya. Istri saya masih syok soalnya." ucap Tuan Erland pada Syifa.
Syifa hanya diam, merasakan pilu di dalam hatinya. Ia merasa tak fokus lagi saat ini, henya terfikir sang Ayah yang berada dalam sel tahanan tanpa alas dan makanan. Ia pun keluar, lalu izin dinas untuk melihat Ayahnya di penjara.
"Maaf, ngga bisa temenin. Salam sama Ayah, semoga kuat dengan ujian ini." ucap Erwin padanya.
Syifa pun mengganti pakaiannya, lalu pergi dengan motornya menuju tempat yang selalu ada dalam bayangannya saat ini.
*
"Ma... Papa tahu, kalau Mama sedang kalut saat ini. Tapi jangan seperti itu, Ma. Itu perawat Bagas, susah untuk mencari perawat lain."
"Mudah, Mama akan bayar mahal orang yang mau merawat anak kita. Kita rawat di rumah setelah dia sadar. Mama ngga mau, ketemu terus sama perawat itu. Mama selalu ingat dengan Ayahnya."
Mama Ayu pun duduk dengan angkuh di sofa yang tersedia di sana. Ia terus menatap perkembangan Bagas, dan mengontrol pergerakan yang mungkin di berikan oleh sang putra padanya.
Bagas putra kesayangan mereka, dan Ia yang akan mewarisi perusahaan milih keluarga besar Adi Nugraha, sang Kakek.
"Papa ke kantor aja. Selama Bagas seperti ini, pasti di sana sangat kacau. Setidaknya, Papa harus meringankan keadaan. Bagas, biar Mama yang jagain disini." ujar Mama Ayu.
Tuan Erland pun pergi, keluar dari tempat itu dan Rumah sakit. Ia mencari Syifa, namun tak kunjung di temukan. Ia merasa bersalah, mesiu sebenarnya juga kecewa jika memang Ayahnya lah yang menjadi penyebab kecelakaan putranya.
*
" Yah, bagaimana kabar Ayah? Sudah makan siang?" tanya Syifa, pada Ayahnya yang telah memaku setelan berwarna biru itu.
"Ayah ngga selera makan, Fa. Lihat nasi aja males. Ayah keinget Ibu dan Adikmu. Mana lagi, katanya kita akan di denda Satu Milyar." jawab Pak Abu dengan begitu lemas.
"Hah? Satu Milyar? Ba-bagaimana bisa?"
"Itu tadi, ada pengacara mereka yang dateng ke Ayah, dan bilang begitu." Pak Abu bingung, dengan apa yang di hadapi. Apalagi, semua tuntutan yang di bacakan untuknya.
Tubuh Syifa mendadak lemas, bagai darah berhenti mengalir di sana. Baginya yang keluarga yang selalu hidup pas-pasan, puluhan juta saja yang mereka lihat, apalagi Satu Milyar yang diminta. Syifa saja, mampu kuliah perawat karena Beasiswa yang di dapat nya sewaktu SMA.
"Bagaimana kita membayarnya? Bahkan menjual seluruh harta kita saja, seperempatnya belum cukup." gumam Syifa.
"Yasudah, pasrah saja, Fa. Biarkan Ayah di dalam penjara selamanya, kamu urus Ibu dan Adikmu. Dia bisa dagang bakso, sepulang sekolah. Palingan, kalau di sekolah dia bakalan di bully temen-temennya karena Ayahnya Napi. Tapi Ayah yakin, dia anak yang kuat."
"Yah, ngga bisa begitu."
"Ya gimana lagi? Begini lah nasib orang miskin seperti kita. Bayar pengacara aja ngga mungkin sanggup. Uangmu, mending buat yang lebih penting."
"Engga, Ayah akan bebas. Bagaimanapun caranya. Syifa akan memohon untuk mereka bebasin Ayah."
"Hey, kita juga punya harga diri, Fa. Jangan pernah mengemis belas kasih seperti itu. Ayah ngga suka."
"Syifa ngga mau, kalau kita tercerai berai, Yah. Syifa pengennya kita kumpul seperti biasa. Syifa ngga tega lihat Ibu nangis di rumah."
"Biarin, ngga papa Ibu nangis. Hampir Tiga puluh tahun kami selalu bersama. Anggap saja, ini latihan ketika Ayah pergi menghadap Ilahi nantinya. Ibu ngga akan keget lagi."
"Ayaaaaah! Jangan bilang begitu... Syifa ngga suka. Kenapa malah bilang begitu di saat seperti ini."
"Pulanglah, Ayah akan disini meratapi nasib. Ibu mu yang butuh kamu sekarang. Pulang, dan peluk dia. Katakan, Ayah baik-baik saja disini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Ratu Kalinyamat
sedih jufa. ceritanya y/Sob//Sob//Sob//Sob/
2024-01-28
3
Hades Riyadi
Lanjuuutt Thor 😛😆💪👍🙏
2024-01-26
0
Hades Riyadi
Kasihan juga hidupnya Pak Abu, udah tua, miskin dagang bakso mendorong gerobak yang begitu berat... malahan ditimpa musibah..harus di penjara lageeee...akibat kesalahan yang tak disengaja... namanya suratan takdir, mang susah ditebak...🤔🙄😩😪😭😭
2024-01-26
0