"Mama... Apa-apaan sih, ngga enak di denger orang."
"Mana ada orang disini, cuma dia yang lagi tidur. Sama perawat rendahan ini. Udah yuk, pulang aja. Ngapain lihat orang tidur." seret Mama Nuri pada Luna.
"Mulai detik ini kalian putus. Mama ngga mau, seumur hidup kamu ngerawat orang cacat."
Meski Luna menoleh, tenaga Mama Nuri tak terlawan. Karena tubuhnya yang gemuk dan besar.
"Astaghfirullah... Masih ada orang yang meremehkan orang lain macam itu." Syifa mengelus dada.
Ia pun keluar, dan akan mempersiapkan berkas untuk dokter visit keruangan itu sebentar lagi.
Syifa memberi laporan pada dokternya, mengenai keadaan Bagas saat ini. Tentang kondisi tubuhnya, tentang semua termasuk respon yang diberikan ketika di ajak bicara.
"Bagus, dia denger kalau ada orang ngomong. Tapi, gerak yang lain ngga ada sama sekali." ucap Syifa.
"Cord Injury? Perlu di lakukan MRI dan pemeriksaan penunjang lainnya. Bisa keluar dari ICU sebentar?"
"Bisa, saya akan bawa dia ke ruang MRI." ucap Syifa.
Dokter pun pergi terlebih dahulu untuk membuat janji pada petugas ruang tersebut. Sementara Syifa dibantu temannya, mempersiapkan Bagas untuk menyusul kesana.
"Pasien belum bisa lepas oksigen, jadi mau ngga mau kita gotong kemana-mana itu tabung." ucap Syifa pada Erwin.
"Iya, makanya aku bantuin kamu. Baik 'kan aku?"
"Iya, baik banget. Maacih..." ucap Syifa dengan wajah imutnya.
Mereka berjalaj beriringan menuju ruang rontgen, lalu membantu petugas di sana untuk mulai mengecek kondisi Bagas saat itu.
"Kasihan, ganteng banget padahal. Harus lumpuh total begini tubuhnya."
"Huusst... Ngga usah ngomongin orang. Lakuin dulu kerja masing-masing. Dia, diem begini tapi denger semua ucapan kita." tegur Syifa pada temannya.
Semua langsung diam, dan fokus pada tugasnya masing-masing. Syifa mulai memakaikan lagi pakaian Bagas yang tadi Ia buka. Lalu bersama Erwin, Ia mengangkatnya lagi ke brankar dan membawanya ke ruangan awal.
"Itu, Urine bagnya ngga kamu buang dari pagi?" tanya Erwin.
"Tadi udah dibuang, tapi udah penuh lagi. Sepertinya, kandung kemihnya lepas kontrol gara-gara cidera itu." ucap Syifa, dengan menghela nafas panjang.
Di pertengahan jalan, terdengar suara keributan yang memancing tontonan semua orang yang datang. Seorang pria paruh baya bersujud, dan bahkan menangis mengharap belas kasihan dari orang yang telah menuntutnya kali ini.
"Tolong, saya Tuan. Saya tidak tahu apa-apa. Kenapa saya justru jadi tersangka? Apalagi, saya harus membayar denda sebanyak itu. Saya ngga sanggup."
"Ya karena kamu, yang ada disana saat itu. Dan menurut rekaman CCTV mobil anak saya, kamu lah yang akan Ia tabrak sebelum kecelakaan. Hingga Ia menabrakan dirinya ke bagian lain jalanan."
Syifa mengenali suara itu, lalu menghampirinya dengan perlahan. Ia menitipkan Bagas pada Erwin sementara waktu.
" Ayah! Ayah kenapa berlutut seperti itu? Kenapa Ayah menangis? Bukannya, harusnya ada sesi tanya jawab sekarang?" tanya Syifa, yang kaget ketika Ayahnya sedang bersujud dan menangis.
"Fa... Tolong, Fa. Ayah malah akan dijadiin tersangka, Fa. Mobilnya punya alat perekam, dan ada Ayah di dalam rekaman itu." tangis Pak Abu memuncah.
Syifa pun memeluknya erat, untuk menenangkan sang Ayah yang terpojok saat ini.
"Kamu anaknya?" tanya Mama Ayu pada Syifa.
"Iya, saya anaknya. Dan bukankah, saya sudah menjelaskan semuanya kemarin malam? Bahwa ayah saya hanya saksi di sana? Kenapa bisa menjadi tersangka?" tanya Syifa lemah.
"Saksi dan bukti mengatakan demikian. Ayah kamu, berada di tengah jalan dengan gerobaknya kala itu. Dan Bagas, anak saya hanya menghindari dia tapi justru mencelakai dirinya sendiri."
"Tapi itu metode menghindar. Apa sudah dilacak lagi, berapa kecepatan mobil itu, sehingga tak dapat lagi menghindar? Kenapa harus menyalahkan orang lain atas kecerobohan diri sendiri?" pekik Syifa yang akhirnya menangis dengan kemalangan nasibnya.
"Kamu malah nyalahin anak saya ceroboh? Ngga mau tahu ya, pokoknya semua saksi dan bukti sudah ada. Kita ketemu di pengadilan." ucap Mama Ayu yang tampak emosi.
Polisi pun menyeret Pak Abu untuk masuk ke dalam mobil mereka. Dan membawanya kembali ke kantor polisi. Nasi sudah menjadi bubur, Pak Abu tersangkanya saat ini. Saksi dan bukti sudah ditangan polisi, dan Pak Abu di tahan.
Untuk saat ini, sesedih apapun Syifa, Ia harus tetap profesional dengan pekerjaannya. Setelah itu, baru Ia bisa menjenguk sang Ayah yang tengah di penjara.
"Bangunlah, Tuan. Aku sudah menolong dan merawatmu. Setidaknya, bangun dan bicaralah untuk menolong Ayahku. Hanya kau, Satu-satunya yang bisa ku harapkan saat ini. Bangunlah, dan bicaralah seidikit saja. Katakan, jika Ayahku tak bersalah." pinta Syifa di hadapan Bagas yang masih tertidur pulas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Hades Riyadi
Lanjuuutt Thor 😛😆💪👍🙏
2024-01-26
2
Hades Riyadi
Waaahh... mobilnya ada cctv-nya... mantaabb juga... yang aktif otomatis yaaa...jelas mobil mahal tuuuhh...🤔🙄😩💪👍👍👍
2024-01-26
1
Fatah Liverpooldlian
ti
2023-12-24
0