"Kak, minta ongkos angkot dong." pinta Gibran pada Kakaknya.
"Nih, sekalian uang jajannya. Jangan minya Ayah lagi loh. Kasihan, Ayah masih syok gara-gara semalem. Mana di jadiin saksi lagi sekarang."
"Iya, tahu. Nanti sore, biar Gibran aja yang keliling. Deket-deket sini aja, lumayan kan dapet dikit juga." ucap Gibran, membuat Kakaknya terharu.
"Ngga malu?"
"Jualan kok malu. Kalau nyolong, baru malu. Yaudah, Gibran pamit dulu."
Gibran lalu mencium tangan Kakaknya, dan beranjak pergi menuju sekolahnya. Remaja berusia Enam belas tahun itu, memang sangat mengerti tentang kondisi keluarga. Ia pun tak memaksa, jika kelak Ia tak dapat kuliah seperti Kakaknya. Ia memilih membantu Sang ayah berjualan, untuk membantu ekonomi keluarga mereka.
Syifa pun kini telah siap dengan seragamnya. Hari ini Ia dinas pagi, dan Ia akan menemui Bagas untuk mengecek kondisi terbarunya.
"Yah, Bu... Syifa pamit dulu, ya?"
"Fa, itu Ayahmu kok malah meriang begitu? Tolong di periksa sebentar." pinta Bu Mariam.
Syifa pun menuruti sang Ibu, lalu memeriksa Ayahnya. Temperaturnya tinggi, tubuhnya berkeringat tapi hawanya dingin. Ia pun beberapa kali mengigau semalaman.
"Yah, jangan stres. Ayah kan cuma jadi saksi, kenapa cemas begini?"
"Ayah, hanya terbayang-bayang ketika Ia menabrak semalam. Terbayang jelas di mata Ayah, sampai terbawa ke dalam mimpi. Dan seumur hidup Ayah, baru kali ini berurusan dengan polisi, Fa."
"Yah... Ikuti dulu semua perintah yang mereka berikan, jawab seperlunya sesuai yang Ayah tahu. Pasti mereka mengerti."
Syifa lalu mengambil beberapa obat di lemarinya, dan meminumkan nya pada Sang Ayah.
"Syifa berangkat dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi Syifa." imbuhnya, lalu pergi menggunakan motor scoopy kesayangannya.
***
"Sayang, Bagasku... Bangun, Nak. Kenapa tidurnya lama sekali? Setidaknya, buka mata kamu." bujuk Mama Ayu pada putra semata wayangnya itu.
"Ma, sabar. Yakinlah, Bagas anak yang kuat. Pasti ngga lama lagi bangun." bujuk sang Papa.
"Tapi, Pa... Bagaimana reaksinya, ketika hampir seluruh anggota tubuhnya tak bisa di gerakkan? Dia pasti sakit, dan sulit menerima kenyataan. Kenapa semua ini menimpa kamu, Nak..." isak Mama Ayu, di iringi suara monitor di ruangan itu.
Pintu ruangan dibuka dengan perlahan. Seorang perawat cantik datang dengan membawa beberapa peralatan dalam trolynya. Ia pun dengan ramah menyapa orang tua Bagas, untuk izin melakukan tindakan.
"Ibu, Bapak... Maaf, boleh kah saya untuk membersihkan tubuh pasien? Karena dari semalam, pasti tubuh pasien begitu kotor. Dan ada noda darah yang membuatnya tak nyaman." ucap Syifa dengan penuh senyum.
"Maaf, Bagas tak suka tubuhnya di sentuh wanita asing. Apalagi Anda, yang tak Ia kenal sama sekali." ucap Mama Ayu dengan sopan.
"Ma... Coba saja. Sekarang ini 'kan, kondisi Bagas sedang koma. Ia tak akan bisa menolak."
"Tapi, Pa. Pasti dia merasakan dan risih."
Syifa pun mengulurkan senyum. Lalu Ia mendekat ke pada Bagas, dan mencoba berbicara pada tubuh yang terbujur lemah itu.
"Selamat siang, Pak Bagas. Saya Syifa, perawat Bapak. Saya mau membersihkan tubuh Bapak, apakah boleh. Jika Iya, beri tanda dengan menggerakkan alis atau ujung jari tangan Bapak." himbau Syifa.
Dan kala itu, alis tebal Bagas pun bergerak naik turun meski lambat.
" Pa... Bagas jawab, Pa." Mama Ayu terkejut dengan respon itu.
"Baiklah, saya akan mulai pekerjaan. Silahkan, Ibu dan Bapak keluar dulu dari ruangan ini." pinta Syifa dengan sopan.
Syifa pun mempersiapkan alatnya dengan rapi, dan memulai pekerjaan dari area kepala. Ia membersihkan menggunakan handuk basah, lalu beranjak ke bagian tubuh yang lain. Syifa pun terus menatap Alis Bagas untuk melihat respon darinya.
Tiba di area sensitif, Bagas tampak menherutkan alisnya. Dan seketika Syifa menghentikan tugasnya disana.
"Sudah selesai, Pak. Bapak sudah bersih dan nyaman, sembari menunggu dokter visit datang memeriksa."
Syifa pun membereskan perlengkapannya, lalu Dua orang wanita masuk ke dalam dan melihat kondisi Bagas.
" Ya ampun, Mas. Kenapa kamu jadi begini?" ucap Wanita muda bernama Luna itu.
"Bagas lumpuh, ya? Ngga mungkin 'kan, laki-laki cacat akan jadi pewaris perusahaan." ucap Sang Mama, yang bernama Nuri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Anonymous
Nuri kan nama sy kak☺️
2024-10-12
0
Yulianti 1707
baru baca karya othor...salam kenal
2024-06-25
1
Aditya Kahono
baru mengikuti
2024-05-09
0