"Ayah ikut, Fa."
"Buat apa? Itu gerobaknya nanti gimana? Dagangan juga kayaknya masih banyak."
"Fa, Ayah Satu-satunya saksi disana. Mereka pasti butuh keterangan, dan Ayah harus bantu." ucap Pak Abu.
Syifa pun mengangguk. Lalu, Ia memboncengkan Ayahnya menuju ke Rumah sakit tempat Bagas di rawat. Dan Rumah sakit itu juga, adalah tempat Syifa bekerja selama Setahun ini.
Polisi mulai mendatangi TKP, mereka mulai memeriksa mobil dan yang lain untuk keperluan laporan. Mobik se mewah itu, harusnya memiliki asuransi yang besar, sehingga memang perlu di cek dan dibuatkan laporan detailnya.
Syifa dan Ayahnya telah tiba di Rumah Sakit. Mereka masuk ke IGD dan mencari tahu tentang keadaan Bagas. Dan tepat mereka duduk, keluarga Bagas beserta beberapa polisi datang untuk meminta keterangan mengenai kecelakaan.
"Bagassss!! Ya Ampun sayang, kamu kenapa, Nak?" tangis seorang wanita dengan penampilan modis nan elegen. Beliau adalah Mama Ayu Puspa dewi, Mama dari Bagas.
Bagaimana tak sakit hati seorang Ibu, ketika melihat anaknya dalam kondisi kritis. Tubuhnya di pasangi selang dengan berbagai fungsinya masing-masing, dan tampak begitu lemah tak berdaya.
Berdampingan dengannya, seorang pria paruh baya yang masih tegap nan tampan. Beliau bernama Tuan Erland, Papa dari Bagas. Beliau begitu tenang, meski sebenarnya tampak khawatir dengan keadaan sang putra yang kritis.
"Dokter, bagaimana putra saya?" tanya Tuan Erland.
"Tuan, ini menyakitkan... Tapi, kami harus jujur mengenai apapun yang pasien derita saat ini."
"Iya, katakan saja. Apapun, akan saya dengarkan. Dan saya akan berusaha bagaimanapun caranya, agar putra semata wayang saya sembuh."
"Putra Anda, kemungkinan mengalami Cord Injury. Yaitu cidera parah yang menyebabkan kerusakan pada sum-sum tulang belakang."
"Hah? Itu... Parah kah?" tanya Mama Ayu.
"Spinal cord injury adalah jenis trauma fisik yang sangat serius yang cenderung memiliki dampak jangka panjang maupun permanen dan signifikan pada sebagian besar aspek kehidupan sehari-hari. Maka, kemungkinan pasien akan menderita kelumpuhan. Entah sebagian, atau bahkan seluruh tubuhnya."
" Tidak, tidak, tidak mungkin Bagas lumpuh. Katakan itu semua belum diagnosa final. Masih banyak pemeriksaan lainnya 'kan dok?" tanya Mama Ayu yang syok.
"Ya, tapi sudah di pastikan seperti itu. Dan pasien dalam kedaan koma saat ini, jadi harus kami bawa ke ICU."
"Aaaarrrrgggg! Kenapa seperti ini, sayang... Kamu kenapa bisa sampai kecelakaan. Siapa yang membuat kamu begini? Mama bersumpah akan mencarinya!" pekik Mama Ayu.
"Sudahlah, Ma. Setidaknya Bagas selamat. Masalah lumpuh dan yang lain, kita akan usahakan. Operasi, dan apa saja. Tidak bisa di indonesia, kita ke Luar negri. Yang penting, Bagas selamat dan masih ada di tengah kita. Itu saja, sekarang." Tuan Erland menenangkan istrinya.
" Iya, Tuan. Untung saja, seorang rekan dari kami segera memberi pertolongan dengan tepat."
Dokter pun menunjuk Syifa, dan melambai kan tangan padanya.
Syifa datang, dan memperkenalkan diri,"Saya Syifa... Kebetulan, Ayah saya ada disana ketika kecelakaan. Jadi, Ayah panggil saya sembari menunggu Ambulance."
"Kamu, perawat?" tanya Tuan Erland.
"Iya, kebetulan kerja disini juga. Tapi, tadi dinas pagi."
"Oke... Sebelumnya, saya berterimakasih atas pertolongan yang kamu berikan. Itu sangat berarti buat anak saya. Terimakasih banyak."
"Iya, Tuan. Itu adalah salah Satu kewajiban saya sebagai tenaga kesehatan. Dan, itu Ayah saya. Kalau ada apa-apa, Beliau bersedia menjadi saksi nya."
"Owh, baiklah. Terimakasih lagi untuk semuanya. Kami akan bawa Bagas ke ruangan rawatnya."
Mereka pun pergi, mengiringi brankar Bagas yang membawanya ke ruang ICU. Ia akan di rawat intensif dengan kontrol istimewa di sana, sampai setidaknya Ia sadar dan aksn dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah itu, Syifa membawa Ayahnya pulang. Gerobak telah dibawa oleh adiknya, dan sudah di bereskan dirumah mereka. Adik Syifa seorang remaja bernama Gibran, dan masih duduk di bangku SMA.
"Nak, kaki Ayah masih gemetar karna kejadian tadi."
"Gemetar karna. Itu, atau karena lapar?" goda Syifa, berusaha mencairkan suasana.
"Ya.... Keduanya sih. Soalnya, kalau ngga lolos ya... Ayah yang ditabrak tadi. Pasti udah mati konyol Ayahmu ini."
"Masih untung ya, Yah. Bersyukur, karena masih lolos dari maut dan masih bisa berkumpul sama keluarga."
"Iya..." jawab Pak Abu, lalu mengusap punggung anak gadis kesayangannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Mey Kusrini
baru bab satu udah penasaran aza kelanjutan nya
2024-08-05
2
Kresna Ahmad
bagus
2024-04-16
4
Ida. Rusmawati.
/Smile/
2024-03-23
0