*Biasakan like sebelum baca ya, gomawo🤗🤗*
Darren dan istrinya sedang membaca surat yang diberikan oleh kedua anaknya. Sedangkan Axel dan Alexa menunggu dengan perasaan harap-harap cemas.
" Eca sama Axel mau pergi hiking?" tanya Kiran.
Twins mengangguk.
" Tiga hari"
Twins mengangguk lagi.
" Ok, mommy akan kasih izin"
" Eh"
" Kenapa? nggak mau? ya udah"
" Mau" jawab Twins berbarengan.
" Tapi ada syaratnya?"
" Syarat?"
" Hhmm"
" Syaratnya jangan yang sulit-sulit ya Mom" kata Alexa.
" Nggak, ini syarat yang sangat mudah"
" Apa?"
" Beberapa bodyguard harus ikut "
" What! " kaget Twins.
" Kalau nggak mau, kalian berdua juga tidak boleh pergi"
" Mommy come on, masa kami harus bawa bodyguard. Apa kata anak-anak yang lain?" kata Alexa.
" Mommy nggak peduli apa kata mereka. Yang mommy pedulikan itu keselamatan kalian"
" Eca sama Axel sudah besar Mom, dan kami berdua sudah bisa jaga diri"
" Bawa bodyguard atau tidak pergi sama sekali"
" Daddy, Eca boleh pergi tanpa bodyguard ya?"
Darren tidak tega melihat putri kesayangannya memohon. Ia memang tidak bisa melihat putrinya seperti itu.
" Sayang biarkan mereka berdua pergi " kata Darren pada istrinya.
" Aku sudah bilang kalau tidak sama bodyguard, mereka berdua tidak boleh pergi"
" Mommy jahat!" kata Alexa sambil berlalu pergi dari ruang keluarga. Dan Axel pun mengekor di belakang.
Kiran menghela nafasnya. Baru pertama kali ia melihat putrinya seperti ini. Bukan apa-apa, ia hanya takut kedua anaknya itu kenapa-napa.
" Apa aku jahat?"
" Tidak. Eca mengatakan itu hanya karena sedih"
" Aku melakukan ini demi keselamatan mereka"
" Aku tau"
" Lalu sekarang aku harus bagaimana?"
" Aku tau bagaimana perasaan kamu.Tapi tidak ada salahnya kita kasih mereka berdua izin. Aku yakin Twins bisa menjaga diri mereka. Kalau kamu masih khawatir, kita bisa suruh bodyguard diam-diam untuk menjaga mereka"
" Baiklah, aku ikut saran kamu aja"
Darren tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia tau bagaimana sayangnya sang istri pada Twins. Sang istri melakukan itu semata-mata karena ia menyayangi Twins.
...***...
" Kira-kira Daddy berhasil bujuk mommy nggak ya?" kata Alexa.
" Nggak tau juga. Mommy pasti sedih karena ucapan kamu tadi"
" Nanti aku akan minta maaf sama mommy. Lagipula aku nggak bermaksud untuk membuat mommy sedih"
" Harus, kalau tidak kamu akan dikutuk jadi wajan penggorengan"
" Jangan dong! Tapi mommy nggak akan tega mengutuk aku jadi wajan penggorengan"
" Kalau sekarang pasti mommy tega, sebab kamu udah bikin mommy sedih"
" Kamu kok gitu sih! emang kamu mau punya kakak wajan penggorengan?"
" Ya mau nggak mau"
" Ck, dasar adek durhakim kamu"
" Terus gimana nih? kalau nggak di kasih izin gimana?"
" Ya batal pergi hiking nya"
Tok.
Tok.
Tok.
" Eca"
Axel dan Alexa saling lirik, mereka berdua sangat mengenal suara yang ada di depan pintu itu.
" Apa mommy datang mau mengutuk ku?" tanya Alexa.
" Maybe"
" Tidak! aku tidak mau berubah jadi wajan penggorengan. Aku mau pura-pura tidur aja. Kamu buka pintu untuk mommy gih?"
" Kok aku?"
" Ya kan aku pura-pura merajuk, gimana sih kamu. Buruan sana! buka pintunya"
" Baiklah?"
Axel membukakan pintu untuk sang mommy. Kiran tersenyum kala melihat putranya yang membukakan pintu. Ia tau putrinya itu sedang merajuk.
" Eca udah tidur?"
" Hhmm"
Kiran masuk kedalam kamar putrinya. Ia melihat sang putri sedang bergelung didalam selimutnya.
" Eca beneran tidur ya? padahal mommy mau bilang sesuatu. Tapi karena Eca udah tidur mommy nggak jadi tanda tangan surat izinnya lha"
" Jangan! Eca belum tidur kok mommy" jawab Alexa sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Kiran tersenyum, ia tau kalau putrinya cuma pura-pura tidur. " Jadi Eca cuma pura-pura tidur?"
" Iya, soalnya Eca takut mommy kutuk jadi wajan penggorengan"
Kiran tertawa mendengar ucapan anaknya. Ia tidak menyangka kalau putrinya akan berpikir seperti itu.
" Siapa yang bilang begitu sama Eca?" kata Kiran masih dengan tawanya.
" Axel"
" Benar itu Axel?"
" I-iya Mom"
" Kamu ini. Mommy tidak akan pernah mengutuk anak-anak mommy"
Hua..
" Mommy, maafkan Eca karena udah bicara kek tadi? Eca nggak ada maksud untuk membuat mommy sedih. Sungguh?"
Kiran memeluk putrinya itu. " Mommy tau, dan mommy udah memaafkan Eca"
" Terima kasih mommy. Jadi bener nih mommy kasih izin kita pergi"
" Hhmm"
" Tanpa bodyguard?"
" Iya"
" Makasih mommy. Axel cepat peluk mommy, ntar kamu dikutuk mommy jadi wajan penggorengan baru tau rasa!"
Mendengar kata kutuk, Axel segera memeluk mommy-nya. Ia nggak mau berubah jadi wajan penggorengan. Kan nggak lucu dia yang tampan itu berubah jadi wajan penggorengan.
" Daddy nggak di aja nih main peluk-pelukannya?"
" Daddy sini " panggil Alexa.
Darren pun ikut memeluk tiga orang yang paling berarti dalam hidupnya sesudah orang tuanya. Ia berharap keluarga kecilnya akan selalu bahagia.
...***...
Farel bingung mau memberikan surat izin itu atau tidak pada kedua orang tuanya. Ia takut mamanya tidak akan memberikannya izin. Padahal ia sangat ingin pergi hiking.
Tok.
Tok.
Tok.
" Rel, turun yuk. Kita makan malam bareng?"
" Bentar Ma"
Farel menyimpan surat izinnya kedalam saku celananya. Ia akan memberikan pada orang tuanya nanti, setelah mereka selesai makan malam.
" Kamu ngapain sih di kamar?"
" Nggak ngapa-ngapain kok Ma, cuma main game aja"
" Yuk turun, papa udah nunggu kita"
" Hhmm"
Ibu dan anak itupun segera menuju ruang makan, karena Romy sudah menunggu mereka di sana.
" Lama ya Pa, nunggunya?" tanya Farel.
" Nggak juga. Kamu kok tumben jam segini udah di kamar?
" Lagi main game tadi Pa"
Nadia mengambilkan nasi dan juga lauk untuk suami dan juga putranya. Setelah itu barulah untuk dirinya sendiri. Mereka bertiga pun mulai menyantap makanan yang ada di piring masing-masing. Mereka menikmati makan malam dengan sangat hikmat.
Selesai makan. Nadia membawa piring dan juga gelas bekas makan mereka tadi ke dapur. Sedangkan Farel dan papanya pergi ke ruang tamu. Mereka mengistirahatkan perut setelah makan.
" Pa"
" Hhmm"
" Tadi di sekolah kakak senior ngasih surat"
" Surat apa? cinta ya?"
" Bukan"
" Lalu surat apa?"
" Nih, papa baca aja sendiri" kata Farel sambil memberikan surat itu pada papanya.
Romy membaca surat yang diberikan putranya itu. Ia membaca dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan oleh Farel. Karena kadang-kadang raut wajah papanya itu berubah-ubah.
" Kamu mau pergi hiking ke Gunung Papandayan?"
" Iya kalau papa sama Mama kasih izin"
" Kalau papa sih nggak masalah, tapi nggak tau kalau mama kamu"
" Kenapa dengan mama?" tanya Nadia yang baru kembali dari dapur.
" Sekolah Farel mau mengadakan acara hiking"
" Hiking?"
" Iya. Dan putra kita ingin mengikuti acara itu"
" Emang siapa-siapa saja yang ikut pergi acara hiking nya?"
" Semua anak kelas satu Ma"
" Berarti Twins sama Adele juga ikut?"
" Iya Ma"
" Kalau ketiga teman kamu ikut, maka mama juga nggak masalah"
" Jadi mama ngizinin aku pergi hiking?"
" Hhmm"
" Makasih mama " sambil mengecup pipi sang mama. Tapi kecupannya itu mengenai papanya.
Ya Romy lebih dulu menggeser tubuh istrinya. Alhasil kecupan Farel pun mendarat di pipi sang papa.
" Papa!"
" Apa? berani kamu cium istri papa?"
" Diakan mama ku, wajarlah kalau aku cium"
" Nggak boleh. Karena yang boleh cium mama itu cuma papa"
" Ck, papa sama kek Om Darren. Masa anak sendiri nggak boleh mencium mamanya sendiri"
" Biarin"
Nadia geleng kepala melihat tingkah ayah dan anak itu. Keduanya tidak mau mengalah, dan akhirnya Nadia pun memilih pergi meninggalkan ayah dan anak itu.
To be continue.
Udah hari Senin nih, jadi boleh dong minta Vote dan hadiahnya🤗🤗
Happy reading 😚😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 461 Episodes
Comments
Hasnah Siti
❤❤❤❤😂
2022-12-18
0
Icka Shinbie Poespittasarrie
aq selalu ninggalin jejak koq thor....meski cuma like🥰
karena aq syuka karyamu😍semangat ya thor....
2022-07-10
0
Dewi Kijang
lanjut lucu banget aku suka banget..... 👌👌👌👌👌❤❤❤😄😄😄😄😄👍👍👍👍👍👍
2022-06-18
0