Sudah siang, tapi Nando masih berkutat dengan setumpuk berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan itu sebelum weekend besok. Karena weekend besok ia harus melatih kedua ponakannya itu.
Tok.
Tok.
Tok.
" Masuk"
" Bro makan siang yuk"
" Lo duluan deh, kerjaan gue lagi banyak nih?"
" Ntar lanjut lagi "
" Nggak. Kalau dilanjutkan nanti, bisa-bisa gue pulang malam "
" Sekali-kali lembur nggak apa-apa bro"
" Gue pesan makan siang aja. Kalian berdua aja yang makan di luar"
" Lo nggak marah ataupun cemburu kalau gue makan siangnya cuma berdua aja sama Jihan?"
" Kenapa harus marah dan cemburu? toh Jihan bukan siapa-siapanya gue"
" Emang Lo nggak punya perasaan sama Jihan?"
" Gue nggak tau. Tapi saat bersama Jihan detak jantung gue tidak berdegup kencang"
" Kalau gitu jangan kasih dia harapan?"
" Maksud Lo?"
" Jangan kasih dia perhatian ataupun hal yang lainnya. Karena dengan begitu dia tidak merasa kalau Lo punya perasaan sama dia"
" Gue nggak pernah kasih perhatian sama dia. Lo kan tau gimana gue. Jihan yang selalu ingin dekat sama gue. Bahkan gue udah menolak dia secara langsung. Dan juga sudah meminta dia untuk kembali ke perusahaan papanya supaya dia bisa membuka hatinya untuk lelaki lain"
" Sorry bro, bukan maksud gue ngomong kek tadi"
" Kenapa nggak Lo aja yang ngejar cinta Jihan"
" Maksud Lo?"
Nando bangun dari duduknya. Ia menghampiri sahabatnya. Ia menepuk pundak sahabatnya itu. " Gue tau Lo suka sama Jihan"
" Lo becanda?"
" Udah nggak usah di sembunyikan lagi. Gue udah tau. Bahkan sejak kita kuliah dulu"
Ikbal kaget mendengar ucapan sahabat sekaligus bosnya itu. " Apa karena gue Lo menolak Jihan?"
" Tidak! Gue udah bilang dari tadi, kalau gue tidak merasakan apa-apa saat bersama Jihan. Ya sama kek perasaan gue ke elo. Gue menganggap dia cuma sahabat, nggak lebih. Jadi kalau lo suka sama Jihan, tunjukkan pada dia"
" Tapi gue takut"
" Takut di tolak?"
" Hhmm"
" Lo belum coba, tapi udah menyerah"
" Bukan gitu. Gue takut dia benci sama gue, setelah gue mengungkapkan perasaan gue sama dia"
" Kalau Lo takut jangan dicoba. Dan simpan aja perasaan Lo sampai mati"
" Lo kok kejam banget sih. Lagipula melihat dia bahagia, gue juga ikut bahagia"
" Ya udah terserah Lo. Tapi nanti jangan nangis aja di pojokan saat tau dia sudah pacaran dengan cowok lain"
" Lo kok gitu banget sih sama gue. Seharusnya Lo doain gue biar bisa mengungkapkan perasaan gue sebelum dia menemukan lelaki lain"
" Kalau cuma doa, tapi nggak dibantu sama usaha. Ya tetap aja nggak akan ada hasilnya"
" Ya juga sih. Tapi gue penasaran, siapa yang bisa membuat jantung Lo berdegup kencang?"
" Untuk saat ini belum ada. Dan gue juga nggak terlalu memikirkan itu"
" Kenapa nggak Lo coba dulu pacaran sama Jihan?"
" Perasaan itu bukan untuk di coba-coba"
" Ya udah, gue mau makan siang dulu. Lo beneran nih nggak mau ikut makan siang bareng kita?"
" Nggak kalian berdua aja"
" Ya udah kalau gitu gue cabut dulu"
" Hhmm"
Ikbal keluar dari ruangan bos sekaligus sahabatnya itu. Siang ini ia akan pergi makan siang berdua saja dengan Jihan.
" Nando mana?" tanya Jihan saat melihat Ikbal hanya keluar sendiri.
" Dia nggak ikut. Lagi banyak kerjaan katanya"
" Kalau gitu gue juga nggak ikut deh"
" Kenapa? bukannya tadi lo bilang laper?"
" Karena Nando kan nggak pergi. Jadi aku malas pergi juga"
" Ji sampai kapan Lo mau kek gini?"
" Maksud Lo?"
" Berhenti mengejar sesuatu yang tidak akan pernah Lo miliki. Karena itu akan menyakiti Lo nantinya"
" Apaan sih Bal"
" Gue tau Lo sangat mencintai Nando. Tapi dia tidak pernah punya perasaan sama Lo, Ji?"
" Gue tau. Gue akan tetap berusaha supaya dia bisa melihat gue. Dan gue tidak akan menyerah"
" Kenapa Lo maksain diri"
" Lo nggak perlu ikut campur. Kalau jantungnya tidak bisa berdegup kencang saat bersama gue. Maka gue akan berusaha supaya jantungnya itu berdegup kencang saat melihat gue"
" Ya udah terserah Lo aja" kata Ikbal sambil berlalu pergi meninggalkan Jihan.
Jihan menatap punggung Ikbal yang terus menjauh dari pandangannya. Ia tau Ikbal memiliki perasaan padanya. Tapi sama halnya dengan Nando, kalau jantungnya tidak berdegup kencang saat bersama Ikbal.
...***...
Para siswa sedang mengisi tenaga mereka yang terkuras karena belajar tadi. Begitu juga dengan empat sekawan. Mereka berempat sedang menunggu pesanan.
Brak..
Ponsel Farel hampir saja lepas dari tangannya karena kaget.
" Lo apa-apaan sih?" tanya Adele pada Diva.
Ya yang membuat kegaduhan tadi adalah Diva. Ia menggebrak meja empat sekawan itu.
" Gue mau bikin perhitungan sama dia!" kata Diva sambil menunjuk wajah Alexa.
" Turunkan jari Lo" kata Alexa.
" Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?"
" Jangan salahkan gue kalau jari Lo itu lepas dari tangan Lo "
Diva merinding mendengar ucapan Alexa tadi. Ia tidak bisa membayangkan kalau jarinya benar-benar lepas dari tangannya. Ia pun menurunkan jarinya.
" Bagus! sekarang menyingkirkan dari meja gue"
" Awas kau nanti" kata Diva sambil berlalu pergi meninggalkan meja Alexa. Diikuti beberapa temannya di belakang.
" Dasar pengecut! tadi sok-sokan menggebrak meja, baru dipelototi aja udah takut" kata Adele.
" Ya jelas dia takut lha Adele. Tatapan Eca kan setajam silet" kata Farel.
" Silet mah kecil. Pisau aja biar lebih gimana gitu" kata Adele.
" Oh iya, kalian belum cerita kenapa kalian bisa terlambat?" tanya Axel.
" Kan udah dibilang juga tadi. Kita itu habis nolongin nenek-nenek yang mau dikeroyok sama preman" jawab Alexa.
" Berarti preman itu banci. Masa berani ganggu nenek-nenek" kata Farel.
" Lain kali kalau mau senang-senang ajak aku juga" kata Axel.
" Tadi itu nggak seru. Premannya lemah banget. Masa baru dua kali pukul udah terkapar" kata Adele.
" Pantas aja cari mangsanya nenek-nenek " kata Farel.
" Makanya gue bilang nggak seru"
" Oh iya. Makasih ya Adele dasi Pete nya"
" Sama-sama Rel"
" Karena Adele udah baik sama Lo. So jajanan kita hari ini Lo yang bayar" kata Alexa.
" Kok gue?"
" Itung-itung sedekah "
" Sedekah itu sama orang yang nggak mampu. Lah elo kan lebih dari kata mampu"
" Yang mampu itu nyokap bokap gue. Sedangkan gue hanya anak gadis pengangguran" kata Alexa dengan mimik wajah sedih.
Farel menghela nafasnya. Gadis cantik satu ini memang pintar dalam memanfaatkan keadaan. Dam ia pun tidak berdaya melihat ekspresi wajah cantik itu memelas seperti itu.
" Baiklah, aku yang bayar"
" Farel memang yang terbaik. Nggak kayak Axel"
" Kenapa bawa-bawa gue" protes Axel tak terima namanya dibawa-bawa.
" Yuk Adele kita cabut. Gue udah kenyang " kata Alexa sambil bangkit dari duduknya.
" Yuk " kata Adele sambil mengikuti Alexa dari belakang.
Axel dan Farel hanya menggelengkan kepala melihat kedua cewek cantik itu pergi meninggalkannya.
To be continue.
Mana nih like, vote dan hadiahnya untuk Alexa 🤗🤗
Happy reading 😚😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 461 Episodes
Comments
사람
bau2 nya si Nando bakalan sama keponakannya nih
2022-07-22
1
Mrytl22
Saran sedikit thor, buat dialog jangan pake kata baku kalo bukan adegan formal. Pake non baku aja, kaya author ngomong sama temen. Biar terkesan santai.
Itu doang si, sampe sini udah bagus banget. Tapi di dialognya doang yang perlu direvisi.
2022-06-21
3
Yuni Verro
alexa cantik bet
2022-06-17
1