Bab 4. Kekesalan Rania

"Maaf." Tangannya terulur mengusap kepala Rania agar Rania tenang di sisinya.

Rania tersadar, ia mendongak melihat siapa yang telah memeluknya saat ini.

"Hah!" Rania terkejut saat mengetahui siapa lelaki yang tengah menenangkannya saat ini. Lalu dengan suara pelan, ia menyebut nama lelaki yang telah menolongnya ini. "Zaky."

"Hem, ada apa?" Zaky menunduk melihat Rania yang juga kini sedang melihatnya.

Tiba-tiba pipi Rania terasa panas nan memerah. Ia pun menundukkan wajahnya agar Zaky tidak melihat raut wajahnya yang telah berubah itu. Dengan tangan yang masih memegang baju Zaky dengan malu-malu, Rania mengatakan, "tidak! Aku tidak apa-apa."

"Kamu ngga takut lagi kan?" tanya Zaky memastikan.

"Iya, terima kasih karena telah datang kesini."

"Kamu mau kemana? Biar aku mengantarmu ke sana. Ayo kita masuk ke mobil ku dulu. Nanti aku menelpon bengkel langgananku untuk mengambil mobilmu disini."

"Hem, terima kasih."

"Ayo."

Rania pun mengatakan tempat tujuannya pada Zaky yang sedang melajukan mobilnya saat ini. Sesuai perkataan Zaky barusan, ia menelpon bengkel langganannya untuk mengambil mobil Rania yang mogok dipinggir jalan.

"Kamu mau kemana sampai harus keluar malam?"

"Aku mau ke rumah pak Khanif. Dia memintaku datang kerumahnya."

"Untuk apa dia memanggilmu malam-malam begini. Bukannya jam kerja kamu telah selesai." Bagai sudah mengetahui segalanya tentang Rania yang terjadi padanya baru-baru ini. Zaky bertanya pada Rania tanpa rasa sungkan.

"Entahlah, tapi tidak apa. Hal ini hanya berlangsung selama seminggu saja kok. Jadi aku tidak akan mempermasalahkannya."

Mereka pun terdiam satu sama lain. Namun tiba-tiba Rania teringat sesuatu, "tunggu, dari mana kamu mengetahui semua yang terjadi padaku."

"Oh itu, aku dokter keluarga pak Dani, ayah Khanif. Waktu itu aku berada dirumahnya saat orang kantornya datang mengabarkan tentang calon sekretaris. Sebenarnya aku tidak sengaja mendengarkannya saat melewati ruangan samping. Aku melihat Khanif berbicara dengan orang kantornya di samping rumah. Tempatnya biasa bersantai.

Aku awalnya terkejut saat mendengar namamu disebutkan dan sempat tidak percaya kalau itu kamu. Tapi melihat kamu mau kerumahnya, aku rasa tebakanku sebelumnya benar."

"Ya, aku juga tidak menyangka akan masuk ke dalam calon kandidat sekretaris lagi."

"Kamu tidak menyukainya?"

"Tidak juga, hanya saja aku lebih menyukai pekerjaanku yang sekarang."

Zaky menganggukan kepalanya tanda mengerti. Ia seperti tidak ingin membahas lebih lanjut tentang pekerjaan Rania lagi.

Sementara di rumah Khanif, ia selalu mondar-mandir menunggu kedatangan Rania. Ia begitu khawatir, takut terjadi sesuatu padanya. Baru saja ia ingin menelpon Rania saat ia melihat sebuah mobil suv berwarna putih memasuki halaman rumahnya yang luas. Ia lalu buru-buru turun ke lantai satu. Bahkan panggilan mamanya, tidak ia hiraukan karena ingin segera mencapai pintu depan.

Sesampainya disana, Ia bersedekap dada melihat Rania keluar dari mobil putih yang tadi sempat datang kerumahnya melihat kondisi papanya. Ia melihat seperti tidak menyukainya.

"Kenapa baru datang sekarang? Bukannya sudah dari tadi aku menghubungimu!"

"Mobil saya mogok di jalan pak. Untung ada Zaky yang menolong saya."

Sudah Khanif duga. Pasti mobil yang dilihatnya tadi adalah mobil Zaky yang dipakainya sehari-hari saat datang memeriksa kesehatan sang papa.

"Masuk," suruhnya.

"Saya tunggu Zaky dulu pak."

"Untuk apa kamu menunggunya, dia punya mata serta kaki dan dia lebih mengenal rumah ini daripada kamu. Masuk!"

Rania melihat Khanif kesal. Jika saja Khanif bukan atasannya, sudah dari tadi ia akan memarahinya habis-habisan. Mulai dari mengacaukan jam istirahatnya sampai membuat mobilnya mogok dijalan. Terserah apa yang ingin dikatakan Khanif padanya kalau ia mengatakan kalau khanif menjadi sebab kesialannya hari ini.

Khanif berlalu masuk diruangan kerjanya diikuti oleh Rania dibelakangnya. Baru saja Khanif menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya, Khanif malah menyodorkan dua buah dokumen dihadapan Rania.

"Baca ini," ujar Khanif.

"Apa ini pak?" tanya Rania tidak mengerti maksud Khanif yang memberikannya dokumen tersebut.

"Itu dokumen yang tadi kamu kerjakan. Kamu ingin membuat perusahaan saya bangkrut, ya. Untung saja saya memeriksanya terlebih dahulu sehingga saya bisa tau kecerobohan kamu."

"Apa maksud bapak?" tanya Rania tidak mengerti. Pasalnya ia telah memeriksa berulang kali isi dokumen yang ia kerjakan itu sebelum memberikannya pada Khanif.

Khanif lalu mengambil kedua dokumen itu dan membukanya pada halaman yang sama untuk memperlihatkan kesalahan Rania.

"Lihat, gara-gara satu nol ini saja, kamu hampir saja membuat perusahaanku bangkrut!"

"Tapi pak, saya tidak menambahkan satu nol-nya lagi. Saya yakin itu," katanya sungguh-sungguh.

"Dan karena keyakinanmu itu malah membuatku harus mengulanginya kembali."

Cukup, Rania sudah kesal karena tuduhan Khanif padanya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berlalu meninggalkan Khanif yang belum selesai berbicara padanya.

Sebelum sampai dipintu keluar, Rania berbalik melihat Khanif dengan pandangan kesal lalu ia mengatakan, "i stopped!" Sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Khanif.

Khanif tertawa lucu mendengar Rania membentaknya dengan jari telunjuknya yang lentik tengah terarah padanya. Tapi hal tersebut malah membuat Rania heran.

"Bapak meledek saya?"

"Tidak."

Rania memalingkan diri kembali menghadap pintu. Tapi, sebelum dirinya memutar knop pintu, Rania kembali berkata, "pembohong." Setelahnya, ia pun membuka pintu ruangan kerja Khanif hendak pergi dari ruangan yang membuatnya naik darah saja.

"Eh, kamu mau kemana? Saya belum selesau bicara sama kamu."

"Saya mau pulang. Ini sudah lewat dari jam kerja saya, pak!" ujar Rania tanpa berbalik seraya menekankan kata 'pak' agar Khanif sadar kalau waktu sekarang memang sudah lewat jam kerjanya.

"Kamu mau pulang dengan jalan kaki?"

Rania seketika berbalik - heran. "Bapak tidak lihat mobil putih yang tadi mengantar saya kesini? Bapak jangan coba mengancam saya, ya."

"Dia sudah ku suruh pulang," katanya santai sambil menyandarkan diri di sandaran kursi.

"Bapak kira saya percaya. Sejak kapan bapak meninggalkan tempat duduk ini sampai bapak sudah menyuruhnya pulang tanpa menungguku."

"Kamu kira ini zaman batu yang hanya perlu bertatap wajah saja baru bisa saling mengetahui kabar?" ujar Khanif sengaja memainkan ponselnya dihadapan Rania.

Tanpa sadar Rania membuka mulutnya menatap Khanif tidak percaya. Baru saja Rania ingin meneriaki Khanif, pintu dibelakangnya terbuka lebar dan memperlihatkan sesosok wanita paruh baya yang terlihat berwibawa.

"Sayang, kok tamunya ngga disuruh duduk sih!" ujar Mama Adelin belum mengetahui siapa wanita cantik yang ada dihadapannya ini.

"Dia udah mau pulang ma," ujar Khanif.

Rania yang masih membelakangi Mama Adelin, melihat Khanif dengan senyum terpaksa.

"Iya bu. Pak Khanif benar, saya baru saja mau ...." Kata-kata Rania terpotong saat ia berbalik ke belakang dan melihat wajah wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan mama oleh Khanif. "Tante Adelin!" lanjutnya kurang percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mama Adelin pun sama, ia terkejut melihat anak gadis yang pernah menolongnya dari berandal pasar tengah berada diruangan kerja anaknya.

"nak Rania, kamu kerja di kantor anak tante?"

Sebagai respon sesaat, Rania mengangguk penuh semangat pada Mama Adelin.

"Sini ikut sama tante. Pertemuan kalian juga kan sudah selesai," ajak Mama Adelin sambil menarik tangan Rania untuk mengikutinya. Sebelum Rania benar-benar menghilang dari balik pintu, Ia menoleh kebelakang sebentar pada Khanif untuk menunjukkan senyum kemenangannya.

Khanif yang menangkap senyuman Rania malah balas ikut tersenyum, karena menurutnya, Rania masih tetap terlihat seperti remaja kecil dihatinya yang akan selalu membuatnya tersenyum lucu kala ada tingkah Rania yang menggemaskan seperti saat ini.

Dalam ketenangan senyuman itu, Khanif teringat kembali saat-saat dimana ia mulai mengenal sosok Rania.

To be continued

Siapa Rania dimasa lalu Khanif, ya? Ada yang penasaran kah? Kalau ada, yuk ikuti terus cerita ini dan jangan lupa like serta komen untuk memberikan dukungan pada cerita ini.

By Siska C

Terpopuler

Comments

fifid dwi ariani

fifid dwi ariani

trussehat

2023-06-05

0

»𝆯⃟ ଓε»°CaCha_iC🄷a°«࿐𓆊

»𝆯⃟ ଓε»°CaCha_iC🄷a°«࿐𓆊

like, komen ☑️

2022-05-12

3

Syifa F

Syifa F

lanjut kak

2022-04-21

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Awal Kesulitan
2 Bab 2. Hari Pertama Rania
3 Bab 3. Atasan yang Dingin
4 Bab 4. Kekesalan Rania
5 Bab 5. Kedekatan Mereka
6 Bab 6. Kekhawatiran Papa Rudy
7 Bab 7. Ungkapan isi hati Rania
8 Bab 8. Menantu Seperti Rania
9 Bab 9. Masa lalu Rania
10 Bab 10. Masa Lalu Rania 2
11 Bab 11. Kecurigaan Rania
12 Bab 12. Menjadi Sekretaris Khanif?
13 Bab 13. Percaya Padaku
14 Bab 14. Cara Membungkam yang Baik
15 Bab 15. Ketahuan!
16 Bab 16. Cemburu yang tidak perlu
17 Bab 17. Tentang Zaky
18 Bab 18. Batasan Diantara Mereka
19 Bab 19. Perhatian Kecil Khanif
20 Bab 20. Siapa dia
21 Bab 21. Aksi Penyelamatan yang Tepat
22 Bab 22. Jangan Sungkan Padaku
23 Bab 23. Perhatian vs Kejahilan Khanif
24 Bab 24. Biar Kamu Tidak Kedinginan
25 Bab 25. Aku Cemburu?
26 Bab 26. Kekhawatiran Khanif
27 Bab 27. Aku Cemburu 2?
28 Bab 28. Kekompakan Mereka
29 Bab 29. Kegalauan Hati Khanif
30 Bab 30. Kita Berjodoh?
31 Bab 31. Pesona Khanif
32 Bab 32. Pipi yang Bersemu Merah
33 33. Kencan buta untuk Khanif
34 34. Terlalu Memanjakannya
35 Bab 35. Kapan Mereka Menikah?
36 Bab 36. Rania Cemburu?
37 Bab 37. My Bargain Woman
38 Bab 38. Khanif yang berbeda
39 Bab 39. Tidak Ingin Menjadi Sekretaris Khanif
40 Bab 40. Pangeran Dari Negeri Dongeng
41 Bab 41. Balas Dendam Alex
42 Bab 42. Operasi Hutan Pinus
43 Bab 43. Insting yang Tajam
44 Bab 44. Aksi Penyelamatan Rania
45 Bab 45. Aksi Penyelamatan Rania 2
46 Bab 46. Hubungan Reyhan dan Rania
47 Bab 47. Rania yang Berbeda
48 Bab 48. Masa kecil Rania
49 Bab 49. Masa Kecil Rania 2
50 Bab 50. Niat Awal Rania
51 Bab 51. Kepulangan Rania
52 Bab 52. Tibanya Giliran Lisa
53 Bab 53. Rencana Lisa
54 Bab 54. Motif Khanif
55 Bab 55. Pipi yang merona
56 Bab 56. Surat Cinta yang Telah Usang
57 Bab 57. Pagi yang Heboh
58 Bab 58. Kesalahan yang Fatal
59 Bab 59. Kekompakan Khanif dan Reyhan
60 Bab 60. Perjodohan Khanif
61 Bab 61. Keadaan yang Disengaja
62 Bab 62. Dinner Date
63 Bab 63. Pertemuan Dua Keluarga
64 Bab 64. Akibat Kesalahan Semalam
65 Bab 65. Kecemburuan Rania
66 Bab 66. Mencari Perhatian Khanif
67 Bab 67. Keputusan Setahun yang Lalu
68 Bab 68. Rania Dimata Khanif
69 Bab 69. Perusak Rencana
70 Bab 70. Siapa yang Cocok Dengan Khanif?
71 Bab 71. Jari-mu, Harimau-mu
72 Bab 72. Tanpa Minat
73 Bab 73. Siapa dia?
74 Bab 74. Beri Aku Sebuah Alasan
75 BAB 75. Berita Hangat Pagi Ini
76 Bab 76. Hidupku, Hidupmu.
77 Bab 77. Rasa Dari Kopi
78 Bab 78. Makan Siang Bersama
79 Bab 79. Akankah Kita Bersama?
80 Bab 80. Kesedihan Davina.
81 Bab 81. Kejutan Yang Tak Terduga
82 Bab 82. Bujuk Aku
83 Bab 83. Memata-matai Khanif
84 Bab 84. Tentang Davina
85 Bab 85. Berbicara Dengan Papa
86 Bab 86. Nonton Film
87 Bab 87. Keseriusan Zaky
88 Bab 88. Sedikit Tentang Papa
89 Bab 89. Sarapan Bersama
90 Bab 90. Perlakuan Khusus Untuk Rania
91 Bab 91. Keberuntungan Rania
92 Bab 92. Maaf, Saya Tidak Bermaksud
93 Bab 93. One More Time
94 Bab 94. Aku Baru Tau
95 Bab 95. Kenapa Harus Cemburu?
96 Bab 96. Sejak Kapan?
97 Bab 97. Terima Kasih
98 Bab 98. Harus Belajar Banyak Darinya
99 Bab 99. Kemunculan Nenek
100 100. Informasi Penting Dari Reyhan
101 101. Rutinitas Dihari Minggu
102 102. Belum Saatnya
103 103. Melamarnya
104 Bab 104. Terlihat Tidak Bersemangat
105 Bab 105. Sudah Terlambat
106 Bab 106. Perlunya Menjaga Image
107 Bab 107. Kedatangan Khanif
108 Bab 108. Selamat Tinggal
109 Bab 109. Tidak Secerah Hati Ini
110 Bab 110. Jangan Buat Aku Panik, Ok
111 Bab 111. Aku Tidak Sengaja
112 Bab 112. Mencoba Menghindarinya
113 Bab 113. Dunia Terbalik
114 Bab 114. Pemikiran Yang Keliru
115 Bab 115. Jangan Mengambil Langkah Itu
116 Bab 116. Siapa Yang Kamu Maksud
117 Bab 117. Kamu Khawatir?
118 Bab 118. Saya Tidak Akan Memaksa
119 Bab 119. Ide Buruk Atau Ide Baik?
120 Bab 120. Aku Memilihmu
121 Bab 121. Nasi Sudah Menjadi Bubur
122 Bab 122. Siapa Wanita Sok Baik?
123 Bab 123. Permintaan Maaf Saya
124 Bab 124. Harapan Baru
125 Bab 125. Berjodoh untuk saat ini saja
126 Bab 126. Saya hanya Ingin Lebih Dekat
127 Bab 127. Hubungan Mereka Memang Aneh
128 Bab 128. Kamu Salah Paham
129 Bab 129. Janji Yang Tak Sampai
130 Bab 130. Pelan-Pelan Saja
131 Bab 131. Pembicaraan Rahasia
132 Bab 132. Absurd
133 Bab 133. Absurd 2
134 Bab 134. If Only You
135 Bab 135. Impian Khanif
136 Bab 136. Punya Porsinya Masing-masing
137 Bab 137. Saatnya Belum Tepat
138 Bab 138. Panggil Aku ...
139 Bab 139. Katakan Yes!
140 Bab 140. Panggil Saya, Kakak!
141 Bab 141. Petunjuk Dari Khanif
142 Bab 142. Sehangat Hati Ini
143 Bab 143. Berlapang Dada
144 Bab 144. Mencintaimu Tanpa Batas
145 Bab 145. Keseriusan Khanif
146 Bab 146. Keseriusan Khanif 2
147 Bab 147. Gadis Incaran Khanif
148 Bab 148. Mendapatkan Restu Dari Orang Tuanya
149 Bab 149. Aku Tidak Akan Menyerah
150 Bab 150. Masa lalu kita
151 Bab 151. I'm helpless
152 Bab 152. Don't Misunderstand
153 Bab 153. Ada Yang Berbeda Dengannya
154 Bab 154. Persiapan Lokakarya
155 Bab 155. Berita Baik Apanya?
156 Bab 156. Rencana Yang Matang
157 Bab 157. Kecolongan Lagi
158 Bab 158. Emergency Couple
159 Bab 159. Kejahatan David
160 Bab 160. Maaf, Kami Membohongimu
161 Bab 161. Bagaimana Kalau Dia Meninggalkan Aku?
162 Bab 162. Tidak Bersemangat Lagi
163 Bab 163. Penyebab Khanif Sakit
164 Bab 164. Bukan Salah Kamu, Kok
165 Bab 165. Menunggu Sesuatu Hal Yang Tidak Pasti
166 Bab 166. Sekretaris Pilihan Khanif
167 Bab 167. Menjadi Sekretaris Khanif
168 Bab 168. Bidadari Bumi
169 Bab 169. Berpakaian Apapun, Tetap Juga Cantik
170 Bab 170. Hari Bersamanya
171 Bab 171. Lamaran Tak Terduga
172 Bab 172. Calon Istrinya, Aku
173 Bab 173. Rahasia Apa?
174 Bab 174. Bekerja yang Giat, Agar Liburannya Lama
175 Bab 175. Tindakan Yang Paling Jauh Sejak Mereka Bersama
176 Bab 176. Aku Tidak Menunggumu
177 Bab 177. Siapa Wanita Itu?
178 Bab 178. Perasaan Aneh Ini
179 Bab 179. Menjauh Dari Calon Suamiku!
180 Bab 180. Aku Memilihmu
181 Bab 181. Aku tidak Se-matre Itu
182 Bab 182. Kami hanya sepupu saja
183 Bab 183. Aku baik-baik saja
184 Bab 184. Hadiah Terbaik
185 Bab 185. Hari Pernikahan Mereka
186 Bab 186. Hari Pernikahan Mereka 2
187 Bab 187. Kejutan Buat Khanif
188 Bab 188. Resepsi Pernikahan
189 Bab 189. Baju Ganti Ini Sangat Terbuka
190 Bab 190. Pelukan Pertama
191 Bab 191. Rencana Liburan
192 Bab 192. Memulai Honeymoon
193 Bab 193. Rencana Malam Ini
194 Bab 194. First Night
195 Bab 195. Don't Eat Me
196 Bab 196. Kebersamaan Ini
197 Bab 197. Hadiah untuk Istri Tercinta
198 Bab 198. Cemburu Itu Perlu
199 Bab 199. Ma Chérie
200 Bab 200. The End
201 Ekstra Bab
Episodes

Updated 201 Episodes

1
Bab 1. Awal Kesulitan
2
Bab 2. Hari Pertama Rania
3
Bab 3. Atasan yang Dingin
4
Bab 4. Kekesalan Rania
5
Bab 5. Kedekatan Mereka
6
Bab 6. Kekhawatiran Papa Rudy
7
Bab 7. Ungkapan isi hati Rania
8
Bab 8. Menantu Seperti Rania
9
Bab 9. Masa lalu Rania
10
Bab 10. Masa Lalu Rania 2
11
Bab 11. Kecurigaan Rania
12
Bab 12. Menjadi Sekretaris Khanif?
13
Bab 13. Percaya Padaku
14
Bab 14. Cara Membungkam yang Baik
15
Bab 15. Ketahuan!
16
Bab 16. Cemburu yang tidak perlu
17
Bab 17. Tentang Zaky
18
Bab 18. Batasan Diantara Mereka
19
Bab 19. Perhatian Kecil Khanif
20
Bab 20. Siapa dia
21
Bab 21. Aksi Penyelamatan yang Tepat
22
Bab 22. Jangan Sungkan Padaku
23
Bab 23. Perhatian vs Kejahilan Khanif
24
Bab 24. Biar Kamu Tidak Kedinginan
25
Bab 25. Aku Cemburu?
26
Bab 26. Kekhawatiran Khanif
27
Bab 27. Aku Cemburu 2?
28
Bab 28. Kekompakan Mereka
29
Bab 29. Kegalauan Hati Khanif
30
Bab 30. Kita Berjodoh?
31
Bab 31. Pesona Khanif
32
Bab 32. Pipi yang Bersemu Merah
33
33. Kencan buta untuk Khanif
34
34. Terlalu Memanjakannya
35
Bab 35. Kapan Mereka Menikah?
36
Bab 36. Rania Cemburu?
37
Bab 37. My Bargain Woman
38
Bab 38. Khanif yang berbeda
39
Bab 39. Tidak Ingin Menjadi Sekretaris Khanif
40
Bab 40. Pangeran Dari Negeri Dongeng
41
Bab 41. Balas Dendam Alex
42
Bab 42. Operasi Hutan Pinus
43
Bab 43. Insting yang Tajam
44
Bab 44. Aksi Penyelamatan Rania
45
Bab 45. Aksi Penyelamatan Rania 2
46
Bab 46. Hubungan Reyhan dan Rania
47
Bab 47. Rania yang Berbeda
48
Bab 48. Masa kecil Rania
49
Bab 49. Masa Kecil Rania 2
50
Bab 50. Niat Awal Rania
51
Bab 51. Kepulangan Rania
52
Bab 52. Tibanya Giliran Lisa
53
Bab 53. Rencana Lisa
54
Bab 54. Motif Khanif
55
Bab 55. Pipi yang merona
56
Bab 56. Surat Cinta yang Telah Usang
57
Bab 57. Pagi yang Heboh
58
Bab 58. Kesalahan yang Fatal
59
Bab 59. Kekompakan Khanif dan Reyhan
60
Bab 60. Perjodohan Khanif
61
Bab 61. Keadaan yang Disengaja
62
Bab 62. Dinner Date
63
Bab 63. Pertemuan Dua Keluarga
64
Bab 64. Akibat Kesalahan Semalam
65
Bab 65. Kecemburuan Rania
66
Bab 66. Mencari Perhatian Khanif
67
Bab 67. Keputusan Setahun yang Lalu
68
Bab 68. Rania Dimata Khanif
69
Bab 69. Perusak Rencana
70
Bab 70. Siapa yang Cocok Dengan Khanif?
71
Bab 71. Jari-mu, Harimau-mu
72
Bab 72. Tanpa Minat
73
Bab 73. Siapa dia?
74
Bab 74. Beri Aku Sebuah Alasan
75
BAB 75. Berita Hangat Pagi Ini
76
Bab 76. Hidupku, Hidupmu.
77
Bab 77. Rasa Dari Kopi
78
Bab 78. Makan Siang Bersama
79
Bab 79. Akankah Kita Bersama?
80
Bab 80. Kesedihan Davina.
81
Bab 81. Kejutan Yang Tak Terduga
82
Bab 82. Bujuk Aku
83
Bab 83. Memata-matai Khanif
84
Bab 84. Tentang Davina
85
Bab 85. Berbicara Dengan Papa
86
Bab 86. Nonton Film
87
Bab 87. Keseriusan Zaky
88
Bab 88. Sedikit Tentang Papa
89
Bab 89. Sarapan Bersama
90
Bab 90. Perlakuan Khusus Untuk Rania
91
Bab 91. Keberuntungan Rania
92
Bab 92. Maaf, Saya Tidak Bermaksud
93
Bab 93. One More Time
94
Bab 94. Aku Baru Tau
95
Bab 95. Kenapa Harus Cemburu?
96
Bab 96. Sejak Kapan?
97
Bab 97. Terima Kasih
98
Bab 98. Harus Belajar Banyak Darinya
99
Bab 99. Kemunculan Nenek
100
100. Informasi Penting Dari Reyhan
101
101. Rutinitas Dihari Minggu
102
102. Belum Saatnya
103
103. Melamarnya
104
Bab 104. Terlihat Tidak Bersemangat
105
Bab 105. Sudah Terlambat
106
Bab 106. Perlunya Menjaga Image
107
Bab 107. Kedatangan Khanif
108
Bab 108. Selamat Tinggal
109
Bab 109. Tidak Secerah Hati Ini
110
Bab 110. Jangan Buat Aku Panik, Ok
111
Bab 111. Aku Tidak Sengaja
112
Bab 112. Mencoba Menghindarinya
113
Bab 113. Dunia Terbalik
114
Bab 114. Pemikiran Yang Keliru
115
Bab 115. Jangan Mengambil Langkah Itu
116
Bab 116. Siapa Yang Kamu Maksud
117
Bab 117. Kamu Khawatir?
118
Bab 118. Saya Tidak Akan Memaksa
119
Bab 119. Ide Buruk Atau Ide Baik?
120
Bab 120. Aku Memilihmu
121
Bab 121. Nasi Sudah Menjadi Bubur
122
Bab 122. Siapa Wanita Sok Baik?
123
Bab 123. Permintaan Maaf Saya
124
Bab 124. Harapan Baru
125
Bab 125. Berjodoh untuk saat ini saja
126
Bab 126. Saya hanya Ingin Lebih Dekat
127
Bab 127. Hubungan Mereka Memang Aneh
128
Bab 128. Kamu Salah Paham
129
Bab 129. Janji Yang Tak Sampai
130
Bab 130. Pelan-Pelan Saja
131
Bab 131. Pembicaraan Rahasia
132
Bab 132. Absurd
133
Bab 133. Absurd 2
134
Bab 134. If Only You
135
Bab 135. Impian Khanif
136
Bab 136. Punya Porsinya Masing-masing
137
Bab 137. Saatnya Belum Tepat
138
Bab 138. Panggil Aku ...
139
Bab 139. Katakan Yes!
140
Bab 140. Panggil Saya, Kakak!
141
Bab 141. Petunjuk Dari Khanif
142
Bab 142. Sehangat Hati Ini
143
Bab 143. Berlapang Dada
144
Bab 144. Mencintaimu Tanpa Batas
145
Bab 145. Keseriusan Khanif
146
Bab 146. Keseriusan Khanif 2
147
Bab 147. Gadis Incaran Khanif
148
Bab 148. Mendapatkan Restu Dari Orang Tuanya
149
Bab 149. Aku Tidak Akan Menyerah
150
Bab 150. Masa lalu kita
151
Bab 151. I'm helpless
152
Bab 152. Don't Misunderstand
153
Bab 153. Ada Yang Berbeda Dengannya
154
Bab 154. Persiapan Lokakarya
155
Bab 155. Berita Baik Apanya?
156
Bab 156. Rencana Yang Matang
157
Bab 157. Kecolongan Lagi
158
Bab 158. Emergency Couple
159
Bab 159. Kejahatan David
160
Bab 160. Maaf, Kami Membohongimu
161
Bab 161. Bagaimana Kalau Dia Meninggalkan Aku?
162
Bab 162. Tidak Bersemangat Lagi
163
Bab 163. Penyebab Khanif Sakit
164
Bab 164. Bukan Salah Kamu, Kok
165
Bab 165. Menunggu Sesuatu Hal Yang Tidak Pasti
166
Bab 166. Sekretaris Pilihan Khanif
167
Bab 167. Menjadi Sekretaris Khanif
168
Bab 168. Bidadari Bumi
169
Bab 169. Berpakaian Apapun, Tetap Juga Cantik
170
Bab 170. Hari Bersamanya
171
Bab 171. Lamaran Tak Terduga
172
Bab 172. Calon Istrinya, Aku
173
Bab 173. Rahasia Apa?
174
Bab 174. Bekerja yang Giat, Agar Liburannya Lama
175
Bab 175. Tindakan Yang Paling Jauh Sejak Mereka Bersama
176
Bab 176. Aku Tidak Menunggumu
177
Bab 177. Siapa Wanita Itu?
178
Bab 178. Perasaan Aneh Ini
179
Bab 179. Menjauh Dari Calon Suamiku!
180
Bab 180. Aku Memilihmu
181
Bab 181. Aku tidak Se-matre Itu
182
Bab 182. Kami hanya sepupu saja
183
Bab 183. Aku baik-baik saja
184
Bab 184. Hadiah Terbaik
185
Bab 185. Hari Pernikahan Mereka
186
Bab 186. Hari Pernikahan Mereka 2
187
Bab 187. Kejutan Buat Khanif
188
Bab 188. Resepsi Pernikahan
189
Bab 189. Baju Ganti Ini Sangat Terbuka
190
Bab 190. Pelukan Pertama
191
Bab 191. Rencana Liburan
192
Bab 192. Memulai Honeymoon
193
Bab 193. Rencana Malam Ini
194
Bab 194. First Night
195
Bab 195. Don't Eat Me
196
Bab 196. Kebersamaan Ini
197
Bab 197. Hadiah untuk Istri Tercinta
198
Bab 198. Cemburu Itu Perlu
199
Bab 199. Ma Chérie
200
Bab 200. The End
201
Ekstra Bab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!